Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Jihad Sejati September 5, 2009

Filed under: Visi — ainspirasi @ 3:04 am
Tags: , , , , , ,

Dalam bahasa Arab kata “Jihad” merupakan kata benda. Bentuk lampaunya adalah “jahada”(laki-laki) dan “jahadat” (perempuan).  Bentuk aktif “jihad”adalah “mujahid” (laki-laki) dan “mujahida” (perempuan). Akar kata “jihad” adalah “juhd” yang artinya “upaya”. Kata lain yang terkait adalah “ijtihad” yang berarti “kerja keras atau kajian mendalam”.

Secara sederhana Jihad artinya “mengerahkan segala kemampuan,” termasuk di dalamnya “daya juang” dan “ketangguhan,” dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain, jihad adalah daya juang menghadapai, atau ketangguahan, dalam meraih sebuah tujuan. Makna dari kata itu adalah sifat kebebasan alami untuk mengerahkan segala upaya atau kesadaran yang memilki tujuan.

Berbeda dengan pandangan umum, kata “jihad” tidak dimaksudkan upaya-upaya kekerasan, ciptakan “perang” dan biarkan terjadi kekerasan. Adalah artian umum bahwa aksi-aksi kekerasan sama juga seperti  damai, tergantung pada konteks di mana digunakan, seperti yang akan kita lihat nanti. Mirip dengan itu, “jihad” sebagai sebuah kata populer dapat digunakan oleh tujuan yang bukan Islami, yaitu dalam konteks non-agama.

Quran menggunakan kata kerja “jihad” sebagai ungkapan umum  “mengerahkan upaya-upaya terbaik mengahdapai sesuatu” yaitu dalam dua ayat berikut:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu (jahadaka) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (29:8)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (31:14) Dan jika keduanya memaksamu (jahadaka) untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (31:15)


Jihad dalam ayat-ayat di atas merujuk pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang tua non-Muslim untuk memaksa anak-anak Muslim menyembah selain Allah. Tujuan ini bertentangan dengan pesan-pesan Islam yang mengajarkan ketauhidan kepada Allah; inilah bentuk tindakan yang bukan berasal dari Islam. Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa  jihad tidak butuh tindakan-tindakan kekerasan.

Harus diketahui bahwa ayat-ayat di atas memerintahkan setiap Muslim agar tetap berbuat baik kepada orang tua, kecuali mereka berupaya memaksa tunduk kepada selain Islam memeluk kyakinan polyteisme.

“Jihad”  dalam Qur’an

Meskipun pemakaian istilah “jihad” secara umum seperti dalam dua ayat di atas, Quran menggunakan “jihad” di dua puluh delapan ayat dengan arti-arti tertentu. Dalam hal ini, frasa “fi sabili Allah” yang bermakna “di jalan Allah” atau “demi membela Allah” biasanya mengikuti kata “jihad” atau salah satu turunannya, secara eksplisit, atau dijelaskan oleh konteksnya.

Berbeda dengan keyakinan umum bahwa ada salah pengertian tentang istilah “jihad” sebagai “perang suci,” jihad dalam Islam tidak semata-mata berperang di jalan Allah. Ini merupakan keadaan khusus dari jihad. Konsep Quran tentang jihad merujuk pada pengerahan upaya-upaya, dalam bentuk daya juang atau daya tangkal pada suatu hal, untuk membela Allah. Upaya ini bisa diartikan memukul mundur sebuah agresi,  atau bisa bermakna menangkal tindakan jahat atau nafsu angkara dari seseorang. Bahkan menyumbangkan harta bagi orang yang memerlukan merupakan bentuk jihad, sebagai sebuah cara mempertahankan diri terhadap perasaan angkuh dan sifat pelit memperkaya diri sendiri. jihad dibagi menjadi dua bagaian jihad dengan senjata dan jihad dengan damai. Jihad dengan senjata bersifat sementara untuk melawan agresi. Setelah agresi berhenti maka jihad senjata pun selesai. Jihad senjata hanya berlangsung ketika keadaan sangat gawat dan musuh datang dari luar.

Jihad dalam keadaan damai di satu sisi selalu ada, inilah mengapa bentuk jihad ini tak pernah mati. Satu bentuk nyata jihad damai adalah perang melawan “hawa nafsu”, dalam bahasa Arabnya diterjemahkan sebagai “sifat rendah”, yang merujuk pada sifat sombong dan niat jahat. Inilah musuh abadi yang tak pernah kelihatan, sehingga perang terhadapnya tak pernah berakhir.

Bentuk lain dari jihad damai adalah setiap tindakan damai dari Muslim yang mempertahankan diri terhadap sumber kejahatan dari luar. Menyampaikan ajaran Islam dalam lingkungan jahat, melawan tindakan jahat, dan semua tindakan mulya lainnya merupakan contoh jihad karena semuanya itu menangkal dan mempertahankan diri untuk mencapai sebuah tujuan mulya.  Mislanya, kesabaran nabi ketika diganggu dan disatroni oleh kaum kafir  dalam menyampaikan Quran adalah termasuk jihad:

Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, 20:130

Sangat menarik

 

Einstein bukan Penemu E=mc2 August 30, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 2:26 am
Tags: , , , ,

Persamaan matematis yang membuka era atom telah ditemukan oleh seseorang tak dikenal dua tahun sebelum Albert Einstein mempublikasikan teori relativitasnya.

Menurut Profesor Umberto Bartocci dari universitas Perugia, Olinto De Pretto, seorang Industralis dari Vicenza, telah mempublikasikan persamaan E=mc2 dalam sebuah majalah ilmiah Atte tahun 1903.

Masih menurut Profesor Bartocci, Einstein pasti menggunakan hasil kerja De Pretto di makalah-makalahnya tahun 1905, meskipun De Pretto tidak pernah memprotesnya.

Ada kesalahan dalam persamaan De Pretto, bukan teori relativitas, ketika memahami ether di jagad raya. Sehingga persamaannya dipublikasikan lagi tahun 1904 oleh Veneto Royal Science Institute,  namun tetap saja persamaan-persamaannya sulit dipahami.

Seorang Swiss berkebangsaan Italia Michele Besso telah memperingatkan tentang adanya kajian Einstein itu dan tahun 1905 Einstein mempublikasikan hasilnya. Dibutuhkan bertahun-tahun untuk memahami dengan baik penemuan itu. Ketika dolar mengalir ke kantung Einstein, orang melupakan jasa De Pretto yang mengantarkan Einstein menjadi ilmuwan terkenal. De Pretto meninggal tahun 1921.

De Pretto bukanlah penemu hukum relativitas namun tidak diragukan dialah orang pertama yang menggunakan persamaan relativitas. Ini merupakan hal penting ujar Profesor Bartocci yang meyakini Einstein menjiplak hasil karya De Pretto.

http://www.guardian.co.uk/world/1999/nov/11/rorycarroll

 

Aparat Bikin Resah, Jangan Mau Kerjasama August 22, 2009

Filed under: Opini — ainspirasi @ 8:05 am

Hari-hari terakhir tampaknya kegiatan dakwah sudah mulai diawasi lagi mirip jaman orba.  Keberadaan para aparat yang memantau dakwah ini mungkin tujuannya baik. Akan tetapi tampak bahwa cara-cara ini alih-alih membuat nyaman sebaliknya menjadikan sebagian ustadz-ustadz  gerah.

Minyakapi kebijakan aparat yang demikian maka sudah seharusnya masyarakat berhati-hati. Jangan sampai keberadaan mereka hanya upaya-upaya untuk menekan agar para ustadz tidak terlalu menggoyang pemerintahan. Mirip jaman orba dahulu setiap orang yang tidak disukai langsung dicap antipancasila. Kini ungkapannya mungkin setiap orang yang tidak disukai akan dicap anti pemerintah atau bahkan anti kemapanan.

Kepada masyarakat luas dihimbau untuk jangan mudah terpancing dengan isyu-isyu yang akan saling membenturkan umat Islam. Hindarilah kerjasama dengan aparat yang suka sekali menyudutkan umat Islam. Namun jangan samapi ketidak setujuan umat diungkapkan dengan dengan cara-cara yang kasar. Kita gunakan cara-cara halus misalnya dengan membuat acara-acara berbau dakwah tapi sebenarnya acara heppy-hepy, ultah dan sebagainya. Kita bikin sibuk aparat dengan seakan-akan ada acara dakwah yang heboh tapi isinya pertunjukan srimulat. Kita bikin suasana hingar bingar sehingga merepotkan mereka, saling “kibul”. Tapi eit..hati-hati kita juga malah bisa dijebak oleh aparat.

 

Rasulullah dan para Sahabat menyambut Ramadhan August 17, 2009

Filed under: Visi — ainspirasi @ 9:29 am
Tags: , , , , ,

“Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan Ramadhan tetapi tidak sampai terampuni dosa-dosanya..”

Rasulullah menaiki mimbar (untuk berkhutbah), menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan “aamin”, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan ‘aamin? Lalu beliau menjawab, malaikat Jibril datang dan berkata: Kecewa dan merugi seseorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucapkan shalawat atasmu, lalu aku berucap aamin. Kemudian malaikat berkata lagi, kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga, lalu aku mengucapkan aamin. Kemudian katanya lagi, kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup pada bulan Ramadhan tetapi tidak sampai terampuni dosa-dosanya, lalu aku mengucapkan aamin. Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Ramadhan adalah nama salah satu bulan dari dua belas bulan Hijriyah, sama dengan Jum’at yang merupakan nama hari dari tujuh hari yang terus berputar. Tidak ada perbedaan antara hari Jum’at dengan hari Senin, demikian juga tidak ada bedanya antara Ramadhan dengan bulan lainnya. Secara fisik, semua bulan dan hari itu sama saja. Perbedaannya sesungguhnya terletak pada pemaknaan atasnya. Pemaknaan itu bisa terkait dengan momentum sejarah, bisa juga karena secara sengaja telah ditetapkan oleh Sang Pencipta hari dan bulan untuk memuliakannya.

Ramadhan telah memenuhi kedua alasan di atas, selain disengaja oleh Allah untuk disucikan dan dimuliakan, di dalamnya terdapat juga berbagai peristiwa sejarah yang sangat monumental. Sejarah itu tidak saja terjadi pada Rasulullah Salallaahu ‘alaihi wa sallam, tapi juga terjadi pada masa-masa kenabian jauh sebelumnya.

Dalam beberapa hadits dan keterangan yang lain disebutkan semua kitab suci diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan. Nabi Ibrahim ‘Alaihis salaam menerima kitab pada hari pertama atau ketiga pada bulan Ramadhan. Nabi Daud As juga menerima kitab Zabur pada hari kedua belas atau delapan belas bulan yang sama. Demikian juga nabi Musa As dan Isa As, masing masing telah menerima kitab Taurat dan Injil pada bulan Ramadhan. Nabi Muhammad Saw, sebagai nabi pamungkas menerima kitab al-Qur’an pada tanggal 17 bulan Ramadhan.

Adalah desain dari “atas”, jika semua kitab suci diturunkan pada bulan Ramadhan. Kesengajaan itu semata-mata ditujukan untuk mensucikan dan memuliakannya. Memang ada empat bulan lainnya yang dimuliakan Allah, tapi Ramadhan tetap menempati urutan teratas. Bukan hanya karena momentumnya, tapi terlebih karena Allah Swt menjanjikan berbagai bonus dan diskon istimewa. Karena alasan itulah, jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw telah menyambutnya.

Sejak bulan Sya’ban, Rasulullah menganjurkan ummatnya agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan “tamu mulia” ini, yaitu dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum. Yang belum terbiasa shaum pada hari Senin dan Kamis, diharapkan pada bulan Sya’ban sudah mulai menjalankannya. Jika belum mampu, cukup dengan tiga hari di tengah bulan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan mental sekaligus fisik untuk menghadapi bulan yang disucikan tersebut.

Bulan Sya’ban adalah bulan persiapan. Seorang Muslim yang akan memasuki arena Ramadhan hendaknya mempersiapkan segala sesuatunya. Dalam dirinya sudah terbayang suasana indah Ramadhan tersebut. Suasana itu tergambar dalam hatinya dan terukir dalam benak fikirannya. Kehadirannya dirindukan dan dinanti-nantikan. Ibarat orang dipenjara yang selalu menghitung hari pembebasannya, maka setiap hati sangatlah berarti. Begitulah gambaran seorang Muslim, terutama para sahabat Nabi di masa yang lalu.

Saat-saat menanti Ramadhan, para sahabat tak bedanya seperti calon pengantin yang merindukan hari-hari pernikahannya. Jauh hari sebelum hari “H” nya, mereka sudah memikirkan hal-hal yang sekecil-kecilnya. Mereka berfikir, gaun apa yang akan dipakai pada saat yang penting itu, apa yang diucapkannya, sampai bagaimana cara jalannya dan menata senyumnya. Begitulah gambaran seorang Muslim yang merindukan datangnya Ramadhan. Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat yang menyala-nyala.

Merupakan tradisi di masa Rasulullah, pada saat akhir bulan Sya’ban para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.

Kebiasaan Rasulullah dan para sahabatnya ini perlu dihidupkan lagi tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini. Biarlah hari raya ‘Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada akhir bulan Sya’ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan bertahniah, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. Tahniah, saling mengucapkan “selamat” adalah kebiasaan baik yang ditadisikan Rasulullah. Mestinya ummat Islam lebih serius mengirim kartu Ramadhan daripada kartu lebaran.

Diperlukan kepeloporan dari kita semua untuk memulai tradisi baru dalam menyambut Ramadhan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kita perlu sedikit kreatif untuk memulainya. Ide-ide baru juga perlu dimunculkan untuk menggagas kegairahan ummat dalam menyambut bulan suci tersebut. Perlu ada energi khusus untuk mengalihkan pusat perhatian ummat yang hanya tertuju pada hari raya kepada bulan Ramadhan. Ini bukan pekerjaan ringan, karena kebiasaan yang ada saat ini sudah mendarah mendaging.

Tidaklah salah bila seseorang berziarah kubur saat menjelang Ramadhan, sebagaimana berziarah kubur di hari-hari yang lain. Hanya saja tradisi itu perlu diluruskan dengan memberi pemahaman kepada mereka tentang tata cara berziarah kubur, dan terutama tujuannya. Jangan sampai mereka salah niat dan tujuannya. Jangan pula salah tata caranya. Ini penting karena menyangkut “Aqidah”.

Perlu juga dipahamkan, mengapa mereka lebih menyukai berziarah kepada orang yang sudah mati, sedangkan kepada orang yang masih hidup mereka enggan untuk menziarahinya. Padahal yang masih hidup itu bisa jadi adalah orang tua mereka sendiri, paman-bibi, saudara-saudara, dan handai tolannya sendiri. Menziarahi kubur orang yang sudah mati itu baik, tapi menziarahi orang yang masih hidup jauh lebih dianjurkan lagi. Tujuan berziarah kubur untuk mengingatkan kita akan kematian. Sedangkan tujuan berziarah kepada orang yang masih hidup adalah untuk menyambung silaturrahim, yang intinya adalah untuk menjaga kalangsungan hidup itu sendiri.

Dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk mengunjungi kaum kerabat, terutama orang tua untuk mengucapkan tahniah, memohon maaf, dan meminta nasehat menjelang ramadhan. Jika jaraknya jauh, bisa ditempuh melalui telepon, surat pos, atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pesan itu sampai ke tujuan. Adalah baik jika kebiasaan itu dikemas secara kreatif, misalnya dengan mengirimkan kartu ramadhan yang berisi tiga hal di atas.

Adapun tentang ceramah yang diselenggarakan khusus untuk menyambut ramadhan, Rasulullah telah memberikan contohnya. Pada saat itu sangat tepat jika disampaikan tentang segala hal yang berkait langsung dengan Ramadhan. Mulai dari janji-janji Allah terhadap mereka yang bersungguh-sungguh menjalani ibadah Ramadhan, amalan-amalan yang harus dan sunnah dikerjakan selama ramadhan, sampai tentang tata cara menjalankan seluruh rangkain ibadah tersebut.

Berikut ini adalah contoh khutbah Rasulullah dalam menyambut Ramadhan:

“Wahai ummatku, akan datang kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam dimana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari; dan Dia menciptakan shalat khusus (tarawih) di malam hari.

Barang siapa yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan kebaikan-kebaikan pada bulan ini maka dia akan mendapatkan ganjaran seperti jika dia menunaikan suatu ibadah di bulan-bulan lain pada tahun itu. Dan barangsiapa yang menunaikan suatu ibadah kepada Allah, maka dia akan mendapatkan tujuh puluh kali lipat ganjaran orang yang melakukan ibadah di bulan bulan lain pada tahun itu.

Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran yang sejati adalah surga. Inilah bulan yang penuh simpati terhadap sesama manusia; ini juga merupakan bulan di mana rizqi seseorang ditambah. Barangsiapa memberi makan orang lain untuk berbuka puasa, maka dia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan dijauhkan dari api neraka, dan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang diberinya makan untuk berbuka puasa, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun.

Kami (para sahabat) bertanya, wahai Rasulullah, tak semua orang di antara kami mempunyai cukup persediaan untuk memberi makan orang lain yang berpuasa. Rasulullah Saw menjawab, Allah memberikan pahala yang sama bagi orang yang memberi orang lain yang sedang berpuasa sebuah kurma dan segelas air minum atau seteguk susu untuk mengakhiri puasanya.

Inilah bulan yang bagian awalnya membawa keberkahan dari Allah Swt, bagian tengahnya membawa ampunan Allah, dan bagian akhirnya menjauhkan dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang di bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Dan pada bulan ini ada empat perkara yang harus kalian lakukan dalam jumlah besar, dua di antaranya adalah berbakti kepada Allah, sedang dua lainnya adalah hal-hal yang tanpa itu kamu tidak akan berhasil. Berbakti kepada Allah adalah membaca syahadat yang berarti kamu bersaksi akan keesaan Allah. La ilaaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah) dan memohon ampunan Allah atas kesalahan-kesalahan yang kalian lakukan. Sedangkan dua hal lainnya yang tanpa itu kalian tak akan berhasil adalah kalian harus memohon kepada Allah untuk dapat masuk surga dan memohon kepada-Nya untuk dijauhkan dari api neraka.

Dan barangsiapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari sumber airku, air yang jika diminum tak akan pernah membuatnya haus hingga pada hari dia memasuki surga.”

Selamat meraih sukses tertinggi dalam Ramadhan kali ini.· (Hamim Thohari)

sumber : republika

 

Khutbah Nabi Muhammad SAW Menyambut Ramadhan August 17, 2009

Filed under: Visi — ainspirasi @ 9:11 am
Tags: , , , , , ,

Pada penghujung bulan Sya’ban, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat beliau, kemudian beliau berkhutbah di hadapan mereka tentang bulan Ramadhan yang akan datang untuk memberi motivasi kepada mereka untuk menyambut Ramadhan dengan kegembiraan dan suka cita, karena sesungguhnya Ramadhan adalah hadiah istimew dari Allah SWT kepada kita umat Nabi Muhammad SAW.

Beliau bersabda, ” Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan ALLAH dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi ALLAH. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Memohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendeng aranmu dari apa yang tidak halah kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! Allah SWT bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul-alamin. Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. Sahabat-sahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan: Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah  akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa melakukan shalat sunat dibulan ini, ALLOH akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fa rdu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama dibulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”. “Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatutathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.” “Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah  memberikan rizqi kepada mukminin didalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.” Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah SAW, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.” “Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barang siapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.” “Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.”

(HR. Ibnu KHuzaimah).

http://madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=1&var=detail&id=129

 

PKS Plin-Plan soal “Politisasi” Agama July 1, 2009

Filed under: Opini — ainspirasi @ 3:16 am
Tags: , , ,

Meskipun keputusan PKS mendukung SBY dalam Pilpres 2009 didasarkan pada keputusan majelis Syuro, sebagian masyarakat menilai keputusan itu termasuk tergesa-gesa. PKS dianggap sangat bernafsu mendapat sedikit keuntungan dengan mendukung SBY.

Langkah-demi langkah PKS sepertinya sudah makin tak terkendali. Pada awal pencalonan capres, PKS tidak meminta pertimbangan para kadernya. Ketika SBY menentukan cawapres tanpa berkomunikasi dengan PKS, para qiyadahnya lagi-lagi tanpa basi-basi dengan kader menentukan sendiri keputusannya. Padahal keputusan itu belum tentu sejalan dengan kemauan para kader di bawah. Ucapan ust. Tifatul yang menyederhanakan soal jilbab menjadi masalah yang tak kalah heboh. Gara-gara ucapan itu membuat kalangan Islam antipati dengan PKS. Belum hilang dari ingatan masyarakat soal jilbab timbul kehebohan baru. Ust Triwisaksana mengatakan isu agama adalah politik kotor. Ucapan ini bak Gempa Bumi. Apalagi diucapkan di depan kadernya sendiri (http://www.pk-sejahtera.org/v2/main.php?op=isi&id=7566 ).

Pada hakekatnya isu agama adalah isu yang fundamental. Orang-orang beriman akan mendahulukan soal keyakinan dibanding soal lain. Seeorang yang memilih sebuah keyakinan berarti dia telah siap menerima konsukwensinya. Bukanlah sebuah hal yang salah bila ada orang lain mempermasalahkan tentang agama seseorang di tengah komunitasnya sendiri. Itu merupakan hal yang wajar. Lalu mengapa soal agama dianggap kotor? Tentu saja yang tidak boleh adalah fitnah.

Anggapan isu agama adalah politik kotor bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh PKS. Diberitakan ulama dan pimpinan pondok pesantren se-Indonesia termasuk PKS telah berkumpul dan menyatakan dukungan kepada SBY (http://www.eramuslim.com/berita/analisa/pks-sby-dan-legitimasi-agama.htm). Kalau bukan lantaran agama tidak mungkin para ulama itu berkumpul. Apakah ini bukan politisasi agama?

Peran PKS dalam mudzakarah para ulama seperti berita di atas patut juga dipertanyakan. Masalahnya mudzakarah itu telah melibatkan PKS yang jelas-jelas dari awal telah mendukung SBY. Apalah artinya musyawarah kalau sejak berangkat dari rumah pihak-pihak yang terlibat di dalamnya  telah mempunyai pilihan yang sama (mungkin mereka mau jalan-jalan ke Jakarta). Mudzakarah itu hanya sandiwara opera sabun. Sungguh-sungguh terasa anehnya ternyata hasil musyawarah itu ditanda tangani oleh PKS. Oh PKS dalam hal ini engkau sangat memalukan…

 

Survei LSI: SBY Turun, Mega Stagnan, JK Naik June 25, 2009

Filed under: Uncategorized — ainspirasi @ 4:39 am
Tags: , , ,

by pemiluindonesia.com

Survei terbaru LSI mengenai pilihan dalam Pemilihan Presiden, SBY menurun suaranya.

Lembaga Survei Indonesia menemukan elektabilitas calon presiden 2009-2014 Susilo Bambang Yudhoyono dalam survei terbarunya menurun. Sementara elektabilitas Megawati Soekarnoputri stagnan dan Jusuf Kalla merangkak naik.

Berdasarkan hasil survei 15-20 Juni 2009, SBY meraup 67,2 persen dari 2.000 responden yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Megawati mendapat 15,8 persen dan Jusuf Kalla 8,3 persen.

Sementara 8,7 responden yang diambil berdasarkan multistage random sampling belum menentukan pilihan. Hasil survei itu diperoleh berdasarkan pertanyaan, “Jika pemilihan presiden diadakan hari ini, siapa yang akan dipilih dari nama-nama berikut sebagai presiden?”

Sementara jika disurvei dengan pasangan masing-masing, SBY-Boediono mendapat 67 persen, Mega-Prabowo Subianto 16 persen dan JK-Wiranto 9 persen. “Terlihat JK-Wiranto ini lebih mengganggu Mega-Pro,” bunyi kesimpulan survei.

Dalam rilis hasil survei di Hotel Sari Pan Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu 24 Juni 2009, disebutkan survei ini memiliki margin of error 2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Berikut tren suara SBY berdasarkan survei LSI:

- 27 April 2009, 75 persen;

- 3 Mei 2009, 73 persen;

- 30 Mei 2009, 71 persen;

- 20 Juni 2009, 67 persen.

Tren suara Megawati:

- 27 April 2009, 16 persen;

- 3 Mei 2009, 19 persen;

- 30 Mei 2009, 16 persen;

- 20 Juni 2009, 16 persen.

Tren suara JK:

- 27 April 2009, 3 persen;

- 3 Mei 2009, 4 persen;

- 30 Mei 2009, 6 persen;

- 20 Juni 2009, 8 persen.

Sumber :  Arfi Bambani Amri, Mohammad Adam arfi.bambani@vivanews.com

 

Mengapa 3 Stasiun TV Kompak Tolak Iklan Pemilu Mega-Pro? June 25, 2009

Filed under: Opini — ainspirasi @ 4:24 am
Tags: , ,

Pepih Nugraha

Saya menyaksikan iklan pemilu dari capres/cawapres Megawati Soekarnoputri – Prabowo Subianto (MEGA-PRO) di Youtube yang disebut-sebut ditolak penayangannya secara kompak oleh sembilan stasiun televisi dan saya merasa tidak ada sesuatu yang “berbahaya” dan “ancaman” dari penayangan iklan pemilu itu. Saya tidak tahu siapa yang merasa terancam, apakah stasiun televisi, pemerintah, KPU, Bawaslu, atau para pemilik stasiun televisi itu atas nama “kepentingan”? Lantas hak pemirsa untuk melihat tayangan iklan pemilu itu dikemanakan? Bukankah lebih baik ditayangkan dulu lalu kemudian dilarang jika terbukti berbahaya dan mengancam?

Iklan pemilu yang saya lihat di Youtube berjudul Harga itu menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat kecil. Namun di sana terselip sekuel angka-angka yang saling berganti. Konon, ada empat seri iklan pemilu MEGA-PRO yang ditolak oleh sembilan stasiun televisi itu, yakni iklan pemilu berjudul: Bangkrut, Mencintai, Pekerjaan, dan Harga. Sementara tiga materi iklan pemilu lainnya berjudul Persatuan, Maju dan Tim, bisa diterima semua stasiun televisi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, iklan pemilu Bangkrut hanya diterima Indosiar, sementara stasiun lain menolaknya. Iklan Mencintai ditolak antara lain oleh RCTI, Global, Trans, dan Trans7. Iklan Harga dan Pekerjaan ditolak antara lain oleh SCTV, Trans dan Trans7.

Iklan Harga menggambarkan uang yang tersimpan di dompet, uang itu cepat berubah dari nilai Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, sampai tinggal Rp 1.000 dan lalu menghilang di dompet. Untuk harga-harga nilai uang digambarkan cepat meroket naik. Cabai dari Rp 7.500 naik menjadi Rp 11.000, mintak goreng naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 10.000. Orang menuang bensin ke tangki motor, belum lagi tangki penuh bensin sudah habis kering kerontang. Transportasi rakyat digambarkan menghilang, bahkan sajian makanan di meja makan keluarga pun cepat menghilang.

Ada penggambaran Istana Merdeka, lalu diganti dengan gambaran seorang ibu yang harus membayar tabung gas 3 kiloan berwarna hijau, padahal seharusnya tabung gas itu gratis. Digambarkan pula rakyat yang menderita (mungkin akibat bencana) nasional yang kerap menerpa, digambarkan orang susah dimana-mana, sampai kemudian datanglah sosok MEGA-PRO menyapa rakyat petani, anak-anak sekolah, dan pedagang di pasar. Iklan pemilu ditutup dengan tulisan “MEGA-PRO” nomor urut “1″ dengan tanda “contrengan” (v).

Lantas yang menjadi pertanyaan saya: mengapa sembilan stasiun televisi begitu kompak tidak bersedia menayangkan iklan pemilu MEGA-PRO yang konon berdasar data dan angka-angka dari BPS yang berarti real dan bukan angka jadi-jadian itu? Bukannya selama ini stasiun televisi manapun sangat lapar akan kue iklan yang lezat yang berasal dari pundi-pundi capres/cawapres? Kalau stasiun-stasiun televisi begitu kompak menolak, siapa kiranya yang meminta kesembilan stasiun televisi itu untuk kompak menolak iklan pemilu MEGA-PRO? Pemerintahkah? Bawaslukah? KPU-kah? atau Siapa? Atau itu tadi, swasensor pemiliknya sendiri karena rasa takut atau atas nama “kepentingan” lain?

Harus ada penjelasan kepada publik mengenai hal ini! Kita tahu, unsur pemerintah dalam hal ini (kalau benar pihak yang meminta sembilan stasiun televisi untuk kompak menolak) adalah incumbent. Incumbent tidak lain Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK). Nah, apakah SBY dan JK sebagai incumbent merasa keberatan dengan iklan yang mungkin dianggap “mendiskreditkan” kinerja pemerintah mereka saat sebagai presiden/wapres?

Sebagai hasil kreativitas, apapun bentuk dan medianya, saya pribadi sangat menyayangkan adanya pelarangan iklan pemilu itu kalau benar itu terjadi. Mengapa, sebab hasil keativitas itu harus dibunuh justru sebelum dilahirkan. Bukankah lebih baik dinilai dulu baru kemudian diambil tindakan? Bolehlah Bawaslu bekerja setelah penayangan ini. Jika sebelum ditayangkan sudah harus dilarang, bukankah berarti sensor namanya dan setiap sensor bisa diartikan sebagai diktator atau sewenang-wenang!?

Jika sampai persoalan ini mencuat ke permukaan dan publik tahu siapa pihak yang melarang-larang iklan pemilu MEGA-PRO, besar kemungkinan orang itu (kalau dia capres/cawapres), akan mengundang antipati publik karena menggambarkan paranoid dan ketakutan berlebihan yang tidak beralasan. Meminjam istilah catur, tepat rasanya jika dibilang sebagai “blunder” besar. Sebaliknya, MEGA-PRO akan menangguk simpatik publik karena dianggap pihak yang dirugikan akibat kreativitas dan idenya diberangus oleh sembilan stasiun televisi.

Saya menduga-duga, jangan-jangan pihak-pihak yang melarang iklan pemilu MEGA-PRO itu masih trauma atas nyelonongnya Si Butet Yogya (disingkat SBY juga, kan?) saat Deklarasi Pemilu Damai tempo hari. Kita tahu SBY yang satu ini menelanjangi pemerintah dan KPU secara terang-terangan dan terduga di depan SBY yang incumbent. Apakah KPU, Bawaslu dan juga pemerintah takut aksi Si Butet Yogya ini terulang kembali melalui iklan pemilu MEGA-PRO?

Ah, rasanya nggak perlu separno itu deh!
Sumber: kompasiana.com

Iklan tentang harga naik yang ditolak penayangannya oleh beberapa stasiun TV swasta bisa klik di Youtube:

http://www.youtube.com/watch?v=6dUuoGUEMSg

http://erensdh.wordpress.com/2009/06/18/mengapa-3-stasiun-tv-kompak-tolak-iklan-pemilu-mega-pro/

 

SBY-Boediono : Antara Utang dan Rakyat Miskin June 23, 2009

Filed under: Opini — ainspirasi @ 9:03 am
Tags: , ,

Senin, 22/06/2009 17:02 WIB

Melihat kebelakang, acara deklarasi SBY-Boediono di gedung Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), yang penuh dengan gemerlap, dan mirip acara Partai Demokrat AS, yang meresmikan pasangan Obama dan Joseph Biden, maka suatu pameran kemewahan, di tengah-tengah penderitaan jutaan rakyat Indonesia. Pakar komunikasi politik UI, Dr. Effendi Gazali, melalui berbagai media, mengirimkan pesan, jika acara mewah itu, mereka tidak pro-rakyat miskin, ucapnya.

Entah berkaitan atau tidak, tidak dimilikinya empati dalam acara mewah itu, sejalan dengan konsep-konsep IMF yang sejak tahun 1998, menawarkan konsep-konsep yang banyak ‘membunuh’ jutaan rakyat miskin di negeri ini. Walau Boediono membantah dirinya sebagai agen IMF, namun banyak konferensi pers yang dia gelar sebagai pejabat Gubernur BI dan Menko Ekuin dahulu yang menyatakan sebaliknya.

Dalam artikel berjudul ‘Jalan Liberal Pak Boed’ (Media Indonesia, 28 Februari 2007), ekonom Revrisond Baswir, menulis komentar, pidato pengukuhan Dr. Boediono sebagai guru besar ekonomi UGM Yogyakarta, setebal 28 halaman, ternyata mengacuhkan sistem perekonomian kolonial yang sudah berjalan berabad-abad. “Era kolonial adalah ialah bagian teramat penting dari sejarah perekonomian Indonesia. Ia tidak hanya penting karena berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama, ia juga penting sebab aspek ekonomi adalah aspek utama kolonialisme”, ungkapnya.

Baswir menambahkan, Boediono melupakan kenyataan sejarah, jika berakhirnya era Soekarno itu, bukan semata-mata krisis ekonomi, namun disebabkan faktor utamanya adalah karena intervensi AS, IMF, dan World Bank, yang kemudian memicu krisis di Indonesia. Kepatuhan Indonesia kepada IMF,World Bank, dan ADB, yang kemudian menjadikan bangsa ini dari tahun ke tahun ke tahun menimbun utang kian banyak. Sementara pemerintahan SBY, mengklaim berhasil menurunkan utang. Dan, IMF bukan satu-satunya lembaga pengutang, selain IMF ada ADB, World Bank, dan sebagainya.

Adalah Dani Setiawan, Ketua KAU (Koalisi Anti Utang), dalam artikel berjudul ‘Pernyataan SBY Soal Utang Luar Negeri Tidak Memihak Rakyat’, 7 April, 2009, memaparkan data-data valid yang dimilikinya yang ternyata menunjukkan, jika utang Indonesia bukannya bertambah kurang, tapi malah membengkak di era SBY. ‘Outstanding Utang Luar Negeri Indonesisa sejak tahun 2004-2009, terus meningkat dari Rp 1275 trilyun rupiah menjadi Rp 1667 trilyun rupiah (www.dmo.or.id).

Masih ditambah lagi utang dalam negeri dari 662 trilyun rupiah (2004) menjadi Rp 990 trilyun rupiah (2009). Artinya, pemerintah berhasil membawa Indonesia menjadi negara pengutang dengan penambahan kenaikan Rp 392 trilyun dalam kurun waktu lima tahun Artinya, peningkatan utang itu setiap tahunnya bertambah rata-rata 80 trilyun rupiah. Mengalahkan  utang selama pemerintahan Soeharto jumlah utang yakni Rp 1500 trilyun rupiah dalam jangka waktu 32 tahun.

Ironisnya, kegemaran ngutang ini didukung para Neolib di sekelilingnya-ini di era SBY, dan  tidak didukung oleh pembenahan pemerintah yang bersih. Sebab, belum lama ini hasil riset The Political and Economic Risk Consultancy (PERC), yang diterbitkan April 2009, memaparkan temuan, jika Indonesia masih menjadi negara terkorup di Asia. Riset PERC tersebut dilakukan Maret 2009, terhadap 1700 responden pelaku bisnis di 14 negara Asia, ditambah Australia dan Amerika Serikat.

Masih sangat segar ingatan kita, deklarasi SBY-Boediono dalam bahasa simbol jelas menyampaikan pesan,jika mereka sangat terobsesi oleh Amerika Serikat, panglima kapitalisme dunia yang melahirkan gerakan Neo-lib, dan juga tidak memihak kaum miskin.

Kami mengharapkan pandangan dan pendapat dari para pembaca, bagaimana masa depan Indonesia, yang akan lebih baik dengan pemerintahan yang akan datang.

+++
Demikianlah, kami menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasinya dalam ruang dialog sebelumnya, dan rubrik dialog sebelum kami tutup. Redaksi.

 

Pilpres, ikut PKS atau kelompok Islam lain? June 23, 2009

Filed under: Opini — ainspirasi @ 9:01 am
Tags: , , ,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dalam pemilihan presiden nanti, akan ada 3 pasangan calon presiden serta wakil. Namun dalam hal penentuan pilihan membuat sebagian orang bingung. Di satu sisi PKS yg terkenal sangat islami dan teguh memegang nilai-nilai Islam mendukung dan mengarahkan pendukung nya untuk memilih SBY-Budiono. namun di lain sisi, kelompok islam yg lain mengarahkan dukungannya ke JK-Wiranto, bahkan ada kelompok yg mengharamkan untuk memilih SBY-Budiono.

jadi pak ustat, siapakah yg harus diikuti?

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ardi Sofian

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salah satu bentuk ikhtilaf umat Islam Indonesia hari ini adalah ijtihad politik mereka dalam memilih presiden. Suara umat Isalm terpecah kepada tiga calon pasangan presiden. Bukan apa-apa, karena tiga pasangan itu semuanya memang beragama Islam.

Dengan pengecualian Megawati yang perempuan, dimana umumnya umat Islam memandang bahwa seorang wanita tidak pada posisi untuk menjadi pemimpin tertinggi (al-wilayah al-uzhma) dalam struktur kepemimpinan negara.

Karena alasan itulah pada masa sebelumnya, kekuatan poros tengah yang dimotori kekuasan ‘islam’, menolak kalau presidennya Megawati, dan rela dipimpin oleh Abdurrahman Wahid. Walau kemudian mereka juga yang menggulingkan presiden yang akrab dipanggil Gusdur itu.

Kalau Megawati tidak masuk hitungan, tinggal dua pasang calon, yaitu SBY dan wakilnya, serta JK dan wakilnya. Kedua pasangan ini jelas laki-laki, muslim, akil, baligh. Artinya secara syar’i, tidak ada kendala untuk dijadikan pemimpin. Lepas dari urusan lain yang barangkali kita tidak tahu. Tapi secara zhahir, itulah yang kita lihat.

Tinggal  perhitungan yang bersifat tambahan atau accesoris saja. Misalnya tentang masalah kepentingan. Urusan dukung mendukung capres, pasti kan ada imbalannya.

Ilustrasinya, kalau saya mendukung SBY, karena saya punya massa, maka saya akan bikin hitung-hitungan dengan SBY, minimal saya dijanjikan dapat apa. Begitu juga kalau saya mendukung JK lantaran saya punya kekuatan tertentu, maka JK pasti akan menawarkan ‘imbalan’ kepada saya.

Politik balas budi di iklim bernegara di negeri kita memang sudah begitu. Orang-orang umumnya tidak pernah membahas hal-hal yang lebih teknis, misalnya kalau SBY atau JK yang jadi presiden, seperti apa bentuk teknis yang rinci dan masuk akal serta feasible untuk menyelesaikan utang negara yang bertumpuk, atau mengatasi kendala kepungan pasar bebas yang diterapkan negara lain, atau bagaimana paket teknis untuk mengatasi kemiskinan struktural di tengah bangsa.

Sayangnya, debat-debat capres yang kita lihat melulu berhenti pada tingkat orasi dan silat lidah. Apalagi tidak melibatkan orang-orang ahli di bidangnya yang tahu persis kendala tiap masalah.

Jadi dalam pandangan saya, agak terlalu dangkal pertimbangan kita untuk bisa berfikir, siapakah dari mereka yang layak untuk dijadikan presiden.

Tapi lebih kasihan lagi adalah rakyat jelata yang tidak pernah diajak melihat pertimbangan-pertimbangan logis dan masuk akal. Mereka ini bisa saja sebuah jamaah pengajian, yang kalau pimpinan pengajian itu mendukung SBY, ya mereka tinggal amin saja. Dan kalau berubah jadi pilih JK, mereka juga amin saja.

Mereka bisa juga anggota ormas, partai, forum, kelompok, atau apa pun. Umumnya mereka tidak pernah diajak berpikir dan menganalisa. Yang dibutuhkan dari mereka memang bukan hasil pikiran atau analisa. Yang dibutuhkan dari mereka cuma suara. Lalu suara itu ‘ditawar-tawarkan’ kesana kesini kepada para kandidat presiden dan pasangannya. Tentu tawaran yang bukan gratisan, tetapi dengan ‘imbalan’ dalam bentuk apa saja.

Imbalannya mulai dari jabatan menteri yang memang masih dianggap empuk, atau dapat jabatan ini dan itu, atau hak akses kepada penguasa tertinggi, atau hak untuk mendapat proyek-proyek yang menggiurkan.

Ikut PKS Apa Tidak?

Kalau pertanyaannya seperti itu, ikut PKS apa tidak, jawabannya tergantung dari kepada siapa antum bertanya. Kalau tanya kepada aktifis PKS, tentu jawabannya harus, kudu, musti, wajib dan sejenisnya. Alasannya?

Karena sudah ditaklimatkan, sudah diinstruksikan oleh struktur di atasnya. Kalau masih mau dianggap sebagai kader, suka tidak suka, rela tidak rela, harus patuh pada taujih dari ‘atas’.

Kalau mbalelo alias mau jalan sendiri, atau berani-berani berijtihad sendiri, bisa-bisa kena iqob (hukuman) dengan berbagai macam bentuk. Karena itu kalau antum kader PKS, tidak perlu bertanya seperti ini. Buat kader PKS, urusan memlih presiden sudah bukan urusan pribadi lagi, tapi sudah jadi urusan para ‘qiyadah’. Kalau qiyadah bilang A, ya harus A. AKlau qiyadah bilang B, ya harus B.

Tapi kalau antum tanya kepada para aktifis di kalangan Forum Kader Peduli (FKP), mungkin akan lain lagi hasilnya. FKP ini sebenarnya kader PKS juga, tapi yang lebih kritis dan rada vokal untuk didikte begitu saja oleh para qiyadahnya. Di dalam tubuh FKP ini sebenarnya ada beberapa tokoh pediri dan penggagas PKS atau PK di masanya. Jumlahnya memang tidak banyak kalau dibandingkan dengan jumlah anggota Majelis Syuro atau kader yang masih taat, tapi lumayan menarik perhatian lantaran FKP ini menjadi seperti anti thesis dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan para qiyadah yang resmi.

Sebagian kader yang merasa gerah dengan kebijakan pimpinan resmi, ada juga yang ikut ke FKP ini. Beberapa tempat pengajian di Jakarta dan Depok sering digunakan oleh FKP untuk menyampaikan kritik mereka walau pun dikemas dengan bentuk pengajian.

Nah, kalau antum bertanya kepada mereka, besok pilpres milih siapa, boleh jadi jawabannya tidak sama dengan taklimat dari PKS yang resmi. Tentu ada banyak pertimbangan yang bisa digelar dan diadu argumentasikan.

Sikap Bijaksana Saat Suara Umat Terpecah

Lepas dari perbedaan ijtihad dari berbagai kalangan umat Islam, termasuk perbedaan pandangan antara PKS dan FKP, kita sebagai umat Islam yang awam, jujur, lugu, polos dan juga menginginkan kebaikan, tentu harus punya ekstra kesabaran.

Sabar untuk melihat perbedaan dari saudara-saudara kita. Sabar untuk tidak ikut terjebak dalam perdebatan dan silat lidah serta adu retorika. Sabar untuk tidak  terpancing untuk ikut bermusuhan dengan sesama muslim, apalagi saling mencaci, memaki, menjelekkan, berghibah, atau menghasud.

Saya pribadi lebih mengkhawatirkan perpecahannya ketimbang siapa yang nantinya jadi presiden. Sebab perpecahan itu adalah sebuah kerugian besar buat umat. Persaudaraan adalah anugerah Allah yang mahal harganya, tidak sebanding dengan janji-janji anugerah dari kandidat presiden bila kita mendukungnya.

Jangan sampai gara-gara memilih satu pasanga kandidat, kita malah mengorbankan persaudaraan kita yang jauh lebih berharga. Buat saya, ada satu komentar usil untuk urusan ini : ’sudahlah, yang waras ngalah saja’.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

 

Kader PKS Sebaiknya Jalan Sendiri May 27, 2009

Filed under: Opini — ainspirasi @ 3:41 am

Pernahkah kader diminta pendapatnya tentang keputusan DPP untuk memaafkan Soeharto?

Pernahkah kader diajak berembuk soal iklan TV?
Pernahkah kader diajak berdiskusi menentukan berpihak siapa di pilpress?

Coba lihat perilaku segelintir orang yang menjabat DPP PKS. Ngomongnya sangat TIDAK PATUT. Ngomong politiknya sangat jauh dari santun, main ancam.  Juga bila diperhatikan antara yang satu dengan lainnya terkesan tak kompak. Dampaknya kader yang di bawah sana sangat sulit menjawab pertanyaan masyarakat. Padahal kader di bawah merupakan ujung tombak kemenangan partai. Kader bersusah-susah membujuk masyarakat untu memberikan dukungan. Lalu atas kekeliruan qiyadahnya para kader harus memasang muka gedeg? Pertanyaannya: di manakah buah tarbiyah selama ini tentang ukhuwah, jamaah, syura? Apakah syura itu bermakna hanya dari DPP saja atau segelintir orang saja (99 orang itu) yang punya hak memutuskan? Apakah ukhuwah itu berarti kader hanya diminta tsiqohnya tanpa perlu mempertanyakan lagi keputusan yang diambil? Apakah istilah jamaah itu dimaksudkan kader harus tunduk bergabung melaksanakan semua kuputusan qiyadah tanpa bantahan? Sejatinya ketika semua telah diajak berembuk dan diambil keputusan, maka di sanalah berlaku tsiqoh. Tsiqoh tanpa reserve hanya pada Quran dan Sunnah.

Mengingat hal itu, sudah sepantasnya para kader PKS memilih jalannya sendiri. Ini sebagai protes atas kelancangan qiyadah yang mengambil kebijakan publik sendirian.  Apa bedanya kader pilih SBY-Budiono atau JK-Win? Tak ada jaminan kalau SBY-Budiono menang dakwah makin baik.  Bahkan bisa-bisa kemenangan SBY-Budiono makin membuat para petinggi makin terbuai hingga lupa dengan misi dakwah itu sendiri. Saat ini saja PKS sudah dicaci maki lantaran sikap politiknya yang jauh dari ke-patutan. Grusa-grusu, lompat sana-sini. Slow ajalah…menang kalah biasa. Para nabi selalu dilecehkan karena keteguhan imannya. Tapi akhirnya nabi-nabi itulah yang menang…

 

Saran untuk PKS: Tidak Perlu RIBUT May 12, 2009

Filed under: Opini — ainspirasi @ 6:31 am
Tags: ,

PKS Sudah Dapat Kepastian SBY Pilih Boediono

Jakarta – Partai Demokrat (PD) membantah SBY sudah menetapkan Boediono sebagai cawapresnya. Namun, Sekjen PKS Anis Matta mengaku pihaknya sudah diberitahu bahwa SBY telah menetapkan Boediono.

“Ada utusan khusus SBY yang memberitahu tahu kepada kami bahwa SBY sudah memilih Boediono,” kata Anis Matta saat dihubungi detikcom, Senin (11/5/2009).

Utusan khusus itu memberitahukan kepada PKS informasi penting ini pada Senin siang. Namun, Anis tidak menyebutkan siapa utusan khusus yang dimaksud.

Yang jelas, Anis yakin bahwa informasi Boediono telah dipilih sebagai cawapres SBY adalah benar. “Ini informasi A1, ya saya percaya,” ujar dia.

Namun, informasi mengenai Boediono itu bersifat pemberitahuan. “Kami belum diajak untuk bicara,” ujar dia.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok membantah isu bahwa SBY sudah memilih Boediono sebagai cawapres. Menurut dia, isu yang beredar hanyalah dugaan saja.

Meski begitu, sinyal bahwa Boediono akan menjadi cawapres SBY terlihat, salah satunya dari terpilihnya Darmin Nasution sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Isu yang berkembang Darmin diplot akan menjadi Gubernur BI menggantikan Boediono.

Kalau berita ini benar maka berakhirlah upaya PKS  mendapatkan potongan kue kekuasaan.  Dari sisi tinjauan sosok parpol kasihan sekali yang namanya PKS.  Semangatnya yang menggebu-gebu mengejar kekuasaan harus menelan ludah. Ternyata SBY tidak memilih kader PKS sebagai Cawapres.  Apa mau dikata. Begitulah nasib parpol kalau  meniatkan sepak terjangnya hanya untuk kekuasaan.

Sebagai partai dakwah sebenarnya PKS tak perlu berkecil hati. Masih ada kesempatan untuk memperoleh kekuasaan itu. Apalah artinya dunia ini? Allah yang Maha pegatur pasti mampu membuat skenario manusia yang tersusun rapi menjadi berantakan. Caranya segeralah PKS berbenah. Libatkan para kader untuk mengambil kebijakan. Aktifkan kembali pengambilan kebijakan berdasarkan masukan dari usrah-usrah. Pengambilan keputusan yang hanya berbasis pimpinan partai tidaklah cukup karena PKS dibangun atas dasar semangat ghirah yang sama kepada Allah. Mohonlah kepada Allah bukan kepada manusia.

Saat ini para kader sudah cukup cerdas dan matang baik dari sisi organisasi maupun spiritual. Orientasi kekuasaan demi dakwah bukanlah ungkapan menyenangkan. Para anbiya tak pernah berhenti dan patah semangat dalam berdakwah ketika mereka dicemooh kaumnya. Tidak perlu neko-neko, bersilat lidah, grusa-grusu, atau apalah namanya yang mencerminkan PKS gila kekuasaan. Orang bilang slow aja. PKS sejatinya harus bersikap low profile.  Kalau tawaran kerjasama PKS tidak ditanggapi yah so what gitu!! Katakan saja good bye!!!

Marilah PKS terus melayani. Selama PKS tetap berada dalam manhajnya orang akan memperhatikannya. Tetapi ketika PKS menjadi membingungkan maka alih-alih mendekat orang akan menjauh. Sedikit gunanya berhadapan dengan yang membingungkan. Lupakanlah cawapres. Rumuskanlah langkah-langkah strategis dakwah untuk masa berikutnya.  Hiruk pikuk capres-cawapres sudah berakhir. Biaralah itu diributkan oleh parpol lain.

Saya usul dalam empat tahun ke depan PKS menyibukkan diri dengan dakwah. pembicaraan perebutan kekuasaan di usrah-usrah harus ditekan sekecil-kecilnya. Kalau nantinya ada masalah kekuasaan/politik yah.. dibicarakan nanti saja. Hentikan saja kegiatan-kegiatan manuver politik. Keberhasilan Dakwah tidak ditentukan oleh kemenangan politik melainkan ditentukan pelaku dakwah itu.

 

Sahabat HIdayat February 25, 2009

Filed under: Uncategorized — ainspirasi @ 6:34 am
Tags: , , ,

Ini merupakan organisasi relawan yang dibuat oleh masyarakat dari berbagai profesi dan golongan untuk membantu kiprah Hidayat Nurwahid sebagai calon angota legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah V. Sebagaimana diketahui Hidayat Nurwahid dicalonkan oleh PKS sebagai caleg nomor satu di dapil yang terdiri atas empat wilayah itu, yakni Solo, Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten. Di dapil tersebut Hidayat akan bersaing dengan sejumlah tokoh nasional dari partai lain.

Hidayat Nurwahid hadir meluncurkan sekaligus melantik pengurus Sahabat Hidayat, Senin (29/12) di Gedung Wayang Orang Taman Sriwedari, Solo. Sahabat Hidayat nantinya akan membantu menyosialisasikan program kerja Hidayat Nurwahid sebagai caleg kepada masyarakat luas di Dapil V.

Dengan demikian, selain kader PKS, Hidayat akan mendapat bantuan dari relawan Sahabat Hidayat dalam pertarungan di Pemilu 2009 mendatang.

Dalam sambutannya Hidayat menekankan, bahwa Sahabat Hidayat dideklarasikan untuk menyongsong peristiwa politik paling dekat, yakni Pemilu 2009. “Kita bicara sampai di situ saja dulu,” tegasnya, ketika menjawab pertanyaan seorang Sahabat Hidayat yang memintanya maju sebagai Capres.

Hidayat juga mengatakan, hingga saat ini PKS belum memutuskan siapa yang akan dicalonkan sebagai capres maupun wapres. Setelah Pemilu Legislatif selesai, imbuhnya, akan dilakukan siding Majelis Syuro. Dari situ nantinya diputuskan siapa yang akan dicalonkan oleh PKS. Yang jelas, imbuh dia, PKS baru akan mengajukan calonnya kalau memperoleh suara yang signifikan, yakni lebih dari 15 persen dalam pemilu mendatang.

“Karena itu kalau ingin calon PKS maju, sahabat-sahabat harus mensukseskan PKS,” ajaknya.

Deklarasi itu sendiri dihadiri oleh ribuan masyarakat dari berbagai kalangan. Di antaranya komunitas pedagang kaki lima, pengamen jalanan, ibu rumah tangga, komunitas tukang becak, dan anggota masyarakat lainnya.

 

Jawaban Kontradiksi Quran February 20, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 9:51 am
Tags: , , , , ,

Ini merupakan sanggahan kepada penuduh jahil.

KESESUAIAN/ KESINERGISAN/ KEKONSISTENAN ALQURAN:
Antara lain:
1. Siapakah yg pertama kali menjadi Muslim? Muhammad (Qs.6:14,163) .
Hal ini bertentangan dengan:
Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Musa (Qs.7:143).
Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Beberapa orang Mesir (Qs.26:51).
Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Ibrahim (Qs.2:127-133, Qs.3:67).
Yang menjadi Muslim pertama kali adalah Adam, yaitu manusia ciptaan pertama, yang menerima wahyu dari Allah Muslim (Qs.42:51).
Sampai disini sudah ada 10 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 10 pertentangan.

Ayat 22:75 menjelaskan dari dulu pengikut Adam, Ibrahim, Musa, Isa dll adalah Muslim. Saya menduga ayat-ayat yang dipersoalkan dapat ditafsirkan lain. Orang yang pertama berarti orang yang utama. First lady bukan berarti dialah perempuan pertama. Melainkan warga negara perempuan paling utama. Dengan demikian maksud ayat di atas adalah memerintahkan kita semua untuk menjadi orang-orang yang memiliki kualitas iman yang baik.

Sampai disini sudah lenyap 10 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 10 pertentangan.


2. Bisakah Allah Muslim dilihat oleh manusia dan apakah Muhammad (Mhd) melihat Allahnya? Ya, Mhd dapat melihat Allahnya ( Qs.53:1-18, Qs.81:15-29) .
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.6:102-103 dan Qs.42:51) mengatakan bahwa Mhd tidak dapat melihat Allahnya..
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 14 pertentangan.

Jelas-jelas tidak ada pertentangan. Ayat-ayat yang dituduhkan menceritakan pandangan nabi Muhammad SAW dan malaikat pembawa wahyu yaitu Jibril.

Sampai disini sudah lenyap 4 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 14 pertentangan.

3. Apakah pemberi peringatan (Rasul) dikirim kepada semua manusia sebelum kedatangan Mhd? Ya, Allah Muslim telah mengirim pemberi peringatan (Rasul) kepada setiap orang ( Qs.10:47, 16:35-36, 35:24).
Hal ini bertentangan dengan:
Ibrahim dan Ismael secara spesial telah dikirim oleh Allah Muslim untuk mengunjungi Mekah dan membangun Ka’bah serta memberi peringatan kepada orang2 di sana ( Qs.2:125-129) .
Anehnya, Mhd ternyata dikirim sebagai pemberi peringatan (Rasul) kepada orang2 yg belum memiliki rasul/pemberi peringatan tersebut sebelumnya ( Qs.28:46, 32:44, 36:2-6).
Hal ini menimbulkan pertanyaan: “Bagaimana dengan Hud dan Sahih yg nyata2 juga telah dikirim sebagai pemberi peringatan ke Arab? Bagaimana juga dengan Kitab yg telah diberikan kepada Ismael? Dll ( Qs.11:50, 11:61).
Sampai disini sudah ada 18 pertentangan ayat.
Jadi total sudah ada 32 pertentangan.

Bagus sekali pertanyaan si penuduh. Kalau mau dilanjutkan apakah Ibrahim berasal dari Bani Israil atau Arab? Tentu saja pertanyaan itu lucu. Arab dan Bani Israil berasal dari Ibrahim. Makanya dikatakan beliau adalah bapak para nabi. Nabi-nabi utusan Allah banyak yang berasal dari garis keturunan Ibrahim. Dari Ibrahim muncul Ismail dan Ishaq. Dari Ismail muncul bani Arab. Dari Ishaq kemudian muncul bani Israil.

Hanya ada empat kitab suci Taurat, Zabur, Injil dan Quran. Ada satu lagi yaitu ”lembaran” Ibrahim. Tidak ada kitab lain yang dikirim kepada Ismail. Kalaupun ada pastilah berasal dari warisan Ibrahim.

Sampai disini sudah lenyap 18 pertentangan ayat. Jadi total sudah lenyap 32 pertentangan.


4. Apakah yg menjadi makanan orang2 di Neraka? Makanan orang2 yg ada di Neraka adalah Dhari atau pohon berduri (Qs.88 :6).
Hal ini bertentangan dengan:
Makanan orang2 di Neraka adalah darah dan nanah (Qs.69:36).
Makanan orang2 di Neraka adalah buah dari pohon Zaqqum (Qs.37:66).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 34 pertentangan.

Ini hanya sinonim. Boleh jadi zaqum itu berduri dan bernanah.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat. Jadi total sudah lenyap 34 pertentangan.


5. Bisakah malaikat2 menyebabkan kematian/penderitaa n terhadap manusia? Alquran menyerang mereka yg menyembah selain Allah Muslim, seperti malaikat, nabi. Mengapa? Karena malaikat dan dan nabi tidak bisa menciptakan, memberi kehidupan atau bahkan menyebabkan kematian atau penderitaan.
Hal ini bertentangan dengan:
“Sesungguhnya orang2 yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri…(Qs.4: 97).
“(Yaitu) orang2 yg dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri” (Qs.16:28).
“(Yaitu) orang2 yg diwafatkan dlm keadaan baik oleh para malaikat..” (Qs.16:32).
“Katakanlah, “malaikat maut yg diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu..” (Qs.32:11).
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 38 pertentangan.

Malaikat itu eksekutornya Allah. Kalau dikatakan Allah mematikan artinya malaikat yang mencabut nyawanya dengan ijin Allah.

Sampai disini sudah lenyap 4 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 38 pertentangan.


6. Bisakah umat Muslim menikah dengan orang Non-Muslim? Alquran melarang umat Muslim menikahi wanita penyembah berhala dan kafir juga musyrik serta menganggap orang di luar Islam adalah binatang yang paling jahat dan buas (Qs.2:221, 8:55, 9:28-33).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.5:5 yang ternyata memperbolehkan Umat Muslim untuk mengawini/menikahi wanita Kristen.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 39 pertentangan.

Yang boleh dinikahi adalah waita ahlul kitab di jaman nabi Muhammad SAW. Setelah itu tidak pantas atau tidak ada lagi istilah ahlul kitab. Ahlul kitab yang dimaksud adalah ahlul kitab yang masih memegang teguh ajaran injil. Perhatikan ayat itu 5:5 jelas-jelas disebut ahlul kitab sebelum nabi Muhammad diutus. Wajarlah MUI telah mengeluarkan fatwa keharaman nikah beda agama, Islam-non-Islam.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 39 pertentangan.

7. Apakah Allah Muslim akan menganugerahi imbalan yg baik atas perbuatan2 baik orang Non-Muslim? Tidak ( Qs.9:17, 9:69).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.2:62 menjanjikan bhw Umat Kristen (Non-Muslim) akan diberi penghargaan atas perbuatan baik mereka.
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 41 pertentangan.

Sangat klasik pernah dibahas di tvri.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 41 pertentangan.


8. Berapa banyak Ibu yg dimiliki seorang Muslim? Hanya satu, yaitu wanita yg melahirkan mereka dan tiada yg lain ( Qs.58:2).
Hal ini bertentangan dengan:
Ibu yg dimiliki seorang Muslim adalah dua (2) (Qs..4:23, termasuk seorang ibu yg merawat mereka).
Ibu yg dimiliki seorang Muslim adalah sedikitnya sepuluh (10) (Qs.33:6).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 43 pertentangan.

Ibu kandung kalau tidak bisa menghasilkan air susu boleh meminta ibu lain menyusukan bayinya. Ibu susuan itu statusnya seperti ibunya sendiri terutama dalam hal pernikahan.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 43 pertentangan.

9. Mengenai pembagian harta warisan dalam Hukum Kewarisan Islam. Qs..4:11-12 dan Qs.4:176 menyatakan bahwa jika seorang lelaki Muslim meninggal dan ia meninggalkan 3 puteri, 2 orangtua, dan isteri..maka pembagian harta warisannya adalah 2/3 dari harta warisan yg diberikan kepada 3 puterinya secara bersamaan, 1/3 dari harta warisan diberikan untuk orangtuanya ( Qs.4:11) dan 1/8 untuk isterinya (Qs.4:12).
Hal ini bertentangan dengan:
Jika lelaki Muslim meninggal, maka pembagian harta warisannya adalah ibunya menerima 1/3 dari harta warisan (Qs.4:11), isterinya menerima ¼ dari harta warisan ( Qs.4:12), dan 2 saudara perempuannya menerima 2/3 dari harta warisan (Qs.4:176), dan ditambah lagi hingga 5/12 dari harta warisan yang tersedia/ada.
Sampai disini sudah ada 6 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 49 pertentangan.

Ayat ini sangat jelas tak perlu diperdebatkan. Ada syarat-syarat yang harus diperhatikan.

Sampai disini sudah lenyap 6 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 49 pertentangan.


10.. Berapa banyak malaikat yg berbicara kepada Maryam? Beberapa malaikat (several angels) (Qs.3:42, 3:45).
Hal ini bertentangan dengan:
Malaikat yg berbicara kepada Maryam adalah hanya satu malaikat (Qs.19:17-21) .
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 52 pertentangan.

Penuduh ini ngerti apa tidak bahasa arab? Maklum yang dikutip ucapan orang lain.

Sampai disini sudah lenyap 3 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 52 pertentangan.

11. Berapakah 1 hari dimata Allah Muslim? 1 hari dimata Allah Muslim = 1000 tahun (Qs.22:47, 32:5).
Hal ini bertentangan dengan:
1 hari dimata Allah Muslim = 50.000 tahun (Qs.70:4)
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, total sudah ada 55 pertentangan.

Berapakah jarak Jakarta-Bangkok? Berapakah lama perjalanan Jakarta-Bangkok? Pertanyaan ini tak bisa dibandingkan karena sama-sama menyatakan kebenarannya sendiri.

Sampai disini sudah lenyap 3 pertentangan ayat, total sudah lenyap 55 pertentangan.


12. Ada berapa golongan/groupkah orang2 yg ada pada akhir zaman? Ada 3 golongan/group (Qs.56:7).
Hal ini bertentangan dengan:
a. Qs.90:18-19 mengatakan bahwa ada 2 golongan/group yg ada pada hari Penghakiman/ Akhir Zaman, yaitu golongan kanan dan golongan kiri.
b. Qs.99:6-8 juga mengatakan bahwa akan ada 2 golongan/group yg ada pada hari Penghakiman/ Akhir Zaman, yaitu golongan yg berbuat baik dan yg berbuat jahat.
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 58 pertentangan.

Tak ada yang bertentangan. Pada dasarnya hanya ada dua golongan beriman dan tidak beriman. Yang beriman kemudian terbagi lagi yang utama beriman dan yang tidak utama.

Sampai disini sudah lenyap 3 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 58 pertentangan.


13. Berapa harikah yg dibutuhkan Allah Muslim untuk menghancurkan orang2 Aad? Satu hari (Qs.54:19).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs..41:16 dan Qs.69:6-7 mengatakan bahwa waktu yg dibutuhkan Allah Muslim untuk menghancurkan orang2 Aad adalah beberapa hari.
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 60 pertentangan.

Jelas-jelas disebut lebih dari satu hari. Inilah hasil jiplakan penuduh sesat.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 60 pertentangan.


14. Berapa harikah masa Penciptaan? Bila anda menjumah hari penciptaan dlm Qs.41:9 (4 hari), Qs.41:10 (2 hari) dan Qs.41 :12 (2 hari), maka total hari Penciptaan adalah 8 hari.
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.7:54, Qs.10:3, Qs.11:7 dan Qs.25:59 jelas menyebutkan bahwa Allah Muslim menciptakan langit dan bumi adalah dalam waktu 6 hari.
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 64 pertentangan.

Langit dan bumi diciptakan dalam enam massa. 2 massa penciptaan bumi (41:9) dan 4 massa penciptaan isi kandungan bumi (41:10). Boleh jadi 2 massa pertama adalah penciptaan bumi tanpa isi dan belum sempurna. Selanjutnya 2 massa berikutnya adalah penentuan isi kandungan bumi. Ini bisa dipahami dari kata-kata memberkahinya. Jadi dikatakan pemberkatan dan penentuan kadar bumi dalam 4 massa. 2 massa lagi adalah penciptaan langit (2:12). Mana yang lebih dahulu? Dari ayat ini jelas yang diciptakan lebih dahulu adalah bumi. Setelah bumi, diciptakan langit. Setelah sempurna bumi dan langi maka terakhir menghamparkan bumi (79:29) atau menempatkan bumi pada orbitnya. Cocok khan?

Sampai disini sudah lenyap 4 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 64 pertentangan.


15. Cepat atau lambatkah Penciptaan itu? Allah Muslim menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari (Qs.7:54, Qs.10:3, Qs.11 :7 dan Qs.25:59).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim mencipta secara “spontan” dan langsung jadi (Qs.2:117).
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 68 pertentangan.

Cepat artinya apa yang dikehendaki Allah pasti langsung terjadi. Ketika Allah memerintahkan enam masa maka yah..enam masa terjadinya.

Sampai disini sudah lenyap 4 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 68 pertentangan.

 


16. Manakah yg lebih dahulu diciptakan: langit atau bumi? Pertama, bumi dulu yg diciptakan, lalu kemudian barulah langit ( Qs.2:29).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs..79:27-30 yg menyebutkan bahwa yg diciptakan terlebih dahulu adalah langit, kemudian bumi.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 69 pertentangan.


Sudah dijawab.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 69 pertentangan.


17. Bagaimanakah proses penciptaan terjadi? Dalam proses penciptaan langit dan bumi diciptakan dengan suka hati atau terpaksa ( Qs.41:11).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.21:30 menyebutkan bahwa langit dan bumi pada mulanya diciptakan telah bersatu padu, kemudian baru dipisahkan.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 70 pertentangan.

Maksudnya langit dan bumi dengan suka hati mengikuti perintah Allah.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 70 pertentangan.

18. Dari manakah manusia itu diciptakan? Dari Segumpal Darah (Qs.96:1-2).
Hal ini bertentangan dengan:
Manusia diciptakan dari air (Qs.21:30, 24:45, 25:54).
Manusia diciptakan dari tanah liat kering yg berasal dari Lumpur hitam (Qs.15:26).
Manusia diciptakan dari debu tanah (Qs.3:59, 30:20, 35:11).
Manusia diciptakan dari bahan yg tidak ada sama sekali (Qs.19:67).
Manusia diciptakan dari bumi (Qs.11:61).
Manusia diciptakan dari mani/sperma (Qs.75:37).
Sampai disini sudah ada 11 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 81 pertentangan.

Setelah penciptaan langit dan bumi selanjutnya penciptaan manusia. Manusia pertama dari tanah dan berikutnya dari air yang dipancarkan oleh laki-laki. Tak ada pertentangan.

Sampai disini sudah lenyap 11 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 81 pertentangan.

19. Bolehkah menjadi perantara/orang yg bersyafaat atau tidak pada Hari Penghakiman/ Akhir Zaman? Boleh (Qs.20:109, 34:23, 43:86, 53:26).
Hal ini bertentangan dengan:
Menjadi perantara/orang yg bersyafaat pada Hari Penghakiman/ Akhir Zaman adalah tidak boleh (Qs.2:122-123, 2:254, 6:51, 82:18-19).
Sampai disini sudah ada 16 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 97 pertentangan.

20. Dimanakah Allah Muslim dan tahtaNya? Allah Muslim lebih dekat daripada urat leher manusia (Qs.50:16).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim itu berada di tahtaNya/arasyNya (Qs.57:4)…tahtaNya dimana?!
Allah Muslim itu tahtaNya berada di atas air (Qs.11:7).
Allah Muslim itu tahtaNya berada antara 1.000 hingga 50.000 tahun untuk dijangkau (Qs.32:5, 70:4).
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 101 pertentangan.

Penuduh tidak paham bahasa Indonesia. Ayat di atas menjelaskan dekatnya Allah dengan manusia. Sedangkan istana Allah ada di atas air, siapa yang tahu?.

Sampai disini sudah lenyap 4 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 101 pertentangan.


21. Siapakah sumber malapetaka? Sumber malapetaka adalah Setan di “dalam” diri manusia atau gangguan (Qs..38:41).
Hal ini bertentangan dengan:
Sumber malapetaka adalah kita sendiri (Qs.4:79).
Sumber malapetaka adalah Allah sendiri (Qs.4:78).
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan, jadi total sudah ada 104 pertentangan.

Tidak salah. Malapetaka itu bisa saja berasal dari manusia sendiri. Menyimpangnya manusia dari jalan Allah lantaran mengikuti syetan atau mengikuti hawa nafsunya. Soal taqdir, itu urusan Allah.

Sampai disini sudah lenyap 3 pertentangan, jadi total sudah lenyap 104 pertentangan.

22. Apakah Allah Muslim memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji? Tidak! (Qs.7:28, 16:90).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim memang memerintahkan untuk melakukan kejahatan/perbuatan keji (Qs.17:16, Qs.5:33, Qs.8:12, Qs.8:17).
Sampai disini sudah ada 8 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 112 pertentangan.

Si penuduh tampaknya tak paham bahasa Indonesia. Di ayat 17:16 menerangkan kebijakan Allah menghancurkan umat pembangkang bukannya memerintahkan kejahatan. Ayat 5:33 menjelaskan hukuman bagi yang mengancam keselamatan orang lain. Ayat 8:12 menjelaskan kondisi orang kafir di medan pertempuran.

Sampai disini sudah lenyap 8 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 112 pertentangan.

23. Salah satu dari 99 Nama dari Allah Muslim adalah MahaBenar
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim menjuluki diriNya sebagai “Sebesar-besar Penipu Daya / Penipu Ulung Penipu yg Hebat” (Qs.3:54).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 113 pertentangan.

Si penuduh menampakkan kejahilannya. Ayat 3:54 menjelaskan Allah mengetahui rencana jahat manusia dan sesungguhnya Allah Maha pembuat rencana. Rencana siapakah yang menang? Tentu rencana Allah.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 113 pertentangan.


24. Allah Muslim adalah Jalan yg Lurus (Qs.19:36).
Bertentangan dengan:
Allah Muslim juga berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan (Qs.4:88).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 114 pertentangan.

Betul sekali jalan Allah adalah jalan yang lurus. Orang yang tidak mau mengikuti jalan Allah dikatakan orang yang sesat dan mereka dibiarkan sesat sesuai rencana Alllah. Sedangkan rencana Allah tak ada seorang pun yang mengetahui.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 114 pertentangan.


25. Allah Muslim itu MahaKuasa (Qs.2:20), bertentangan dengan: Allah Muslim itu juga ditolong manusia (Qs.47:7).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 115 pertentangan.

Allah tak butuh pertolongan manusia. Maksud ayat 47:7 itu ditujukan kepada orang-orang yang menggunakan tenaga, waktunya, dan hartanya untuk menyampaikan dan menegakkan agama Allah.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 115 pertentangan.


26. Allah Muslim itu Maha Mengetahui (Qs.4:24), bertentangan dengan: Allah Muslim juga belum mengetahui (Qs.9:16).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan, jadi total sudah ada 116 pertentangan.

Ayat itu maksudnya agar orang-orang yang menyatakan dirinya beriman harus membuktikan keimanannya. Dia harus melaksanakan perintah Allah dan harus bersabar menerima ketentuan-Nya.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan, jadi total sudah lenyap 116 pertentangan.


27. Allah Muslim itu Mahakaya (Qs.2:263), bertentangan dengan: Allah Muslim meminjam kepada manusia (Qs.5:12).
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 117 pertentangan.

Maksud ayat memberi pinjaman kepada Allah adalah seperti memberi sebagian hartanya untuk menolong orang lain yang kesusahan, zakat, sedekah dsb.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 117 pertentangan.


28. Allah Muslim itu Esa/Satu/Tauhid (Qs.112:1), bertentangan dengan: Allah Muslim itu lebih dari satu/jamak, karena setiap kali berfirman kepada nabiNya, kepada manusia, kepada malaikat maka Allah Muslim selalu berkata: “KAMI” (Lihat Qs.4:47, 6:92, 12:2, 13:37, 14:1, 15:6, 17:2, 18:7, 19:40, 20:55, 21:71, 29:15, 36:12, 40:78, 46:16, 49:13, 56:57, 66:12, 72:16, 80:25-27, 90:4, dll).
Sampai disini sudah ada 21 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 138 pertentangan.

Kami menunjukkan perbuatan Allah itu dieksekusi oleh malaikat. Allah memerintahkan kepada malaikat untuk melakukannya.

Sampai disini sudah lenyap 21 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 138 pertentangan.


29. Apakah malaikat itu pelindung? Tidak ada pelindung selain Allah Muslim (Qs.2:107, 29:22).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.41:31 yg mencatat bahwa bahwa malaikat berkata: “Kamilah pelindung-pelindung mu dalam kehidupan dunia dan akhirat.”
Peranan malaikat adalah sebagai pengawas dan penjaga (Qs.13:11, 50:17-18).
Malaikat adalah pengawas pekerjaan manusia (Qs.82:10).
Sampai disini sudah ada 8 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 146 pertentangan.

Malaikat adalah pesuruh Allah. Allah memerintahkan malikat untuk melakukan pekerjaan tertentu. Apanya yang salah? No problemo.

Sampai disini sudah lenyap 8 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 146 pertentangan.

30. Apakah semua yg ada di langit dan bumi tunduk kepada Allah Muslim? Ya (Qs.30:26).
Hal ini bertentangan dengan:
Ternyata Setan/Iblis tidak tunduk kepada Allah Muslim (Qs.7:11, 15:28 -31, 17:61, 20:116, 38:71-74, 18:50)., bahkan orang2 Non-Muslim pun menolak taat dan tunduk kepada Allah Muslim sampai hari ini!
Sampai disini sudah ada 6 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 152 pertentangan.


Yah itu artinya orang non muslim sama dengan syaithan/iblis tidak mau taat kepada Allah. Iblis tidak tunduk ketika diperintah sujud kepada Adam karena iblis gengsi alias takabur. Iblis kemudian diusir dari kediamannya. Namun iblis memohon agar dia diberi kesempatan menggoda manusia agar manusia mengikutinya ke nereka kelak. Akibatnya banyak diantara manusia tergoda mengikuti iblis sehingga mereka sesat dan akhirnya diazab Allah. Azab yang dialami oleh umat manusia yang tidak mengikuti nabinya selalu terjadi setelah mereka menyatakan pengingkarannya. Ini sering terjadi sebelum masa kenabian Muhammad. Adapun umat manusia yang tidak beriman kepada Allah, setelah itu akan diberi kesempatan sampai hari kiamat untuk memperbaiki diri. Makanya Allah tidak juga mengazab mereka sampai saat ini.

Ayat-ayat yang disebutkan tidak bertentangan karena ketundukan di sini bisa dipahami sebagai mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Kita bisa lihat manusia pada umumnya perlu makan untuk mempertahankan hidupnya. Adakah manusia yang menentang hukum ini untuk bertahan hidup? Adakah manusia yang tidak perlu udara untuk bertahan hidup? Itulah yang dimaksud manusia semuanya tunduk padaAllah.

Sampai disini sudah lenyap 6 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 152 pertentangan.

 


31. Apakah Allah Muslim mengampuni dosa syirik?Dosa syirik dianggap dosa yg paling buruk dari segala dosa, tetapi penulis Quran tidak dapat memutuskan apakah Allah Muslim akan mengampuni dosa syirik atau tidak ( Qs.4:48, 4:116).
Hal ini bertentangan dengan:
Dosa syirik adalah dapat diampuni (Qs.4:153).
Dosa syirik adalah dapat diampuni (Qs.25:68-71) .
Sampai disini sudah ada 4 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 156 pertentangan.

Allah tidak pernah mengampuni syirik. Cukuplah ayat 3:10 dan 22 menjelaskannya. Ayat 4:153 menjelaskan pengampunan Allah terhadap kelakuan umat nabi Musa semasa mereka masih hidup, BUKANNYA SETELAH MATI. Sangat jelas di ayat 25:68-71 tidak menyebutkan ampunan Allah terhadap pelaku syirik. Allah menyebut mereka yang tidak menyembah selain Allah, tidak membunuh, tidak zina akan mendapat kebaikan dan yang syirik, membunuh, berzina akan diazab. Kalau mau kritis lagi ayat ini menjelaskan siapa yang sirik akan dihukum, yang membunuh akan dihukum, yang zina akan dihukum.

Sampai disini sudah lenyap 4 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 156 pertentangan.


32. Siapakah yg mewahyukan Alquran? Sosok Allah Muslim (Qs.53:2-18) .
Hal ini bertentangan dengan:
Yg mewahyukan Alquran adalah RuhulQudus/Roh Kudus (Qs.16:102, 26:192-194).
Yg mewahyukan Alquran adalah para malaikat/banyak malaikat (jamak dalam bahasa Arabnya) (Qs.15:8).
Yg mewahyukan Alquran adalah Jibril (Qs.2:97).
Awas! Harap lihat Alquran dalam bahasa aslinya, dan tidak dikaburkan/ dicampur adukkan oleh istilah/sisipan dari “penterjemah” yg menyamaratakan/ menggantikan “Ruhul Qudus” “Jibril” dan “Malaikat”.
Sampai disini sudah ada 5 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 161 pertentangan.

Sangat jelas kengawuran dari tuduhan ini. Ayat 53:10 jelas menyebut wahyu itu asalnya dari Allah lalu malaikat yang menyampaikannya kepada Muhammad. Ayat ini terlalu mudah untuk dipahami. Hanya mempersoalkan sebuah sinonim. Siapakah itu presiden Indonesia, siapa itu jendral asal pacitan, siapa itu SBY? Ketiga frasa kata ini menunjuk pada satu sosok.

Sampai disini sudah lenyap 5 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 161 pertentangan.


33. Apakah Ibrahim menghancurkan berhala-hala? Ya (Qs.21:51-59) .
Hal ini bertentangan dengan:
Ibrahim tidak menghancurkan berhala, tetapi berdiam diri dan meninggalkan para penyembah berhala tersebut (Qs.19:41-49, 6:74-83).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 163 pertentangan.

Beginilah kalau orang sok pintar tapi sebenarnya jahil. Cerita ini sudah kita semua hafal. Yang dihancurkan adalah berhala-berhala yang kecil dan membiarkan yang besar untuk mengejek para penyembahnya.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 163 pertentangan.


34. Tentang Raja Firaun: Apakah Raja Firaun menjadi Muslim atau menolak menjadi Muslim? Raja Firaun bertobat (menjadi Muslim) dan diselamatkan.
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.4:18 mencatat bahwa “Tidaklah tobat itu (diterima Allah Muslim) dari orang2 yg mengerjakan kejahatan…dst. .” Dengan kata lain, Raja Firaun tidak mungkin menjadi Muslim dan bertobat.
Sampai disini sudah ada 1 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 164 pertentangan.

Harus diakui si penuduh disini tidak paham kalimat dalam Al-Quran. Wong yang disebut Al-Quran adalah orang yang bertobat setelah napas sampai ditenggorokan. Mereka itu tobatnya tidak diterima.

Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 164 pertentangan.


35. Apakah ayat2 Alquran/Firman Allah dapat diganti? Firman Allah adalah sempurna dalam kebenaran dan keadilan dan tiada seorangpun yg dapat mengganti Firman Allah ( Qs.6:115).
Hal ini bertentangan dengan:
Nyata-nyatanya Allah Muslim dan Muhammad juga mempertimbangan bahwa perlu juga untuk mengganti beberapa kalimat (Firman) Allah dengan yg lebih baik ( Qs.2:106, Qs.16:101).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 166 pertentangan.

Betul tak seorang pun boleh mengganti firmannya kecuali Dia sendiri. Adalah hak Allah mengganti ayat atau mengubah ketentuanNya. Allah berbuat demikian tentu punya tujuan.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 166 pertentangan.


36. Apakah hukum bagi orang yg melakukan perbuatan keji? Didera (dipecut) sebanyak 100 kali, baik pria maupun wanita ( Qs.24:2).
Hal ini bertentangan dengan:
Orang yg berzinah, khususnya pria hukumannya adalah jika bertobat dan memperbaiki diri, maka akan diampuni (Qs.4:16).
Orang yg berzinah, khususnya wanita, hukumannya adalah dikurung didalam rumah sampai mati atau sampai Allah Muslim memberi jalan lain ( Qs.4:15).
Pertanyaan: Mengapa penghukuman untuk pria dan wanita adalah sama dalam Qs.24, tetapi berbeda di Qs.4? Jadi disini ada 2 pertentangan ayat. Total sudah ada 168 pertentangan.

Hukum yang dibuat Allah telah mempertimbangkan kesetaraan gender dan memperhatikan kondisi lainnya. Ayat 4:16 menjelaskan setelah dihukum dia harus diberi kesempatan memperbaiki diri.

Jadi disini lenyap 2 pertentangan ayat. Total sudah lenyap 168 pertentangan.


37. Siapakah yg menderita akibat dari konsekuensi dosa? Alquran menyatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap dosa yg diperbuatnya masing2 ( Qs.17:13-15, 53:38-42).
Hal ini bertentangan dengan:
Anehnya, Alquran menyalahkan orang2 Yahudi pada zaman Mhd karena dosa yang telah mereka lakukan 2000 tahun sebelumnya oleh orang2 Yahudi ketika menyembah Patung berhala Lembu Emas (Qs.7:152).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 170 pertentangan.

Sudah dijawab sebelumnya. Umat Yahudi dijaman nabi Musa adalah contoh yang harus dijadikan pelajaran.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 170 pertentangan.

38. Disebut apakah kota Mekah? Umat Muslim berani mengatakan kota Mekah adalah kota suci dan rumah Allahnya Muslim.
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.17:1 mengatakan bahwa kota Mekah adalah “al-Masjidil Haram”. Jadi kota Mekah adalah kota haram dan rumah Setan terkutuk.
Jadi disini sudah ada 1 pertentangan keyakinan dari umat Muslim, jadi total sudah ada 171 pertentangan.

Tampaknya penuduh mengutip perkataan orang lain. Mana ada orang yang paham bahasa Indonesia menyebut Mekah adalah kota haram. Haram artinya terlarang untuk orang kafir, non muslim.

Jadi disini sudah lenyap 1 pertentangan keyakinan dari umat Muslim, jadi total sudah lenyap 171 pertentangan.


39. Apakah orang2 Kristen/Nasrani akan ke sorga? Ya (Qs.2:62, Qs.5:69)
Hal ini bertentangan dengan:
Orang2 Kristen/Nasrani tidak akan ke sorga (Qs.3:85).
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 173 pertentangan.

Tak perlu dibahas terlalu sering. Sudah pernah dimuat di tvri.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 173 pertentangan.


40. Apakah Raja Firaun tenggelam di laut atau selamat ketika mengejar nabi Musa dan umat Israel?
Raja Firaun selamat (Qs.10:92).
Hal ini bertentangan dengan:
Raja Firaun tenggelam di laut (Qs.28:40).
Raja Firaun tenggelam di laut (Qs.17:103).
Raja Firaun tenggelam di laut (Qs.43:55)..
Jadi, disini sudah ada 3 pertentangan ayat yg saling bertentangan, jadi total sudah ada 176 pertentangan.

Tuduhan tak jelas karena tidak mampu membedakan tenggelam dan selamatnya firaun.

Jadi, disini sudah lenyap 3 pertentangan ayat yg saling bertentangan, jadi total sudah lenyap 176 pertentangan.


41. Khamar (Arak): Baik atau Jahat? Meminum Khamar ( Arak) adalah perbuatan setan/iblis (Qs.5:90, 2:219).
Hal ini bertentangan dengan:
Di sorga tersedia sungai-sungai dari khamar/arak (Qs.47:15).
Di sorga tersedia sungai-sungai dari khamar/arak (Qs.83:22-25) .
Sampai disini sudah ada 3 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 179 pertentangan.

Makanya mati dulu baru nanti ketemu arak di surga.

Sampai disini sudah lenyap 3 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 179 pertentangan.


42. Jin dan manusia, apakah diciptakan untuk menyembah Allah Muslim atau neraka? Jin dan manusia diciptakan hanya untuk melayani Allah Muslim ( Qs.51:56).
Hal ini bertentangan dengan:
Jin dan Manusia, beberapa di antara mereka diciptakan untuk menempati neraka jahanam (Qs.7:179).
Jadi, disini sudah ada 1 pertentangan, jadi total sudah ada 180 pertentangan.

Suka-suka Allah menempatkan manusia di surga atau neraka.

Jadi, disini sudah lenyap 1 pertentangan, jadi total sudah lenyap 180 pertentangan.


43.. Siapakah yg menyesatkan manusia? Setan (Qs.4:119-120, 5:42 ).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan (Qs.4:88).
Suatu bencana datangnya berasal dari sisi Allah Muslim (Qs.4:78).
Jadi, disini sudah ada 4 ayat yg saling pertentangan. Total sudah ada 184 pertentangan.


Maksudnya Allah membiarkan orang-orang durhaka mengikuti syetan. Orang yang beriman tak akan mampu disesatkan oleh syetan.

Jadi, disini sudah lenyap 4 ayat yg saling pertentangan. Total sudah lenyap 184 pertentangan


44. Salah satu dari nama Allah Muslim adalah Mahatahu (Qs.4:24).
Hal ini bertentangan dengan:
Qs..4:142 berkata: “Sesungguhnya orang2 munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (Allah ditipu?!)
Jadi disini sudah ada 1 pertentangan ayat, total sudah ada 185 pertentangan.

Maksudnya orang-orang munafik merencanakan konspirasi untuk menentang Allah. Menentang Allah artinya melawan syariatNya seperti menteror dan menyusahkan umat Islam.

Jadi disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, total sudah lenyap 185 pertentangan.

45. Apakah umat Muslim akan masuk ke neraka? Ya, umat Muslim sudah ditetapkan pasti akan mendatangi (masuk) ke neraka ( Qs.19:17).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim adalah jalan yg lurus (Qs.19:36) dan Quran adalah jalan yang lurus (Qs.5:16). Aneh! Pertanyaan: Jika Allah Muslim dan Quran adalah jalan yg lurus, lalu mengapa umat Muslim ditetapkan harus masuk ke neraka?
Sampai disini sudah ada 2 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 187 pertentangan.

Penuduh salah kutip. Ayat 19:17 menceritakan soal Maryam. Seorang Muslim tentu saja bisa masuk neraka kalau amal kejahatannya lebih banyak dibanding kebaikannya. Hanya mereka yang mengikuti Quran dengan sepebuh hati yang mendapat jalan lurus.

Sampai disini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 187 pertentangan.


46. Allah Muslim tidak menyukai orang2 yg melampaui batas/sewenang- wenang (Qs.5:87).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim berwenang untuk menyesatkan manusia/siapa saja yg dikehendakiNya untuk disesatkan (Qs.4:88). Allah Muslim sewenang2 untuk menyesatkan umat manusia?!
Allah Muslim memerintahkan umaatNya untuk membunuh dan Allah Muslim berkata: “Maka (yg sebenarnya) bukan kamu yg membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yg membunuh mereka ….” (Qs.8:17).
Jadi, di sini sudah ada 2 pertentangan ayat, dan total sudah ada 189 pertentangan.

Si penuduh benar-benar berotak encer. Dia bermaksud menimbulkan keraguan.

Ayat 5:87 menjelaskan kebencian Allah pada para pendurhaka (tak mendapat petunjuk)

Ayat 4:88 menjelaskan hak Allah memberikan petunjuk kepada seseorang

Ayat 8:17 menjelaskan bantuan Allah kepada pejuang fi sabi lillah di medan perang.

Jadi, di sini sudah lenyap 2 pertentangan ayat, dan total sudah lenyap 189 pertentangan.

47. Allah Muslim adalah Petunjuk Jalan yg Lurus (Qs.19:36).
Hal ini bertentangan dengan:
“Barangsiapa yg disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan” (Qs.4:143).
“Dan barangsiapa yg disesatkan Allah, maka merekalah orang2 yg merugi.” (Qs.7:178).
Jadi, disini sudah ada 3 pertentangan ayat. Total sudah ada 192 pertentangan.

Sudah dijawab.

Jadi, disini sudah lenyap 3 pertentangan ayat. Total sudah lenyap 192 pertentangan.

48. Allah Muslim membenci orang kafir, orang yg berbuat sewenang-wenang dan orang syirik (Qs.8:55, 4:48, 4:116).
Hal ini bertentangan dengan:
Allah Muslim menangguhkan (menahan) penghukuman terhadap orang2 kafir sehingga dosa2 mereka semakin bertambah?! (Lihat Qs.3:178).
Jadi, disini sudah ada 4 pertentangan ayat, total sudah ada 196 pertentangan.

Meskipun Allah membenci mereka, mereka masih diberi kesempatan memperbaiki diri. Itulah kasih sayangnya Allah. Adapun orang yang keras kepala, hatinya tidak tergerak beriman kepada Allah maka dia dibiarkan berbuat dosa seumur hidupnya.

Jadi, disini sudah lenyap 4 pertentangan ayat, total sudah lenyap 196 pertentangan.

49. Alquran mengatakan: “Tidak ada paksaan dalam agama Islam…” (Qs.2:256)
Hal ini bertentangan dengan:
Qs. 5:33 mengatakan dan memerintahkan kepada umat Muslim untuk membunuh, memotong tangan dan kaki, melakukan penyaliban, membuang (menyingkirkan/ memusnahkan) orang2 yg menolak Allah Muslim & RasulNya (Mhd) serta ajarannya.
Allah Muslim memerintahkan untuk memancung/memenggal kepala dan membunuh orang2 kafir (Non-Muslim) (Qs.47:4, Qs.9:5, Qs.8:12, Qs.8 :17, Qs.8:60, Qs.9:14, Qs.9:73, Qs.9:29, Qs.48:29, Qs.4:74, Qs.2:154, Qs.2:190-191, Qs.9:38, Qs.9:41, Qs.4:76).
Sampai disini sudah ada 16 pertentangan ayat, jadi total sudah ada 212 pertentangan.

Betul tidak ada paksaan dalam memeluk Islam. Membunuh hanya diijinkan kalau non muslim melakukan permusuhan dan mengancam keselamatan umat Islam. Beginilah kalau orang yang membaca Al-Quran dengan mata syetan.

Sampai disini sudah lenyap 16 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 212 pertentangan.

 


50. Qs.2:54 berkata: “Bunuhlah dirimu sendiri! Hal itu lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yg menjadikan kamu, maka Tuhan akan menerima taubatmu …”
Hal ini bertentangan dengan:
Qs.4:29: ” …Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”

Sudah dijawab. Ayat 2:54 bercerita tentang umat nabi Musa. Boleh jadi saat itu bunuh diri adalah salah satu cara untuk menebus dosa. Apa masalahnya?


Sampai disini sudah lenyap 1 pertentangan ayat, jadi total sudah lenyap 213 pertentangan.


Masih banyak sekali kesesuaian, kesinergisan dan konsistensi Al-Quran. Tetapi karena mengingat banyaknya, maka cukuplah sampai point ke-50 ini saja.

Kesimpulan:
Alquran itu banyak kesesuaian ayat.
Alquran itu wahyu Allah yg Benar (wahyu Asli).
Alquran itu harus dipercayai/diimani.
Alquran itu mengandung kebenaran.
Alquran itu mujizat.
Alquran itu sempurna.
Alquran berasal dari Allah.

Ini berarti:
Allah Muslim sempurna.
Allah Muslim Tuhan Allah yg Benar.
Allah Muslim dapat dipercaya.
Allah Muslim pantas diimani.
Allah Muslim benar.
Allah Muslim hanya satu-satunya Tuhan.
Allah Muslim memiliki sorga.

 

Ndagel: SBY Main Yoyo, Mega Main Gasing, Rakyat Sengsara January 29, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 9:18 am
Tags: , , ,

Jakarta – Ejekan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri terhadap Presiden SBY terus menuai balasan dari pendukung SBY. Jika Mega mengibaratkan pemerintahan SBY-JK seperti bermain yoyo, pendukung SBY mengibaratkan pemerintahan Mega saat itu seperti bermain gasing. Apa bedanya?

“Permainan yoyo itu masih jauh lebih baik dari pemerintahan Megawati saat itu. Pemerintahan Mega saya umpamakan seperti permainan gasing,” kata Wakil Ketua FPD Sutan Bhatoegana pada detikcom, Kamis (29/1/2009).

Menurut anggota komisi VII DPR ini, perumpamaan Mega dalam menilai pemerintahan SBY-JK sudah sangat bagus. Yaitu bermain yoyo yang bisa bermakna terjadi kenaikan hal-hal yang menguntungkan rakyat dan menurunkan hal-hal yang membebani rakyat.

“Yoyo itu  naik turun. Artinya, pendapatan perkapita naik dari USD 600 per orang menjadi USD 1600 per orang. Devisa negara kita naik, anggaran pendidikan kita naik jadi 20 persen, dan sebagainya,” terang Sutan.

“Sebaliknya, harga BBM turun sampai 3 kali, tingkat korupi turun sesuai dengan rekord International Transparancy, Ancaman sparatisme juga turun dan sebagainya,” jelas sultan.

Sutan justru membalikkan ejekan Mega dengan ejekan yang lebih pedas, Mega bermain gasing. Menurutnya permainan gasing bukannya menjadikan lokasi permainan lebih baik dan indah, tetapi justru merusak dan membahayakan pemainnya.

“Sebaliknya, gasing artinya berputar di tempat dan tidak pernah maju. Bahkan cenderung melubangi tempat gasing itu sendiri hingga rusak,”jelasnya.

“Perumpamaan gasing punya makna, pada saat pemerintahan Mega, tidak ada kemajuan sama sekali yang dicapai, bahkan tambah mundur. Terbukti 2 pulau kita hilang, Sipadan dan Ligitan,” papar Sutan.

“Beberapa BUMN strategis dijual ke asing, seperti Indosat. VLCC yang sangat vital untuk Pertamina dilego, gas alam kita di Tangguh, Papua diobral murah,” serang Sutan.

Selain itu, di bidang ekonomi, lanjut Sutan BLBI triliunan yang masih belum lunas diberi surat keterangan lunas (SKL), korupsi masih merajalela dan disintegrasi bangsa tetap mengancam terutama di Aceh dan Papua yang tak pernah dapat dituntaskan.

Lalu Sutan bertanya pada Mega,”jadi mana yang lebih baik, permainann yoyo atau gasing? Biarlah rakyat yang nanti yang akan menentukan,”pungkas politisi ceplas-ceplos ini.

 

“SESAT”: PKS Menjadi Warna Warni Seindah Pelangi January 27, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 12:08 pm
Tags: , ,

“Seringkali persoalan agama dijadikan pemicu konflik yang memecah belah bangsa.” ungkapnya.

Makassar – Era politik aliran di Indonesia dinilai sudah berakhir. Konstituen dalam Pemilu 2009 diprediksi akan lebih terpengaruh pada kinerja kader dan kredibilitas partai, ketimbang karena sentimen agama atau kelompok tertentu.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta dalam acara temu muka Tim Delapan PKS dengan sejumlah tokoh nonmuslim Makassar di Hotel Clarion,
Makassar, Kamis (23/1/2009).

Oleh karena itu, menurut Anis, PKS berhasrat merangkul semua suku maupun agama yang ada di Indonesia untuk memenuhi target perolehan suara 20 persen dalam Pemilu 2009. Saat ini sudah waktunya bagi PKS untuk membuka diri, mengusung isu kemanusiaan tanpa dominasi agama.

“Seringkali persoalan agama dijadikan pemicu konflik yang memecah belah bangsa.” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Anis, agenda PKS untuk mengusung isu kemanusiaan tanpa sekat apapun dalam persatuan bangsa adalah dengan menghapuskan anggapan awam bahwa partai selalu berorientasi tempat, tokoh, dan warna.

“Seringkali Bali dan Papua disebut sebagai basis partai tertentu, atau Soekarno dan Soeharto merupakan satu-satunya tokoh dari partai selain PKS. Hal tersebut salah kaprah.” ucap Anis.

Sekjen PKS asal Sulsel ini juga mengkritik pemeluk agama yang selalu mencari dalil dalam kitab suci untuk saling berperang. “Perang di kalangan umat beragama hanyalah akal-akalan kapitalisme industri senjata,” tandas

 

Bantuan Terbesar Indonesia untuk Palestina January 27, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 6:30 am

Di seantreo dunia, dukungan paling besar yang datang untuk Palestina berasal dari Indonesia. Lebih dari Rp. 50 milyar disumbangkan oleh Indonesia hanya dalam kurun waktu kurang 1 bulan saja, baik dari pribadi yang dikumpulkan secara kolektif ataupun institusi, dan ini melebihi sumbangan rakyat manapun di semua negara yang konsern terhadap Palestina. Rakyat Palestina terharu dan tak akan pernah melupakan rakyat Indonesia. Jika kebetulan kita berbincang dengan rakyat Palestina, baik melaui on-line ataupun secara langsung, niscaya kita akan merasakan langsung pengakuan dan penghormatan dari mereka akan hal ini.

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kronologis-dan-fakta-di-balik-agresi-israel-di-jalur-gaza.htm

 

Niat Sebening Embun January 21, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 5:25 pm
Tags: , ,

Maha Suci Allah yang lewat lisan Rasulullah mengungkapkan bahwa “segala perbuatan itu tergantung niatnya”. Ketika terbetik niat melakukan sebuah perbuatan dalam diri kita di situlah muncul kekuatan. Niatlah yang menyatukan segala jiwa dan raga. Dengan niat yang benar orang akan tegas melakukan sesuatu. Sering kita dengar ungkapan “perbuatannya kayak tidak niat” menandakan orang tersebut kurang memiliki azam, semangat, pada perbuatannya.

Bukankah niat itulah sisi lain dari why. Jawaban dari why adalah karena. Mengapa begini-begitu karena begini-begitu. Mengapa harus bekerja karena untuk…

Ketika ungkapan-ungkapan itu dikaitkan dengan ajaran Islam akan tampak relevansinya. Ketahuilah bahwa ulama-ulama setelah jaman sahabat seringkali memulai pembahasan kitab-kitabnya dengan masalah niat, why. Hampir semua atau bahkan semua ritual ibadah dalam Islam dianjurkan untuk dimulai  dengan niat. Sholat, puasa, zakat, dll semuanya ada rukun niat. Why? Dengan dipersembahkan ibadah itu kepada Allah semata-mata maka Allah akan memberikan berkahnya. Allah akan menurunkan buah ibadah tersebut di dunia dan di akhirat kelak. Bila why-nya tidak jelas maka sulit diharapkan datangnya berkah, nilai tambah. Sebuah ibadah yang diniatkan selain mengharapkan rahmatnya Allah maka tidak akan diterima ibadahnya itu. Ibadahnya sia-sia bahkan bisa menghinakan martabat pelakunya.

Berarti perkataan untuk selalu memperbaharui niat adalah sisi lain dari memperbaiki why. Why yang benar akan memunculkan sikap yang teguh. Beribadah dan berbuat dengan why yang benar, penuh keteguhan menjadi magnit spiritual yang menarik rahmat Allah. Cita-cita-cinta setiap Muslim seharusnyalah di setiap tarikan napasnya menjadikan Allah sebagai jawaban dari why. Untuk Allahlah segalanya kita persembahkan. Itulah jawaban why yang paling mulia baik di langit maupun di bumi .

 

Awal Hancurnya Zionist January 20, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 2:05 pm
Tags: , , ,

Barangkali saat inilah dimana pasukan zionist mengalami kekalahan perang melawan Hamas sebagai awal keruntuhannya. Dengan ditariknya pasukan zionist dari Gaza dan kemenangan di pihak Hamas menjadikan gerakan Hamas menjadi lebih kuat. Sudah barang tentu pengalaman perang kali ini bagi Hamas merupakan pengalaman perang yang sangat mengesankan. Betapapun kondisi Gaza hancur lebur mereka masih bisa membalas serangan kaum kafir. Kemenangan ini mungkin menjadi batu pijakan bagi Hamas untuk menduduki tampuk pemerintahan yang sesungguhnya di Palestina. Hamas akan segera melengserkan presiden Abbas yang dituduhnya berkomplot dengan penjajah.

Beberapa waktu lalu zionist juga telah mengalami kekalahan telak oleh Hizbullah yang ada di utara Palestina. Padahal saat itu Hizbullah baru mengeluarkan 10% persenjataannya.  Dua kali kemenengan  kaum Muslimin terhadap zionist menandakan peningkatan kekuatan yang luar biasa di kaum Muslim.  Kaum Muslimin kembali mendapat semangat untuk terus melakukan perlawanan. Peristiwa yang mereka lihat di depan mata dimana musuh dapat dikalahkan akan terpatri di dalam dada rakyat Palestina.

Kondisi yang mengenaskan di Gaza setidaknya membuka mata penduduk dunia tentang kebiadaban zionist.  Penduduk dunia kini tahu betapa kejamnya zionist yang diwakili oleh israel.  Tidak ada yang menyangka rumah sakit menjadi sasaran roket zionist. Itulah ulah zionist. Hal ini mengingatkan saya pada peringatan nabi SAW bahwa “menjelang kiamat akan terjadi perang muslim dengan orang-orang yahudi sampai-sampai batu pun dapat berbicara untuk menunjukan posisi  kaum yahudi”. Pengertian hadist ini adalah semua orang tahu tentang watak kaum yahudi ini. Lihatlah sekarang semua orang sudah tahu bagaimana biadabnya bangsa yang satu ini.

Lalu apakah tahapan selanjutnya yang dilakukan yahudi? Al-Quran menggambarkan bahwa kaum yahudi akan berusaha menggerogoti Masjidil Aqsa (lihat bagian awal surat Al-Isra). Hal ini dilakukannya karena kaum yahudi sudah putus asa lantaran dua kali mengalami kekalahan dari kaum Muslimin. Ketika mereka masuk dan berusaha menduduki Masjid tersebut maka  umat Islam akan bersatu demikian juga dengan pemimpinnya. Pemimpin-pemimpin Arab dan pemimpin kaum Muslimin di seluruh dunia akan bekerjasama bahu membahu mengusir kaum yahudi hingga mereka keluar dari Masjid Al-Aqsa dan bahkan akan keluar dari negara israel.  Setelah peristiwa ini maka dunia akan aman dan saat itulah kiamat akan datang. wallau a’lam.

 

Planet Nibiru X Pembawa Petaka January 19, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 1:13 pm
Tags: ,

Diramalkan bahwa petaka global akan muncul tahun 2012. Penyebabnya adalah hadirnya planet Nibiru X yang ratusan kali lebih besar dibanding bumi. Konon menurut para ahli planet ini sudah dikenal oleh bangsa Sumeria kuno. Nama Nibiru pun diambil dari bahasa Sumeria tersebut. Planet Nibiru X diramalkan akan membawa bencana di bumi sekitar akhir tahun 2012.  Menurut Penjelasan NASA daerah orbit Nibiru X memotong lintasan tata surya dan garis edar bumi. Akibat masuknya Nibiru pada lintasan bumi gravitasi bumi akan terganggu. Hasilnya bumi mengalami kegoncangan luar biasa. Air laut akan tumpah ruah ke daratan. Kerusakan paling besar diramalkan akan dialami oleh Amerika. Peradaban negara Amerika akan musnah (mungkin ini adalah hukuman terhadap kelakuannya yang menteror dunia).  Tsunami besar akan dialami manusia. Berita ini sengaja tidak dipublikasikan oleh NASA secara umum untuk menghindari kepanikan global.  Untuk itu bersiaplah. Bagi yang belum nikah segeralah menikah siapa tahu 2012 adalah hari terakhir hidupnya bumi. Mugkin ini hanya gosip tapi tak ada salahnya berisiap-siap. Wallahu a’lam

http://www.youtube.com/watch?v=S6UDRqYcMhg&feature=related

 

Akidah Muhammadiyah “Bermasalah” January 9, 2009

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 3:54 am
Tags: , ,

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya “sebagian akidah” Muhammadiayh perlu dipertanyakan. Sudah jelas-jelas Allah menyatakan “jangan mengambil teman akrab yang menjadi musuhmu dan musuhku” eh.. Muhammadiyah menyetujui bekerja sama dengan israel.  Sangat memalukan…Inilah berita dari eramuslim.com

———————————

Berita mengejutkan muncul dari tanah air ditengah agresi brutal Israel terhadap Muslim di Jalur Gaza. Muhammadiyah, salah satu organisasi Muslim terbesar di Indonesia ternyata menjalin kerjasama dengan salah satu organisasi Israel.

Situs Islamonline melaporkan, lembaga Rescue and Emergency yang berada dibawah naungan Muhammadiyah telah menandatangani kesepakatan kerjasama di bidang kesehatan dengan Magen David Adom (MDA) sebuah organisasi layanan kesehatan nasional Israel. Kerjasama itu senilai 200.000 dollar dan penandatanganannya dilakukan oleh delegasi Muhammadiyah di Tel Aviv, ibukota Israel pada bulan Oktober 2007.

Sejumlah anggota dewan perwakilan rakyat yang mengetahui kerjasama ini mengecam sikap Muhammadiyah yang diam-diam menjalin kerjasama dengan Israel. “Pemerintah maupun organisasi-organisasi lokal seharusnya tidak membuka kerjasama apapun dengan Israel, sampai mereka mengembalikan tanah Palestina pada rakyat Palestina,” kata anggota dewan Sutan Batugana (Sekretaris Frkasi Partai Demokrat) seperti dikutip Islamonline.

“Apakah kita mengakui Israel sebagai sebuah negara? Pikirkanlah hak itu sebelum membuka hubungan dengan Israel,” kata Ganjar Pranowo , anggota dewan Indonesia dari FPDI.

Sejumlah pihak yang dimintai pendapatnya tentang hal itu, terkesan memberi dukungan jika Indonesia atau organisasi-organisasi yang ada di Indonesia menjalin kerjasama dengan Israel.

Aktivis LSM di utara Aceh, Hamzah Fansuri mengatakan, tidak ada masalah jika ingin menjalin hubungan dengan Israel, cuma waktunya memang belum tepat.

Pendapat serupa dilontarkan Gamal Ferdhi, aktivis pemuda Nahdlatul Ulama (NU). “Kenapa tidak? Fatah saja menjalin hubungan dengan Israel. Mengapa kita tidak?” ujarnya.

Dr. Ahmad Rumadi, profesor bidang Sejarah Hukum Islam di Universitas Islam Nasional (UIN) yang juga seorang aktivis NU meyakini hubungan dengan Israel lebih pada pertimbangan hubungan yang saling menguntungkan.

Sama dengan Rumadi, Ketua Kadin Muhammad Hidayat mengatakan bahwa Indonesia bisa mengambil keuntungan dari “keahlian” Israel di sejumlah bidang. “Kita belajar tentang sistem irigasi dari Israel,” ujarnya.

Pendapat berbeda dilontarkan Front Pembela Islam (FPI). Anggota FPI, Ali al-Hamid mengkritik makin banyaknya organisasi-organisasi di Indonesia yang mau menjalin kerjasama dengan Israel. “Saya dengar Muhammadiyah dan NU mendapatkan bantuan finansial langsung dari Yahudi. Hal ini membuat normalisasi berjalan mulus,” kata Al-Hamid.

Ia juga mengecam sejumlah tokoh-tokoh Islam di Indonesia yang berhubungan dekat dengan komunitas Yahudi sehingga membuka kesempatan besar bagi kerjasama dengan Israel. Menurut al-Hamid, yang diuntungkan dengan situasi ini, hanya Israel.

“Ini bukan soal masalah kesadaran, tapi murni untuk kepentingan pihak Israel agar bisa menyebarkan pengaruhnya ke komunitas Muslim.

Organisasi-organisasi Israel mendapatkan akses ke organisasi-organisasi Muslim di Indonesia, biasanya lewat anggota-anggota organisasi Muslim yang berpikiran liberal. Sungguh disayangkan, alih-alih membela bangsa Palestina yang puluhan tahun dibawah penjajahan Israel, organisasi-organisasi Muslim kita malah membuka kerjasama dengan Israel. Itu sama saja mendukung penjajahan dan kekerasan terhadap bangsa Palestina. Seolah-olah buta dengan kebiadaban Israel di Palestina selama puluhan tahun lamanya. (ln/iol)

 

Taujih Nabawi Untuk Kader dan Qiyadah January 8, 2009

Filed under: Visi — ainspirasi @ 7:07 am
Tags: , , ,

Oleh: Farid Nu’man Hasan

(untuk kalangan sendiri, hanya untuk dibaca, dilarang mengutip tanpa seizin penulis)

Mukadimah

Dusta jika ada manusia tidak butuh nasihat, sombong jika ada manusia tidak butuh bimbingan. Kita semua membutuhkannya. Sebab manusia itu memiliki potensi benar dan salah, Allah Ta’ala berfirman:

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy Syams (91): 8)

Dengan potensi kefasikan yang sudah ada saja sudah cukup bagi manusia untuk melakukan penyimpangan, ditambah lagi adanya gangguan syaitan la’natullah ‘alaih, yang selalu mengajak manusia ke jalan yang sesat menjadi pengikut mereka, Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir (35): 6)

Namun demikian, Allah Tabaraka wa Ta’ala juga menyediakan berbagai mekanisme penjagaan dan perawatan fitrah seorang mukmin, salah satunya adalah budaya saling memberikan nasihat (munashahah) dan tadzkirah. Inilah budaya yang mengeluarkan manusia dari zona Al Khusr (kerugian), Allah Ta’ala berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr (103): 1-3)

Inilah budaya yang bermanfaat buat orang beriman, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyat (51): 55)

Ya, peringatan ini bermanfaat untuk hati orang-orang mukmin (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/425) karena hatilah panglima aktifitas menuju perubahan dan perbaikan. Kecerdasan manusia tidaklah mencukupi jika hati belum ada kemauan untuk berubah.

Atas dasar ini, dengan memposisikan diri sebagai bagian dari objek taushiah dan tidak menggurui, kami turunkan risalah ini yang kami beri tajuk ‘Taujih Nabawi Untuk Kader dan Qiyadah’ dalam rangka melerai pertikaian dan menyudahi kedengkian, tidak meluas wilayahnya (sebab ini hanyalah guncangan Jadebotabek dan internet, sedangkan di daerah-daerah sama sekali tidak dirasakan), demi keutuhan jamaah, kemajuan, dan kejayaan dakwah Islam. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!” (QS. Al Hujurat (49): 9)

Mendamaikan orang-orang beriman dengan mengajak mereka kembali merujuk Kitabullah dan rela terhadap apa-apa yang ditetapkanNya untuk dan atas mereka, dan kitabullah merupakan media paling adil untuk mendamaikan manusia (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 22/292), maka mari kita jadikan marja’ utama kita, yakni Al Quran dan As Sunnah sebagai pemersatu kita semua.

I. Taujih Nabawi Untuk Kader

Maksud ‘kader’ di sini adalah siapa saja yang masih mengikuti proses tarbiyah secara intens di berbagai jenjangnya, apa pun jabatan mereka di jamaah dan hizb, atau yang tidak menjadi apa-apa. Ada pun bagi yang tidak masuk kategori ini, namun ikut bermain api di dalamnya, dan ikut memperkeruh suasana dan memprovokasi, maka kami ingatkan untuk para kader terhadap tipuan mereka:

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, Padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu.” (QS. Al Imran (3): 119)

Ya, jika mereka berdiskusi dengan kita, berhadapan dengan kita, mereka menyatakan bahwa “Kami adalah kader tarbiyah,” tetapi perilaku mereka bak menyiram bensin di kobaran api yang kecil. Sehingga, perselisihan kecil, nasihat biasa, dijadikannya sebagai pisau pembunuh keutuhan jamaah hingga permasalahan melebar ke mana-mana. Untuk mereka ini, para outsider yang ikut bersandiwara di dalam wacana dan dialektika jamaah, maka cukuplah bagi kalian:

“Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS. Ali Imran (3): 119)

Sebaliknya, untuk para kader tarbiyah, diam adalah lebih baik jika belum tahu permasalahan. Tidak terpancing emosi, bersikap, dan komentar yang melebihi kapasitasnya. Tidak termakan berita bohong, atau justru menjadi penyebar berita bohong. Teruslah menuntut ilmu, berdakwah, dan beramal.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’: 36)

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” (QS. An Nur (24): 11)

Berikut adalah Taujih Nabawi yang bertebaran di berbagai kitab hadits untuk para kader. Kami akan sampaikan beberapa saja, di antaranya:

A. Tetaplah Taat Selama Perintah Bukan Maksiat

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Barangsiapa yang mentaatiku, maka dia telah taat kepada Allah. Barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka dia telah maksiat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin maka dia telah mentaatiku. Barangsiapa yang membangkang kepada pemimpin, maka dia telah bermaksiat kepadaku. Sesungguhnya pemimpin adalah perisai ketika rakyatnya diperangi dan yang memperkokohnya. Jika dia memerintah dengan ketaqwaan kepada Allah dan keadilan, maka baginya pahala. Jika dia mengatakan selain itu, maka dosanya adalah untuknya.” (HR. Bukhari, 10/114/2737. Muslim, 9/364/3417. An Nasa’i, 13/95/4122. Ibnu Majah, 8/393/2850. Ahmad, 15/166/7125)

Hadits ini tidak syak lagi, berbicara tentang keutamaan pemimpin yang tidak dimiliki oleh selainnya. Ketaatan kepada mereka dan pembangkangan kepada mereka seakan disetarakan dengan ketaatan dan pembangkangan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam konteks jamaah dakwah, maka para qiyadah adalah pemimpin kita.

Qiyadah seperti apa yang berhak mendapatkan ketaatan dari umatnya (baca: kader)? Al Hafzih Ibnu Hajar mengatakan setiap yang memerintahkan dengan kebenaran dan dia seorang yang adil, maka dia adalah pemimpin Asy Syaari’ (pembuat syariat) yang dengan syariatNya pemimpin tersebut memerintah. (Fathul Bari, 20/152)

Jadi, patokannya adalah syariah, sejauh mana ketaatan pemimpin tersebut kepada Allah dan RasulNya, dan syariat yang diajarkan oleh RasulNya. Sejauh mana pula kebenaran perintah mereka dalam timbangan syariah. Namun, sebagain ulama Ahlus Sunnah tetap mempertahankan bahwa pemimpin yang fasiq tetaplah harus ditaati perintahnya yang baik-baik, ada pun kefasiqannya ditanggung oleh dirinya sendiri sesuai hadits di atas.

Untuk perintah yang maksiat kepada Allah Ta’ala dan RasulNya, maka semua ulama sepakat tidak ada ketaatan kepada pemimpin yang memerintah seperti itu. Banyak hadits yang menegaskan hal demikian, di antaranya:

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya ada pada yang ma’ruf (dikenal baik).” (HR. Muslim, 9/371/3424. Abu Daud, 7/210/2256. An Nasa’i, 13/114/4134. Ahmad, 2/192/686. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 8/156. Sementara Bukhari meriwayatkan tanpa lafaz Laa Tha’ata fi Ma’shiyatillah, 13/237/3995)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Dengar dan taat atas seorang muslim adalah pada apa yang disukai dan dibencinya, selama tidak diperintah maksiat. Jika diperintah untuk maksiat, maka jangan didengar dan jangan ditaati.” (HR. Bukhari, 22/52/6611. Abu Daud, 7/211/2257. At Tirmidzi, 6/300/1929. Ahmad, 9/475/4439. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 3/127)

Dari hadits-hadits ini mereka sepakat, bahwa yang tidak ditaati adalah perintahnya saat ia memerintahkan perintah yang maksiat tersebut, baik perintah itu datangya dari pemimpin yang adil atau zalim terhadap rakyatnya, suami ke pada isterinya, orang tua kepada anaknya, jenderal kepada prajuritnya, dan sebagainya.

Para ulama berbeda pendapat, apakah juga wajib tetap taat kepada pemimpin yang fasiq dan zalim, namun belum kafir. Ini dilihat dari sisi kepribadian pemimpin tersebut, bukan dilihat dari isi (content) yang diperintahkannya.

Kebanyakan Ahli hadits mengatakan, tetap wajib taat kepada pemimpin yang zalim dan fasiq, serta bersabar menghadapi mereka, selama mereka masih menegakkan shalat, dan belum melakukan tindakan yang mengeluarkannya dari Islam secara nyata (kufrun bawaah), dan selama perintahnya bukan maksiat, ada pun kefasikan dan kezaliman pemimpin, maka itu ditanggung oleh dirinya sendiri. Ini juga pendapat Imam Hasan Al Bashri.

Sebagian muhaqqiq dari kalangan Syafi’iyah menyatakan wajibnya mentaati pemimpin, baik perintah atau larangan, selama bukan perintah haram. (Imam Al Alusi, Ruhul Ma’ani, 4/106)

Imam Ar Razi mengatakan, taat kepada Allah, Rasul, dan Ahli ijma’ adalah pasti (qath’i), ada pun terhadap pemimpin dan penguasa, tidaklah taat secara pasti, bahkan kebanyakan adalah haram, karena mereka tidaklah memerintah melainkan dengan kezaliman (li annahum Laa ya’muruuna illa bizh zhulmi). (Mafatihul Ghaib, 5/250)

Mereka berdalil dengan banyak hadits, di antaranya hadits berikut:

إلا أن تروا كفرا بَوَاحا، عندكم فيه من الله برهان

“Kecuali kalian melihatnya melakukan kekafiran yang nyata, dan kalian telah mendapatkan bukti nyata dari Allah terhadapnya.” (HR. Bukhari, 21/444/6532. Muslim, 9/374/3427)

Dalil lainnya, dari Hudzaifah bin Al Yaman Radhiallahu ‘Anhu beliau berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Ya Rasulullah, sesungguhnya mendapatkan keburukan lalu datanglah kebaikan dari Allah, dan kami saat itu masih ada. Apakah setelah kebaikan itu datang keburukan lagi?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Hudzaifah bertanya: “Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan lagi?” Rasulullah mejawab: “Ya.” Hudzaifah bertanya: “Apakah setelah kebaikan akan datang keburukan lagi.” Rasulullah menjawab: “Ya.” Hudzaifah bertanya lagi: “Bagaimana itu?” Rasulullah menjawab: “Akan ada setelahku nanti, para pemimpin yang tidaklah menuntun dengan petunjukku, tidak berjalan dengan sunahku, dan pada mereka akan ada orang-orang yang berhati seperti hati syaitan dalam tubuh manusia.” Hudzaifah bertanya: “Apa yang aku lakukan jika aku berjumpa kondisi itu Ya Rasulullah?” Rasulullah menajwab: “Dengarkan dan taati pemimpinmu, dan jika punggungmu dipukul dan diambil hartamu, maka dengarkan dan taat.” (HR. Muslim, 9/387/3435. Al Baihaqi. As Sunan Al Kubra, 8/157. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Ausath, 6/459/3003. Al Maktabah Asy Syamilah)

Dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian, dan kalian juga mendoakan mereka. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah tidakkah kami melawannya dengan pedang?” Rasulullah menjawab: “Jangan, selama mereka masih shalat bersama kalian. Jika kalian melihat pemimpin kalian melakukan perbuatan yang kalian benci, maka bencilah perbuatannya, dan jangan angkat tangan kalian dari ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim, 9/403/3447. Ahmad, 49/11/22856. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 8/158. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 12/431. Ad Darimi, 9/19/2853. Ibnu Hibban, 19/182/4672. Al Maktabah Asy Syamilah)

Imam An Nawawi mengatakan, tidak dibenarkan keluar dari ketaatan kepada pemimpin jika semata karena kezaliman dan kefasikannya, selama dia tidak merubah kaidah-kaidah agama. (Syarh Shahih Muslim, 6/327)

Selain itu, Imam Bukhari menulis sebuah Bab dalam kitab Shahih-nya, Kewajiban berjihad bersama orang baik atau fajir (Al Jihad Maadhin ‘Alal Barri wal Faajir). Begitu pula Imam Abu Daud, belaiu membuat bab dalam kitab Sunan-nya, Perang Bersama Pemimpin yang Zalim (Fil Ghazwi ma’a A’immati Al Jauri). Sehingga Imam Ahmad menjadikannya alasan bahwa tidak ada perbedaan antara berjihad bersama pemimpin yang adil atau zalim, keutamaan-keutamaan jihad tetap akan didapatkan. (Fathul Bari, 8/474). Begitu pula yang dikatakan Imam Asy Syaukani (Nailul Authar, 11/495). Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan, tidak disyaratkan berjihad itu harus dengan hakim yang adil, atau pemimpin yang baik, sebab jihad wajib dalam segala keadaan. (Fiqhus Sunnah, 2/640)

Begitu juga dalam shalat, para ulama menetapkan kebolehan berimam kepada orang zalim dan fasiq, karena dahulu para sahabat, di antaranya Ibnu Umar pernah berimam kepada penguasa zalim, gubernur Madinah, Hajaj bin Yusuf Ats Tsaqafi (pembunuh Abdullah bin Zubeir) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam bukhari. Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Abu Said Al Khudri shalat dibelakang khalifah Marwan. Imam An Nasa’i membuat Bab dalam kitab Sunan-nya, Shalat Bersama Imam Zalim (Ash Shalatu Ma’a A’immatil Jauri).

Demikianlah alasan para ulama yang tetap mewajibkan taat kepada pemimpin fasiq dan zalim, selama mereka masih muslim, dan isi perintahnya adalah bukan maksiat.

Sementara, sebagian Imam Ahlus Sunnah lainnya menyatakan tidak wajib taat kepada pemimpin yang zalim dan fasiq, karena kefasikan dan kezalimannya itu, bukan hanya karena faktor isi perintahnya saja yang berisi maksiat.

Dalilnya adalah:

“Dan janganlah kamu taati orang-orang yang melampuai batas.(yaitu) mereka yang membuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (QS. Asy Syu’ara: 151-152)

“Dan janganlah kalian taati orang yang Kami lupakan hatinya untuk mengingat Kami dan ia mengikuti hawa nafsu dan perintahnya yang sangat berlebihan.” (QS. Al Kahfi: 28)

Imam Nashiruddin Abul Khair Abdullah bin Umar bin Muhammad, biasa dikenal Imam Al Baidhawi, berkata dalam tafsirnya, ketika mengomentara surat An Nisa’, ayat 59, bahwa yang dimaksud dengan ‘pemimpin’ di sini adalah para pemimpin kaum muslimin sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sesudahnya, seperti para khalifah, hakim, panglima perang, di mana manusia diperintah untuk mentaati mereka setelah diperintah untuk berbuat adil, wajib mentaati mereka selama mereka di atas kebenaran (maa daamuu ‘alal haqqi). (Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, 1/466)

Artinya, ketika pemimpin tersebut sudah tidak di atas kebenaran (baik karena perilaku atau pemahaman pribadi), maka tidak ada kewajiban taat kepadanya. Imam Al Baidhawi tidak membicarakan tentang isi perintahnya. Makna pemimpin pun tidak sebatas pada khalifah, tetapi juga pemimpin apa pun, termasuk dalam konteks pembahasan kita, yakni qiyadah sebuah jamaah atau organisasi.

Bahkan Imam Abul Hasan Al Mawardi mengatakan, bahwa umat berhak meminta pencopotan kepada pemimpin jika mereka memang hilang ke’adalahannya, yakni melakukan kefasikan (baik karena syahwat atau syubhat) dan cacat tubuhnya. (Imam Al Mawardi, Al Ahkam As Sulthaniyah, Hal. 28). Ini juga diriwayatkan sebagai pendapat Imam Asy Syafi’i, Imam Ibnu Hazm, dan Imam Al Ghazali.

Bapak sosiolog Islam, Ibnu Khaldun juga mengatakan tidak boleh dikatakan ‘memberontak’ bagi orang yang melakukan perlawanan terhadap pemimpin yang fasiq. Beliau memberikan contoh perlawanan Al Husein terhadap Yazid, yang oleh Ibnu Khaldun disebut sebagai pemimpin yang fasiq. Apa yang dilakukan oleh Al Husein adalah benar, ijtihadnya benar, dan kematiannya adalah syahid. Tidak boleh dia disebut bughat (memberontak/makar) sebab istilah memberontak hanya ada jika melawan pemimpin yang adil. (Muqaddimah, Hal. 113)

Sebaliknya, Imam Ibnu Tamiyah menganjurkan untuk sabar, tidak memberontak menghadapi ‘musibah’ pemimpin yang zalim (Majmu’ Fatawa, 1/262)

Akhirnya …, setelah panjang lebar kami menguraikan, bagaimana menyikapi pemimpin yang melakukan penyimpangan, fasiq, dan zalim, nampak jelas bagi kami bahwa sikap tetap taat dan sabar adalah lebih utama dan lebih membawa maslahat, dan dapat mencegah kemudharatan serta chaos berkepanjangan, walau keputusan dan perilaku sebagian qiyadah sangat ‘menggeramkan’ dan ‘menjengkelkan’ menurut sebagian kader, yang penting kader tidak diperintah untuk maksiat yang nyata, dan baik sangka lebih dikedepankan, bahwa mustahil qiyadah memerintahkan kadernya untuk maksiat kepada Allah Ta’ala. Dan wajh istidlal (sisi pendalilan) sikap ini pun lebih argumentatif dan legitimate.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang melihat pemimpinnya ada sesuatu yang dibencinya, maka hendaknya dia bersabar, sebab barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah walau sejengkal lalu dia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Bukhari, 21/443/6531. Muslim, 9/390/3438. Ahmad, 5/389/2357. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 10/305/12590. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, 16/46/7239. Ad Darimi, 8/6/2574. Abu Ya’la, 5/402/2293)

Dari hadits ini, tentu kami tidak mengatakan ‘jahiliyah’ orang yang keluar dari jamaah tarbiyah, sebab hadits ini sedang berbicara tentang jamaatul muslimin (jamaah umat Islam keseluruhan). Tetapi ada pelajaran berharga dari hadits ini yakni perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya agar bersabar menghadapi pemimpin yang perilaku, pemahaman, atau keputusannya tidak disukai mereka. Ini alasan yang kuat kenapa kader hendaknya mengambil sikap taat dan sabar. Kami rasa sikap ini lebih bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan, karena didasari oleh dalil dan pandangan para ulama, bukan karena emosi.

Imam An Nawawi menjelaskan makna miitatan jahiliyah (mati jahiliyah) dalam hadits tersebut, dengan huruf mim dikasrahkan (jadi bacanya miitatan bukan maitatan), artinya kematian mereka disifati sebagaimana mereka dahulu tidak memiliki imam (pada masa jahiliyah). (Syarah Shahih Muslim, 6/322/3436)

Sementara Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar, menjelaskan; bahwa yang dimaksud dengan miitatan jahiliyah dengan huruf mim yang dikasrahkan adalah dia mati dalam keadaan seperti matinya ahli jahiliyah yang tersesat di mana dia tidak memiliki imam yang ditaati karena mereka tidak mengenal hal itu, dan bukanlah yang dimaksud matinya kafir tetapi mati sebagai orang yang bermaksiat. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 11/399)

Ada pun surat Al Kahfi ayat 28: “Dan janganlah kalian taati orang yang Kami lupakan hatinya untuk mengingat Kami.” Tidak bisa dijadikan hujjah, sebab maksudnya adalah orang-orang yang hatinya lebih condong kepada syirik dibanding tauhid. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 4/384). Atau menyibukkan diri dengan dunia dan melupakan ibadah dan Rabbnya. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, 5/154). Apakah ada yang tega menyebut qiyadah telah melakukan syirik yang nyata? (misal, karena iklan Soekarno, “Aku adalah budak rakyatku,” yang membawa dampak Syirk lafzhiyah). Atau mengatakan, qiyadah telah mendahulukan dunia di banding ibadah dan Rabbnya, bukankah mereka memiliki lembaran mutaba’ah harian? Maka, bagi (kader) yang menyatakan demikian, maka dia telah ghuluw (kelewat batas) dan lebih mendahulukan zhan.

Masalahnya adalah benarkah qiyadah telah melakukan tindakan kefasiqan, kezaliman, dan apa pun yang membuatnya layak untuk tidak ditaati menurut sebagian ulama? Ataukah itu karena perasaan, tuduhan, atau informasi yang tidak utuh, atau ada pihak ketiga yang bermain dan lebih dipercaya oleh kader, atau hanya karena perbedaan ijtihad politik saja? Jika benar qiyadah telah melakukan kefasiqan dan kezaliman, itu pun bukan alasan yang kuat untuk membangkang sebagaimana uraian panjang di atas. Jika tidak benar, maka lebih tidak ada alasan lagi untuk membangkang. Namun, seharusnya qiyadah pun harus memberikan penjelasan, tanpa ada yang disembunyikan, tentang berbagai masalah yang digugat oleh kader. Wallahu A’lam

B. Meninggalkan Perdebatan Yang Tidak Berguna

Tanpa disadari, sebagian kader terlena dalam perdebatan panjang dan sengit, dan mengabaikan akhlak Islam, namun tidak produktif dan justru mengotorkan hati.

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat hal yang barangsiapa keempat hal itu ada pada diri seseorang maka dia adalah munafik sejati, dan barangsiapa yang memiliki satu saja, maka dia memiliki perangai kemunafikan sampai dia meninggalkannya, yaitu: jika diberi amanah dia khianat, jika bicara dia berbohong, jika berjanji dia melanggar, dan jika berbantahan buruk akhlaknya.” (HR. Bukhari, 1/59/33. Muslim, 1/190/88. Abu Daud, 12/298/4068. At Tirmidzi, 9/222/2556. An Nasa’i, 15/219/4934. Ibnu Hibban, 1/497/254)

Maka, hendaknya kader dakwah meninggalkan perdebatan sengit yang memancing emosi dan melunturkan akhlak, sebab ditakutkan tumbuhnya bibit kemunafikan dalam hati kita, paling tidak perbuatan persebut menyerupai orang munafiq sebagaimana yang dijelaskan para ulama.

Imam An Nawawi memberikan penjelasan, bahwa para ulama telah ijma’ barang siapa yang sudah beriman di hati dan diucapkan dengan lisan, lalu dia melakukan hal-hal yang ada dalam hadits ini, maka mereka tidaklah dihukumi kafir dan tidak pula dihukumi munafiq yang membuatnya kekal di neraka, sebab saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alaihissalam telah melakukan semua perilaku ini. Demikian juga ditemukan bagi sebagian salaf dan ulama, baik sebagian atau seluruhnya. Hadits ini, segala puji bagi Allah, tidak ada kemusykilan, hanya saja para ulama berbeda pendapat dalam memaknainya. Pendapat para muhaqqiq yang mayoritas, dan menjadi pendapat pilihan yang benar adalah perangai-perangai ini adalah perangai munafiq, bagi pelakunya dia telah menyerupai orang munafiq dan berakhlak dengan akhlak mereka (kaum munafiq). Ada pun nifaq, adalah menampakkan apa-apa yang dihatinya berbeda. Pengertian ini memang ada pada orang-orang yang melakukan perangai tersebut, yang menjadikannya nifaq secara hak dalam dirinya, berupa pembicaraannya, janjinya, amanahnya, atau berbantahannya. Tetapi ini bukanlah munafiq yang zhahirnya menampakkan Islam dan hatinya kufur. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah bermaksud munafiq di sini adalah munafiq yang membuat pelakunya adalah kafir dan kekal di neraka paling bawah. (Syarh Shahih Muslim, 1/150/88. Lihat pula keterangan lebih ringkas di ‘Aunul Ma’bud, 10/207)

Imam At Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama mengartikan nifaq pada hadits ini adalah nifaq amal (nifak perbuatannya), bukan nifaq takdzib (nifaq karena kobohongan dihatinya) sebagaimana pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, demikianlah yang diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri, bahwa nifaq ada dua, yakni nifaq amal dan nifaq takdzib. (Sunan At Tirmidzi, 9/222). Al Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa nifaq di sini adalah bahwa pelakunya dihukum seperti munafiq, yakni nifaq amal. (Fathul Bari, 1/54)

Kita pun diperintahkan untuk meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa SallamI bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. At Tirmidzi,8/294/ 2239. Malik, 5/381/1402, dari Ali bin Husein bin Ali bin Ab Thalib. Ibnu Majah, 11/ 472/3966. Ahmad, 4/168/1646, dari Ali bin Abi Thalib. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Misykah Al Mashabih, 3/49/4839)

Imam Hasan Al Banna juga mengatakan dalam 10 wasiatnya, pada wasiat no. 4: “Tinggalkanlah perdebatan dalam masalah dan kondisi, karena perdebatan tidaklah mendatangkan kebaikan.” (Risalatut Ta’alim wal Usar, Hal. 39. Darun Nashr Liththiba’ah Al Islamiyah)

C. Tetap Menjaga Persatuan dan Soliditas

Tanpa adanya persatuan dan soliditas, maka kelemahan yang akan kita dapatkan. Sayangnya kelemahan jamaah terjadi karena ulah kita sendiri.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal (8): 46)

Maka beranilah memulai untuk memahami, memaklumi, dan memaafkan sesama ikhwah sebagai awal soliditas jamaah, berada di pihak mana pun kita. Serta menghilangkan kebencian, dengki (hasad), tajassus, memutuskan silaturrahim, cuek, memboikot (hajr), sesama elemen jamaah.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran (3): 159)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Hati-hatilah dengan prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah saling mendengarkan keburukan, saling mencari kesalahan, saling mendengki , saling tidak peduli, saling membenci, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari, 19/8/5604)

Hadits serupa sangat banyak, hanya saja berbeda sedikit matan(redaksi)-nya . Ada yang wa laa tanaajasyu (jangan saling memfitnah) (Bukhari, 19/11/5606), atau wa laa taqaatha’uu (jangan saling memutuskan silaturahim) (Muslim, 12/415/4642), atau wa laa tanaafasuu (jangan saling bersaing/bermegah-megah) (Muslim, 12/421/4646), ada juga tambahan, “tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya leih tiga hari.” (HR. At Tirmidzi, 7/180/1858, dari jalur Anas, hasan shahih), dan yang semisalnya.

Syahidul Islam, Imam Hasan Al Banna Rahimahullah berkata:

أن ترتبط القلوب والأرواح برباط العقيدة ، والعقيدة أوثق الروابط وأغلاها ، والأخوة أخت الإيمان ، والتفرق أخو الكفر ، وأول القوة : قوة الوحدة ، ولا وحدة بغير حب , وأقل الحب: سلامة الصدر , وأعلاه : مرتبة الإيثار , (وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) (الحشر:9) .

والأخ الصادق يرى إخوانه أولى بنفسه من نفسه ، لأنه إن لم يكن بهم ، فلن يكون بغيرهم ، وهم إن لم يكونوا به كانوا بغيره , (وإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية) , (والمؤمن للمؤمن كالبنيان، يشد بعضه بعضاً). (وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ) (التوبة:71) , وهكذا يجب أن نكون

“Ukhuwah adalah keterikatan hari dan ruh dengan ikatan aqidah. Ikatan aqidah adalah ikatan yang paling kuat dan paling mulia. Ukhuwah adalah saudara keimanan, dan perpecahan adalah saudara kekufuran; kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan, tak ada persatuan tanpa rasa cinta, dan sekecil-kecilnya cinta adalah lapang dada, dan yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudara).” Barangsiapa Yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya.(QS. Al Hasyr: 9)

Al Akh yang benar akan melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena ia jika tidak bersama mereka, tidak akan dapat bersama yang lain. Sementara mereka jika tidak bersama dirinya, akan bisa bersama orang lain. Dan sesungguhnya Srigala hanya akan memangsa kambing yang sendirian. Seorang muslim dengan muslim lainnya laksana satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain.

Dan orang-orang beriman baik laki-laki dan perempuan, satu sama lain saling tolong menolong di antara mereka. (QS. At Taubah (9): 71). Begitulah seharus kita.” (Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah ar Rasail, hal. 313. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Wallahu A’lam

II. Taujih Nabawi Untuk Qiyadah

Maksud ‘qiyadah’ di sini tentu tidak terkait dengan person tertentu, nama tertentu, jabatan tertentu, tetapi siapa saja yang merasa dirinya bagian dari jajaran petinggi jamaah, yang ma’ruf disebut qiyadah oleh seluruh elemen jamaah. Karena itu, tak ada yang perlu dirisaukan, merasa diserang atau ditelanjangi kehormatannya, sebab pada hakikatnya nasihat ini adalah untuk semuanya. Justru, ini merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan kepada mereka, setelah sekian lamanya mereka dijadikan bahan olok-olokan, ejekan, dan bahkan laknat dari orang yang tidak jelas (saya katakan ‘orang tidak jelas’, sebab kader sejati yang masih memegang akhlak Islam tidak akan membiarkan lisan dan tulisannya keluar kata-kata kotor, betapa pun emosinya), dan akhirnya ditanggapi dengan cara yang sama pula oleh masing-masing pendukung.

Ini memprihatinkan, sebab aksi dan reaksi yang terjadi tidak berhenti pada ejekan, olok-olok, dan laknat, tetapi sudah pada sikap yang berlebihan dan tidak terukur. Satu pihak menuduh yang lain kemasukan intelijen, sementara yang lain menuduh balik sebagai agen zionis, yang atas memblacklist, yang bawah mengancam keluar jamaah, dan seterusnya. Hingga akhirnya, syaitan pun kegirangan, dan musuh-musuh dakwah pun bertepuk tangan dan tertawa. Maka, pandanglah ini sebagai nasihat ilallah (lebih tepatnya sharing) dari saudara sesama muslim, tidak lebih dan tidak kurang, walau bisa jadi tidak ada hal baru yang kami sampaikan, hanyalah nilai normatif yang sama-sama telah kita mengerti.

Sesuai dengan judul, maka taujih ini juga kami ambil dari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkenaan dengan para pemimpin dan kepemimpinan. Mudah-mudahan hadits-hadits ini bisa dijadikan renungan kita bersama, khususnya para qiyadah agar bisa menjadi qiyadah mukhlishah, dan membimbing kami menjadi jundiyah muthi’ah.

A. Kabar Gembira Untuk Qiyadah yang Adil

Banyak kabar gembira (busyra) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk pemimpin yang adil. Kami akan sampaika beberapa, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan Allah naungi dengan naunganNya, di hari tidak ada naungan selain naunganNya: (pertama) pemimpin yang adil …. dst.” (HR. Bukhari, 3/51/620. Muslim, 5/229/1712. Ahmad, 19/331/9288)

Ini adalah kabar gembira buat para qiyadah, berupa janji dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tidak mungkin dusta. Bergembiralah bahwa mereka akan menjadi manusia pertama yang akan mendapatkan Zhillah (naungan/perlindugan) dari Allah Ta’ala, sebelum enam golongan lainnya, dengan syarat berlaku adil.

Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan maksud Zhillah di sini adalah ‘Arsy (singgasana) sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits. Fungsinya adalah untuk melindungi pada hari kiamat nanti ketika manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam, didekatkan kepada mereka matahari hingga terasalah panasnya. Maka tidak ada makna lain saat itu bagi Zhillah melainkan ‘Arsy. Ibnu Dinar mengatakan, maksud Zhillah di sini adalah kemuliaan, perisai, dan pencegah dari hal-hal yang keji saat itu. (Imam An Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 3/481)

Bukan hanya itu, memiliki kedudukan yang mulia dan paling dekat dengan Allah Ta’ala. Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling Allah cintai dan paling dekat kedudukannya dengan Allah pada hari kiamat adalah emimpin yang adil. Sedangkan manusia yang paling Allah murkai dan paling jauh kedudukannya dengan Allah adalah pemimpin yang zalim.” (HR. At Tirmidzi, 5/164/1250. At Tirmidzi mengatakan: hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Dalam sanadnya terdapat Ibnu Sa’ad bin Junadah Al ‘Aufi Al Jadali Abul Hasan Al Kufi, yang didhaifkan oleh Ats Tsauri, Husyaim, dan Ibnu ‘Adi. Sementara At tirmidzi menyimpulkan untuk menghasankannya. Disebutkan dalam At Taqrib: jujur tapi banyak melakukan kesalahan, dan dia seorang syiah dan mudallis (suka memanipulasi sanad). Dalam Al Mizan disebutkan bahwa dia ini seorang yang hidup pada generasi tabi’in yang terkenal kedhaifannya. Abu Hatim mengatakan haditsnya di tulis tetapi dhaif. Yahya bin Ma’in mengatakan dia itu shalih (baik), sementara Ahmad mendhaifkannya. Sementara An Nasa’i dan jamaah mengatakan dia ini dhaif. Selesai. Lihat Tuhfah Al Ahwadzi, 3/450)

Dalam riwaat lain, dari Abu Hurairah Radhaillahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak; yakni pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. At Tirmidzi, 9/68/2449. Ibnu Majah, 5/294/1742. Ahmad, 16/241/7700. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 3/345, lihat juga Syu’abul Iman, 15/134/6837. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 19/368/896. Ibnu Hibban, 14/356/3497. Al Adzkar no. 534. An Nawawi berkata: berkata At Tirmidzi: hasan)

Demikianlah berbagai keutamaan pemimpin yang adil; mendapatkan perlindungan di akhirat, paling Allah cintai dan dekat kedudukkannya dengan Allah Ta’ala, dan doanya tidak ditolak.

Lalu, apa maksud pemimpin yang adil? Adil yang bagaimana? Al Qadhi ‘Iyadh juga mengatakan, mereka adalah para penguasa dan pemerintah, yang memperhatikan maslahat kaum muslimin, yang dengan keadilannya banyak memberikan manfaat dan maslahat bagi orang banyak. (Ibid). Sementara, Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, tafsir paling baik tentang makna pemimpin adil adalah pemimpin yang mengikuti perintah Allah Ta’ala dengan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, tanpa melampaui batas dan meremehkan, dan orang yang lebih mementingkan kepentingan yang lebih luas. (Fathul Bari, 2/485)

Jadi, paling tidak ada dua perilaku pemimpin yang adil, pertama, mengikuti perintah Allah Ta’ala, kedua, meletakkan sesuatu pada tempatnya. Oleh karena itu, mafhum mukhalafah (makna implisit)nya adalah jika pemimpin sudah tidak peduli dengan perintah Allah Ta’ala, baik berupa Al Wala wal Bara yang telah menipis bahkan luntur sama sekali, halal haram tidak peduli, juga melupakan perintah dan larangan, dan lain-lain, maka tanggal-lah predikat sebagai pemimpin yang adil bagi mereka.

Begitu pula ketika salah menempatkan permasalahan dan salah menempatkan manusia. Seperti menuduh khianat orang yang amanah, dan memberikan amanah kepada para pengkhianat, mempercayai para pendusta, dan mendustakan orang yang jujur dan setia. Maka, semakin jauh mereka dari nilai-nilai keadilan.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sedangkan orang jujur justru tidak dipercaya. Para pengkhianat diberikan amanah, dan orang yang amanah (terpercaya) justru dianggap pengkhianat. Saat itu ruwaibidhah pun angkat bicara.” Para sahabat bertanya: “Apakah ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab: “Orang yang bodoh tapi berlagak membicarakan urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah, 12/44/4026. Ahmad, 16/112/7571. Al Hakim, Al Mustadarak, 19/331/8571, katanya shahih tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani juga menshahihkan dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 1887. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 12/437/14550. Juga dalam Al Ausath-nya, 7/356/3386, dari jalur Anas bin Malik. Dalam riwayat Ath Thabarani ini, terdapat Ibnu Ishaq, dia seorang mudallis (suka menggelapkan sanad), dan juga Ibnu Luhai’ah serang yang layyin (lemah), lihat Majma’ az Zawaid, 7/284, tetapi Al Hafzih Ibnu Hajar menyatakan hadits ini jayyid (baik), lihat Fathul Bari, 20/131)

B. Sumur Hab Hab Bagi Para Diktator

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda:

إن في جهنم واد ، في ذلك الوادي بئر يقال له هبهب ، حق على الله تعالى أن يسكنها كل جبار

“Sesungguhnya di neraka jahanam ada sebuah lembah, di lembah tersebut terdapat sumur yang dinamakan Hab Hab, yang Allah Ta’ala tetapkan sebagai tempat tinggal bagi setiap diktator.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Ausath, 8/193/3683. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shaihihain, 20/179/8918. Imam Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan. Majma’uz Zawaid, 5/197. Ini lafaz milik Al Hakim)

Hadits yang mulia ini memberikan kabar, betapa selamatnya pemimpin yang mau mendengar dan memperhatikan keluh kesah umatnya (baca: kader), mau menerima masukan, bahkan siap dikoreksi dan kritik, tidak semena-mena, dan tidak menjadikan segala titahnya adalah ‘firman Tuhan’ dan ‘hadits nabi’ yang suci. Sehingga umatnya dibuat tidak kuasa bertanya ‘kenapa’, apalagi dengan lantang berkata ‘tidak’.

Sikap ini sangat penting agar tidak ada kabut komunikasi, hambatan informasi, hingga akhirnya umat menyimpulkan sendiri apa yang terjadi di atas, bukan dari apa yang mereka ketahui secara valid (ilmu yaqin), tetapi dari apa yang mereka rasa dan kira-kira (zhan). Maka, qiyadah yang bijak jangan justru memberikan syak wasangka balik, berupa anggapan terhadap umatnya seperti ‘adamu tsiqah (hilangnya kepercayaan), makar, konspirasi, dan menggembosi jamaah. Melainkan seharusnya bertanya, ‘Ada apa dengan saya? jika saya salah, di mana letak kesalahannya, lalu bagaimana jalan keluarnya?’

Dalam lafaz Ath Thabarani disebutkan dengan lafaz Jabbarun ’anid, diktator yang keras kepala. Sulit menerima masukkan, cenderung memandang segala masukan, koreksi, dan kritikan adalah ancaman.

Ada hadits lain yang esensinya sama dengan di atas, dari Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

سَيَكُونُ أَئِمَّةٌ مِنْ بَعْدِي يَقُولُونُ وَلا يُرَدُّ عَلَيْهِمْ، يَتَقَاحَمُونَ فِي النَّارِ كَمَا تَتَقَاحَمُ الْقِرَدَةُ

“Akan datang para pemimpin setelahku yang ucapan mereka tidak bisa dibantah, mereka akan masuk ke neraka berdesa-desakkan seperti kera yang berkerubungan.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 14/322. Abu Ya’la, 15/188/7217. Alauddin Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Umal, 6/69/14884. Al Haitsami mengatakan rijalnya tsiqat. Majma’ az Zawaid, 5/236. Syaikh Al Albani menshahihkan, Shahih wa Dhaiful Jami’ Ash Shaghir, 13/300/5928)

Mari sejenak kita bercermin kepada sikap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika permulaan perang Badar. Saat itu beliau hendak membuat Base Camp, di salah satu sumur di padang Badar. Namun, seorang sahabat yang mulia, Hubab bin Al Mundzir bertanya: “Ya Rasulullah, seandainya Allah telah mewahyukan kepadamu, maka kita akan mengikutimu dan tak akan maju atau mundur setapak pun. Tetapi, apakah ini sekedar pendapat atau strategi perang?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

بل هو الرأي والحرب والمكيدة

“Ini cuma pendapat dan strategi saja.”

Lalu Hubab bin Al Mundzir memberikan masukan: “Rasulullah,” katanya, ”Nampaknya tidak tepat kita berhenti di sini. Sebaiknya kita mendekat ke mata air terdekat dari mereka, lalu sumur-sumur yang kering itu kita timbun. Kemudian kita membuat kolam dan kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Sehingga, kita mendapatkan air minum, mereka tidak , sampai Allah tetapkan hasilnya antara kita dengan mereka.” Maka Rasulullah memandang baik masukan ini, lalu beliau melakukannya. (HR. Imam Al Baihaqi, Dalailun Nubuwah, 3/4/874. ‘Uyunul Atsar, Hal. 332. Imam Ibnu Katsir, As Sirah An Nabawiyah, 2/402. Imam Ibnu Hazm, Jawami’ As Sirah, Hal. 112. Syaikh Ash Shalih Asy Syami, Subulul Huda war Rasyad, 4/30. Ar Raudhul Unuf, 3/62. Sirah Ibnu Hisyam, 1/620. Imam Al Waqidi, Al Maghazi, Hal. 52. Imam Ibnul Atsir, Usudul Ghabah, 1/231. Imam Ath Thabari, Tarikhul Rusul wal Muluk, 1/444)

Di mata Rasulullah yang ma’shum, masukan dari Hubab bin Al Mundzir ini, sama sekali tidak menodai kenabiannya, tidak pula merendahkan risalah yang dibawanya, apa lagi menggembosi rencana-rencana yang sudah ada. Justru, itu semakin memperkuat posisi, membuatnya dicintai oleh para sahabat dan umatnya, dan membuat dirinya tercatat sebagai manusia terbaik sepanjang sejarah.

Bukanlah aib, jika para qiyadah mau seperti Abu Bakar Ash Shiddqiq Radhiallahu ‘Anhu, seorang Khalifah mulia, ketika diangkat menjadi pemimpin, dia berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya saya diangkat untuk menjadi pemimpin kalian, padahal saya bukan yang terbaik di banding kalian. Jika aku benar maka bantulah, jika aku salah maka koreksilah. Sesungguhnya kejujuran adalah amanah, dan kedustaan adalah khianat. Orang lemah pada kalian adalah kuat bagiku hingga aku memberikan kepadanya haknya, Insya Allah. Orang kuat di antara kalian adalah lemah bagiku, hingga saya mengambil darinya hak orang lain, Insya Allah. Tidaklah sebuah kaum meninggalkan jihad melainkan Allah Ta’ala akan berikan mereka kehinaan. Tidaklah diikutinya kekejian yang ada pada suatu kaum sedikit pun, melainkan Allah akan menurunkan musibah secara merata. Taatilah aku selama aku masih taat kepada Allah dan RasuNya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan RasulNya maka jangan kalian taati aku, dan dirikanlah shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian.” (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 27. Ibnu Katsir, Sirah An Nabawiyah, 4/493, katanya: sanadnya shahih. Ar Raudhul Unuf, 4/450. Sirah Ibnu Hisyam, 2/661. Mukhtashar Sirah Ar Rasul, Hal. 379. Ibnu Khalikan, Wafayat Al A’yan, 3/66. Imam Ath Thabari, Tarikhul Rusul wal Muluk, 2/120)

Bukan pula cela seandainya mereka mau meniru sikap para Imam berikut ini:

Imam Mujahid Radhiallahu ‘Anhu berkata:

ليس أحد إلا يؤخذ من قوله ويترك، إلا النبي صلى الله عليه وسلم.

“Tidaklah seorang pun melainkan bisa diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ( yang wajib diterima /tidak boleh ditolak).” (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’, Juz. 2, Hal. 31)

Imam Malik Rahimahullah berkata:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, bisa salah dan bisa benar, maka lihatlah pendapatku, apa-apa yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai maka tinggalkanlah.” (Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, Juz. 27, Hal. 120)

Imam Hasan Al Banna Rahimahullah berkata:

وكل أحد يؤخذ من كلامه ويترك إلا المعصوم صلى الله عليه وسلم , وكل ما جاء عن السلف رضوان الله عليهم موافقا للكتاب والسنة قبلناه , و إلا فكتاب الله وسنة رسوله أولى بالإتباع ، ولكنا لا نعرض للأشخاص ـ فيما اختلف فيه ـ بطعن أو تجريح , ونكلهم إلى نياتهم وقد أفضوا إلى ما قدموا .

“Setiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen), dan jika tidak sesuai, maka Al Quran dan As Sunnah lebih utama untuk diikuti. Tetapi kita tidak melempar tuduhan dan celaan secara pribadi kepada orang yang berbeda, kita serahkan mereka sesuai niatnya dan mereka telah berlalu dengan amal berbuatan mereka.” (Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal.306. Maktabah At Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun)

Para pemimpin seperti inilah yang akan mendapat cinta, hormat yang tinggi, dan penghargaan yang mahal, dari umatnya (baca: kader), serta kewibawaan yang disegani. Tentunya, jurang Hab Hab pun tidak rela menerima kehadiran mereka. Wallahu A’lam

C. Tidak Diterima Shalat Seorang Pemimpin yang di Benci Kaumnya

Hadits seperti ini ada beberapa jalur yang bisa dipertanggungjawabkan (valid), dengan redaksi yang agak berbeda. Di antaranya, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

“Ada tiga manusia yang Shalat mereka tidaklah naik melebihi kepala mereka walau sejengkal: yakni seorang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, seorang isteri yang tidur sementara suaminya sedang marah padanya, dan dua orang bersaudara yang saling memutuskan silaturahim.” (HR. Ibnu Majah, 2/338/961, Imam Muhammad bin Abdil Hadi As Sindi mengatakan sanadnya shahih dan semua rijalnya tsiqat (kredibel), Hasyiyah As Sindi ‘ala Ibni Majah, 2/338. Syaikh Al Albani mengatakan hasan. Misykah Al Mashabih, 1/249/1128. Syaikh Ala’uddin bin Qalij bin Abdillah Al Hanafi mengatakan sanad hadits ini laa ba’sa bihi (tidak apa-apa). Abu Hatim berkata: Aku belum melihat ada orang yang mengingkarinya. Dalam sanadnya terdapat ‘Ubaidah, berkata Ibnu Namir: dia tidak apa-apa. Ad Daruquthni berkata: baik-baik saja mengambil ‘ibrah darinya. Abu Hatim mengatakan: menurutku haditsnya tidak apa-apa. Sanadnya juga terdapat Al Qasim. Menurut Al ‘Ijili dan lainnya dia tsiqah (kredibel), Lihat dalam Syarh Sunan Ibni Majah, no. 172, karya Syaikh Ala’uddin Al Hanafi. Al Maktabah Al Misykat)

Imam At Tirmidzi juga meriwayatkan dari jalur lain, yakni Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dengan redaksi sedikit berbeda:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةً رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَرَجُلٌ سَمِعَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ ثُمَّ لَمْ يُجِبْ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat tiga golongan manusia, yakni seorang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, seorang isteri yang tidur sementara suaminya sedang marah padanya, dan seorang yang mendengarkan Hayya ‘alal Falah tetapi dia tidak menjawabnya.” (HR. At Tirmidzi, 2/97/326. Katanya: tidak shahih, karena hadits ini mursal (tidak melalui sahabat nabi), dan dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Al Qasim. Imam Ahmad mendhaifkannya dan dia bukan seorang yang terjaga hafalannya. Sehingga Syaikh Al Albani menyatakan dhaif jiddan (lemah sekali), lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, 1/358. Namun, Syaikh Muhamamd bin Thahir bin Ali Al Hindi mengatakan, hadits ini memiliki sejumlah syawahid (penguat)nya. Muhammad bin Al Qasim tidaklah mengapa, dan dinilai tsiqah oleh Imam Yahya bin Ma’in. Tadzkirah Al Maudhu’at, Hal. 40)

Lalu, jalur Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثلاثة لا تجاوز صلاتهم آذانهم : العبد الآبق حتى يرجع وامرأة باتت وزوجها عليها ساخط وإمام قوم وهم له كارهون

“Tiga golongan manusia yang shalatnya tidak sampai telinga mereka, yakni: budak yang kabur sampai dia kembali, isteri yang tidur sementara suaminya marah kepadanya, dan pemimpin sebuah kaum dan kaum itu membencinya.” (HR. At Tirmidzi, 2/99/328. At Tirmidzi berkata: hasan gharib. Syaikh Al Albani menghasankan dalam beberapa kitabnya, Misykah Al Mashabih, 1/247/1122. Shahih At Targhib wat Tarhib, 1/117/487, Shahih wa Dhaif Al Jami’ Ash Shaghir, 12/315/5368)

Hadits ini menunjukkan, menurut para ulama, dimakruhkannya seorang pemimpin menjadi imam, dan dia dibenci oleh kaumnya. Tetapi jika pemimpin tersebut bukan orang zhalim, maka kaumnyalah yang berdosa. Sementara Ahmad dan Ishaq mengatakan seandainya yang membenci pemimpin tersebut hanya satu, dua, atau tiga orang maka tidak mengapa pemimpin tersebut shalat bersama mereka, kecuali jika yang membenci lebih banyak. (Sunan At Tirmidzi, 2/97/326)

Ibnu Al Malak mengatakan bahwa penyebab kebenciannya pun adalah masalah agama, seperti bid’ah, kefasikan, dan kebodohan yang dibuat oleh pemimpin tersebut. Tetapi, jika kebencian disebabkan perkara dunia di antara mereka, maka itu bukan termasuk yang dimaksud hadits ini. (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 1/387)

Maka hendaknya kita semua berhai-hati, khususnya para pemimpin. Jika mereka melakukan aktifitas atau keputusan yang membuatnya jatuh pada bid’ah, kefasikan, dan kebodohannya, lalu hal itu membuat dibencinya mereka oleh kaumnya, maka ambil-lah peringatan dari hadits ini.

Dalam konteks jamaah ini, hati-hatilah dengan sikap-sikap yang dianggap meremehkan nilai-nilai syara’ dengan alasan “memperbesar suara,” dan “memperluas dukungan.” Hingga berbasa-basi dengan pengusung kefasikan, liberalisme, dan komunitas yang dahulunya dianggap musuh dakwah, atau berbasa-basi dengan nilai yang dahulunya kita anggap sesat dan menyesatkan. Lalu akhirnya, terjatuh dalam wilayah bid’ah, fasik, dan kebodohan tadi. Nilai luhur yang ada pada syariat, itulah panglima, bukan politik yang menjadi panglima. Sebab, masih banyak cara halal untuk merebut hati manusia dan memperluas jaringan. Bukan cara kontroversi, abu-abu, dan –seperti- tidak wara’. Alih-alih merebut hati manusia dan memperluas jaringan, justru dianggap cari muka dan ditinggalkan pemilih tradisionalnya. Mengejar yang ada pada orang lain, namun tidak menjaga yang sudah ada, akhirnya, yang lain gagal diraih, yang sudah ada hengkang kecewa. Bahkan yang hengkang ini, bukan sembarang ‘manusia’ melainkan kader terbina seusia jamaah ini, atau kurang sedikit. Betapa mahalnya mereka, betapa sulitnya mencari pengganti mereka. Sekali pun ada pengganti dengan kader-kader baru, berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengejar kualitas pendahulunya? Dan .. apakah sama antara para sahabat assabiqunal awwalun dengan yang terbina pasca fathul makkah? Apakah sama antara yang menyaksikan hudaibiyah dengan pengikut haji wada’?

Penyesalan memang selalu datang kemudian.

D. Di antara Sifat Qiyadah Terbaik

Dari ‘Auf bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian, dan kalian juga mendoakan mereka. Seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim, 9/403/3447. Ahmad, 49/11/22856. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 8/158. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, 12/431. Ad Darimi, 9/19/2853. Ibnu Hibban, 19/182/4672)

Hadits shahih ini memberikan kita gambaran, bahwa prestasi pemimpin tergantung dari timbal balik hubungan mereka dengan rakyatnya (baca: kader). Pemimpin menjadi terbaik, ketika mereka mencintai dan mendoakan kebaikan kepada rakyatnya, dan rakyatnya pun melakukan hal serupa untuk pemimpinnya. Pemimpin menjadi terburuk, ketika mereka membenci dan melaknat rakyatnya, dan rakyatnya pun melakukan hal serupa. Sayangnya, selintas lalu nampaknya gambaran yang kedua, bisa jadi lebih terlihat yakni saling ejek, olok-olok, menebar curiga, dan caracter assasination, dibanding gambaran yang pertama; saling mencintai dan mendoakan. Namun, gambaran ini kami yakin tidak mewakili keadaan sebenarnya dan keadaan pada umumnya. Seperti yang kami katakan sebelumnya, ini hanyalah guncangan segelintir wilayah dan internet saja. Sehingga tidak ada alasan untuk pesimis dan putus asa, masih banyak yang mencintai jamaah ini, betapa pun adanya kekurangan di sana sini. Semua harus optismis, karena kami yakin bahwa masing-masing menginginkan yang terbaik walau dengan cara yang berbeda. Tidak ada perbedaan manhaj dan aqidah, yang ada hanya perbedaan uslub dan strategi saja. Jika ternyata, ada yang salah dalam ijtihad politiknya, semoga Allah Ta’ala memberikan satu pahala, dan jika benar maka dua pahala.

E. Pemimpin Zalim, Pendusta, dan Para Pengikutnya

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Ka’ab bin ‘Ujrah, “ semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang bodoh.” Dia bertanya: “Apa maksud kepemimpinan orang bodoh itu?” Beliau bersabda: “Yaitu para pemimpin setelahku yang menuntun tidak mengikuti petunjukku, tidak berjalan di atas sunahku, barangsiapa yang mempercayai kedustaan mereka dan menolong kezaliman mereka, maka mereka bukan golonganku, dan mereka tidak akan mendatangi telagaku. Dan barangsiapa yang tidak memercayai kedustaan mereka dan tidak menolong kezaliman mereka, maka mereka akan bersamaku dan akan mendatangi telagaku.” (HR. Ahmad, 28/468/13919. Al Baihaqi, Dalail An Nubuwwah, 7/472/2893, juga Syu’abul Iman, 19/392/9081. Ibnu Hibban, 19/34/4597. Imam Al Haitsami mengatakan rijalnya shahih, Majma’ az Zawaid, 5/247. Imam Al Hakim, Al Mustadarak ‘alash Shahihain, 19/177/8415, katanya shahih dan tidak diriwayatkan Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini, ada beberapa pelajaran dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau menyebutkan bahwa kepemimpinan yang bodoh adalah, pertama, memberikan petunjuk bukan dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, kedua, tidak mengikuti sunah dalam memimpin.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan di atas huda dan sunah nabi adalah kedustaan. Namun demikian, pemimpin seperti ini juga memiliki pendukung dan penolong setia, dan yang mengikuti dan menolong kezaliman mereka, Rasulullah menyebut mereka sebagai bukan umatnya dan tidak akan mendatangi telaganya. Sedangkan yang tidak mendukung dan menolong mereka, itulah yang termasuk umat Rasulullah dan akan mendatangi telaga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Demikianlah taujih nabawi untuk kader dan qiyadah, semoga bermanfaat dan menjadi renungan bersama. Wallahu A’lam

Ya Allah Ya Rabb lindungilah kami … sebagaimana Engkau telah lindungi para pejuang sebelum ini … jadikanlah perkumpulan ini perkumpulan yang Kau rahmati dan Kau berkahi … Tiada Daya dan Kekuatan melainkan dariMu, cukuplah Kau tempat kami bertawakkal dan meminta pertolongan dari segala ancaman yang nampak atau tersembunyi, Engkaulah sebaik-baiknya pemimpin dan penolong, dan tempat mengadu, ketika tidak tersisa lagi tempat mengadu ..Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah dan para sahabatnya, wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi rabbil ‘alamin …

 

Haram Nikah Beda Agama January 8, 2009

Filed under: Fatwa — ainspirasi @ 6:49 am
Tags: , , ,

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor : 4/MUNAS VII/MUI/8/2005
Tentang

PERKAWINAN BEDA AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional VII MUI, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H. / 26-29 Juli 2005M., setelah
MENIMBANG :

  1. Bahwa belakangan ini disinyalir banyak terjadi perkawinan beda agama;
  2. Bahwa perkawinan beda agama ini bukan saja mengundang perdebatan di antara sesama umat Islam, akan tetapi juga sering mengundang keresahan di tengah-tengah masyarakat;
  3. Bahwa di tengah-tengah masyarakat telah muncul pemikiran yang membenarkan perkawinan beda agama dengan dalih hak asasi manusia dan kemaslahatan;
  4. Bahwa untuk mewujudkan dan memelihara ketentraman kehidupan berumah tangga, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang perkawinan beda agama untuk dijadikan pedoman.

MENGINGAT :

  1. Firman Allah SWT :
    Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawini-nya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. al-Nisa [4] : 3);
    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. al-Rum [3] : 21);
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperlihatkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. al-Tahrim [66]:6 );
    Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (QS. al-Maidah [5] : 5);
    Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita yang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya . Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. al-Baqarah [2] : 221)
    Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Alllah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka jangalah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana (QS. al-Mumtahianah [60] : 10).
    Dan barang siapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, Ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah mas kawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri bukan pezina dan bukan (pula) wanita-wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut pada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) diantaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengamun dan Maha Penyayang (QS. al-Nisa [4] : 25).
  2. Hadis-hadis Rasulullah s.a.w :
    Wanita itu (boleh) dinikahi karena empat hal : (i) karena hartanya; (ii) karena (asal-usul) keturunannya; (iii) karena kecantikannya; (iv) karena agama. Maka hendaklah kamu berpegang teguh (dengan perempuan) yang menurut agama Islam; (jika tidak) akan binasalah kedua tangan-mu (Hadis riwayat muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a);
  3. Qa’idah Fiqh :
    Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan (diutamakan) dari pada menarik kemaslahatan.

MEMPERHATIKAN :

  1. Keputusan Fatwa MUI dalam Munas II tahun 1400/1980 tentang Perkawinan Campuran.
  2. Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005 :

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :

FATWA TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA

  1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah.
  2. Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab, menurut qaul mu’tamad, adalah haram dan tidak sah.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 22 Jumadil Akhir 1426 H.
29 Juli 2005 M.

MUSYAWARAH NASIOANAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA,

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

Ketua,                                        Sekretaris,

K. H. MA’RUF AMIN                    HASANUDIN

 

Jadilah Manusia Dakwah December 16, 2008

Filed under: Selingan, Wawasan — ainspirasi @ 7:59 am
Tags:

Semenjak etika Muhammad bin Abdullah dilantik Allah menjadi Rasul, semangat dalam jiwanya membara-bara. Di dalam jiwanya ada sesuatu yang ingin segera dikumandangkan. Ada hal penting yang ingin segera disuarakan ke tengah khalayak. Kepada Khadijah istrinya, Muhammad berkata, “Wahai istriku, aku telah diangkat oleh Allah menjadi seorang Rasul, sejak hari ini tidak ada lagi waktuku untuk tidur!”

Sungguh sangat menakjubkan. Ucapan itu keluar dari manusia pilihan; pemimpin yang agung; guru yang bijaksana; dai yang luhur; insan pekerja keras dan berbagai gelar yang menunjukkan kemuliaannya.

Itulah sifat-sifat yang menonjol dalam diri Rasulullah saw., sifat-sifat seorang muslim yang sejati. Mereka yang telah mengaku mengikuti jejak-jejak kehidupan Rasululullah dan para pembela agama Allah perlu memetik langkah taluladan, yang di antaranya bisa diuraikan berikut:

Pertama, beriman dan beramal shalih. Dua kata yang sulit untuk dipisahkan. Orang beriman cerminan hidupnya bisa dilihat dari amal shalihnya, dan orang bisa beramal yang baik karena ada benih iman di dadanya. Amal shalih merupakan buah dari iman.

Tidak ada dalam kamus hidup orang beriman keinginan untuk bersantai ria. Dia selalu sibuk dan mencari kesibukan. Ada perasan rugi bila waktu berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang dihasilkan. Selesai suatu urusan ia akan bergegas mengejar urusan lain yang sudah menantinya. Ia benar-benar dikejar firman Allah, “Faidzaa faraghta fanshob.

Beramal shalih itulah pekerjaannya. Hidupnya dihiasi dengan pengabdian yang didasari oleh keimanan. Iman dalam dadanya mengarahkan dirinya mengenal hakikat hidup ini. Bahwa dunia, baginya hanyalah tempat pemberhentian sementara. Sebagai terminal persinggahan yang hanya sebentar, untuk terus dilanjutkan perjalanan yang panjang di akhirat sana. Sehingga orang beriman mempersiapkan diri dengan memperbanyak beramal. Agar perjalanan panjang itu bisa dilaluinya dengan mulus.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Kedua, berdakwah. Perasaan senang, bahagia, damai dan sejuk yang dirasakannya berkat keimanan, ingin selalu dikabarkan kepada orang lain. Apa yang dirasakannya, ingin selalu disampaikan, agar orang lainpun merasakannya. Dorongan untuk mengajak sesamanya agar melangkan di jalan yang lurus yang diridhai Allah menjadi motivasi hidupnya.

Berdakwah sudah menjadai bagian dari kehidupannya. Setiap saat dalam ungkapan yang keluar dari lisannya terselip seruan untuk beribadah dan beramal, berakhlak mulia dan menguatkan aqidah. Senantiasa terbawa di sana ajakan untuk berbuat dan melangkah yang baik dan menghindari dari kemungkaran.

Tiada kesempatan tanpa menyeru agar menuju jalan Tuhan. Semuanya digunakan untuk mengajak mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Menginformasikan akan adanya perkabaran penuh bahagia dan sengsara di hari kemudian. Memberitahu akan adanya neraka dan syurga, adanya siksaan dan kesenangan.

Resah-gelisah muncul dalam hatinya bila melihat kemungkaran ada disekelilingnya. Jiwanya menjadi tidak tenang sebelum berhasil mengusir kebathilan itu dengan menegakkan al-haq.

Ketiga, bersabar. Konsekuensi seorang juru dakwah harus siap menerima tentangan dan rintangan, juga berbagai bentuk gangguan, cobaan dan siksaan. Hal-hal semacam itu sudah menjadi aksioma bagi para juru dakwah, bagi para pengemban risalah Tuhan. Untuk itulah diperlukan kesabaran dalam menghadapinya.

Para penegak kebenaran sejak zaman Nabi hingga hari ini, pastilah akan menjadi ajang bidikan permusuhan bagi pasukan-pasukan pembela syetan. Kisah-kisah yang termaktub dalam al-Qur’an memberi banyak pelajaran tentang berbagai tindak intimidasi, teror dan tekanan-tekanan mental yang melelahkan.

Nabiyullah Ibrahim mendapat rintangan bukan saja dari presidennya, tapi juga dari orang yang sangat dikasihinya, orang tuanya sendiri. Beliau ditangkap hidup-hidup oleh sang penguasa Namruj dan dipanggang hidup-hidup. Namun Allah dengan kalimat-Nya yang mulia memberinya pertolongan, sehingga api yang menjilat kulitnya tidak terasa panas. Tidak sampai membakar.

Apa yang dialami olah Nabiyullah Musa as tidak kalah beratnya. Beliau menghadapi sang penguasa zalim Fir’aun, yang memburunya sampai diperbatasan pantai Laut Merah. Namun akhirnya Allah menyelamatkan Musa as dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya.

Begitu pula yang dialami oleh Muhammad bin Abdullah penutup para nabi dan rasul, tiada hari tanpa cacian dan makian. Akan tetapi Rasulullah menerimanya dengan sabar. Bahkan kepada orang yang menentannya sekalipun didoakan agar mereka mendapatkan petunjuk.

Sikap sabar yang dijalani Rasulullah saw membuahkan hasil yang spektakuler. Para penentangnya sedikit demi sedikit berkurang, bahkan berbalik haluan menjadi pendukung-pendukungnya yang setia. Mereka yang telah menemukan jalan Islam itu muncul menjadi pembela-pembela yang siap berkorban segala-galanya.

Dengan kesabaran, kemenangan akan datang. Orang yang memiliki kesabaran ibarat menyimpan kekuatan. Energinya tidak habis untuk mengumpat dan memeras isi pikirannya karena dilanda putus asa.

Ketiga sifat ini dimiliki oleh Rasulullah saw yang merupakan penjabaran dari surat al-’Ashr yang menyuruh manusia untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)

Jika ketiga sifat ini didimiliki oleh segenap mujahid dakwah, insya Allah dakwahnya akan membuahkan hasil yang memuaskan. Usaha mulianya akan mendapatkan keberuntungan dan kemuliaan.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, bahwa cukuplah Allah turunkan surah al-’Ashr, maka banyak persoalan dunia ini selesai. Dengan memahami surah ini secara baik, manusia akan menjalani roda kehidupan ini dalam jalur yang mengantarkannya menjadi orang yang beruntung. Baik di dinia maupun di akhirat.

Untuk itu selaku muslimin, terlebih yang tealh sadar bahwa berdakwah merupakan pekerjaan melekat yang tidak akan bisa dilepaskan, selayaknya memiliki sifat mulia ini sebagai sifat agung yang diwariskan oleh Rasulullah saw.

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

Tidak usah latah

Sebagai penyampai kebenaran, kita sebaiknya bisa membaca perkembangan dengan penuh arif dan bijaksana. Di tengah situasi kritis, bisalah kita mengendalikan diri. Keadaan sering membuat kita terpancing untuk ‘urun tembung‘ dari mimbar, dengan alasan yang cukup bagus, mumpung aktual. Tapi bila ulasan-ulasan itu tidak menambah ilmu, sebaliknya menambah kelelahan pikiran para jamaah, maka apalah artinya.

Keterpancingan kepada kondisi yang ‘temporal‘ seperti itu sering malah menambah jenuh. Terlebih lagi bila data-data yang dikemukakan tidak valid, kurang tepat, dan terkesan asal-asalan, maka akan membuat nilai taushiyah manjadi hambar. Para jamaah sekeluar dari masjid tidak mendapatkan kesegaran ruhani, akan tetapi justru terbebani dengan bentuk dakwah yang seperti itu.

Alangkah baik bila kita sebagai manusia dakwah tetap berpegang pada khittah dakwah, yakni mengembalikan para jamaah kepada keimanan dan ketaqwaan. Kuatkan benteng pertahanan aqidahnya, berikan motivasi yang kuat agar ibadah dapat ditingkatkan terus-menerus. Tanpa mengesampingkan kepentingan unsur-unsur yang lain, dekat kepada Allah merupakan kunci setiap permasalahan. Jangan buang kunci itu hanya karena pertimbangan-pertimbangan perasaan dan semacamnya. Allah SWT berfirman:

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Fath: 26)

Juga dalam firmanNya yang lain: “Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharataan kepadamu.” (QS. Ali Imran:120)

Menjadi manusia dakwah berarti memberikan lampu penerang di tengah kegelapan, bukan justru menambah keruwetan.

http://alqalam.8m.com/viii/qal07.htm

 

Tidak Sistematisnya Salafy dalam Belajar dan Mengajar December 15, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 6:40 am
Tags: , ,

Oleh Al-Ustadz Arifin Baderi, MA

Sepertinya manhaj yang sedang aku pelajari ini pun akan keluar dari tempurungnya dalam menyikapi realita yang ada. Mungkin akhirnya metode dakwah Ikhwanul Muslimin pun sebagai musuh bebuyutannya akan diimplementasikan juga oleh manhaj ini. Mengenai kenapa menjadi musuh bebuyutannya, sejujurnya aku belum mendapatkan alasan yang fundamental, tetapi lebih kepada prasangka buruk sebagian orang-orang yang berada di dalam manhaj ini saja. Beberapa mungkin benar, tapi setelah diteliti lebih jauh ternyata tetap juga kebenaran tersebut tidak fundamental, maksudnya hanyalah perbedaan masalah furu’iyah (cabang) yang dianggap ushul (pokok) oleh sebagian penganut manhaj ini, ku pikir karena mereka terlalu khawatir akan tersesat dan menjadi 72 golongan yang masuk neraka sehingga sebagian dari mereka begitu kaku dalam menerima manfaat yang dihasilkan oleh penemuan masa kini. Sebagian lagi masih malu-malu menyatakan kebenaran yang mereka peroleh, mungkin juga karena takut di tahdzir dan dituduh hizbiyun. Wallahu’alam.

Saya tertarik dengan tulisan al-Ustadz Abu Farid an-Nuri dalam salah satu articlenya yang beberapa kali mengatakan. ”Kita hidup di dalam realita bukan utopia”. Maksudnya adalah kita ini hidup di masa kenyataan/sekarang loch, bukan di masa khayalan/masa lalu/masa datang. Mungkin dulu kita bersikap atau mengambil pendapat ulama A tapi setelah penelaahan, penelitian dan perenungan sekarang kita bersikap atau mengambil pendapat ulama B. Apakah itu salah? Bukankah untuk banyak hal Allah tidak menyatakan haram secara jelas dalam ayat-ayatnya. Lantas kenapa kita musti menafikan maslahat yang timbul sekalipun merupakan pilihan sulit. Jadi jangan disalahkan juga kalau timbul ijtihad yang berbeda dari berbagai ulama. Toch mereka juga melalui proses penelitian yang dalam, bukan karena nafsu semata dan semestinya kita selalu berhusnudzhan kepada mereka. Saran saya, untuk kalian yang merasa sebagai thulabul ilmu, seharusnya juga meneliti hasil ijtihad-ijtihad tersebut. Jangan lantas langsung menuduh bid’ah, sesat, kafir atau sebutan buruk lainnya terhadap mereka, hanya karena alasan tidak sama dengan manhajnya. Atau sebaliknya, menelan bulat-bulat tanpa mau menelitinya, tapi tidak mau dituduh fanatik dan taklid buta?

Berikut aku sampaikan sebuah article menarik yang bersumber dari blognya al-akh Abu Salma (semoga Allah menambah pahala atas usahanya) di http://dear.to/abusalma karya al-Ustadz Arifin Baderi, MA. Semoga bermanfaat…

Bila kita membaca nasehat-nasehat para ulama’ –baik ulama’- terdahulu maupun ulama’ zaman sekarang- dalam perihal menuntut ilmu, maka kita akan dapatkan mereka menganjurkan kita untuk memulai mempelajari ilmu-ilmu yang paling penting, kemudian yang penting, dan kemudian yang kurang penting dan seterusnya,. Sehingga setiap orang yang ingin berhasil dalam menuntut ilmu, maka dengan ilmu itulah ia memulai belajar. Dan setelah ia mengetahui ilmu yang paling penting, lalu iapun harus bisa memilah-milah pembahasan-pembahasan ilmu tersebut, sehingga ia harus mendahulukan hal-hal prinsip dalam ilmu tersebut, sebelum ia mempelajari hal-hal lainnya.

Sebagai contoh: Ilmu yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim, adalah ilmu tauhid, maka ilmu inilah yang pertama kita pelajari. Dan ketika kita hendak memulai belajar ilmu tauhid, maka kita harus tahu, dari bagian ilmu tauhid yang mana kita harus memulai ? Apakah kita mulai dari mempelajari permasalahan tauhid uluhiyah, ataukah tauhid rububiyyah, atau tauhid asma’ wa shifat ? Mungkin ada yang berkata : Bagaimana, saya bisa melakukan hal ini, sedangkan saya adalah pemula atau orang awam, yang belum tahu apa-apa ?

Nah…inilah sumber permasalahan yang ingin saya tekankan. Sebagai tholibul ilmi pemula, terlebih-lebih masyarakat awam , tentunya ia tidak akan mampu melakukan hal ini sendiri, oleh karena itu, disini datanglah peran para asatidzah dab du’at, mereka dituntut untuk mengarahkan dan membimbing murid-murid mereka, masing-masing disesuaikan dengan kemampuannya. Nah…kewajiban inilah yang saya rasa telah banyak dilalaikan oleh para asatidzah dan du’at-du’at kita, sehingga terjadilah kekacauan, dan berbagai fitnah di masyarakat.

Artinya : Berbicaralah kepada setiap manusia dengan masalah-masalah yang mampu mereka pahami, apakah kalian suka bila Allah dan Rasul-Nya didustakan. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori tanpa menyebutkan sanad, dan Imam Al Baihaqi dalam kitab Al Madkhal, dan Al Khathib Al-Baghdady dalam kitab Al Jami’, keduanya dengan menyebutkan sanadnya).

Sebagai contoh nyata : Pada +/- 4 tahun silam, pada saat terjadi muqabalah (test seleksi mahasisiwa untuk belajar di Al Jami’ah Al-Islamiyyah), berkumpulah sekitar 50 orang thullabul ilmi di sebuah pesantren, lalu beberapa asatidzah –termasuk saya sendiri- menghubungi beberapa syekh yang sedang menjalankan test muqobalah tersebut, guna emohon agar sebagian mereka sudi mengunjungi pesantren tersebut diatas dan kemudian menguji ke 50 thullab tersebut. Alhamdulillah, salah seorang syekh yang ada kala itu bersedia memenuhi undangan kita, syekh tersebut bernama : “Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil” Penulis buku Manhaj dan Aqidah Imam Syafi’iy yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’I), dan ketika beliau sudah tiba di pesantren yang dimaksud, maka beliau langsung mengetest / menguji ke-50 thullab, satu demi satu.

Dan diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada mereka :“Sebutkan rukun-rukun sholat?”Sangat memalukan, dari ke 50 orang tersebut, tidak satupun yang berhasil memberikan jawaban, walau hanya menyebutkan satu rukun saja. Bahkan ada salah satu dari mereka yang memeberanikan diri untuk menjawab, dan berkata : “Diantara rukun sholat adalah berwudhu sebelumnya”. Lalu syekh tersebut bertanya kepada salah seorang mereka : “Siapakah yang lebih kafir, ahlul bid’ah ataukah yahudi?”, maka dengan sekonyong-konyong orang tersebut berkata : Ahlul bid’ah lebih kafir dibanding yahudi. Tatkala syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mendengar jawaban tersebut, beliau terbelalak, seakan tidak percaya melihat kenyataan yang sangat memalukan ini dan berkata: “Apakah ini yang kalian pahami tentang manhaj salaf ?!, Siapakah yang mengajari kalian demikian ?!.

Yang lebih parah dari itu semua, pada keesokan harinya, ada salah seorang ustadz yang berceramah dan berkata : “Sesungguhnya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab Al `Aqiil telah dipengaruhi oleh orang-orang sururiyyin, sehingga bertanya kepada murid-murid kita dengan pertanyaan yang rumit”.

Apakah para pembaca percaya dengan komentar ustadz tersebut, apakah pertanyaan tentang rukun sholat rumit? Apakah tidak ada yang tahu bahwa yahudi jelas-jelas kafir, sedangkan ahlul bid’ah banyak dari mereka tidak sampai kepada kekufuran ?!?!?!

Contoh lain : Beberapa saat lalu, ramai terjadi fitnah antara masyarakat dengan syabab yang telah kenal pengajian salaf, dalam masalah beradzan diluar masjid, iqomah tanpa menggunakan pengeras suara, menentukan waktu-waktu shalat dengan menggunakan matahari, mengenakan pakaian gamis dilingkungan yang tidak kenal gamis, seperti di kampus, dll.

Contoh lain : Setiap kali sampai ke Indonesia sebuah kitab baru, terutama yang ditulis oleh ulama’-ulama’ zaman sekarang, seperti Syekh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi, Ali Hasan, Mansyur Hasan Salman, atau yang lainnya, kita langsung ramai-ramai membacakan kitab tersebut, dan marak diadakan dauroh-dauroh membahas kitab tersebut, dan tatkala ada kitab baru lagi,maka kitapun ramai-ramai pindah ke kitab tersebut, dan begitulah seterusnya. Bukan berarti tidak dibenarkan untuk membaca kitab tersebut, akan tetapi, sistematis dalam belaja dan mengajar harus tetap dijaga.

Contoh lain : Tatkala ada salah seorang dari ustadz, atau da’i yang sedang ditahdsir, maka disetiap kota, dan setiapa majlis, pembicaraan dan materi kajiannyapun berhubungan dengan ustadz tersebut, baik yang pro ataupun kontra, sibuk dengan isu seputar permasalahan tersebut, dan melalaikan ilmu.

Sikap yang tidak punya pendirian ini, bagaikan buih lautan yang diombang-ambingkan oleh angin, kemana angin berhembus, maka kesanalah buih menuju. Oleh karena itu tidak heran kalau keilmuan yang terbentuk dari cara pedidikan dan dakwah seperti ini, tidak kokoh sebagaimana lemahnya buih lautan yang tidak pernah tetap pada sebuah pendirian. Sebagai wujud lain dari permasalahan ini adalah : Sering kali kita merasa cukup dengan hanya mengenal nama sebuah istilah, walaupun tidak mengenal hakikat.

Para ulama telah banyak menjelaskan, bahwa setiap nama dalam syariat islam ini, adalah merupakan istilah syar’i, sehingga defiinisi dan maknanyapun harus dipahami sesuai dengan yang dikehendaki dalam syariat islam, tidak cukup untuk dipahami secara bahasa Sebagai contoh : kata “sholat” secara bahasa kata ini bermakna “doa”, akan tetapi dalam syariat kata tersebut memiliki definisi lain, sehingga kalau kita membaca ayat atau hadits yang menyebutkan kata “sholat”, maka kita fahami secara istilah syariat, bukan secara bahasa. Begitu juga halnya dengan istilah –istilah syariat lainnya, kecuali kalau ada dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dari kata “sholat”disitu adalah makna secara bahasa, bukan secara syariat.

Nah…sampai saat ini, kita telah banyak mengenai dan tahu berbagai istilah dalam syariat, akan tetapi yang menjadi permasalahan, apakah kita sudah mengenal makna istilah tersebut secara syariat, sebagaimana kita mengenal definisi kata “sholat”, lengkap dengan mengenal syarat, rukun, wajibat, dan sunnah-sunnahnya?.Untuk lebih jelasnya, kita kenal kata “tasyabbuh”, apakah kita sudah mengetahui tentang makna kata ini dengan benar, syarat-syarat, rukunrukun, dan hukumnya ? atau kita baru tahu namanya saja ? Sebagai bukti, mari kita renungkan bersama hadits berikut ini :Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata : “Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak menuliskan surat ke romawi, (para sahabat berkata kepada beliau) : Sesungguhnya orang-orang romawi tidak mau membaca surat, kecuali bila berstempel. Maka Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam membuat stempel dari perak”. (HR Bukhori dan Muslim)

Bukankah Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam dalam kisah ini meniru kebiasaan orang-orang kafir? Bukankah ini tasyabbuh ? Ini menunjukkan bahwa tidak semua perbuatan yang menyerupai orang kafir, atau ahli bid’ah diharamkan, akan tetapi ada beberapa kriteria / syarat yang harus diperhatikan, diantaranya :1. Perbuatan tersebut merupakan ciri khas mereka.2. Perbuatan tersebut tidak mendatangkan manfaat.3. adanya niat meniru, berdasarkan hadits ( Innal a’malu binniyaati / sesungguhnya setiap amalan disertai dengan niat…)

Sebagai contioh lain : Kita semua tahu, bahwa mobil, pesawat terbang, berbagai peralatan telekomunikasi yang ada pada zaman kita ini, adalah dibuat oleh orang-orang kafir, tapi kenapa tidak satu orangpun yang mengharamkannya hal-hal tersebut dengan alasan tasyabbuh?

Yang lebih memilukan adalah nasib istilah “manhaj salaf”, betapa sering kita mengaku bahwa kita bermanhaj salaf, mengikuti manhaj salaf, dan berdakwah sesuai dengan manhaj salaf, tapi mari kita jujur, dan balik bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang dimaksud dengan manhaj salaf, bagaimana rumusannya, permasalahan apa saja yang tergolong dalam manhaj salaf, sejauh mana kita telah kenal atau menguasai atau memahami manhaj salaf…dst?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang –menurut hemat saya- sampai saat ini di negri kita Indonesia, belum mendapatkan jawaban dan penjelasan yang semestinya. Oleh karena itu, setiap kali kita mengenal atau mendengar sebuah nama atau istilah dalam syariat ini, hendaknya kita jangan merasa puas, sebelum mengenal dan memahami segala permasalahan yang berhubungan dengan istilah tersebut. Dengan cara kita tanyakan kepada para `ulama atau kita baca kitab-kitab yang menjelaskan istilah tersebut hingga tuntas. Sebagai wujud lain dari permasalahan pertama ini:adalah sikap meremehkan peranan kaedah-kaedah dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam berbagai ilmu syariat.

Pada akhir-akhir ini, saya mulai mendengar ungkapan-ungkapan yang menyeru agar kita tidak menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu ushul fiqh, qowaid fiqhiyyah dan tidak perlu mempermasalahkan pembagian suatu ibadah menjadi: rukun, syarat, wajib, dan sunnah.

Mereka berkata : “Yang penting bagi kita adalah mengetahui, bahwa amalan tersebut diamalkan oleh Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam, maka kita amalkan, tidak perlu tahu, apakah hal tersebut merupakan syarat, rukun, atau wajib, atau sunnah dalam suatu sebuah ibadah.

Yang lebih menyedihkan lagi, bila hal ini diucapkan oleh orang yang mengaku dirinya bermanhaj salafy, lebih menyedihkan lagi kalau orang tersebut adalah seorang yang dipanggil ustadz, dan sangat lebih memilukan lagi bila ternyata yang mengucapkan itu adalah seorang yang menyandang gelar ( Lc ) yang ia peroleh dari Al Jami’ah Al Islamiyyah  di Madinah Munawwarah. Para ulama semenjak zaman dahulu kala mengatakan : Artinya : Barangsiapa yang tidak memperoleh hal-hal yang prinsip, maka dia tidak akan mencapai ilmu.

Pada kesempatan ini, saya ingin bertanya kepada orang-orang yang mengatakan ungkapan ini : “Ulama manakah, dan siapakah namanya, yang berhasil menjadi ulma’, tanpa mempelajari lmu-ilmu tersebut?” Pada mulanya, saya merasa keheranan mendengar ungkapan ini, tapi setelah saya pikirkan, kemudian saya cocokkan dengan keadaan orang-orang tersebut, rasa heran saya menjadi sirna, hal ini dikarenakan saya berkesimpulan, bahwa orang-orang tersebut, rasa heran saya menjadi sirna, hal ini dikarenakan saya berkesimpulan, bahwa orang-orang tersebut hanya ingin menutupi ketidak pahamannya tentang ilmu-ilmu tersebut.

Untuk sedikit memberikan gambaran akan pentingnya mengetahui ilmu-ilmu tersebut, dan pembagian suatu ibadah menjadi syarat, rukun, wajib, dan sunnah, berikut ini akan saya jelaskan satu hal yang tidak asing bagi kita semua. Ahlis sunnah wal jama’ah telah sepakat dalam mendefinisikan “iman”, bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan dan amalan dengan anggota badan.

Dan merekapun telah sepakat, bahwa barangsiapa yang mengingkari sesuatu yang telah disepakati olejh kaum muslimin dari urusan agama, apabila ilmu tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya wajibnya sholat lima waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, dll, maka dihukumitelah kafir, keluar dari agama islam, walaupun ia masih tetap menjalankan sholat, puasa, mandi janabah dll.

Imam An Nawawi berkata : “Adapun pada saat ini, sungguh agama Islam telah menyebar, dan telah merata dikalangan kaum muslimin ilmu tentang kewajiban membayar zakat, sehingga diketahui oleh setiap orang khusus dan orang awam, ulama dan orang bodohpun sama-sama mengetahuinya, maka tidak diberikan uzur bagi siapapun, karena sebuah alasan yang ia pegangi, untuk mengingkari kewajiban zakat. Begitu juga halnya dengan orang yang mengingkari sesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari urusan agama, apabila ilmu tentang hal tersebut telah menyebar, seperti halnya sholat lima waktu, puasa bulan ramadlan, mandi janabah, haramnya zina, khomer, menikahi mahram. Dan hukum-hukum yang serup, kecuali orang yang baru masuk Islam, dan tidak mengetahui norma-norma agama islam, maka bila orang seperti ini mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut, karena kebodohannya tentang hal tersebut, ia tidak kafir.” ( Syarah Shohih Muslim 1/250 )

Ibnu Taimiyyah berkata : “Sesungguhnya beriman dengan wajibnya kewajiban-kewajiban yang telah jelas dan diketahui oleh setiap orang, dan dihaamkannya hal-hal yang diharamkan yang telah jelas dan diketahui oleh setiap orang adalah salah satu prinsip keimanan yang paling agung dan salah satu dari kaedah-kaedah agama Islam, dan orang yang mengingkarinya telah disepakati akan kekafirannya”. (Majmu’ Fatawa 12/496).

Oleh karena itu, orang yang menjalankan sholat-misalnya-, dengan sempurna, akan tetapi ia tidak menyakini bahwa takbiratul ihram adalah rukun, maka sholatnya tidak syah, walaupun ia tetap bertakbiratul ihram. Dan barangsiapa yang tidak meyakini wajibnya berwudhu sebelum sahalat, maka sholatnya tidak syah, walaupun ia telah berwudhu sebelumsholat. Inilah salah satu wujud nyata dari definisi iman menurut Ahlis Sunnah Wal Jama’ah. Untuk lebih jelas lagi. Silahkan baca buku-buku fiqih yang yang menjelaskan syarat-syarat, rukun-rukun, dan wajib-wajib sholat.

—oOo—

NB: Ikhwan wa akhwat fillah article menarik ini mengingat kanku kepada materi-materi tarbiyah dan metode halaqah yang pernah aku peroleh dan dikambinghitamkan sebagai bid’ah oleh sebagian Aktivis Baru Ghirah yang baru memasuki manhaj ini. Tidak perlu aku sebutkan dan tunjukkan, karena akan mengorek luka lama dan semakin membuat aku mengerenyitkan dahi tanda kebingungan

Mungkin sebagian dari kalian yang berada atau pernah berada di dalam tarbiyah telah mengetahuinya, bahwa tarbiyah memiliki metode yang sistematis dalam mendidik orang-orang yang berada di dalam jamaahnya. Yup, kami menyebutnya Kurikulum Tarbiyah. Kurikulum yang berbeda sesuai level kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang yang berada di dalam manhajnya. Mengenai hal ini, sudah dijual bebas dan banyak beredar di internet loch. Monggo kalau mau dimanfaatkan, insyaAllah, nggak akan bid’ah dan aneh.

Dan ternyata manhaj yang sedang aku teliti ini pun menyadari kelemahannya, mungkin suatu saat merekapun akan membuat kurikulum juga untuk mendidik orang-orang yang berada di dalamnya, mudah-mudahan ini bisa menambah pahala buat orang-orang yang membuatnya untuk pertama kali. Kita tunggu saja….

Wallahu’alam bishawab.

Sumber : http://dear.to/abusalma

http://ihwansalafy.wordpress.com/2008/01/13/metode-belajar-dan-mengajar-salafy-ternyata-tidak-sistematis/


 

Apakah Muraqib Amm PKS: Hilmi Aminuddin “terlibat” NII? December 12, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 8:21 am
Tags: , ,

Berita ini sangat menyesakkan hati. Baru-baru ini di kalangan PKS mengalami kegoncangan luar biasa. Pasalnya beredar selebaran yang seolah-olah dibuat BIN. Dalam selebaran itu  tercantum bagaimana sikap dan sejarah para tokoh-tokoh PKS.  Disebutkan ketua MS PKS HA memiliki hubungan sejarah dengan NII jaman Ali Murtopo.

Mengingat sampai saat ini belum ada kejelasan dari Pimpinan PKS Sendiri maka ada dua asumsi apakah laporan BIN itu asli atau aseli.

Pertama: Kalau memang isi laporan ini benar maka HA harus menjelaskan bagaiamana keterlibatannya dengan NII.  Selain itu perlu dijelaskan juga mengapa informasi yang detil itu bisa jatuh di tangan BIN. APakah memang di tubuh PKS telah tersusupi agen-agen BIN?

Kedua:   Kalau beritanya tidak benar berati selebaran itu memicu kebakaran hebat di kalangan ikhwah PKS.  Sebagian besar ini selebaran itu berusaha untuk membenturkan antar kader dakwah. Lalu adakah kader yang membuat rekayasa?

Ketiga: Apakah para qiyadah PKS sengaja membuat laporan itu dengan mengatasnamakan BIN? Lalu apakah agendanya.

Pertanyaan-pertanyaan ini seyogyanya segera ditanggapi mengingat para ikhwah juga mempertanyakannya.

 

Hidayat Pemimpin Muda Terfavorit December 12, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 7:55 am
Tags: , ,

Survei IRDI

“Sebanyak 54,98 persen menjawab iya (menghendaki tampilnya pemimpin muda). 20 persen menjawab tidak dan 25,15 persen mengatakan tidak tahu atau tidak menjawab,”

Jakarta – Mayoritas pemilih di Indonesia menghendaki tampilnya pemimpin muda di panggung politik. Nama Hidayat Nur Wahid paling terdepan dipilih masyarakat. Disusul Andi Mallarangeng dan Soetrisno Bachir (SB).

Demikian hasil survei dari Indonesian Research dan Develompment Institute (IRDI) di Hotel Nikko, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis (11/12/2008).

Hasil survei menunjukkan nama Hidayat Nur Wahid dipilih tertinggi oleh responden yakni sebesar 32,92 persen. Andi Mallarangeng 23,99 persen. SB 11,91 persen, Anas Urbaningrum 8,14 persen, Adhyaksa Dault 8,06 persen, Rizal Mallarangeng 5,43 persen, Hatta Rajasa 2,45 persen dan Tifatul Sembiring 1,31 persen.

“Sebanyak 54,98 persen menjawab iya (menghendaki tampilnya pemimpin muda). 20 persen menjawab tidak dan 25,15 persen mengatakan tidak tahu atau tidak menjawab,” ujar Direktur IRDI Notrida G Mandica Nur dalam jumpa pers.

Survei dilakukan pada 6-13 Oktober 2008. Responden berjumlah 2.000 orang yang tersebar secara proporsional di 33 provinsi dan 200 desa atau kelurahan.

Mereka yang ikut survei adalah penduduk Indonesia berumur minimal 17 tahun atau sudah menikah. Proporsi laki-laki dan wanita 50:50, dan proporsi pedesaan dan perkotaan 57,3 : 42,7.

Tingkat kepercayaan dari survei ini 95 persen dan sampling error kurang lebih 2,19 persen. Dalam acara itu hadir Menpora Adhyaksa Dault, Anas Urbaningrum, dan Yuddy Chrisnandi.
(nik/iy)

 

Mega-HNW di 2009 Mungkinkah? December 10, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 6:55 am
Tags: , , , ,

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Anis Matta: Mega-HNW Santer Berkembang di PKS

Jakarta, myRMnews. Koalisi Merah Putih antara PDIP-PKS di Pilkada dinilai efektif dan bisa diadopsi pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 dengan menduetkan Megawati Soekarnoputri-Hidayat Nur Wahid (HNW), sebut Sekjen PKS Anis Matta kepada myRMnews, Selasa, (9/12).

Menurut Anis, ide menduetkan Mega-HNW sebenarnya berkembang di internal PKS. Malah menduetkan kedua tokoh tersebut pada Pilpres 2009, sudah digodok.

”Mega-HNW pasangan alternatif yang kita godok. Sebab sekat Islam nasionalis antara PDIP dengan PKS sudah hilang,” kata Anis Matta beralasan.

Tak itu saja, pemahaman antara kedua belah semakin meningkat, begitu juga dengan semangat rekonsiliasi yang semakin kuat.

Hasilnya, pada Pilkada di berbagai daerah, koalisi Merah-Putih PDIP-PKS sangat efektif. Buktinya di banyak daerah Pilkada dimenangkan pasangan koalisi.

Dengan hasil tersebut, bisa saja koalisi Merah Putih diwujudkan pada Pilpres 2009 dengan menduetkan Mega-HNW.

Meskipun demikian, selain duet Mega-HNW, di PKS berkembang pula ide-ide atau gagasan mencalonkan Presiden PKS Tifatul Sembiring dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan JK-HNW.

Tak ketinggalan calon dari mantan petinggi militer seperti Wiranto dan Prabowo Subianto pun jadi pembicaraan hangat di internal PKS.

Menurut rencana, sebelum Pemilu Legislatif (Pileg) 2009, PKS akan mengumpulkan calon-calon tersebut untuk diuji publik.

http://smsplus.blogspot.com/2008/12/mega-hnw-santer-berkembang-di-pks.html

 

Hakikat Ibadah December 10, 2008

Filed under: Uncategorized — ainspirasi @ 6:49 am
Tags: , ,

Allah telah ciptakan jin dan manusia untuk beribadah, bahkan kegiatan ibadah ini tidak saja dilakukan oleh manusia sekarang setelah nabi SAW, tetapi ibadah ini merupakan kegiatan manusia sebelum nabi SAW. Oleh karena itu, ibadah adalah misi dan tugas manusia yang Allah tunjukkan. Manusia hidup untuk ibadah bukan untuk yang lainnya. Setiap gerak dan langkah manusia adalah ibadah, apakah dalam bekerja, di rumah, di sekolah dan di mana saja. Dengan demikian, ibadah adalah tugas manusia yang perlu dihayati dengan ilmu dan amal.

Hakikat ibadah yang merupakan tugas kehidupan manusia adalah menyembah Allah dan mengingkari thaghut. Motivasi kita beribadah adalah merasakan bahwa begitu banyak nikmat Allah pada diri kita seperti mata, telinga, rezeki, harta, anak, isteri, dan pendidikan yang menyebabkan kita harus selalu bersyukur pada-Nya. Selain itu, motivasi ibadah juga didasarkan kepada rasa keagungan Allah SWT dan kehebatan-kehebatan-Nya yang dapat dilihat dari ciptaan-Nya di alam semesta ini. Dengan perasaan bahwa nikmat Allah yang begitu besar dan begitu agungnya Allah, maka kita termotivasi mengabdi hanya kepada Allah saja.

Ibadah yang dilakukan hendaknya merupakan wujud dari penghinaan diri, cinta, dan ketundukan manusia pada Rabb-Nya. Ibadah memiliki berbagai tingkatan yang menentukan hasil ibadah itu sendiri di sisi Allah. Ibadah tanpa diikuti dengan kecintaan dan ketundukan akan menjadikan ibadah sia-sia dan kurang bermakna bagi kehidupan individu tersebut. Begitu pula ibadah tanpa rasa penghinaan diri. Ibadah yang menambah kemantapan apabila dilakukan dengan penuh rasa takut dan harap. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah dilakukan secara khusyuk.

http://www.irwanprayitno.info/tarbiyah/1226462650-hakikat-ibadah.htm

 

Tazkyatun Nafs oleh Abu Ridho December 10, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 6:46 am
Tags: , ,

Telaah kitab karangan imam ibnu Al Jauzi, Talbisu Iblis (?) bab 7: Penetrasi Iblis thd kalangan penguasa dan pemimpin (P-P) dlm setiap level organisasi.

Iblis dlm menggoda penguasa dan penguasa melalui langkah2:
1. Membisikkan P-P bahwa Allah melebihkan mereka seakan2 mrk lebih dicintai Allah krn tlg mendapatkan derajat yg lbh tinggi ..dibisikin bahwa mereka adalah manusia yg utama, sehingga org lain dilihat lbh rendah.
Ngetesnya lihat saja apakah mereka makin taat kpd Allah,jika tdk berarti iblis sukses.

2. Iblis membisikan bahwa penguasa dan pemimpin tsb punya kharisma.
Kepemimpinan itu perlu KARAKTER, dan KHARISMA, shg menyebabkan Qiyadah kita malas berteman dgn ulama, malas liqo, malas mabit, karena pergaulannya makin terbuka, sehingga pertemanannya smakin tdk terjaga.

3. iblis memdorong P-P menjadi bersika Paranoid yg kental, melalui bisikam bahwa mereka tlg dikepung para musuh. Sehingga P-P membuat rekayasa proteksi yg melindungi kepentingan mereka.

4. Iblis membisikkan P-P untuk mengangkat orang2 yg tdk punya kompetensi agar tdk merongrong kekuasaannya, yg penting loyalitas,dgn alasan jika pembantunya tdk cakap/amanah maka dosanya hanya ditanggung oleh pembantunya tsb, sang pemimpin bisa lepas tangan.

5. Iblis memperdaya Pola pikir anti syariat, shg P-P memutuskan kebijakan dgn pola pikirnya,dgm menanamkan waham bahwa yg dilakukannya itu adalah urusan politik,bukan urusan syariat

Konsep ini melahirkan semboyan masalah ini adalah urusan politik,bukan urusan Syariat.

6. Memperindah kemakmuran yg diperoleg dari harta negara/milik publik. kekayaan yg diperoleh krn jerih payahnya akan dianggap sebagai milik pribdi. harta pemimpin cukup dari gaji saja

7. Iblis menyesatkan qiyadah dgn perbuatan bermewah mewah dan maksiat, krn kepemimpinan mereka tlh mendatangkan kemakmuran diwilayah yg dia pimpin

8. Memperindah asumsi

9. Iblis membisikkan agaq qiyadah Memungut pajak yg memberatkan
10. Sedekah qiyadah dpt menghilangkan dosa korupsi. dosa jabatan dpt dihapus dpn umrah

11. iblis mengembangkan pola fikir meminta doa kpd orang2 sholeh dgn berhapa dpt penghapusan dosa

12. Iblis membisiki birokrat yg loyal dgn anggapan perbuatan dholim thd rakyatnya tsb semata mata dlm rangka MENTAATI PERINTAH ATASAN. Padahal siapa saja yg berbuat kedholiman maka masing2 harus bertanggung jawab.

http://plutogo.multiply.com/journal/item/93

 

Pendidikan Seks dalam Islam December 10, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 5:21 am
Tags: , ,

Sana`a (ANTARA News) – Pada masa keemasan Islam yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Muslim yang sebagian besar dari bangsa Arab, sumber ilmu pengetahuan hampir seluruhnya berasal dari timur (negeri Muslim).

Barat yang masih dalam masa kegelapan kala itu belajar banyak ilmu dari Arab seperti kedokteran, ilmu aljabar, ilmu astronomi, kimia, fisika, politik, sosial, psikologi dan sejumlah disiplin ilmu lainnya.

Apakah termasuk juga pendidikan seksual yang saat ini masih tabu dibicarakan secara terbuka di kalangan masyarakat Arab?

Menurut DR Fauziah Al-Dare, pendidikan seksual berkualitas secara Islami berasal dari kawasan Arab yang kemudian juga dicontoh masyarakat Barat.

“Pendidikan seksual juga dari Arab, seperti ilmu-ilmu lain layaknya aljabar dan kimia. Buktinya, Dewan Senat Inggris pernah melarang penerjemahan pendidikan seksual Arab ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1865,” kata perempuan doktor spesialis pendidikan seksual asal Kuwait itu kepada TV Alarabiya, Dubai Jumat (30/3).

Dalam paket acara “idha`at” (sorotan) yang disiarkan langsung setelah shalat Jumat itu, doktor tamatan Fakultas Ilmu Jiwa Jurusan Pendidikan Seksual di Universitas York, Inggris, tersebut menilai bahwa Islam adalah agama yang paling banyak mengupas tentang pendidikan seks.

Paket acara TV Arabiya tersebut dikhususkan untuk mengupas berbagai isu yang menjadi sorotan publik Arab. “Pada tahun 1850, ditemukan sebuah buku bahasa Arab yang mengupas tentang seks di Prancis, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis,” katanya lagi.

DR. Fauziah yang membahas tentang pendidikan seks lewat paket tetapnya bertajuk “siratul hub” (biografi cinta) di TV Alraai, Kuwait menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat negaranya.

Salah satu tema yang pernah dibahas dalam paket itu yang mendapat reaksi dari media massa setempat adalah tentang besar dan panjangnya alat vital laki-laki. Tapi, sang doktor tetap tidak bergeming, dan menilai apa yang disampaikannya masih sebatas koridor syariat Islam.

Pakar seks Arab yang sekarang selalu memakai jilbab itu, yang menyelesaikan S2 di Amerika Serikat (AS), juga menjelaskan masa-masa studinya di negeri Paman Sam tersebut dan kehidupan pribadinya sebelum memakai jilbab.

Tentang program “siratul hub” yang dibawakannya, ia menjelaskan bahwa bertujuan memberikan pemahaman kepada publik agar tidak terpengaruh iklan-iklan yang menyesatkan.

“Saya melihat beberapa iklan di majalah tentang alat vital pria, karena itu saya perlu mengupasnya dalam salah satu tema program tersebut agar jelas bagi publik bahwa ukuran alat vital tidaklah sebagai ukuran kepuasan hubungan seksual,” katanya.

Fauziah menegaskan bahwa tema tentang alat vital itu merupakan yang paling sulit dibawakannya dalam paket program rutin biografi cinta.

“Yang jelas, saya melihat publik semakin mengerti permasalahan ini,” katanya lagi.

Meskipun pengupasan tentang pendidikan seks secara terbuka di masyarakat Kuwait dan Arab umumnya masih tabu, namun ia menegaskan, akan tetap melanjutkan program rutinnya “siratul hub”, karena keyakinan akan pentingnya pendidikan yang satu ini bagi publik Arab. (*)

 

Bintang Nur Wahid Makin Terang December 9, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 5:00 am
Tags: , , ,

Survei Lembaga Riset Informasi (LRI) menyebutkan Nur Wahid merupakan capres muda terpopuler yang pilihan masyarakat. Ia mendapatkan 41,8% suara. Dia berada jauh di atas Rizal Mallarangeng dengan 13,6%. Popularitas mantan Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid, makin tinggi saja. Dia jadi calon presiden kalangan muda terpopuler. Beranikah PKS mengusung Ketua MPR itu maju ke medan perang tahun depan?
Ini memang belum murni pilihan rakyat. Ini angka yang disodorkan hasil survei. Tapi, gejala ini menandai perkembangan baru popularitas politisi PKS itu. Jika PKS bisa mengakomodir kaum intelektual dan aktivis serta masyarakat profesional di luar partai, bisa jadi Nur Wahid bakal lebih cemerlang.

Survei Lembaga Riset Informasi (LRI) menyebutkan Nur Wahid merupakan capres muda terpopuler yang pilihan masyarakat. Ia mendapatkan 41,8% suara dari total 2.400 responden jajak pendapat yang dilakukan di 33 provinsi sepanjang 25 Agustus-7 September 2008.

Dia berada jauh di atas Rizal Mallarangeng dengan 13,6%. Menteri Keuangan Sir Mulyani juga dianggap sebagai tokoh muda yang populer. Dia mendapatkan 9,8%, diikuti Pramono Anung 4,9%. Sementara Presiden PKS Tifatul Sembiring, Rektor UI Gumilar Rusliwa Soemantri, Yuddy Chrisnandi, Fajroel Rahman dan Zulkifli Hasan masing-masing di angka 1%.

Peluang Nur Wahid menjadi capres terbilang besar. Sebab, dari kalangan internal partai, tampaknya Nur Wahid takkan mendapat ganjalan berarti. Hampir semua persyaratan telah dipenuhinya. Satu-satunya ganjalan berasal dari persoalan ‘eksternal’, yakni perolehan suara PKS pada pemilu legislatif 2009. Artinya, jika meraih suara minimal 20%, PKS akan mengajukan calon sendiri.

Menurut Zulkieflimansyah, politikus PKS, hasil survei LRI memang tidak terlalu mengagetkan buat PKS. Pasalnya, selama ini Nur Wahid merupakan figur yang kuat. Selain itu, dia dipandang sudah banyak berkorban untuk PKS. Dia termasuk salah satu pembangun partai dari awal. Wajar jika dia mendapatkan hasil yang maksimal sekarang dan di masa-masa yang akan datang.

Di era kepemimpinan Nur Wahid, PKS merebut suara pada Pemilu 2004 dengan 7% suara. Meyakinkan untuk partai baru. Angka itu melonjak tajam dibanding sekitar 1,5% suara Partai Keadilan (PK) pada Pemilu 1999. PKS kian percaya diri berkat keberhasilan Nur Wahid memimpin parpol ini.

Karena itu, bagi pengganti Nur Wahid, yakni Tifatul Sembiring, perkembangan ini merupakan angin segar. Dan Tifatul musti mendorong partainya agar meraih suara lebih banyak lagi dibanding pemilu 2009 agar bintang Hidayat kian menjulang.

PKS juga harus konsisten dan konsekuen dalam mengambil sikap antikorupsi, selain bersih, profesional, dan perduli. Pada akhirnya, perkembangan PKS akan tergantung dari kinerja para politisi, pengurus, aktivis, serta jemaah tablignya yang menyebar di seantero nusantara.

“Hari depan PKS tergantung dari keberhasilan para kadernya untuk konsisten dan konsekuen serta komit kepada rakyat kecil yang memerlukan pemberdayaan,” kata Ray Rangkuti, Direktur LIMA, sebuah LSM anak muda.

http://pks-banten.or.id/Article519.html

 

Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Gerakan Da’wah Islam December 9, 2008

Filed under: Visi — ainspirasi @ 4:49 am
Tags: , ,

dakwah.info
Oleh: Abu Ridho

Alhamdulillah gerakan da’wah ini di Indonesia ini telah mencapai usia seperempat abad. Suatu usia yang tidak bisa lagi
dipandang kanak-kanak. Ia telah dewasa dan melebihi usia baligh. Oleh karenanya, setiap muncul permasalahan yang
menyangkut kehidupan gerakan ini mestilah diselesaikan secara mandiri dengan pendekatan yang bijak dan arif.
Berbagai peristiwa yang menghiasi perjalanan pergerakan ini, dari yang menyenangkan hingga yang menegangkan, dari masalah da’wah hingga daulah, tentu akan menjadi modal bagi proses pendewasaan gerakan da’wah ini. Beragam
problema yang menggeluti pergerakan ini, niscaya akan menjadi suplemen yang akan mempercepat proses pembesaran tubuh gerakan ini, apabila disikapi secara positif.
Apabila gerakan ini istiqamah memegang prinsip-prinsip Islam dan setia mengikuti manhaj da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, saya yakin, gerakan ini akan selamat mencapai tujuannya, walaupun dalam perjalanannya kerap ditimpa badai yang dahsyat. Tetapi sebaliknya, apabila gerakan ini menyimpang dari prinsip dan manhaj yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka yakinlah bahwa gerakan ini tidak akan berumur panjang. Dia akan mudah jatuh terjerembab, walaupun hanya terantuk kerikil kecil.
Dalam kesempatan ini saya akan mengungkapkan beberapa bentuk penyimpangan-penyimpangan dalam gerakan
Islam yang dapat menjadi batu sandungan bagi keberlangsungan gerakan da’wah Islam. Pembahasan ini sengaja saya
sampaikan agar para aktifis da’wah dapat terhindar dari sandungan-sandungan yang membahayakan ini.

Jalan Da’wah adalah Jalan Satu-satunya

Tujuan da’wah Islam adalah li i’laa-i kalimatillah, untuk menegakkan syari’at Allah di muka bumi ini. Yaitu tegaknya
suatu system kehidupan yang mengarahkan manusia pada suatu prosesi penghambaan hanya kepada Allah saja.
Apabila syari’at Allah belum tegak, maka beragam prosesi penghambaan kepada selain Allah akan marak dan terus
tumbuh subur.
Untuk mencapai tujuan tersebut, hanya ada satu jalan, yaitu: jalan da’wah. Inilah jalan yang telah ditempuh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul-Rasul sebelumnya, juga para shiddiqin, syuhada dan shalihin, sebagaimana
wasiat Allah swt kepada Rasul-Nya:
“Dan inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah engkau ikuti jalan-jalan lain, karena itu semua akan
menyesatkanmu dari jalan-Nya. Itulah yang telah diwasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am:153)
Di atas jalan inilah Rasulullah beserta pengikut-pengikutnya melangkah, walaupun jalan tersebut berliku, terjal, penuh
onak duri bahkan binatang-binatang buas yang siap menerkam. Beliau dan pengikutnya tidak akan berhenti hingga tidak ada lagi fitnah dan sistem Allah (Dienullah) tegak di muka bumi ini secara total.
“…hingga tidak ada lagi fitnah, dan Dien seluruhnya adalah milik Allah.” (QS. Al-Anfal:39).
Sehubungan dengan ini Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menyatakan, “Jalan da’wah adalah jalan satu-satunya.
Jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Jalan yang juga dilalui para da’i yang
mendapat taufiq Allah. Bagi kita, jalan ini adalah jalan iman dan amal, cinta dan persaudaraan. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam mengajak para sahabat kepada iman dan amal. Menyatukan hati mereka dengan jalinan cinta dan
persaudaraan. Maka, terhimpunlah kekuatan aqidah yang menjadi kekuatan wahdah (persatuan). Jadilah mereka
jama’ah yang ideal. Kalimatnya pasti tegak dan da’wahnya pasti menang, walaupun seluruh penduduk bumi

memusuhinya.” Beliau memilih jalan yang telah dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini dengan berlandaskan pada tiga kekuatan: kekuatan aqidah dan iman, kekuatan wahdah dan irtibath (jalinan yang kohesif), serta kekuatan senjata dan militer. Beliau juga menentukan tahapan-tahapan perjuangan da’wah dan aktivitas gerakan, yaitu marhalah ta’rif (tahap pengenalan), marhalah takwin (tahap pengkaderan) dan marhalah tanfidz (tahap operasional). Disamping juga menetapkan target dan sasaran yang berjenjang melalui proses tarbiyah, yaitu:
* Terbentuknya pribadi muslim yang ideal
* Terwujudnya keluarga muslim yang bertaqwa
* Terbinanya masyarakat muslim yang responsif terhadap seruan Allah
* Tegaknya pemerintahan Islam yang berlandaskan syari’at Allah.
* Tegaknya Daulah Islamiyah di bawah koordinasi Khilafah Islamiyah, hingga menjadi tauladan dunia, dengan idzin
Allah.
Demikianlah beliau dengan para ikhwan lainnya memahami dan mengamalkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Dan dalam mengorganisir gerakan da’wahnya, beliau tentukan rukun bai’at yang sepuluh (arkaul bai’at al-
&lsquo;asyarah), dan menjadikan faham (pemahaman) sebagai rukun bai’at yang pertama dan utama. Kemudian
meletakkan prinsip-prinsip yang dua puluh, sebagai kerangka yang menjelaskan pemahaman ini.
Gerakan Ikhwanul Muslimin yang beliau dirikan inilah yang menginspirasi munculnya gerakan-gerakan Islam lain di
seluruh penjuru dunia. Termasuk gerakan-gerakan Islam di Indonesia sebagian besar merujuk pada manhaj da’wah
yang dirumuskan oleh para ulama Ikhwan.

Penyimpangan Dalam Gerakan Da’wah
Setelah mengalami berbagai kendala, ujian dan cobaan, alhamdulillah gerakan da’wah kita semakin diperhitungkan oleh banyak kalangan, terutama setelah gerakan ini memasuki mihwar siyasi (orbit politik) dengan memunculkan sebuah partai da’wah. Tentu banyak nilai positif yang dapat kita petik dari kehadiran partai da’wah ini, disamping ada pula eksesekses negatifnya, bagi da’wah itu sendiri.
Semakin besar dukungan masyarakat terhadap partai ini, tentu semakin besar pula beban tanggung jawab yang harus
dipikul. Adalah manusiawi apabila dalam proses perjalanan gerakan da’wah di ranah politik ini ada oknum-oknum aktifis da’wah (da’i) yang tergelincir dari jalan da’wah ini. Apalagi apabila partai ini semakin besar, maka kans terjadinya penyimpangan di kalangan pengurus partai pun akan semakin besar. Oleh karenanya mengetahui bentuk-bentuk penyimpangan da’wah menjadi keharusan, agar kita semua terhindar darinya.
Diantara bentuk-bentuk penyimpangan dalam gerakan da’wah ini adalah:
1. Penyimpangan dalam Ghayah (Tujuan)
Penyimpangan ini termasuk penyelewengan yang paling berbahaya. Tujuan da’wah secara moral adalah semata-mata
karena Allah Ta’ala. Apabila ada motif selain itu, seperti motif-motif duniawi atau kepentingan pribadi yang tersembunyi, adalah penyimpangan.
Setiap penyimpangan tujuan, meskipun ringan atau kecil, tetap akan menyebabkan amal tersebut tertolak.
Penyimpangan ini tidak harus berarti mengarahkan motif secara total ke tujuan duniawi. Tetapi sedikit saja niat yang ada di dalam hati bergeser dari Allah, maka sudah termasuk penyimpangan. Allah tidak akan pernah menerima amal
seseorang kecuali yang ikhlas karena-Nya. (QS. Az-Zumar:3, 11-14, Al-Bayyinah:5)
Riya’, ghurur (lupa diri), sombong, egois, gila popularitas, merasa lebih cerdas, lebih pengalaman, lebih luas
wawasannya, lebih mengerti syari’ah dan da’wah, terobsesi asesoris duniawi, seperti: jabatan, kehormatan, kekuasaan,
kekayaan; adalah penyakit-penyakit hati yang menyimpangkan para da’i dari tujuan da’wah yang sebenarnya.
Berda’wah itu harus bebas dari kebusukan. Barangsiapa yang berniat baik dan ikhlas, Allah akan menjadikannya
sebagai pengemban da’wah. Barangsiapa menyimpan kebusukan di dalam hatinya, Allah sekali-kali tidak akan
menyerahkan da’wah ini kepadanya.

Demikian pentingnya ikhlas ini hingga Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjadikannya salah satu dari rukun bai’at. Seluruh kader wajib berkomitmen dengannya. Menepati dan menjaganya dari segala noda, agar gerakan da’wah ini tetap bersih dan suci.

Menurut Imam Hasan Al-Banna rahimahullah, pengertian ikhlas adalah menujukan semua ucapan, perbuatan, perilaku dan jihadnya hanya kepada Allah semata; demi mencari ridha dan pahala-Nya, tanpa mengharapkan keuntungan, popularitas, reputasi, kehormatan, atau karir. Dengan keikhlasan ini seorang kader da’wah akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah; bukan pengawal kepentingan dan keuntungan.
2. Penyimpangan dalam Ahdaf (Sasaran Utama)
Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjelaskan sasaran yang hendak dituju, yakni menegakkan syari’at Allah di muka bumi dengan mendirikan Daulah Islamiyah, dan mengembalikan kejayaan Khilafah Islamiyah, sembari menyerukan Islam kepada seluruh manusia.
Dalam risalahnya yang berjudul “Bayna al-Ams wa al-Yaum” (“Antara Kemarin dan Hari ini”), Imam Al-Banna
rahimahullah mengatakan: “Ingatlah! Kalian mempunyai dua sasaran utama yang harus diraih: Pertama, membebaskan bumi Islam dari semua bentuk penjajahan asing. Kemerdekaan, adalah hak asasi manusia. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang zhalim, durhaka dan tiran.

Kedua, menegakkan di Negara yang dimerdekakan itu, berupa Negara Islam Merdeka, yang bebas melaksanakan
hukum-hukum Islam, menerapkan sistem sosial, politik, ekonominya, memproklamirkan Undang-Undang Dasarnya yang
lurus, dan menyampaikan da’wah dengan hikmah. Selama Negara Islam belum tegak, maka selama itu pula seluruh
umat Islam berdosa, dan akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.
Disebabkan keengganan mereka menegakkan syari’at dan Negara Islam, serta ketidakseriusan mereka dalam upaya
mewujudkannya.”
Dalam risalah Al-Ikhwan Al-Muslimun “Di bawah bendera Al-Qur’an”, beliau menjelaskan tugas dan target gerakan
da’wah ini: “Tugas besar kita adalah membendung arus materialisme, menghancurkan budaya konsumerisme dan budaya-budaya negatif yang merusak umat Islam. Materialisme dan konsumerisme menjauhkan kita dari kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan petunjuk Al-Qur’an, menghalangi dunia dari pancaran hidayah-Nya, dan menunda kemajuan Islam ratusan tahun. Seluruh faham dan budaya tersebut harus dienyahkan dari bumi kita, sehingga umat Islam selamat dari fitnahnya.

Kita tidak berhenti sampai di sini. Kita akan terus mengejarnya sampai tempat asalnya, dan menyerbu ke markasnya,
hingga seluruh dunia menyambut seruan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dunia ini terselimuti ajaran-ajaran Al-Qur’an, dan nilai-nilai Islam yang teduh menaungi seisi bumi. Pada saat itulah sasaran dan target kaum Muslimin tercapai.”
Dalam menyoroti keadaan negeri-negeri Muslim sekarang ini beliau menyatakan dengan gamblang:
“Sungguh ini merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan. Idealitas Undang-Undang Dasar Islam berada di satu sisi,
sedangkan realitas objektifnya berada di sisi lain. Karena itu ketidakseriusan para aktifis da’wah untuk memperjuangkan diberlakukannya hukum Islam adalah suatu tindakan kriminal; yang menurut Islam tidak dapat diampuni dosanya kecuali dengan upaya membebaskan sistem pemerintahan dari tangan pemerintah yang tidak memberlakukan hukum-hukum Islam secara murni dan konsekuen.”
Demikianlah ahdaf (sasaran utama) dari gerakan da’wah ini dirumuskan oleh tokoh utama dan pemimpin gerakan
da’wah kotemporer, Imam Hasan Al-Banna rahimahullah. Jadi, apabila ada aktifis da’wah (da’i) yang menyatakan bahwa partai da’wah ini tidak akan memperjuangkan syari’at Islam, dengan alasan apapun (politis maupun diplomatis), jelas telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah yang utama. Mestinya mereka justru menyebarkan opini tentang kewajiban menegakkan syari’ah bagi setiap muslim, secara massif, bukan malah menyembunyikanya. Apalagi di era reformasi yang setiap orang bebas bicara apa saja karena dilindungi Undang-Undang.

Kemudian, apabila partai da’wah berkoalisi dengan partai, organisasi, atau komunitas lain yang berbasis ideologi asing, juga telah menyimpang. Karena tugas gerakan da’wah Islam adalah membebaskan umat dari penjajahan atau dominasi asing, baik itu ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial. Bukan malah bekerjasama dalam ketidakjelasan maksud dan tujuan.
Para kader da’wah atau da’i yang terpengaruh kemudian menganut paham materialisme dan gaya hidup konsumerisme

juga telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah ini. Mereka seharusnya memberi contoh berupa keteladanan hidup yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sederhana dan santun dalam keinginan dan kebutuhan. Kesalahan dan dosa mereka hanya bisa ditebus dengan menyosialisasi kewajiban menegakkan syari’at kepada seluruh elemen umat, dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh; serta menghindari diri dari sikap dan perilaku materialistis dan konsumtif.
3. Penyimpangan dalam Pemahaman
Salah satu persoalan mendasar dalam gerakan da’wah adalah: Pemahaman. Pemahaman yang benar dan utuh tentang
Islam dan manhaj da’wah Islam menjadi krusial, sebab kekeliruan pemahaman akan Islam dan manhaj da’wahnya
menjadikan gerakan ini berbelok arah, sehingga tidak akan pernah sampai ke tujuan.
Imam Al-Banna rahimahullah memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan pemahaman ini. Ia curahkan
segenap kemampuannya untuk menyuguhkan Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
dalam wujudnya yang bersih dari segala bentuk penyimpangan, baik dalam hal aqidah, ibadah dan syari’ah. Terhindar
dari pertentangan yang dapat memecah belah umat, dan distorsi hakikat Islam yang dilakukan para musuh Islam di
masa lalu maupun kini. Dan beliau menjadikan pemahaman ini rukun bai’at yang pertama dan utama.
Bentuk-bentuk penyimpangan dalam pemahaman ini, antara lain:
1. Mengadopsi pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan pemahaman yang benar tentang Islam, Al-Qur’an dan
Sunnah shahih, melontarkan dan menyosialisasikan pemikiran aneh tersebut sehingga membuat bingung umat.
2. Menolak hadits-hadits shahih dan hanya menerima Al-Qur’an saja. Mengutamakan rasionalitas ketimbang haditshadits shahih, dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara tendensius tanpa kaidah-kaidah yang benar.
3. Memaksakan semua kader da’wah untuk mengikuti satu pendapat ijtihadiyah dalam masalah furu’ yang memiliki
beberapa penafsiran pendapat. Pemaksaan seperti ini akan mengubah gerakan/jama’ah da’wah menjadi firqah, atau
madzhab tertentu; yang bukannya tidak mungkin akan dengan mudahnya mengeluarkan statement: “Siapa yang
sependapat dengan kami maka dia adalah golongan kami. Yang tidak sependapat, dia bukan golongan kami, maka
pergilah menjauh dari kami.”

Perlu diingat bahwa gerakan da’wah ini didirikan bukan atas dasar madzhab tertentu dalam masalah furu’. Gerakan ini
harus dapat merekut semua umat Islam untuk mempersatukan mereka dalam bingkai aqidah.
Dalam menghadapi masalah-masalah furu’ ini, hendaknya diambil yang lebih kuat dalil dan argumentasinya, dan tidak
mengecilkan atau menyepelekan pendapat orang lain, meskipun ia berada di luar orbit gerakan da’wah ini. Islam
mengajarkan kita melihat content (esensi) pendapatnya, bukan siapa yang berpendapat.

4. Memperbesar masalah-masalah juz’iyah dan far’iyah, dengan mengenyampingkan masalah kulliyat (prinsip).
Imam Hasan Al-Banna rahimahullah telah menghimbau kita agar kembali kepada kaidah bijaksana: “Hendaknya kita
bekerjasama dalam hal yang disepakati, dan saling tenggang rasa dalam masalah yang masih diperselisihkan.”

5. Membatasi gerakan da’wah ini membicarakan Islam dalam hal-hal tertentu yang tidak menyinggung para penguasa
pemerintahan maupun para pemimpin gerakan da’wah Islam. Padahal kita diwajibkan menyuguhkan Islam secara utuh, mengajak dan mengamalkannya secara utuh pula.
4. Penyimpangan dalam Khiththah (Langkah-Langkah Strategis)
1. Mengikuti Pola Partai Politik Sekuler.
Dalam hal ini menjadikan politik sebagai panglima, bukan lagi da’wah. Menitik beratkan pada faktor kuantitas
pendukung (bukan kualitas), dengan tujuan mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya dalam pemilu.
Ini merupakan penyimpangan yang membahayakan bangunan da’wah. Sasaran kita bukan sekedar mencari orang
yang mau memberkan suaranya di pemilu, tetapi kita membutuhkan orang yang siap mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah.
Kita membutuhkan orang yang sabar, mau berkorban, tabah, bersedia menanggung beban-beban da’wah, memahami
kepentingannya dan bertanggung jawab terhadap amanah yang dibebankan kepadanya.
Kita menginginkan orang-orang yang mencari akhirat, bukan mereka yang memburu pangkat. Kita mencari orang-orang yang rindu kampung surgawi, bukan orang-orang yang memburu kekuasaan duniawi. Kita menginginkan orang-orang yang kommit dengan nilai-nilai syar’i, bukan orang-orang yang terobsesi kursi. Kita menginginkan orang-orang yang selalu ingat akan janji Allah, bukan orang yang cepat lupa dengan janji-janji yang dia lontarkan pada waktu kampanye.
Kita tidak menginginkan gerakan da’wah ini dikuasai oleh orang-orang yang berambisi kekuasaan dan harta semata,
dengan segala kewenangan dan fasilitasnya. Kita juga tidak butuh orang-orang yang gemar melakukan lompatanlompatan
yang tidak syar’i untuk meraih ambisi-ambisi pribadinya. Tetapi kita butuh orang-orang yang akan bekerja
menegakkan Dienullah, dan beriltizam pada syari’at serta menjauhi cara-cara pencapaian tujuan yang tidak syar’i.

2. Mengabaikan Faktor Tarbiyah
Tiadanya perhatian yang layak terhadap tarbiyah akan menyebabkan rendahnya tingkat pemahaman setiap individu,
yang pada gilirannya tidak akan melahirkan kader yang mampu membantu meringankan beban jama’ah. Tarbiyah
berpengaruh terhadap ketahanan kader dalam menghadapi tantangan dan tuntutan amal di jalan da’wah, baik pada saatsaat kritis yang membutuhkan pengorbanan, maupun ketika panggilan jihad telah dikumandangkan.
Penyebab terabaikannya faktor tarbiyah:
1. Aktifitas politik mendominasi seluruh amal da’wah, sehingga waktu, tenaga, fikiran dan dana tersedot ke aktifitas
tersebut.
2. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan murabbi, dan naqib, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas pembinaan
kader yang berujung pada stagnasi pertumbuhan kader.
3. Usrah atau halaqah berubah menjadi forum sosialisasi qadhaya, bukan solusi qadhaya. Usrah hanya menjadi forum
mencari info dan pengumuman, padahal semestinya sebagai wadah pembinaan, pembentukan serta perbaikan akhlak,
ruhani dan intelektualitas.
4. Usrah atau halaqah hanya menjadi wadah untuk membentuk kader-kader da’wah yang tak siap berdialog secara
kritis dan analistis, karena lebih ditekankan metode indoktrinasi, ketimbang diskusi.

1. Mengabaikan Prinsip “The Right Man on The Right Place” dalam penyusunan struktur jama’ah da’wah.

Penyimpangan lain yang berbahaya adalah menempatkan kader pada struktur jama’ah yang tidak sesuai potensi dan
kemampuannya, tetapi berdasarkan “like and dislike”. Juga memberi amanah atau tugas kepada kader yang tidak sesuai
dengan kompetensinya. Hal ini dapat merusak efektifitas gerakan serta menyeret pada ekses-ekses yang dapat
melemahkan eksistensi jama’ah dan mempermudah timbulnya berbagai penyakit lain.
2. Menerima Prinsip dan Ideologi Sekuler
Rabbaniyah adalah prinsip dasar da’wah setiap gerakan Islam. Da’wah pada hakikatnya memperjuangkan nilai-nilai
Rubbubiyah, Uluhiyah, Mulkiyah dengan cara-cara yang diizinkan Rabb dan dicontohkan oleh Rasul-Nya, oleh kaderkader
Rabbani (para Murabbi dan mutarabbi), demi mencari ridha Allah. Dengan demikian kita tidak boleh menerima
prinsip dan ideologi Sekularisme, Nasionalisme, Pluralisme, Liberalisme, Komunisme, Kapitalisme juga Sosialisme,
walaupun diberi embel-embel Islam di belakangnya.
3. Membiarkan Jama’ah Dipimpin dan Dikuasai Orang yang Tidak Jelas
Gerakan Islam harus memiliki kepribadian Islam yang jelas, dalam pemahaman, tujuan, langkah dan keputusankeputusannya.
Ia tidak boleh tunduk kepada penguasa. Tidak boleh tergiur oleh harta dan tahta. Musuh-musuh gerakan
Islam memiliki cara tertentu untuk menghancurkan gerakan da’wah. Apabila cara-cara fisik dianggap tidak efektif
meredam laju gerakan da’wah, maka adakalanya mereka menggunakan cara yang lebih halus tetapi daya rusaknya
hebat. Seperti misal, menyusupkan agen intelijen ke dalam saf gerakan Islam. Agen ini berusaha untuk diterima seluruh
elemen jama’ah, menempel pada qiyadah jama’ah, mempengaruhinya dalam setiap pengambilan keputusan, dan secara
licin dan lihai membelokkan arah gerakan ini menuju lembah kebinasaan. Sejarah keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah
di Turki, karena disusupi intelijen Yahudi, mestinya menjadi pelajaran berharga bagi setiap gerakan Islam.
4. Berpartisipasi dalam Pemerintahan yang Tidak Menjalankan hukum Allah
Pada dasarnya kita tengah berupaya menjalankan hukum Allah dan tidak akan menyetujui hukum atau aturan apapun
yang bertentangan dengan syari’at Allah.
Tidak dapat dibenarkan kader gerakan Islam ikut masuk dan berpartisipasi dalam pemerintahan yang tidak
menjalankan syari’at Islam, apalagi apabila dia tidak mampu mempengaruhi pemerintahan tersebut, dan bahkan menjadi terpengaruh oleh sistem yang tidak islami. Sikap ini termasuk penyimpangan dari tujuan gerakan Islam ini.
Mungkin dalam situasi kondisi tertentu, atas izin jama’ah, setelah melalui pertimbangan syari’ah dan politik yang
matang, diperlukan ikut serta dalam pertimbangan. Dengan pengertian pemerintahan tersebut dalam transisi menuju
terbentuknya sistem pemerintahan Islam yang sempurna. Hal ini dapat dibenarkan dengan syarat ada kontrak politik
tertulis berupa jaminan bahwa pemerintah setuju untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini tidak boleh diserahkan kepada ijtihad pribadi. Apabila kesepakatan itu dilanggar, maka kita harus segera melepaskan diri dari partisipasi tersebut, agar tidak tertipu dan tergelincir dari tujuan gerakan da’wah yang mulia ini.
5. Berkoalisi dengan Pihak Lain dengan Mengorbankan Prinsip dan Tujuan Da’wah
Dengan sebab dan alasan apapun, tidak dibenarkan mengadakan koalisi dengan pihak-pihak yang tidak memiliki
kesamaan ideologi, visi dan misi dalam memperjuangkan tegaknya syari’at Allah. Apalagi jika koalisi tersebut harus
mengorbankan prinsip-prinsip Islam yang akan diwujudkan melalui perjuangan kita selama ini.
“Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, maka mereka pun bersikap lunak pula kepadamu.” (QS. Al-
Qalam:9)
Begitu pula, tidak dibenarkan melakukan koalisi sdengan mengorbankan sasaran dan target yang selama ini kita
berusaha mencapainya. Kalau hal ini dilakukan, berarti kita telah menjurus kepada penyimpangan dan pergeseran dari prinsip, serta menyeret semua amal dan pengorbanan ke arah yang tidak benar. Bahkan meratakan jalan bagi musuh untuk menguasai dan menentukan arah dan langkah pergerakan kita.
Karena itu, menjadi kewajiban kita semua untuk mengingatkan agar jangan mengangkat orang-orang yang tidak jelas
ideologi perjuangannya menjadi pemimpin. Jangan memberi dukungan kepada orang-orang yang zhalim dan korup.
Jangan tunduk kepada mereka karena iming-iming harta dan posisi. Jangan mengadakan perjanjian yang akan
membahayakan eksistensi gerakan Islam. Mari kita berhati-hati, dan tidak memberikan kepercayaan, dukungan dan
loyalitas kepada musuh-musuh Allah. Allah telah mengingatkan:
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, walaupun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan ke dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pu ridha
terhadap Allah. Mereka itulah Hizbullah (Partainya Allah). Ketahuilah bahwa sesungguhnya Partai Allah itulah yang akan memperoleh kemenangan.” (QS. Al-Mujadalah:22)
1. Mengabaikan Prinsip dan Keputusan Syura
Allah mewajibkan syura kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun beliau telah mendapat wahyu. Beliau selalu melaksanakan syura bersama para sahabatnya karena perintah Allah dan sebagai tasyri’ bagi umat Islam. Untuk itulah, beliau mengikuti pendapat Habbab dalam perang Badar, dan mengikuti usulan Salman dalam perang Khandaq.

Syura penting kedudukannya dalam gerakan Islam dan “amal jama’i”. Dengan syura akan diperoleh pendapat yang
lebih matang dan benar. Ia memberi kesadaran akan dasar-dasar keikutsertaan dalam tanggung jawab. Syura juga
menumbuhkan suasana saling percaya dan kerjasama antara semua anggota jama’ah.
Setiap individu dalam gerakan Islam dituntut agar bersifat positif dan aktif dalam da’wah. Ia harus ikut memikirkan,
memberikan pandangan-pandangan dalam mewujudkan kemanfaatan, menghindari kemuidharatan, serta membantu
qiyadahnya dengan pemikiran, ide, gagasan, serta nasihat, sesuai dengan adab da’wah.
Kepada para qiyadah, apapun jabatannya, harus bermusyawarah dengan para kadernya. Memanfaatkan pandangan
dan pemikiran mereka dalam menghadapi persoalan dan kemelut. Berlapang dada dalam menerima nasihat yang
diberikan kader, walaupun dirasa pahit dan caranya kurang berkenan, agar da’wah tidak kehilangan kebaikan yang
terkandung di dalam nasihat tersebut.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kedua amirul mukminin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar
radhiyallahu ‘anhu yang ketika memberi sambutan di hari pelantikannya sebagai Khalifah, keduanya meminta teguran
rakyat atas segala bentuk penyelewengan.

Amirul mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu bersikap lapang dada terhadap seorang rakyat yang berkata lantang
kepadanya di hadapan masyarakat banyak: “Kalau kami melihat Anda melakukan penyimpangan, maka kami akan
meluruskannya dengan pedang kami!”

Pelanggaran terhadap prinsip dan keputusan syura yang dilakukan qiyadah, apapun jabatannya, ilmu dan keahliannya, disamping menyimpang dari khiththah perjuangan, juga berarti pengkhianatan terhadap misi da’wah.
Begitu pula bagi para kader yang bersikap pasif, tidak memberikan pendapat, masukan dan nasihat kepada qiyadah,
serta merasa tidak bertanggung jawab atas masalah tertentu yang strategis, adalah bentuk penyimpangan dan
pelanggaran atas prinsip syura dalam da’wah.
Di antara bentuk penyimpangan lain dari prinsip syura yang berbahaya adalah menjadikan syura sebagai formalitas
belaka yang kering dari esensi. Ada Majelis Syura, namun pembentukannya diintervensi dan keputusannya direkayasa
oleh pihak-pihak tertentu. Islam menolak segala bentuk manipulasi dan penipuan. Sangat ketat dalam proses pemilihan anggota Majelis Syura, karena mereka bukan saja bertanggung jawab kepada jama’ah; tetapi juga kepada rakyat dan yang paling penting kepada Allah Yang Maha Tahu. Pemilihan anggota majelis syura harus melibatkan semua kader dan elemen jama’ah, dengan mempertimbangkan kebenaran, keadilan dan keridhaan Allah, bukan keridhaan qiyadah. Barangsiapa melanggar hal ini, berarti telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Demikianlah sebagian dari bentuk-bentuk penyimpangan dalam gerakan Islam yang dapat menggelincirkan kita dari tujuan da’wah yang mulia dan suci. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari hal-hal tersebut di atas.
Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man-nashir.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

http://kamalzharif.kamaludin.net Powered by Joomla!

 

PLATFORM PEMBANGUNAN PKS December 9, 2008

Filed under: Selingan, Wawasan — ainspirasi @ 4:32 am
Tags: , , ,

Visi Indonesia yang dicita-citakan Partai Keadilan Sejahtera adalah :
Terwujudnya Masyarakat madani yang adil, sejahtera, danbermartabat.
Masyarakat Madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong-royong menjaga kedaulatan Negara.

Adil adalah kondisi dimana entitas dan kualitas kehidupan—baik pemba-ngunan politik, ekonomi, hukum, dan sosial-kemasyarakatan—ditempatkan secara proporsional dalam ukuran yang pas dan seimbang, tidak melewati batas.

Sejahtera mengarahkan pembangunan pada pemenuhan kebutuhan lahir dan batin manusia, agar manusia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba dan khalifah Allah, yakni keseimbangan antara kebutuhan dan sumber pemenuhannya. Kami mencitakan Indonesia menjadi negara kuat yang membawa misi rahmat keadilan bagi segenap umat manusia, agar bangsanya menjadi kontributor peradaban manusia dan buminya menjelma menjadi taman kehidupan yang tenteram dan damai.

Misi yang diemban Partai Keadilan Sejahtera adalah:


1. Mempelopori reformasi sistem politik, pemerintahan dan birokrasi, peradilan, dan militer untuk berkomitmen terhadap penguatan demokrasi. Menggalang solidaritas dunia demi mendukung bangsa-bangsa yang tertindas dalam merebut kemerdekaannya.


2. Mendorong penciptaan lapangan kerja yang seluas-luasnya serta layak bagi kemanusiaan untuk menghapuskan kemiskinan dan mendorong pemerataan pendapatan dan kesejahteraan melalui program pemberdayaan masyarakat miskin dan sektor informal. Membatasi tindakan spekulasi, monopoli dan kriminal ekonomi yang dilakukan oleh penguasa modal dan sumber-sumber ekonomi lain untuk menjamin terciptanya kesetaraan bagi seluruh pelaku usaha demi terwujudnya ekonomi egaliterian.


3. Menuju pendidikan berkeadilan dengan memberikankesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia. Membangun sistem pendidikan nasional yang terpadu, komprehensif dan bermutu untuk menumbuhkan SDM yang berdaya-saing tinggi serta guru yang profesional dan sejahtera. Menuju sehat paripurna untuk semua, dengan visi sehat badan, mental-spiritual, dan sosial sehingga dapat beribadah kepada Allah SWT untuk membangun bangsa dan negara; dengan mengoptimalkan anggaran kesehatan dan seluruh potensi untuk mendukung pelayanan kesehatan berkualitas.

BIDANG POLITIK


Pertama, berkaitan dengan bentuk negara. Sebagai wujud dari rasa tanggung jawab kaum Muslimin terhadap rumah besarnya yang bernama Indonesia, dan panggilan dakwah yang menjadi rahmat bagi semesta alam, PK Sejahtera bahu-membahu bersama entitas politik lainnya untuk mengisi pembangunan menuju Indonesia yang maju, kuat, aman, adil, sejahtera dan bermartabat sesuai dengan cita-cita universal, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil dan makmur di bawah lindungan Allah.

Kedua berkaitan dengan dinamika politik nasional, PK Sejahtera mendorong agar Indonesia Baru ke depan berada pada kondisi politik yang sehat dan dinamis, dimana terjadi pematangan dari kondisi transisi menuju konsolidasi demokrasi yang mantap, yang ditandai dengan terbuka lebarnya ruang berekspresi masyarakat dalam koridor hukum dan tertib sosial. Dalam upaya membangun stabilitas politik bangsa, berbagai persoalan yang dapat memicu destabilitas politik nasional seperti separatisme, terorisme, radikalisme, kekerasan politik, dan etnonasionalisme perlu ditangani secara persuasif, bijaksana dan sikap tegas dengan terlebih dahulu mendalami akar masalah secara sosio-kultural secara terinci.


Ketiga, berkaitan dengan model demokrasi. Eksperimentasi politik di masa transisi saat ini ditandai dengan terbuka lebarnya ruang ekspresi dan ledakan partisipasi politik dalam bentuk munculnya banyak partai politik, namun tetap dalam format sistem presidensial. Di masa depan perlu dikembangkan model demokrasi yang lebih sehat, mampu menjaring calon wakil rakyat yang berkualitas melalui sistem yang lebih sederhana, efisien dan murah.


Keempat, berkaitan dengan sistem ketatanegaraan. Dengan wilayah yang luas dari Sabang hingga Merauke; dengan beragam etnik, budaya dan agama, sumber daya alam yang berlimpah baik di darat, laut dan udara; serta dengan jumlah penduduk yang besar, maka rentang kendali Indonesia demikian luas. Dengan demikian pemerintah akan fokus dalam aspek pertahanan, keamanan, hukum, roteksi kepemilikan pribadi, manajemen makro ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat serta program-program antikemiskinan dan penanggulangan bencana yang jelas merupakan fungsi- fungsi yang menjadi kewajiban negara untuk menegakkannya.


Kelima, berkaitan dengan tata hubungan pemerintahan secara vertikal serta otonomi daerah, maka PK Sejahtera berkeyakinan, bahwa hubungan ini dilaksanakan dengan menjalankan kewenangan pusat secara lebih efektif sekaligus dengan meningkatkan kualitas pelaksanaan kewenangan daerah melalui penguatan kelembagaan, pembinaan SDM, dan peningkatan kapasitas.


Keenam, PK Sejahtera berpendapat, bahwa dalam kerangka implementasi dan eksekusi kebijakan politik negara secara efisien dan efektif, maka keberadaan institusi birokrasi negara dan tatakelola pemerintahan yang baik, rapi dan kredibel akan mendorong terwujudnya stabilitas politik dan ekonomi yang dinamis dan tanpa distorsi. Untuk itu, bukti dan contoh dari para kader PK Sejahtera di lapangan legislatif dan eksekutif adalah bentuk kongkret perjuangan ini.

BIDANG PEREKONOMIAN


Untuk mengatasi persoalan ekonomi dan meningkatkan pembangunan ekonomi bangsa, maka PK Sejahtera mengusulkan langkah-langkah perbaikan penting yang terdiri dari:

1) melipatgandakan produktivitas petani dan nelayan.;

2) meningkatkan daya saing sektor industri dan jasa;

3) membangun sektor-sektor yang menjadi sumber pertumbuhan baru; sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan kehidupan bangsa melalui harmonisasi dengan lingkungan hidup.

PK Sejahtera meyakini, bahwa

Pertama, kemiskinan sebagai musuh kemanusiaan harus dibasmi dan upaya pengentasan kemiskinan harus menjadi prioritas pembangunan.

Kedua, ketimpangan pendapatan yang sangat tajam antar penduduk di sektor pertambangan dan pertanian serta ketertutupan antar sektor pembangunan menjadi sangat rawan terhadap gejoolak sosial.

Ketiga, tekanan global dan rendahnya daya saing produk industri nasional tidak akan dapat diselesaikan sebelum kita menyadari, bahwa hakikat persaingan di era global ini sarat dengan informasi yang asimetrik.

Keempat, melaju cepatnya sektor keuangan pasar modal untuk investasi jangka pendek yang terpaut jauh dari sektor riil adalah pertanda, bahwa upaya mengejar keuntungan jangka pendek telah melebihi realitas roda perputaran ekonomi yang terjadi sesungguhnya di lapangan.

Kelima, berbagai kerusakan lingkungan dan eksploitasi SDA yang berlebihan selama ini telah menuai bencana bagi rakyat. Karenanya PK Sejahtera meyakini bahwa pembangunan berkelanjutan adalah hal yang mutlak dikembangkan.

Keenam, PK Sejahtera memandang bahwa program reformasi ekonomi harus dilandasi oleh semangat mewujudkan kemandirianekonomi bangsa dengan mengerahkan segenap potensi ekonomi nasional untuk tujuan kemakmuran rakyat dan menciptakan fundamental ekonomi nasional yang kokoh.

Berdasarkan analisis permasalahan ekonomi nasional yang ada, maka PK Sejahtera menetapkan flatform perekonomian PK Sejahtera yang meliputi:

1) Mendorong penciptaan lapangan kerja yang seluas-luasnya serta layak bagi kemanusiaan untuk menghapuskan kemiskinan dan mendorong pemerataan pendapatan dan kesejahteraan melalui program pemberdayaan masyarakat miskin dan sektor informal;

2) Membangun industri nasional yang tangguh dan berdaya saing tinggi, berbasis SDM berkualitas dan kemampuan inovasi teknologi yang memadai dalam rangka mencapai kemandirian bangsa;

3) Mencapai pertumbuhan ekonomi yang bernilai tambah tinggi untuk mencapai pembangunan lestari dengan berbasis pada integrasi antar sektor serta pembangunan berbasis wilayah dan potensi regional yang menjangkau masyarakat luas;

4) Membatasi tindakan spekulasi, monopoli dan kriminal ekonomi yang dilakukan oleh penguasa modal dan sumber-sumber ekonomi lain untuk menjamin terciptanya kesetaraan bagi seluruh pelaku usaha bagi terwujudnya ekonomi egaliter. Langkah-langkah perbaikan yang diambil terdiri dari langkah utama dan langkah pendukung serta kebijakan penunjang.

Langkah utama terdiri dari:

1) Melipatgandakan produktifitas petani dan nelayan.;

2) Mendongkrak daya saing sektor industri dan jasa;

3) Membangun sektor-sektor yang menjadi sumber pertumbuhan baru.

PK Sejahtera memandang bahwa pengentasan kemiskinan dan pemerataan pendapatan (equity) adalah masalah utama yang harus diprioritaskan dalam pembangunan ekonomi bangsa. Masalah pengentasan kemiskinan sangat berkaitan dengan pembangunan sektor pertanian. Oleh karena itu sektor ini menjadi prioritas utama flatform pembangunan ekonomi PK Sejahtera dengan:

langkah utama pertama, yaitu melipatgandakan produktifitas sektor pertanian, kehutanan dan kelautan.

Langkah kedua adalah untuk mendongkrak daya saing sektor industri dan jasa yang merupakan sumber utama pertumbuhan (growth) ekonomi nasional dengan titik berat pada koordinasi lintas sektor lintas wilayah dengan sasaran untuk meningkatkan efek pengganda sektor/wilayah yang kaya sumber daya alam terhadap sektor/wilayah lain melalui upaya peningkatan nilai tambah proses ekonomi di dalam negeri dengan mengandalkan SDM yang berkualitas dan kemampuan penguasaan teknologi yang memadai.


Langkah ketiga adalah membangun sektor-sektor yang menjadi sumber pertumbuhan baru dengan memanfaatkan potensi kekayaan alam yang belum sepenuhnya digali, serta pasar dalam negeri yang sangat besar.

Kunci keberhasilan ketiga langkah tersebut di atas terletak pada kebijakan pemerintah yang menjamin terjadinya koordinasi lintas sektor dan pengembangan SDM dan inovasi teknologi yang merupakan motor utama daya saing ekonomi nasional.

BIDANG SOSIAL BUDAYA


Permasalahan bangsa yang dihadapi demikian kompleks, sehingga memerlukan pendekatan multidimensional dan multijalur. Tak cukup hanya dipecahkan dari sudut ekonomi atau didekati hanya dari aspek politik dan keamanan belaka. Proses pembangunan dalam wujud apapun, harus berpusat pada manusia dan warga masyarakat sebagai subyek utama. Karenanya misi yang diemban PK Sejarah dalam bidang sosial-budaya adalah “Membangun kecerdasan manusia Indonesia, kesalehan sosial, dan kemajuan budaya demi mengangkat Martabat Bangsa”. Dalam bahasa yang lebih gamblang dapat diterjemahkan sebagai “Menghapus kebodohan, kekerasan sosial, dan keterbelakangan budaya”, sebab kita memandang kebodohan, kekerasan, serta keterbelakangan sebagai musuh sosial seluruh bangsa. Demi mendekatkan realitas dengan visi yang dicitakan itu, maka langkah utama PK Sejahtera adalah:

pertama memastikan pemenuhan kebutuhan dasar (basic need) meliputi sandang, pangan, papan, kendaraan dan simpanan/tabungan.

Kedua, peningkatan partisipasi pendidikan yang bermutu. PK Sejahtera mencanangkan peningkatan partisipasi pendidikan yang bermutu harus terus digencarkan.

Ketiga, Terwujudnya status kesehatan paripurna bagi semua, sehingga dapat membangun bangsa dan negara dalam kerangka beribadah kepada Allah Swt.


Dengan demikian kesehatan dapat dimaknai sebagai sebuah investasi. Sehingga atas dasar itu, maka pembangunan kesehatan harus dilaksanakan secara adil, berkualitas, dan berkesinambungan bersama seluruh elemen bangsa menuju derajat kesehatan yang lebih baik.

Penanaman nilai-nilai ini merupakan dua sisi pembentukan karakter (character building) yang tak bisa terpisahkan. Problema kemasyarakatan acapkali berpuncak pada kondisi manusia/warga yang memiliki sikap dan perilaku (mental model) tak sejalan dengan perubahan zaman, jumud dan menggantungkan nasib pada kebaikan hati orang lain. Karena itu, perlu dibangun kepercayaan diri baru dan nilai kemandirian sebagai titik awal perubahan.


LANGKAH PENUNJANG


Ringkasan Platform Bidang Politik


1. Politik Nasional Mempelopori reformasi sistem politik, birokrasi, peradilan, dan militer untuk berkomitmen terhadap penguatan demokrasi.


2. Kepemimpinan Nasional Menumbuhkan kepemimpinan yang kuat yang mempunyai kemampuan membangun solidaritas masyarakat untuk berpartisipasi dalam seluruh dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, yang memiliki keunggulan moral, kepribadian, dan intelektualitas (Bersih, Peduli, dan Profesional).


3. Ketatanegaraan Mendorong penyelenggaraan sistem ketatanegaraan yang sesuai dengan fungsi dan wewenang setiap lembaga agar terjadi proses saling mengawasi, demi perubahan hubungan ketatanegaraan yang lebih stabil.


4. Reformasi Birokrasi Memperbaiki sistem rekrutmen dan pemberian sanksi-penghargaan, serta penataan jumlah pegawai negeri dan memfokuskannya pada posisi fungsional untuk membangun birokrasi yang bersih, kredibel, dan efisien


5. Penegakan Hukum dan Perlindungan HAM Strategi penegakan hukum diawali dengan membersihkan parat penegaknya dari perilaku bermasalah dan koruptif, serta penguatan kapasitas kelembagaan.


6. Pertahanan Menjadikan kekuatan rakyat sebagai modal dasar kekuatan negara dalam menghadapi ancaman domestik dan asing, dengan meningkatkan kesadaran bela negara masyarakat melalui penumbuhan rasa saling percaya dan semangat kebangsaan baru.


7. Keamanan Menjadikan kekuatan rakyat sebagai modal dasar keamanan domestik dan ketertiban sosial dengan menempatkan polisi selaku aparat pemelihara kamtibmas, penegak hukum, pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat.


8. Kewilayahan Mengembangkan otonomi daerah yang terkendali serta berorientasi pada semangat keadilan dan proporsionalitas melalui musyawarah dalam lembaga-lembaga kenegaraan di tingkat pusat, provinsi dan daerah.


9. Politik Luar Negeri Mendorong prinsip bebas dan aktif, menggalang solidaritas dunia demi mendukung bangsa-bangsa yang tertindas dalam merebut kemerdekaannya.


10. Komunikasi dan Informasi Menggenapi prinsip kebebasan informasi dengan kejujuran dalam berkomunikasi disertai penegakan etika profesi dan pemberian sanksi hukum bagi pelanggaran informasi. Menjaga semangat kebebasan berkespresi agar tidak dikekang oleh kepentingan ekonomi dan politik tertentu.


Ringkasan Platform Bidang Ekonomi


11. Reformasi Ekonomi Mendorong program reformasi ekonomi sebagai pilar pemulihan perekonomian nasional yang mengurangi ketamakan pemburu rente ekonomi.


12. Kerangka Ekonomi Makro Mengarahkan fokus kebijakan moneter pada stabilisasi nilai tukar dan tingkat harga dengan tujuan akhir mendorong dinamika sektor riil dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.


13. Pengentasan Kemiskinan Pemberantasan kemiskinan adalah tanggung jawab utama kemanusiaan berkaitan dengan penciptaan keadilan dan kesejahteraan sosial secara merata, sehingga harus mendapat prioritas tertinggi dalam pembangunan ekonomi nasional.


14. Investasi dan pembangunan infrastruktur harus diakselerasi tanpa mengabaikan strategi industrialisasi nasional dengan memantapkan kelembagaan investasi nasional yang kokoh dan kredibel harus dibangun.


15. Perbankan Dan Finansial Membangun sektor perbankan dan finansial agar memiliki kemampuan dalam menjaga stabilitas ekonomi dan membiayai tujuan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas melalui reformasi dan restrukturisasi perbankan nasional dengan tetap menegakkan aspek keadilan dan mengedepankan pendekatan hukum dalam penyelesaian kasus-kasus kejahatan perbankan.


16. Ekonomi Syariah Ekonomi Syariah memainkan peran yang signifikan dalam proses pembangunan ekonomi nasional, dengan membangun sistem dan institusi zakat dan wakaf yang kokoh sebagai bagian integral dari sistem fiskal nasional.


17. Industri Membangun visi industri nasional jangka panjang yang kokoh dan moderen untuk mencapai kemandirian bangsa melalui industri berbasis hemat SDA, SDM unggul, kebijakan transfer teknologi, dan pengembangan riset.


18. Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Pertanian, kelautan, kehutanan dan agroindustri merupakan sektor ekonomi fundamental yang menjadi tulang punggung bangsa untuk menopang pembangunan di berbagai sektor yang lain.


19. Energi, Pertambangan Dan SDA Mendorong ketahanan energi nasional melalui penghematan penggunaan sumber daya energi, intensifikasi pengelolaan sumber daya energi, diversifikasi sumber energi, dan pengembangan energi baru dan terbarukan


20. UKM Dan Koperasi Meningkatkan produktivitas dan daya saing UKMK agar menghasilkan nilai tambah ekonomi, sosial dan budaya yang tinggi sebagai wujud perhatian dan perlakuan yang adil bagi seluruh warga.


21. Ketenagakerjaan, SDM dan penciptaan lapangan perja Mendorong penciptaan pasar tenaga kerja domestik yang fleksibel dengan meningkatkan daya saing individu masyarakat Indonesia, keamanan dan kenyamanan dalam bekerja bagi buruh dan bukan hanya mempertahankan kebijakan upah murah dan mengorbankan perlindungan buruh


22. Otonomi Daerah, Desentralisasi Fiskal, dan Pembangunan Regional Desain otonomi dan pembangunan daerah harus berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat luas dengan membangun sistem perimbangan keuangan pusat-daerah yang berorientasi pada efektivitas pelayanan jasa publik, pengentasan kemiskinan, dan pemerataan pendapatan antar daerah.


23. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Membangun sektor riil yang kuat dan berdaya demi mengangkat derajat hidup rakyat yang terpinggirkan, terutama kaum tani, nelayan, buruh, dan pedagang kecil serta kelompok yang berada di bawah garis kemiskinan; melalui pengembangan unit usaha mandiri, pembentukan balai latihan kerja, dan pemantapan lembaga keuangan syariah sebagai alternatif solusi.


24. Perjuangan Petani Mengembalikan kedudukan petani sebagai aktor pembangunan, bukan lagi obyek yang mudah diperdaya dan diperas dengan cara memajukan prinsip kemandirian, kesejahteraan, dan keberlanjutan agar ditegakkan dalam dunia pertanian.


25. Perjuangan Buruh Memperbaiki kondisi buruh domestik dan migran yang amat memprihatinkan, agar tidak lagi dijadikan komoditas ekonomi dan politik belaka dengan membangun solidaritas yang genuin di kalangan buruh kasar dan pekerja berdasi, demi terjaminnya hak dan masa depan buruh lebih baik.


26. Perjuangan Nelayan Mendorong pembentukan serikat nelayan yang profesional dan berdaya, mampu memenuhi kebutuhan anggota dan melindungi hak nelayan yang dirampas melalui pengembangan pendidikan berbasis kelautan, pemanfaatan teknologi perikanan, serta pemajuan budaya hemat dan bertanggung-jawab terhadap lingkungan.


27. Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup Mengoptimalkan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup dengan meningkatkan kemauan politik pemerintah, serta partisipasi masyarakat dan tanggungjawab internasional dengan tujuan menjadikan kehidupan seluruh umat manusia yang layak di bumi yang satu, sebab baru bumi satu-satunya ini yang layak dihuni.

Ringkasan Platform Bidang Sosial-Budaya

28. Pendidikan Nasional Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dengan meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan guru sebagai pilar utama pembangunan pendidikan nasional.


29. Pembangunan Kesehatan Nasional Mewujudkan sehat paripurna untuk semua dengan mengoptimalkan anggaran kesehatan dan seluruh potensi untuk mendukung pelayanan kesehatan berkualitas.

30. Seni, Budaya Dan Parawisata Mengembangkan seni dan budaya yang bersifat etis dan relijius sebagai faktor penentu dalam membentuk karakter bangsa yang tangguh, disiplin kuat, etos kerja kokoh, serta daya inovasi dan kreativitas tinggi.


31. Pemberdayaan Masyarakat Membangun masyarakat sejahtera melalui proses peningkatan kapasitas dan pelibatan seluruh komponen masyarakat dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.


32. Kepeloporan Pemuda Membina pemuda sebagai pilar pembangunan bangsa dalam mengatasi masalah sosial dan moral, serta menjadikan kaum muda yang mandiri, berdaya, dan mempersiapkannya sebagai calon pemim-pin bangsa.

33. Pembinaan Olahraga Membangun manusia Indonesia yang kuat jasmani dan menumbuhkan karakterkepemimpinan, kerja keras, disiplin, kerja sama, sportif melalui aktivitas olahraga.


34. Pemberdayaan Peran Perempuan Dengan bingkai ketakwaan mewujudkan perempuan Indonesia yang sejahtera, cerdas, berdaya dan berbudaya melalui pemantapan peran di sektor domestik dan publik.



35. Pembinaan Keluarga Membangun keluarga sejahtera, berkualitas dan berdaya di atas landasan nilai-nilai moral demi terwujudnya keluarga sakinah sebagai pembentuk generasi yang menentukan corak peradaban bangsa.

36. Dakwah Dan Pembinaan Umat Beragama Menempatkan dakwah sebagai proses penyucian diri manusia sesuai fitrahnya dan menjamin kebebasan setiap pemeluk agama untuk menjalankan ajarannya masing-masing dengan sikap saling menghormati.

 

Salahkah Metoda Tarbiyah December 1, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 7:06 am
Tags:

Sebagian orang berpendapat bahwa metoda tarbiyah adalah metoda dakwah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Mereka mengatakan metoda dakwah itu adalah bidah yang menyesatkan. Saya ingin menyampaikan sedikit pembahasan dan komentar tentang meotoda tarbiyah yang diulas oleh saudara kita di bawah judul

PENYIMPANGAN METODE


TARBIYAH BERMARHALAH &


BANTAHAN DALIL-DALIL TARBIYAH BERMARHALA


Oleh : Abu Muhammad Al-Atsari

Sebenarnya saya tidak tahu tulisan ustadz Abu Muhhamad Al-Atsari ditujukan kepada kelompok tarbiyah yang mana. Akan tetapi ada baiknya saya menjadikan tulisan beliau sebagai masukan bagi kita semua siapa saja yang beriman keapada Allah dan Muhammad utusan-Nya.

Maksud saya menulis ini adalah sebagai sarana untuk mencari kebenaran berdasarkan perspektif orang yang awam terhadap masalah-masalah agama. Meskipun saya sarjana tetapi saya hanya mendapat sedikit pengetahuan agama Islam ketika duduk di bangku kuliah.

Kereta tarbiyah sebenarnya telah berangkat dari stasiun awalnya dan hanya singgah sesaat untuk mengangkut siapa saja yang ingin pergi bersamanya. Saya tidak pungkiri saya adalah termasuk salah seorang yang bersimpati terhadap gerakan tarbiyah dan sangat minim pengetahuannya. Keberadaan saya di gerakan tarbiyah mungkin laksana seorang yang naik ke gerbong di saat-saat terakhir ketika kereta api mulai bergerak. Saya pun sedikit berlari untuk menggapai kereta agar dapat pergi bersamanya.  Saya hanyalah seorang penumpang terkahir yang turut menumpang di salah satu gerbong dan hanya mendapatkan tempat berdiri di dekat pintu,  I am the last passenger. Dengan demikian apa yang akan saya bahas tidaklah setajam mereka yang duduk di bagian depan apalagi yang duduk di kelas VIP.

Masalah pertama beliau menulis:

a) Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada satupun penyimpangan dalam Islam melainkan ada dalil umum yang melegitimasinya. Oleh karena itu, menggunakan dalil umum untuk membolehkan suatu perbuatan khusus termasuk salah satu ciri ahli bidah dan pengikut hawa nafsu.

Rasulullah bersabda

“barang siapa yang mengamalkan amalan tidak berdasarkan ajaran rasulullah maka tertolak”.

Jelaslah yang dimaksud oleh nabi adalah masalah ibadah-ibadah dalam Islam. Lebih jelas lagi secara umum adalah rukun Islam yang lima yaitu syahadatain, sholat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah-ibadah ini telah diajarkan rasulullah dan tidak ada inovasi di dalamnya.

Dilanjutkan kutipan pendapat Al-Bani

Apabila suatu amalan masuk cakupan umum suatu dalil namun tidak dipraktikkan para sahabat, maka ketahuilah amalan itu bukan termasuk bagian daripada dalil tersebut.

Ada baiknya contoh praktik sahabat Nabi bagaimana?

Mereka tidak membedakan materi untuk anak SMP dan SMA. Tidak juga memisahkan materi untuk pegawai dan petani, guru dan pedagang, buruh dan mahasiswa dan seterusnya. Materi yang diajarkan kepada siswa SMP maka itu pula yang diajarkan kepada mahasiswa. Perbedaan materi hanya ditinjau dari segi tingkatan semata atau senioritas dalam tarbiyah. Oleh karena itu, siswa SMP terkadang justru diberi materi yang lebih berat (jika tingkatannya lebih diatas) dibandingkan mahasiswa.

Kalau yang dikatakannya benar tentu membebankan kepada kepada umat. Seharusnya dibedakan materi-materi peserta didik. Apakah beliau bermaksud mengajarkan sholat harus beda atau bagaimana?

Setahu saya materi yang diberikan berbeda berdasarkan kadar pemahaman seseorang. Besarnya perbedaan itu hanyalah diukur dari beragam dan tingkat kedalaman materi. Misalnya bagi mereka yang baru mengenal Islam diberikanlah sedikit pendalaman dan keluasan wawasan beragama. Bagi mereka yang sedikit mulai paham Islam akan diberikanlah materi-materi yang lebih banyak. Begitu seterusnya. Di sini dianggap semua orang telah paham dasar-dasar Islam secara umum seperti syahadat, sholat, puasa dsb.

Bagaimana cara pengelempokkan peserta? Apakah semua dikelompokkan asal-asalan? Menurut yang saya ketahui pengelompokkan didasrkan pada kedekatan bidang pekerjaan atau umur atau tingkat pendidikan umum. Tidak mungkin para pemuda putus sekolah dikelompokkan dengan para dosen atau murid SMA dengan mahasiswa. Ini dimaksudkan agar penyampaian terbiyah bisa berjalan dengan baik. Kalau tingkat pendidikan  terlalu jauh iklim terbiayh menjadi tidak kondusif karena mungkin untuk memahamkan sebuah materi kepada satu orang peserta akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Di samping itu interaksi antara peserta tarbiyah menjadi kurang nyaman.

Buktinya Muadz tidak membuat marhala-marhala seperti Tarbiyah yang mereka lakukan, tapi Muadz justru berdakwah secara umum.

Betul, Nabi dan para sahabat tidak membuat tahapan-tahapan dalam berdakwah. Bahkan Nabi tidak membuat organisasi-oranisasi apakah salafi atau Ikhwanul Muslimin atau Hibuz Tahrir atau Jamah Tabligh atau Jamaah Islamiyah. Nabi dan para sahabat tidak membuat metoda fiqih atau mazhab-mazhab. Nabi tidak membuat sekolah-sekolah apalagi universitas. Orang-orang berilmu-Islam setelah jaman sahabatlah yang membuat-buat Mazhab. Itu tidak berarti para Imam yang empat menyalahi Nabi dan para sahabat. Padahal apa yang dilakukan oleh Imam-imam sungguh membawa manusia sesudahnya berkelompok-kelompok menurut mazhab. Saya dapat cerita  suatu ketika ada segolongan orang yang tidak mau sholat kecuali dipimpin oleh orang yang semazhab.

Mungkin apa yang dilakukan oleh para Imam dalam bermazhab bisa diterima  karena yang dilakukan hanyalah soal pengambilan kesimpulan berdasarkan pengetahuan mereka tentang hadist dan sunnah Nabi. Kalau hal itu kita bisa terima berarti tersirat pesan bahwa kita pun boleh melakukan hal yang sama karena toh fiqih dan sekolah-sekolah tidak dicontohkan wujudnya oleh nabi.

b) Sungguh sangat disayangkan jika masih ada sebagian Murabbi (pengajar tarbiyah) yang berdalil dengan dalil bahwa Tarbiyah ini merupakan Sunnah Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam, yaitu dimana Nabi masih melakukan Metode Makkah yang berdakwah dari Rumah ke Rumah.

Pendapat ini sangat lemah dari beberapa sisi;

Pertama, Rasulullah tidak pernah menyuruh untuk melakukan dakwah seperti yang Beliau Shallallaahu Alaihi Wasallam lakukan ketika Periode ini, atau dengan kata lain Tidak mempunyai landasan dalil dari As-Sunnah yang shahih.

Mudah-mudahan tidak dipami bahwa apa saja bentuk dakwah ketika nabi masih di mekah sudah tidak boleh digunakan. Masih ada di beberapa tempat dakwah secara terbuka belum memungkinkan.

Kenyataan lain sebagian besar dari kita berada di lingkungan yang telah beriman. Mereka semua sudah mengetahui mana yang Islam  dan mana yang bukan. Kebanyaakan sudah paham untuk beriman harus mengucapkan syahadat dan melakukan Rukun Islam dan Rukun Iman. Lalu bagaimana kita mengingatkan orang agar mau beriman dengan baik. Apakah setiap jam atau setiap setelah sholat atau  kapan? Adakah ada satu saja perkataan nabi yang sahih tentang kegarusan mengikuti metoda dakwah beliau tentang materi-materi dakwah, waktu, tempat atau apalah. Kalau ada tolong saya diberi tahu. Kalau tidak ada lalu bagaimana, tidak berdakwah? Apakah kita harus mendapatkan suasana yang sama pleg..dengan suasana dakwah 1400 tahun yang lalu baru berdakwah.

Kedua, metode ini sudah mansukh (dihapus) setelah turun ayat, fashda bimaa tumar (sampaikan apa yang diturunkan kepadamu terang-terangan). Buktinya, Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam tidak pernah lagi menggunakan metode ini setelah turun ayat tersebut.

Setahu saya ayat itu diturunkan ketika sebagian besar penduduk Mekah masih   dalam keadaan musyrik. Maka nabi tidak diam-diam lagi. Nabi kemudian mendatangi perkumpulan-perkumpulan kaum musyrikin untuk menyampaikan kalimat Allah.

Yang kita jumpai saat ini tetangga kiri-kanan kita kebanyakan Muslim. Apa yang perlu kita sampaikan kepada mereka? Mengajak percaya kepada Allah atau kita mengajak mereka ber-Islam yang benar? Tentu yang paling pas adalah mengajak ber-Islam dengan benar. Untuk itu diperlukan waktu yang agak lama. Artinya diperlukan tempat dan waktu yang kondusif  untuk mamapu mengajak umat Islam memahami dengan benar Islam ini. Bila kita asal-asalan menyampaikan tidak memperhatikan kondisi umat maka antipati yang akan didapat.

Ketiga, Sangat Rancu bagi Dien yang mulia ini, karena akan muncul bentuk-bentuk Ibadah yang disandarkan kepada Periode Makkah ini.

Saya takut dengan apa yang disampaikan di sini. Sebagian ayat Quran diturunkan di Mekah. Selama tidak ada ketentuan yang jelas melarang ibadah pada periode Mekah berarti ibadah itu boleh dilakukan.

Keempat, apa yang dilakukan Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam pada periode ini hanyalah merahasiakan tempat pembinaan dan bukan mengelompokkan orang. Alasannya pun cukup jelas yaitu factor keamanan. Adapun saat ini Alhamdulillah keamanan dakwah sangat terjamin dan tak ada lagi hukum Islam yang perlu dirahasiakan karena sudah tersebar dimana-mana.

Para pendukung Tarbiyah sangat paham tidak ada yang perlu disembunyikan tentang hukum-hukum Islam. Tak ada gunanya hukum-hukum Islam disembunyikan oleh Gerakan Tarbiyah. Tidak berarti kita boleh ngomong semaunya tentang hukum Islam kepada siapa saja tanpa mengenal waktu dan tempat.

Ketika nabi Muhammad SAW masih hidup umat Islam berada dalam satu kelompok karena Nabi sebagai satu-satunya sumber penjelasan setelah Quran. Kepercayaan umat digantungkan pada nabi. Nabi sosok yang maksum dan selalu dijamin kebenaran perkataan beliau tentang agama. Dewasa ini begitu banyak orang yang berilmu dan mengaku mengikuti ajaran rasulullah. Manakah mereka yang kita percayai? Keyakinan seseorang pada seorang ulama Islam tidak otomatis akan diikuti oleh orang lain. Perbedaan keyakinan inilah akhirnya menimbulkan munculnya berbagai kelompok dengan berbeda-beda pimpinan. Selanjutnya apakah keberadaan kelompok ini salah?  Padahal dalam satu hadist dikatakan umat Islam akan terpecah menjadi 73 kelompok tetapi hanya satu yang selamat yaitu yang berpegang pada sunnah Muhammad SAW. Di sini nabi mengakui adanya berbagai kelompok namun hanya mengakui satu yang selamat. 

Kelima, tak ada Ulama Ahlusunnah yang memahami metode pada periode ini dapat diterapkan lagi untuk kondisi masa sekarang ini.

Setelah periode Mekah nabi tetaplah menjadi satu-satunya pemimpin. Tidak perlu nabi mengumpulkan manusia menjadi berkelompok-kelompok. Saat ini siapakah ulama yang maksum dan menjadi memimpin Negara?  Tidak ada.! Yang dipercaya adalah masing-masing ulama yang menjadi pemimpin golongan masing-masing.

Keenam, jika dipaksakan menerapkan metode pada periode ini, konsekuensinya harus meninggalkan sejumlah syariat seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. Sebab syariat-syariat ini belum turun pada periode dakwah sirriyah (rahasia) di Makkah.

Apabila dikatakan, Kami tetap melakukan syariat namun menerapkan metode dakwahnya, maka dijawab, Sungguh ini termasuk beriman kepada sebagian al kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain. Apa alasan kamu menggunakan metodenya namun tidak tunduk kepada konsekuensinya?

He..he… sorry setahu saya gerakan tarbiyah tidak membenarkan meninggalkan sholat lima waktu. Gerakan tarbiyah tidak menyalahi syariat sholat, puasa, zakat, haji. Gerakan tarbiyah hanya beda melakukan penyampaian bagaimana ber-Islam yang benar.

Ketujuh, lebih parah lagi, penerapan metode pada periode Makkah berkonsekuensi pengkafiran secara total terhadap golongan. Dan inilah diantara bukti bahwa mereka ini menafsirkan semua kaum muslimin, karena dianggap masih masa jahiliyah. Wal Iyadzu billah.

Lagi-lagi sorry… Gerakan Tarbiyah dilarang  saling mengkafirkan. Takfir hanya hak Allah dan Rasulnya.

c) Mereka mengatakan bahwa Sekolah ataupun Jamiah juga tidak ada dalilnya dan juga bermarhala. Sehingga mereka mencontohkan Jamiah/Sekolah sebagai Al Ashl (Pokok/dasar) dan Tarbiyah sebagai Cabang.

Hal ini sangat berbeda dengan Tarbiyah bermarhala ini, Tidak ada satupun Ulama yang ber-Ijitihad kepada Tarbiyah ini, bahkan sekarang ini, ada diantara Ulama yang mengkritiknya, seperti Syaikh Ali Hasan Al Halaby.

Lihatlah..hanya ucapan ulamanya yang dipercayainya. Gerakan Tarbiyah bisa pula menunjukan keterangan dari para ulamanya.

Jika dilihat dari sisi yang lain, maka akan tampak pula perbedaan yang sangat mencolok antara Jamiah dan Tarbiyah ini. Jamiah; tidak menjadikan orang taashub (fanatik) kepada Jamiah tersebut. Dan pelajarannya pun merupakan pelajaran-pelajaran yang harus diajarkan secara runut (harus bertahap) sehingga adanya tingkatan itu sangat penting. Adapun Tarbiyah model ini; maka telah tampak kefanatikan yang ditimbulkan oleh para pengikut metode ini kepada kelompoknya. Dan materi pelajarannya pun sangat jauh dengan Jamiah, yaitu materi-materi yang tidak perlu harus dibuat bertingkat.

Setahu saya dalam setiap tingkatan materi ada bab-bab tertentu yang perlu pengulangan. Sebagaimana dakwah secara umum materinya dibuat sedemikian rupa sehingga peserta merasa ringan. Namanya juga tarbiyah informal. Kalau mau lebih hebat silakan pergi ke pondok, madrasah, atau belajar lagi di IAIN. Bukankah sebuah kenyataan bahwa ada orang (Islam)  fanatik dengan keyakinannya.

d) Mereka katakan bahwa masalah ini masih merupakan masalah Ijitihadi, jadi tidak perlu dipermasalahkan.

Suatu statement/pernyataan yang sangat keliru. Karena jika kita bertanya balik kepada mereka Siapakah Ulama yang ber-Ijitihad dengan Metode Tarbiyah ini???, maka akan kita temukan jawaban kebenaran bahwa tidak satupun dari kalangan Ulama yang ber-Ijitihad kepada Metode ini. Kalau Metode ini bukan merupakan Ijtihad Ulama, lalu siapakah yang ber-Ijtihad? Ataukah Ustadz-ustadz mereka, sudah merasa mampu dan memenuhi syarat untuk ber-Ijtihad? Naudzubillah !

Saudaraku, semua ulama sepakat tentang beribadah sesuai tuntunan Rasulullah. Itulah yang utama dan pokok ajaran Islam. Untuk metoda menyampaikan nabi tidak menyebutnya secara spesifik. Ingatlah jangan sampai kita menyebut-nyebut sesuatu yang justru bertentangan risalah yang dibawa nabi. Nabi mengatakan kira-kira maknya “apa yang Allah perintahkan laksanakan, apa yang aku diamkan itu sebagai kemudahan untuk mu”. Itu artinya diluar yang jelaskan Nabi kita boleh melakukannya sepanjang tidak menyalahi ketentuan yang ada. Metoda Tarbiyah tidak disebut-sebut oleh nabi. Selain itu tidak ada suatu perintah pun atau larangan untuk melakukannya.

e) Mereka membagi bahwa Ibadah itu ada yang Ibadah Mahdhah dan ada yang Ghairu Mahdhah. Sehingga Tarbiyah model ini masuk ke dalam ibadah Ghairu Mahdhah.

Inilah pembagian yang tidak berdasar sama sekali, padahal Kaedah dalam Ibadah itu mengatakan : “Al Ashlu fiil Ibadah Haram…” (Hukum Asal suatu ibadah itu adalah Haram) dan kaedah ini mencakup semua Ibadah dalam agama ini, baik itu Mahdhah ataupun Ghairu Mahdhah.

Saya tidak paham ibadah itu asalnya haram?

Hanya saja ibadah mahdhah terikat tempat dan waktu. Berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah. Oleh karena itu, bila suatu amalan masuk kategori ibadah ghairu mahdhah, maka harus dilihat praktek Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam padanya dan harus diikuti.

Lalu selain kedua ibadah itu apa namanya dan bagaimana menyikapinya? Katakanlah ada ibadah bukan mahdoh, karena ibadah Islam yang Mahdoh sudah jelas, lalu bagaimana sikap kita? Ijtihad? Mengapa Muadz berani-beraninya mengatakan ijtihad? Pernahkah Muadz diberi predikat oleh Nabi untuk berijtihad?  Jelaslah tidak pernah. Saat itu Nabi diam artinya nabi  membernarkan metodanya berpikir, urut-urutan berpikir. Lalu mengapa seseorang menyalahkan ketika ada orang lain melakukan hal yang sama seperti Muadz.

f) ..Mengatakan metode ini hanya wasilah (sarana) dan bukan manhaj (tata cara berdakwah) adalah kesalahan fatal dan merupakan alasan yang sangat buruk. Kaidah ini sudah membuka peluang bagi semua penyimpangan dan kesesatan.

Jika wasilah itu bisa dilakukan Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam namun beliau Shallallaahu Alaihi Wasallam tinggalkan maka artinya ia tidak masuk bagian daripada wasilah yang diperbolehkan. Namun jika wasilah itu tidak bisa dilakukan beliau Shallallaahu Alaihi Wasallam maka butuh kepada ijtihad para ulama; apakah boleh dilakukan atau tidak.

g) Suatu dakwah dikatakan bermanfaat dan berhasil bila selaras dengan kitab Allah Taala dan Sunnah Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam. Dari sini kita bisa memahami mengapa dakwah para nabi dikatakan sukses padahal diantara mereka ada yang tidak mendapat pengikut meski satu orang pun. Ringkasnya, tujuan dakwah adalah menegakkan hukum Allah Taala dan Sunnah Nabi-Nya.

Sudah dijawab sendiri, itulah tujuan Gerakan Tarbiyah.

Artinya, dakwah dengan metode tarbiyah bermarhala ini sudah merusak sebelum memperbaiki. Lalu apa lagi yang kita harapkan dari sesuatu yang sudah rusak?

Rusak? Apanya yang rusak. Apakah orangnya menjadi sangar, menjadi pembenci, tukang terror, tidak sholat? Berhatilah-hatilah memfonis Sesuatu.

h) Begitu pula, mereka yang tidak mengikuti tarbiyah bermarhala dan hanya mengikuti kajian umum justru lebih paham tentang agama dibandingkan mereka yang ikut tarbiyah bermarhala. Buktinya, kita belum mendengar seorang pun yang kemudian menjadi ahli ilmu hanya karena ikut tarbiyah bermarhala.

Betul, Gerakan tarbiyah ditujukan untuk mengingatkan orang pada agamanya. Peserta dianjurkan untuk menuntut ilmu yang lebih jauh lagi.

i) Kedatangan para Masyayekh ke suatu tempat, belum bisa menjadikan hal itu sebagai Tazkiyah (rekomendasi) bahwa tempat itu bagus.

Setuju…

j) Tentang pernyataan Mana dalil yang melarang metode ini? adalah upaya pembelaan diri yang kelewat batas. Mereka yang mengemukakan argumentasi ini ibarat orang hendak tenggelam sehingga memegang apa saja yang mengapung disekitarnya meskipun hanyalah sepotong kotoran.

Saudaraku, polisi tidak mungkin menangkap orang tanpa alasan. Harus ada alasan mengapa seorang ditangkap. Kalau Anda menyatakan haram, padahal A-Quran dan hadist tidak mengharamkan maka Anda keliru. Kalau Anda hanya berdasarkan perkataan ulama maka ini pun tidak cukup dijadikan alasan menyalahkan.

Saya kira mengajak orang mendengarkan ayat-ayat Allah dengan berbagai variasi materi tidak salah. Sekali lagi, materi-materi disusun agar memudahkan penyampaian,  sebagaimana kitab-kitab hadist disusun agar mudah memahaminya. Sangat mungkin kurikulum tarbiyah memilki kelemahan di sana sini. Namun apa yang dilakukan pembuatnya harus diapresiasi sebagai amal kebaikan yang bersangkutan. Janganlah kita mudah sekali menyalahkan orang lain.

Setahu saya dalam tarbiyah ada juga dakwah umum. Tidak melulu dakwah berkelompok 2-6 orang. Sangat dianjurkan bagi para peserta menyampaikan dakwah di masyarakatnya selain khusus juga umum. Kenyataan di masyarakat ada pemuda, pemudi, ibu, bapak, mbah-mbah. Sangat sulit mengumpulkan semuanya menjadi satu dengan tema yang selalu umum. Di dunia ini banyak sekali ilmu-ilmu atau pengetahuan yang harus disampaikan. Dan di masyarakat ada beragam tingkat pengetahuan orang. Sangat tidak bijak bila kita menyampaikan dengan pola yang sama untuk semua kalangan. Jadi pengelompokan itu kadang perlu kadang tidak. Variasi materi pun demikian. wallahu a’lam

 

Umat Islam di Papua 40% November 28, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 4:41 am
Tags: ,

Ada tiga kesalahan orang memandang Papua. Pertama, Papua identik dengan koteka, Kedua, hanya orang-orang primitiv dan Ketiga, Identik dengan Kristen. Padahal, itu keliru

Hidayatullah.com–Untuk poin pertama dan kedua, fakta itu boleh jadi benar, bahwa di kawasan-kawasan tertentu di pedalaman bumi cenderawasih ini, hingga hari ini masih diketemukan masyarakat dengan pola hidup primitif, sebagian masih mengenakan koteka, serta menjalani hidup secara kanibal.

Hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti terbatasnya akses informasi—atau bahkan ketiadaan informasi yang mereka terima–serta luasnya kawasan tersebut yang hampir 4 kali luas pulau Jawa. Bahkan, Papua, termasuk pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland di Denmark. Maka wajar bila fakta-fakta seperti koteka dan kehidupan primitif masih ditemui di Papua.

Namun tentu saja hal itu tidak semuanya, mengingat sebagian dari mereka, kini, sudah terbiasa dengan pola kehidupan maju dan melek teknologi, utamanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan dan hidup di daerah pantai, baik penduduk asli maupun perantau dari luar Papua.

Fakta lain yang selama ini terselimuti kabut tebal adalah perihal komunitas Muslim di kawasan ini. Selama ini pula, banyak orang yang bertanya-tanya, adakah orang Islam di Papua? Adakah komunitas pribumi (penduduk asli Papua) yang memeluk Islam sebagai agama mereka? Ironisnya, belum lagi pertanyaan itu terjawab, seolah ada ungkapan pembenaran bahwa: Papua identik dengan Kristen. Atau dengan bahasa yang lebih lugas lagi: setiap orang Papua ya mesti Kristen.

Tentu saja statemen seperti ini membawa dampak negative yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan dan dakwah Islam di kawasan yang masih menyimpan hasil kekayaan alam yang sangat melimpah ruah ini.

Bahkan saat ini jumlah komunitas Muslim di Papua sudah mencapai angka 900 ribu jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 2.4 juta jiwa, atau menempati posisi 40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Papua. 60% penduduk merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Animisme.

Namun, di antara imej yang kurang menguntungkan seperti itu, juga “tekanan psikologis” suasana serba Kristen, dimana setiap mata memandang begitu banyak gereja– sebagai buah dari kerja keras para missionaries, yang didukung dengan dana yang nyaris tak terbatas, serta ditunjang sarana teknologi komunikasi dan transportasi canggih, pelan-pelan komunitas Islam tumbuh dan menyinari bumi cenderawasih yang di lingkungan kaum muslimin menyebutnya sebagai kawasan Jabal an Nuar.

Ismail Saul Yenu (67), seorang pendeta sekaligus kepala suku besar di Yapen Waropen telah masuk Islam dengan diikuti istri dan anaknya. Ismail yang juga Ketua Benteng Merah Putih pembebasan Irian Barat dan Ketua Assosiasi Nelayan Seluruh Papua telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2002.

Seorang pendeta di Biak Numfor bernama Romsumbre (Abdurrahman) juga telah masuk Islam beserta keluarga dan 4 orang anaknya. Wilhelmus Waros Gebse Kepala suku Marin, Merauke juga telah meninggalkan agama lamanya Katolik dan memilih masuk Islam bersama Istri dan anak-anakknya. Kini Wilhelmus sedang merintis sebuah pondok pesantren di kampung halamannya di Merauke.

Saat ini, di desa Bolakme, sebuah distrik di Lembah Baliem, seorang pendeta dan kepala suku bersama 20 orang warganya ingin sekali memeluk Islam.

Berkali-kali keinginan itu disampaikan ke tokoh masyarakat Muslim, akan tetapi pihak MUI agaknya sangat berhati-hati dalam menerima mereka. Alasannya, di samping faktor keamanan, juga pembinaan terhadap mereka setelah itu, tidak ada. “Inilah tantangan bagi kita. Tidak sedikit penduduk asli yang ingin masuk Islam, tapi kita kekurangan dai.” tutur H.Burhanuddin Marzuki, ketua MUI Kabupatern Jayawijaya yang sudah 30 tahun tinggal di Lembah Baliem.

Berita yang sempat meramaikan media massa adalah dengan masuk Islamnya “kepala suku perang” H. Aipon Asso pada tahun 1974.Sebelum itu, seorang tetua di desa Walesi bernama Marasugun telah lebih dulu masuk Islam setelah berinteraksi dengan para perantau di kota Wamena yang berasal dari Bugis-Makassar, Jawa, Madura maupun Padang.

Keislaman Aipon Asso lalu diikuti oleh 600 orang warganya di desa Walesi. H. Aipon yang kini sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat di segani di seluruh lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang hampir 2/3 cekungan mangkuk lembah Baliem.

Ia benar-benar sosok kepala suku mujahid yang sangat diperhitungkan di kawasan ini.

Bahkan ketika ia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif ia turun ke jalan dan melakukan pawai di pusat kota Wamena sambil mengerahkan ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada.

Teringatlah kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tilakukannya tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut.

Saat kerusuhan menimpa Wamena tahun 2000 lalu, sebagian pendatang baik Muslim maupun Kriten dicekam rasa takut. Tidak terkecuali Muslim pribumi pun mengalami hal serupa. Untuk meredam situasi, pihak pemerintah menyelenggarkan pertemuan dengan kepala-kepala suku dan tokoh-tokoh agama. Dalam pertemuan dengan jajaran pemerintah daerah tersebut H.Aipon mengusulkan ditempatkannya aparat keamanan secara permanen di kawasan ini dan itu disetujui.

Di ibukota provinsi Papua, Jayapura, seperti juga di kota-kota lain seperti Fak-Fak, Sorong, Wamena, Manukwari, Kaimana, Merauke, Timika, Biak dan Merauke, suasana keislaman semakin tampak, khususnya di kalangan pendatang. Selain jumlah rumah ibadah yang semakin bertambah, kegiatan halaqah juga tumbuh tidak kalah subur. Selain itu, bila kita jalan-jalan di pusat kota Jayapura tidak sulit kita menemui Muslimah berjilbab lalu lalang di antara keramaian. Termasuk di kampus ternama di Papua Universitas Cenderawasih, para wanita berjilbab juga dengan mudah kita temui.

Penduduk Muslim di kota terdiri dari para pedagang, pagawai, pengusaha, pelajar/mahasiswa, guru, atau buruh.

Secara keseluruhan jumlah komunitas Muslim di Papua mengalami peningkatan yang cukup pesat, utamanya di kota kabupaten atau provinsi. Dalam catatan yang dikeluarkan oleh LP3ES, Papua, termasuk dari 7 kantong-kantong Kristen di seluruh Indonesia yang semakin penyusutan. Sebaiknya jumlah penduduk Muslim semakin tumbuh.

Sebenarnya potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Muslim di Papua tidak kalah banyak di banding dengan ummat lain.

Akan tetapi nampaknya ada semacam perasaan ‘tidak PD” di kalangan mereka untuk tampil dan terlibat langsung dalam lingkar pemerintahan. Akibatnya, mereka hanya menjadi penonton, atau—katakanlah– turut terlibat, namun ada di ‘wilayah yang tidak menentukan’.

“Ini tentu saja menjadi PR kita ke depan. Ummat Islam Papua harus menghalau rasa tidak PD-nya, dan selanjutnya bersama yang lain terlibat langsung membangun Papua,” tutur Mohammadmasjid Abud Musa’ad MSi(42), intelektual Muslim Papua yang juga anggota tim penyusun UU otonomi khusus Papua.

“Secara historis, keberadaan ummat Islam sebagai pendatang awal di Tanah Papua, sudah klir. Dan itu sudah tertuang dalam buku putih yang dikeluarkan oleh Pemerintah Papua.” jelas Musa’ad yang tinggal di bilangan Abepura, Jayapuran ini. “Namun yang terpenting, kita harus segera berkarya dan tidak boleh asyik bernostalgia dengan sejarah,”pesannya pada Muslim Papua.

Musa’ad juga menyadari, kendati sejumlah pertemuan tentang kedudukan ummat Islam di Papua pernah dilakukan, akan tetapi karena tidak adanya sosialisasi dan tindak lanjut dalam program, semua seolah lenyap tanpa bekas.

Masih kata Musa’ad, bahwa peran politik ummat Islam Papua saat ini masih terlalu kecil, yakni tidak lebih dari 10 %. Kenyataan ini tentu saja sangat memperihatinkan.

Bahkan dapat dibayangkan dari 900 ribu jiwa Muslim yang tersebar dalam 29 kabupaten/kota yang ada saat ini, hanya terdapat dua kabupaten yang dipimpin oleh pejabat Muslim yakni di Fak-Fak dan di Kaimana. Bahkan di kantong-kantong kabupaten berpenduduk asli mayoritas Muslim seperti Babo dan Bintuni, misalnya, saat ini dipimpin oleh non-Muslim.

Senada dengan Musa’ad, menurut DR (desertasi) Toni Vm Wanggai yang juga Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Yapis Jayapura, bahwa sosialisasi dan pelurusan sejarah Islam di Papua harus dilakukan terus menerus.

Hal itu perlu dilakukan agar ummt Islam di Papua mengetahui jati diri mereka, sekaligus menginformasikan kepada fihak lain yang belum faham, untuk tidak menganggap kaum Muslimin sebagai ‘tamu di Papua’. Muslim adalah juga pemilik sah kawasan ini, sehingga mereka memiliki porsi keterlibatan yang sama untuk membangun Papua. Islam hadir di Papua abad ke-XV sedang Kristen masuk Papua pertengahan abad ke-XIX (5 Februari 1855).

Kegelisahan Toni, adalah seiring dengan adanya upaya dari kelompok Kristen yang ingin menghapuskan jejak Islam di kawasan ini, khusunya di kawasan Raja Ampat Di mana hama “Raja Ampat” akan dihilangkan dan diganti dengan nama lain. Padahal, nama Raja Ampat adalah se-monumental sejarah Papua sendiri.

“Nama Raja Ampat diambil dari eksistensi kerajaah-kerajaan Islam yang berkuasa di kawasan Indonesia timur saat itu yakni: Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.” tegas Toni yang mengambil desertasinya tentang ‘Rekontruksi Sejarah Islam Papua’.

Kendati masih sebatas wacana yang dipublikasikan di media lokal, namun tak urung informasi nyeleneh seperti itu membuat gelisah sejumlah tokoh Muslim.

“Itu sama dengan bunuh diri.” kata M Shalahuddin Mayalibit, SH, mengomentari gagasan itu. “ Sekalipun dipublikasikan seribu kali, itu tidak akan terwujud.” kata dosen Fakultas Hukum di Universitas Cenderawasih ini menjelaskan.

“ Raja Ampat dan Muslim sudah menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan,” tegas cucu Muhammad Aminuddin Arfan, tokoh Muslim dari kerajaan Salawati yang ditugasi Raja Tidore untuk mengantar CW. Ottow dan GJ Geissler si bapak Kristen ke Papua.

Seiring dengan diberlakukannya Undang-Undang nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus, peluang keterlibatan Muslim di pemerintahan semakin terbuka lebar. (baca: Peluang dan Tantangan di Era Otonomi) Hanyasaja diperlukan kekompakan dari segenap elememen

Muslim baik para intelaktualnya, ormas Islam, alim ulama, tokoh pemuda, mahasiswa dan remaja, pondok-pondok pesantren, dll.

Tanpa dengan itu mereka akan tetap terpinggirkan, dan bahkan tidak mustahil akan menjadi ‘kambing hitam politik’ oleh kelompok kepentingan yang sudah lama ingin menguasai Papua(Kristen). [Ali Athwa. Penulis adalah wartawan Majalah Hidayatullah dan penulis buku  Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)”. Tulisan diambil dari Majalah Hidayatullah] bersambung..

 

USA Pembohong Kelas Dunia November 26, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 3:42 am
Tags: , ,

Bagi seorang Fidel Castro, mantan presiden Kuba, al-Qaida cuma alat pemerintahan Presiden AS George Bush untuk mewujudkan agenda-agendanya. Dalam essay yang ditulisnya, Castro mengingatkan kembali bahwa AS sendiri yang melahirkan al-Qaida, kelompok yang sekarang disebut teroris oleh AS.

Menurut Castro, pemerintahan Bush telah menyesatkan publik AS tentang apa sebenarnya yang terjadi dalam serangan tahun 2001 yang terjadi AS. AS memanfaatkan keberadaan al-Qaida ketika membutuhkan kambing hitam untuk membenarkan tindakan-tindakannya. Dan sudah menjadi rahasia umum, AS sengaja menciptakan sendiri musuh-musuhnya untuk memperkuat hegemoninya di dunia.

Itulah sebabnya, tulis Castro, AS selalu gagal menangkap pimpinan al-Qaida Usamah bin Ladin yang diburu sejak tahun 2001, karena AS masih membutuhkan al-Qaida untuk mencari pembenaran atas tindakan-tindakannya mengobarkan perang di negara-negara Muslim seperti Irak dan Afghanistan.

Al-Qaidah dibentuk oleh badan intelejen AS, CIA lewat “Operasi Cyclone”. CIA membiayai dan merekrut orang-orang militan di Afghanistan untuk melawan invasi Uni Sovyet yang kala itu menjadi musuh besar AS.

Belum lama ini, al-Qaida menyatakan sedang menyiapkan serangan yang lebih dahsyat dari serangan 11 September dan Presiden terpilih Barack Obama, sama seperti Bush, mengatakan bahwa al-Qaida tetap menjadi prioritas utamanya dalam masalah “terorisme.” Analisa Castro bahwa al-Qaida sebenarnya cuma alat AS untuk mewujudkan ambisi hegemoninya dengan dalih “perang melawan teror” rasanya cukup masuk akal. (ln/prtv) Eramuslim.com

 

Habislah Kau.. November 22, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 8:08 am
Tags: ,

Krisis ekonomi global yang terjadi saat ini adalah awal dari berakhirnya dominasi mata uang dollar AS sebagai “mata uang tunggal” dunia dan pertanda akan berakhirnya dominasi politik dan ekonomi negara AS. Tahun 2025, AS bukan lagi satu-satunya negara adidaya karena ada China dan India yang akan menjadi pesaingnya dan saling memperebutkan pengaruh antar bangsa-bangsa di dunia.

Itulah kesimpulan laporan National Intelligence Council (NIC) yang bertajuk Global Trends 2025 yang dirilis Kamis (20/11). Dalam keterangan persnya di Washington DC, Deputi Direktur NIC Thomas Fingar mengatakan, di masa depan kutub-kutub kekuasaan akan terbagi ke sejumlah negara di dunia dan tidak lagi terpusat pada AS. Negara-negara seperti Turki, Iran dan Indonesia menurut laporan NIC, juga akan menjadi negara-negara yang berpengaruh. Kecuali Rusia, yang menurut laporan itu, tidak jelas masa depannya.

NIC juga menyebutkan dunia akan menghadapi lebih banyak konflik karena makin berkurangnya sumber-sumber daya seperti makanan dan air serta masih menghadapi ancaman dari negara-negara yang menerapkan kebijakan kekerasan dan kelompok-kelompok teroris. Akses untuk memiliki senjata nuklir, menurut NIC, juga makin terbuka.

“Makin tajamnya gap antara tingkat kelahiran, ratio orang-orang kaya dan orang-orang miskin dan tak terhindarkannya dampak perubahan iklim akan memperburuk konflik yang akan terjadi,” kata Fingar.

NIC tidak menjelaskan mengapa hegemoni AS baru akan berakhir pada tahun 2025. Dalam laporannya, NIC malah memojokkan program nuklir negara Iran. “Dalam masa 15-20 ke depan, reaksi atas penegasan Iran untuk terus melanjutkan program nuklirnya akan mendorong negara-negara di kawasan ikut mengintensifkan program nuklir mereka dan akan mempertimbangkan untuk memiliki senjata nuklir,” demikian laporan NIC. (ln/aljz)

 

SALAFI MENENTANG PKS November 19, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 3:08 am
Tags: , , , , , ,

GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA

Oleh: Muh. Ikhsan 7105090722

UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI KAJIAN TIMUR TENGAH DAN ISLAM
KEKHUSUSAN KAJIAN ISLAM
JAKARTA 2006

Pengantar

Indonesia nampaknya memang akan selalu menjadi lahan subur lahir dan tumbuhnya berbagai gerakan Islam dengan berbagai ragamnya; baik yang “hanya sekedar” perpanjangan tangan dari gerakan yang sebelumnya telah ada, ataupun yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang benar-benar baru. Dan sejarah pergerakan Islam Indonesia benar-benar telah menjadi saksi mata terhadap kenyataan itu selama
beberapa kurun waktu lamanya.

Dan kini, di era modern ini, mata sejarah semakin “dimanjakan” oleh kenyataan itu dengan tumbuhnya aneka gerakan Islam modern yang masing-masing menyimpan keunikannya tersendiri. Jagat pergerakan Islam Indonesia modern tidak hanya diramaikan oleh organisasi semacam Muhammadiyah dan NU, tapi disana ada pemain-pemain baru yang juga secara perlahan namun pasti- mulai menanamkan pengaruhnya. Mulai dari yang mengandalkan perjuangan politis hingga yang lebih memilih jalur gerakan sosial-kemasyarakatan.

Salah satu gerakan Islam tersebut adalah yang menyebut diri mereka sebagai Salafi atau Salafiyah. Salah satu peristiwa fenomenal gerakan ini yang sempat “menghebohkan” adalah kelahiran Laskar Jihad yang dimotori oleh Ja’far Umar Thalib pada 6 April 2000 pasca meletusnya konflik bernuansa SARA di Ambon dan Poso.[1]

Tulisan singkat ini akan mencoba mengulas sejarah dan ide-ide penting gerakan ini, sekaligus memberikan beberapa catatan kritis yang diharapkan dapat bermanfaat tidak hanya bagi gerakan ini namun juga bagi semua gerakan Islam di Tanah Air.

Apa Itu Salafi?
Kata Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada al-Salaf. Kata al-Salaf sendiri secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita.[2] Adapun makna al-Salaf secara terminologis yang dimaksud di sini adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah saw dalam haditsnya:

“Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits ini, maka yang dimaksud dengan al-Salaf adalah para sahabat Nabi saw, kemudian tabi’in, lalu atba ‘al-tabi’in. Karena itu, ketiga kurun ini kemudian dikenal juga dengan sebutan al-Qurun al-Mufadhdhalah (kurun-kurun yang mendapatkan keutamaan).[3] Sebagian ulama kemudian menambahkan label al-Shalih (menjadi al- Salaf al-Shalih) untuk memberikan karakter pembeda dengan pendahulu kita yang lain.[4] Sehingga seorang salafi berarti seorang yang mengaku mengikuti jalan para sahabat Nabi saw, tabi’in dan atba’ al-tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka.[5]

Sampai di sini nampak jelas bahwa sebenarnya tidak masalah yang berarti dengan paham Salafiyah ini, karena pada dasarnya setiap muslim akan mengakui legalitas kedudukan para sahabat Nabi saw dan dua generasi terbaik umat Islam sesudahnya itu; tabi’in dan atba’ al-tabi’in. Atau dengan kata lain seorang muslim manapun sebenarnya sedikit-banyak memiliki kadar kesalafian dalam dirinya meskipun ia tidak
pernah menggembar-gemborkan pengakuan bahwa ia seorang salafi. Sebagaimana juga pengakuan kesalafian seseorang juga tidak pernah dapat menjadi jaminan bahwa ia benar-benar mengikuti jejak para al-Salaf al-Shalih, dan “menurut penulis- ini sama persis dengan pengakuan kemusliman siapapun yang terkadang lebih sering berhenti pada taraf pengakuan belaka.”

Ala kulli hal, penggunaan istilah Salafi ini secara khusus mengarah pada kelompok gerakan Islam tertentu setelah maraknya apa yang disebut “Kebangkitan Islam di Abad 15 Hijriyah”. Terutama yang berkembang di Tanah Air, mereka memiliki beberapa ide dan karakter yang khas yang kemudian membedakannya dengan gerakan pembaruan Islam lainnya.

Sejarah Kemunculan Salafi di Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan Salafi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di kawasan Jazirah Arabia. Menurut Abu Abdirrahman al-Thalibi[6], ide pembaruan Ibn ‘Abd al-Wahhab diduga pertama kali dibawa masuk ke kawasan Nusantara oleh beberapa ulama asal Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Inilah gerakan Salafiyah
pertama di tanah air yang kemudian lebih dikenal dengan gerakan kaum Padri, yang salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini sendiri berlangsung dalam kurun waktu 1803 hingga sekitar 1832. Tapi, Ja’far Umar Thalib mengklaim “dalam salah satu tulisannya[7]- bahwa gerakan ini sebenarnya telah mulai muncul bibitnya pada masa Sultan Aceh Iskandar Muda (1603-1637).

Disamping itu, ide pembaruan ini secara relatif juga kemudian memberikan pengaruh pada gerakan-gerakan Islam modern yang lahir kemudian, seperti Muhammadiyah, PERSIS, dan Al-Irsyad. “Kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah” serta pemberantasan takhayul, bid’ah dan khurafat kemudian menjadi semacam isu mendasar yang diusung oleh gerakan-gerakan ini. Meskipun satu hal yang patut dicatat bahwa nampaknya gerakan-gerakan ini tidak sepenuhnya mengambil apalagi menjalankan ide-ide yang dibawa oleh gerakan purifikasi Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab. Apalagi dengan munculnya ide pembaruan lain yang datang belakangan, seperti ide liberalisasi Islam yang nyaris dapat dikatakan telah menempati posisinya di setiap gerakan tersebut.

Di tahun 80-an, -seiring dengan maraknya gerakan kembali kepada Islam di berbagai kampus di Tanah air- mungkin dapat dikatakan sebagai tonggak awal kemunculan gerakan Salafiyah modern di Indonesia. Adalah Ja’far Umar Thalib salah satu tokoh utama yang berperan dalam hal ini. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Saya Merindukan Ukhuwah Imaniyah Islamiyah”, ia menceritakan kisahnya mengenal paham
ini dengan mengatakan:[8]

“Ketika saya belajar agama di Pakistan antara tahun 1986 s/d 1987, saya melihat betapa kaum muslimin di dunia ini tercerai berai dalam berbagai kelompok aliran pemahaman. Saya sedih dan sedih melihat
kenyataan pahit ini. Ketika saya masuk ke medan jihad fi sabilillah di Afghanistan antara tahun tahun 1987 s/d 1989, saya melihat semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin dengan mengunggulkan pimpinan masing-masing serta menjatuhkan tokoh-tokoh lain…”

Di tahun-tahun jihad fi sabilillah itu saya mulai berkenalan dengan para pemuda dariYaman dan Surian yang kemudian mereka memperkenalkan kepada saya pemahaman Salafus Shalih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Saya mulai kenal dari mereka seorang tokoh dakwah Salafiyah bernama Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i…

Kepiluan di Afghanistan saya dapati tanda-tandanya semakin menggejala di Indonesia. Saya kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1989, dan padajanuari 1990 saya mulai berdakwah. Perjuangan dakwah yang saya serukan adalah dakwah Salafiyah…”

Ja’far Thalib sendiri kemudian mengakui bahwa ada banyak yang berubah dari pemikirannya, termasuk diantaranya sikap dan kekagumannya pada Sayyid Quthub, salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang dahulu banyak ia lahap buku-bukunya. Perkenalannya dengan ide gerakan ini membalik kekaguman itu 180 derajat menjadi sikap kritis yang luar biasa –untuk tidak mengatakan sangat benci-.[9]

Di samping Ja’far Thalib, terdapat beberapa tokoh lain yang dapat dikatakan sebagai penggerak awal Gerakan Salafi Modern di Indonesia, seperti: Yazid Abdul Qadir Jawwaz (Bogor), Abdul Hakim Abdat (Jakarta), Muhammad Umar As-Sewed (Solo), Ahmad Fais Asifuddin (Solo), dan Abu Nida’ (Yogyakarta). Nama-nama ini bahkan kemudian tergabung dalam dewan redaksi Majalah As-Sunnah –majalah Gerakan Salafi Modern
pertama di Indonesia-, sebelum kemudian mereka berpecah beberapa tahun kemudian.

Adapun tokoh-tokoh luar Indonesia yang paling berpengaruh terhadap Gerakan Salafi Modern ini –di samping Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab tentu saja- antara lain adalah:

1. Ulama-ulama Saudi Arabia secara umum.

2. Syekh Muhammad Nashir al-Din al-Albany di Yordania (w. 2001)

3. Syekh Rabi al-Madkhaly di Madinah

4. Syekh Muqbil al-Wadi’iy di Yaman (w. 2002).

Tentu ada tokoh-tokoh lain selain ketiganya, namun ketiga tokoh ini dapat dikatakan sebagai sumber inspirasi utama gerakan ini. Dan jika dikerucutkan lebih jauh, maka tokoh kedua dan ketiga secara lebih khusus banyak berperan dalam pembentukan karakter gerakan ini di Indonesia. Ide-ide yang berkembang di kalangan Salafi modern tidak jauh berputar dari arahan, ajaran dan fatwa kedua tokoh tersebut; Syekh Rabi’ al-Madkhaly dan Syekh Muqbil al-Wadi’iy. Kedua tokoh inilah yang kemudian memberikan
pengaruh besar terhadap munculnya gerakan Salafi ekstrem, atau meminjam istilah Abu Abdirrahman al-Thalibi- gerakan Salafi Yamani.[10]

Perbedaan pandangan antara pelaku gerakan Salafi modern setidaknya mulai mengerucut sejak terjadinya Perang Teluk yang melibatkan Amerika dan Irak yang dianggap telah melakukan invasi ke Kuwait. Secara khusus lagi ketika Saudi Arabia “mengundang” pasukan Amerika Serikat untuk membuka pangkalan militernya di sana. Saat itu, para ulama dan du’at di Saudi -secara umum- kemudian berbeda pandangan:
antara yang pro[11] dengan kebijakan itu dan yang kontra.[12] Sampai sejauh ini sebenarnya tidak ada masalah, karena mereka umumnya masih menganggap itu sebagai masalah ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya perbedaan tersebut. Namun berdasarkan informasi yang penulis dapatkan nampaknya ada pihak yang ingin mengail di air keruh dengan “membesar-besarkan” masalah ini. Secara khusus, beberapa sumber[13] menyebutkan bahwa pihak Menteri Dalam Negeri Saudi Arabia saat itu–yang selama ini dikenal sebagai pejabat yang tidak terlalu suka dengan gerakan dakwah yang ada- mempunyai andil dalam hal ini. Upaya inti yang dilakukan kemudian adalah mendiskreditkan mereka yang kontra sebagai khawarij, quthbiy
(penganut paham Sayyid Quthb), sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-’Abidin), dan yang semacamnya.

Momentum inilah yang kemudian mempertegas keberadaan dua pemahaman dalam gerakan Salafi modern –yang untuk mempermudah pembahasan oleh Abu ‘Abdirrahman al-Thalibi disebut sebagai-: Salafi Yamani dan Salafi Haraki.[14] Dan sebagaimana fenomena gerakan lainnya, kedua pemahaman inipun terimpor masuk ke
Indonesia dan memiliki pendukung.

Ide-ide Penting Gerakan Salafi

Pertanyaan paling mendasar yang muncul kemudian adalah apa yang menjadi ide penting atau karakter khas gerakan ini dibanding gerakan lainnya yang disebutkan sedikit-banyak terpengaruh dengan ide purifikasi Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di Jazirah Arabia?

Setidaknya ada beberapa ide penting dan khas gerakan Salafi Modern dengan gerakan-
gerakan tersebut, yaitu:

1. Hajr Mubtadi’ (Pengisoliran terhadap pelaku bid’ah)

Sebagai sebuah gerakan purifikasi Islam, isu bid’ah tentu menjadi hal yang mendapatkan perhatian gerakan ini secara khusus. Upaya-upaya yang mereka kerahkan salah satunya terpusat pada usaha keras untuk mengkritisi dan membersihkan ragam bid’ah yang selama ini diyakini dan diamalkan oleh berbagai lapisan masyarakat Islam. Dan sebagai sebuah upaya meminimalisir kebid’ahan, para ulama Ahl al-Sunnah
menyepakati sebuah mekanisme yang dikenal dengan hajr al-mubtadi’ atau pengisoliran
terhadap mubtadi’. [15] Dan tentu saja, semua gerakan salafi sepakat akan hal ini.

Akan tetapi, pada prakteknya di Indonesia, masing-masing faksi salafi Yamani dan haraki- sangat berbeda. Dalam hal ini, salafi Yamani terkesan membabi buta dalam menerapkan mekanisme ini. Fenomena yang nyata akan hal ini mereka terapkan dengan cara melemparkan tahdzir (warning) terhadap person yang bahkan mengaku mendakwahkan gerakan salafi. Puncaknya adalah ketika mereka menerbitkan “daftar nama-nama ustadz yang direkomendasikan dalam situs mereka www.salafy.or.id.[16] Dalam daftar ini dicantumkan 86 nama ustadz dari Aceh sampai Papua yang mereka anggap dapat dipercaya untuk dijadikan rujukan, dan “uniknya” nama-nama itu didominasi oleh murid-murid Syekh Muqbil al-Wadi’i di Yaman.

Sementara Salafi Haraki cenderung melihat mekanisme hajr al-mubtadi’ ini sebagai sesuatu yang tidak mutlak dilakukan, sebab semuanya tergantung pada maslahat dan mafsadatnya. Menurut mereka, hajr al-mubtadi’ dilakukan tidak lebih untuk memberikan efek jera kepada sang pelaku bid’ah. Namun jika itu tidak bermanfaat,
maka boleh jadi metode ta’lif al-qulub-lah yang berguna.[17]

2. Sikap terhadap politik (parlemen dan pemilu).

Hal lain yang menjadi ide utama gerakan ini adalah bahwa gerakan Salafi bukanlah gerakan politik dalam arti yang bersifat praktis. Bahkan mereka memandang keterlibatan dalam semua proses politik praktis seperti pemilihan umum sebagai sebuah bid’ah dan penyimpangan. Ide ini terutama dipegangi dan disebarkan dengan gencar oleh pendukung Salafi Yamani. Muhammad As-Sewed mislanya –yang saat itu masih menjabat sebagai ketua FKAWJ mengulas kerusakan-kerusakan pemilu sebagai berikut:

a. Pemilu adalah sebuah upaya menyekutukan Allah (syirik) karena menetapkan aturan
berdasarkan suara terbanyak (rakyat), padahal yang berhak untuk itu hanya Allah.

b. Apa yang disepakati suara terbanyak itulah yang dianggap sah, meskipun
bertentangan dengan agama atau aturan Allah dan Rasul-Nya.

c. Pemilu adalah tuduhan tidak langsung kepada islam bahwa ia tidak mampu
menciptakan masyarakat yang adil sehingga membutuhkan sistem lain.

d. Partai-partai Islam tidak punya pilihan selain mengikuti aturan yang ada, meskipun
aturan itu bertentangan dengan Islam.

e. Dalam pemilu terdapat prinsip jahannamiyah, yaitu menghalalkan segala cara demi
tercapainya tujuan-tujuan politis, dan sangat sedikit yang selamat dari itu.

f. Pemilu berpotensi besar menanamkan fanatisme jahiliah terhadap partai-partai yang
ada.[18]

Berbeda dengan Salafi Haraki yang cenderung menganggap masalah ini sebagai persoalan ijtihadiyah belaka. Dalam sebuah tulisan bertajuk al-Musyarakah fi al- Intikhabat al-Barlamaniyah yang dimuat oleh situs islamtoday.com (salah satu situs yang dianggap sering menjadi rujukan mereka dikelola oleh DR. Salman ibn Fahd al-’Audah) misalnya, dipaparkan bahwa sistem peralihan dan penyematan kekuasaan dalam Islam tidak memiliki sistem yang baku. Karena itu, tidak menutup mungkin untuk mengadopsi sistem pemilu yang ada di Barat setelah “memodifikasi” nya agar sesuai dengan prinsip-prinsip politik Islam. Alasan utamanya adalah karena hal itu tidak lebih dari sebuah bagian adminstratif belaka yang memungkinkan kita untuk mengadopsinya dari manapun selama mendatangkan mashlahat.[19] Maka tidak mengherankan jika
salah satu ormas yang dianggap sebagai salah satu representasi faksi ini, Wahdah Islamiyah, mengeluarkan keputusan yang menginstruksikan anggotanya untuk ikut serta dalam menggunakan hak pilihnya dalam pemilu-pemilu yang lalu.[20]

3. Sikap terhadap gerakan Islam yang lain.

Pandangan pendukung gerakan Salafi modern di Indonesia terhadap berbagai gerakan lain yang ada sepenuhnya merupakan imbas aksiomatis dari penerapan prinsip hajr al- mubtadi’ yang telah dijelaskan terdahulu. Baik Salafi Yamani maupun Haraki, sika keduanya terhadap gerakan Islam lain sangat dipengaruhi oleh pandangan mereka dalam penerapan hajr al-mubtadi’. Sehingga tidak mengherankan dalam poin inipun
mereka berbeda pandangan.

Jika Salafi Haraki cenderung “moderat” dalam menyikapi gerakan lain, maka Salafi Yamani dikenal sangat ekstrim bahkan seringkali tanpa kompromi sama sekali. Fenomena sikap keras Salafi Yamani terhadap gerakan Islam lainnya dapat dilihat dalam beberapa contoh berikut:

a. Sikap terhadap Ikhwanul Muslimin

Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan Ikhwanul Muslimin nampaknya menjadi musuh utama di kalangan Salafi Yamani. Mereka bahkan seringkali memelesetkannya menjadi “Ikhwanul Muflisin”.[21] Tokoh-tokoh utama gerakan ini tidak pelak lagi menjadi sasaran utama kritik tajam yang bertubi-tubi dari kelompok ini. Di Saudi sendiri –yang menjadi asal gerakan ini-, fenomena ‘kebencian’ pada Ikhwanul Muslimin dapat
dikatakan mencuat seiring bermulanya kisah Perang Teluk bagian pertama. Adalah DR. Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali yang pertama kali menyusun berbagai buku yang secara spesifik menyerang Sayyid Quthb dan karya-karyanya. Salah satunya dalam buku yang diberi judul “Matha’in Sayyid Quthb fi Ashab al-Rasul” (Tikaman-tikaman Sayyid Quthub terhadap Para Sahabat Rasul).[22]

Sepengetahuan penulis, fenomena ini bisa dibilang baru mengingat pada masa-masa sebelumnya beberapa tokoh Ikhwan seperti Syekh Muhammad al-Ghazali dan DR. Yusuf al-Qaradhawi pernah menjadi anggota dewan pendiri Islamic University di Madinah, dan banyak tokoh Ikhwan lainnya yang diangkat menjadi dosen di berbagai universitas Saudi Arabia. Dalam berbagai penulisan ilmiah –termasuk itu tesis dan disertasi- pun
karya-karya tokoh Ikhwan –termasuk Fi Zhilal al-Qur’an yang dikritik habis oleh DR. Rabi al-Madkhali- sering dijadikan rujukan. Bahkan Syekh Bin Baz –Mufti Saudi waktu itu- pernah mengirimkan surat kepada Presiden Mesir, Gamal Abdul Naser untuk mencabut keputusan hukuman mati terhadap Sayyid Quthb.[23]

Terkait dengan ini misalnya, Ja’far Umar Thalib misalnya menulis:

Di tempat Syekh Muqbil pula saya mendengar berita-berita penyimpangan tokoh-tokoh
yang selama ini saya kenal sebagai da’i dan penulis yang menganu pemahaman salafus
shalih. Tokoh-tokoh yang telah menyimpang itu ialah Muhammad Surur bin Zainal
Abidin, Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, A’idl Al-Qarni, Nasir Al-Umar, Abdurrahman
Abdul Khaliq. Penyimpangan mereka terletak pada semangat mereka untuk mengelu-
elukan tokoh-tokoh yang telah mewariskan berbagai pemahaman sesat di kalangan
ummat Islam, seperti Sayyid Qutub, Hasan Al-Banna, Muhammad Abduh, Jamaluddin
Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha dan lain-lainnya. [24]

Dan jauh sebelum itu, Ja’far Umar Thalib juga melontarkan celaan yang sangat keras terhadap DR. Yusuf al-Qaradhawy –salah seorang tokoh penting Ikhwanul Muslimin masa kini- dengan menyebutnya sebagai ‘aduwullah (musuh Allah) dan Yusuf al- Qurazhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani Quraizhah). Meskipun kemudian ia dikritik oleh gurunya sendiri, Syekh Muqbil di Yaman, yang
kemudian mengganti celaan itu dengan mengatakan: Yusuf al-Qaradha (Yusuf Sang penggunting syariat Islam).[25] Di Indonesia sendiri, sikap ini berimbas kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dianggap sebagai representasi Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Secara umum, ada beberapa hal yang dianggap sebagai penyimpangan oleh kalangan Salafi Yamani dalam tubuh Ikhwanul Muslimin, diantaranya:

- Bai’at yang dianggap seperti bai’at sufiyah dan kemiliteran.[26]

- Adanya marhalah (fase-fase) dalam dakwah yang menyerupai prinsip aliran
Bathiniyah.[27]

- Organisasi kepartaian (tanzhim hizb).[28]

Berbeda dengan yang disebut Salafi Haraki, mereka cenderung kooperatif dalam melihat gerakan-gerakan Islam yang ada dalam bingkai “nata’awan fima ittafaqna ‘alaih, wa natanashahu fima ikhtalafna fihi.”[29] Karena itu, faksi ini cenderung lebih mudah memahami bahkan berinteraksi dengan kelompok lain, termasuk misalnya
Ikhwanul Muslimin. Meskipun untuk itu kelompok inipun harus rela diberi cap “Sururi” oleh kelompok Salafi Yamani. Yayasan Al-Sofwa, misalnya, masih mengakomodir kaset- kaset ceramah beberapa tokoh PKS seperti DR.Ahzami Sami’un Jazuli.[30]

b. Sikap terhadap Sururiyah

Secara umum, Sururi atau Sururiyah adalah label yang disematkan kalangan Salafi Yamani terhadap Salafi Haraki yang dianggap ‘mencampur-adukkan’ berbagai manhaj gerakan Islam dengan manhaj salaf. Kata Sururiyah sendiri adalah penisbatan kepada Muhammad Surur bin Zainal Abidin. Tokoh ini dianggap sebagai pelopor paham yang mengadopsi dan menggabungkan ajaran Salafi dengan Ikhwanul Muslimin. Disamping
Muhammad Surur, nama-nama lain yang sering dimasukkan dalam kelompok ini adalah DR. Safar ibn ‘Abdirrahman al-Hawali, DR. Salman ibn Fahd Al-‘Audah –keduanya di Saudi- dan Abdurrahman Abdul Khaliq dari Jam’iyyah Ihya’ al-Turats di Kuwait.

Dalam sebuah tulisan berjudul Membongkar Pikiran Hasan Al-Banna-Sururiyah (III)
diuraikan secara rinci pengertian Sururiyah itu:[31]

“Ada sekelompok orang yang mengikuti kaidah salaf dalam perkara Asma dan Sifat Allah, iman dan taqdir. Tapi, ada salah satu prinsip mereka yang sangat fatal yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Mereka terpengaruh oleh prinsip Ikhwanul Muslimin. Pelopor aliran ini bernama Muhammad bin Surur.

Muhammad bin Surur yang lahir di Suriah dahulunya adalah Ikhwanul Muslimin. Kemudian ia menyempal dari jamaah sesat ini dan membangun gerakannya sendiri berdasarkan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthub (misalnya masalah demonstrasi, kudeta dan yang sejenisnya)…”[32]

Tulisan yang sama juga menyimpulkan beberapa sisi persamaan antara Sururiyah dengan Ikhwanul Muslimin, yaitu:

- Keduanya sama-sama mengkafirkan golongan lain dan pemerintah muslim.

- Keduanya satu ide dalam masalah demonstrasi, mobilisasi dan selebaran-selebaran.

- Keduanya sama dalam masalah pembinaan revolusi dalam rangka kudeta.

- Keduanya sama dalam hal tanzhim dan sistem kepemimpinan yang mengerucut
(piramida).

- Keduanya sama-sama tenggelam dalam politik.[33]

Hanya saja banyak ‘tuduhan’ sebenarnya terlalu tergesa-gesa untuk tidak mengatakan membabi buta. Ada yang tidak mempunyai bukti akurat, atau termasuk persoalan yang sebenarnya termasuk kategori ijtihad dan tidak bisa disebut sebagai kesesatan (baca: bid’ah).

4. Sikap terhadap pemerintah

Secara umum, sebagaimana pemerintah yang umum diyakini Ahl al-Sunnah –yaitu ketidakbolehan khuruj atau melakukan gerakan separatisme dalam sebuah pemerintahan Islam yang sah-, Gerakan Salafi juga meyakini hal ini. Itulah sebabnya, setiap tindakan atau upaya yang dianggap ingin menggoyang pemerintahan yang sah dengan mudah diberi cap Khawarij, bughat atau yang semacamnya.[34]

Dalam tulisannya yang bertajuk “Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris (I),
Abu Hamzah Yusuf misalnya menulis:

“Tokoh-tokoh yang disebutkan Imam Samudra di atas (maksudnya: Salman al-Audah,
Safar al-Hawali dan lain-lain –pen) tidaklah berjalan di atas manhaj Salaf. Bahkan
perjalanan hidup mereka dipenuhi catatan hitam yang menunjukkan mereka jauh dari
manhaj Salaf…

Tak ada hubungan antara tokoh-tokoh itu dengan para ulama Ahlus Sunnah. Bahkan
semua orang tahu bahwa antara mereka berbeda dalam hal manhaj (metodologi).
Tokoh-tokoh itu berideologikan Quthbiyyah, Sururiyah, dan Kharijiyah…”[35]

Dalam “Mereka Adalah Teroris” juga misalnya disebutkan:

“…Kemudian dilanjutkan tongkat estafet ini oleh para ruwaibidhah (sebutan lain untuk
Khawarij -pen) masa kini semacam Dr. Safar Al-Hawali, Salman Al-Audah dan sang
jagoan konyol Usamah bin Laden. Sementara Imam Samudra hanyalah salah satu
bagian kecil saja dari sindikat terorisme yang ada di Indonesia. Kami katakan ini karena
di atas Imam Samudra masih ada tokoh-tokoh khawarij Indonesia yang lebih senior
seperti: Abdullah Sungkar alias Ustadz Abdul Halim, Abu Bakar Ba’asyir alias Ustadz
Abdush Shamad.”[36]

Pernyataan ini disebabkan karena tokoh-tokoh yang dimaksud dikenal sebagai orang-
orang yang gigih melontarkan kritik ‘pedas’ terhadap pemerintah Kerajaan Saudi Arabia
terutama dalam kasus penempatan pangkalan militer AS di sana. Sementara dua nama
terakhir dikenal sebagai orang-orang yang gigih memformalisasikan syariat Islam di
Indonesia.

Sebagai konsekwensi dari prinsip ini, maka muncul kesan bahwa kaum Salafi cenderung
‘enggan’ melontarkan kritik terhadap pemerintah. Meskipun sesungguhnya manhaj al-
Salaf sendiri memberikan peluang untuk itu meskipun dibatasi secara “empat mata”
dengan sang penguasa.

Namun pada prakteknya kemudian, ternyata prinsip inipun sedikit banyak telah
dilanggar oleh mereka sendiri. Abu ‘Abdirrahman al-Thalibi misalnya –yang menulis
kritik tajam terhadap gerakan ini- menyebutkan salah satu penyimpangan Salafi
Yamani: “Sikap Melawan Pemerintah”. Ia menulis:

“Dalam beberapa kasus, jelas-jelas Salafy Yamani telah melawan pemerintah yang
diakui secara konsensus oleh Ummat Islam Indonesia, khususnya melalui tindakan-
tindakan Laskar Jihad di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Tanggal 6 April 2000, mereka mengadakan tabligh akbar di Senayan, tak lama
kemudian mereka berdemo di sekitar Istana Negara dimana Abdurrahman Wahid
sedang berada di dalamnya. Kenyataan yang sangat mengherankan, mereka bergerak
secara massal dengan membawa senjata-senjata tajam. Belum pernah Istana Negara
RI didemo oleh orang-orang bersenjata, kecuali dalam peristiwa di atas. Masih bisa
dimaklumi, meskipun melanggar hukum, jika yang melakukannya adalah anggota partai
komunis yang dikenal menghalalkan kekerasan, tetapi perbuatan itu justru dilakukan
oleh para pemuda yang mewarisi manhaj Salafus Shalih. Masya Allah, Salafus Shalih
mana yang mereka maksudkan?”[37]

Hal lain lagi adalah bahwa hingga kini mereka masih saja melancarkan kritik yang
pedas terhadap Partai Keadilan Sejahtera –yang dianggap sebagai bagian dari Ikhwanul
Muslimin di Indonesia-. Namun kenyataannya sekarang bahwa Partai ini telah menjadi
bagian dari pemerintahan Indonesia yang sah. Beberapa anggota mereka duduk
sebagai anggota parlemen, ada yang menjadi menteri dalam kabinet, bahkan mantan
ketuanya, Hidayat Nur Wahid saat ini menjabat sebagai Ketua MPR-RI. Bukankah
berdasarkan kaidah yang selama ini mereka gunakan, kritik pedas mereka terhadap
PKS dapat dikategorikan sebagai tindakan khuruj atas pemerintah?

“Ja’far Umar Thalib Telah Meninggalkan Kita…”

Kalimat mungkin dapat dijadikan sebagai
bukti fase baru perkembangan gerakan
Salafi di Indonesia. Setelah sebelumnya
dijelaskan bahwa dalam perjalanannya
gerakan ini terbagi menjadi setidaknya 2
faksi: Yamani dan haraki, maka setidaknya
sejak dewan eksekutif FKAWJ
membubarkan FKAWJ dan Laskar Jihad
pada pertengahan Oktober 2002, ada
hembusan angin perubahan yang sangat
signifikan di tubuh gerakan ini. Salafi
Yamani ternyata kemudian berpecah
menjadi 2 kelompok: yang pro Ja’far dan
yang kontra terhadapnya.

Ja’far Umar Thalib sejak saat itu dapat
dikatakan menjadi ‘bulan-bulanan’
kelompok eks Laskar Jihad yang kontra
dengannya. Apalagi setelah DR.Rabi’ al-
Madkhali –ulama yang dulu sering ia
jadikan rujukan fatwa- justru
mengeluarkan tahdzir terhadapnya.
Pesantrennya di Yogyakarta pun mulai
ditinggalkan oleh mereka yang dulu
menjadi murid-muridnya.
Ja’far Umar Thalib: Panglima Lasykar
Jihad

Uniknya, kelompok yang kontra terhadapnya justru ‘dipimpin’ oleh Muhammad Umar
As-Sewed, orang yang dulu menjadi tangan kanannya (wakil panglima) saat menjadi
panglima Laskar Jihad. Ja’far Thalib-pun mulai dekat dengan orang-orang yang dulu
dianggap tidak mungkin bersamanya. Arifin Ilham ‘Majlis Az-Zikra’ dan Hamzah Haz,
contohnya.

Karena itu, Qomar ZA –redaktur majalah Asy-Syariah yang dulu adalah murid Ja’far
Umar Thalib- menulis artikel pendek berjudul “Ja’far Umar Thalib Telah Meninggalkan
Kita…”.[38] Di sana antara lain ia menulis:

“Adapun sekarang betapa jauh keadaannya dari yang dulu (Ja’far Umar Thalib, red).
Jangankan majlis yang engkau tidak mau menghadirinya saat itu, bahkan sekarang
majlis dzikirnya Arifin Ilham kamu hadiri, mejlis Refleksi Satu Hati dengan para pendeta
dan biksu kamu hadiri (di UGM, red), majlis dalam peresmian pesantren Tawwabin yang
diprakarsai oleh Habib Riziq Syihab, Abu Bakar Baa’syir Majelis Mujahidin Indonesia dan
lain-lain. Kamu hadiri juga peringatan Isra’ Mi’raj sebagaimana dinukil dalam majalah
Sabili dan banyak lagi…

Apakah gurumu yang sampai saat ini kamu suka menebeng di belakangnya yaitu Syekh
Muqbil, semoga Allah merahmatinya, akan tetap memujimu dengan keadaanmu yang
semacam ini??…

Asy-Syaikh Rabi’ berkata: “…Dan saya katakan: Dialah yang meninggalkan kalian dan
meninggalkan manhaj ini (manhaj Ahlus Sunnah)…”

Ja’far sendiri belakangan nampak menyadari sikap kerasnya yang berlebihan di masa
awal dakwahnya. Dan nampaknya, apa yang ia lakukan belakangan ini –meski
menyebabkannya menjadi sasaran kritik bekas pendukungnya- adalah sebuah
upayanya untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Dalam artikelnya, “Saya Merindukan
Ukhuwwah Imaniyah Islamiyah” , ia menulis pengakuan itu dengan mengatakan:

“…Saya lupa dengan keadaan yang sesungguhnya mayoritas ummat di Indonesia yang
tingkat pemahamannya amat rendah tentang Islam. Saya saat itu menganggap tingkat
pemahaman ummatku sama dengan tingkat pemahaman murid-muridku. Akibatnya
ketika saya menyikapi penyelewengan ummat dari As-Sunnah, saya anggap sama
dengan penyelewengan orang-orang yang ada di sekitarku yang selalu saya ajari ilmu.
Tentu anggapan ini adalah anggapan yang dhalim. Dengan anggapan inilah saya
akhirnya saya ajarkan sikap keras dan tegas terhadap ummat yang menyimpang dari
As-Sunnah walaupun mereka belum mendapat penyampaian ilmu Sunnah. Sayapun
sempat menganggap bahwa mayoritas kaum muslimin adalah Ahlul Bid’ah dan harus
disikapi sebagai Ahlul Bid’ah. Maka tampaklah Dakwah Salafiyyah yang saya
perjuangkan menjadi terkucil, kaku dan keras. Saya telah salah paham dengan apa
yang saya pelajari dari kitab-kitab para Ulama’ tersebut di atas tentang sikap Ahlul
Bid’ah. Saya sangka Ahlul Bid’ah itu ialah semua orang yang menjalankan bid’ah secara
mutlak.”[39]

Penutup

Demikianlah paparan singkat tentang gerakan Salafi modern di Indonesia. Sudah tentu
masih banyak sisi gerakan ini yang belum tertuang dalam tulisan ini. Dan di bagian
akhir tulisan ini, ada beberapa catatan kritis yang perlu penulis kemukakan atas
gerakan ini:

1. Diperlukan kajian yang komperhensif tentang sejarah masa lalu ummat Islam, dan
termasuk didalamnya sejarah generasi As-Salaf Ash-Shalih yang menjadi panutan
semua gerakan Islam –tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda antara satu dengan
yang lain-. Dan khusus untuk pendukung gerakan Salafi ini, ada banyak sisi kehidupan
As-Salaf yang mungkin terlupakan; seperti: kesantunan dan kearifan dalam menyikapi
perbedaan yang masih mungkin untuk ditolerir, serta bersikap proporsional dan adil
dalam menyikapi kesalahan atau kekeliruan pihak lain.

2. Salah satu kesalahan utama pendukung gerakan ini –khususnya Salafi Yamani-
adalah ketidaktepatan dalam menyimpulkan apakah sesuatu itu dapat dikategorikan
sebagai manhaj baku kalangan As-Salaf atau bukan. Dalam kasus di lapangan,
seringkali karakter pribadi seorang ulama dianggap sebagai bagian dari manhaj Salafi.
Padahal kita semua memahami bahwa setiap orang memiliki tabiat dasar yang nyaris
berbeda. Jika Abu Bakr dikenal dengan kelembutannya, maka Umar dikenal dengan
ketegasannya. Berbeda lagi dengan Abu Dzar yang keteguhan prinsipnya membuat dia
lebih cocok hidup sendiri daripada terlalu banyak melakukan interaksi sosial.

Dalam kasus Salafi misalnya, sebagian pendukungnya banyak mengadopsi karakter
Syekh Rabi atau Syekh Muqbil misalnya, yang memang dikenal dengan karakter pribadi
yang keras. Padahal masih banyak ulama rujukan mereka yang cenderung lebih toleran
dan elegan.

Akhirnya, memang tidak ada gading yang tak retak. Setiap anak Adam itu berpotensi
melakukan kesalahan, namun sebaik-baik orang yang selalu terjatuh dalam kesalahan
adalah yang selalu bertaubat dan menyadari kesalahannya, kata Nabi saw. Setiap
gerakan sudah tentu memiliki sisi positif dan negatif. Yang terbaik pada akhirnya adalah
yang mampu meminimalisir sisi negatifnya dan semakin hari memiliki perubahan yang
dapat dipertanggungjawabkan.

Wallahul muwaqqiq!

Cipinang Muara, pertengahan Mei 2006

DAFTAR PUSTAKA

1. Beberapa Kerusakan Pemilu. Muhammad Umar As-Sewed. Majalah SALAFY. Edisi
XXX. Tahun 1999H.

2. Daftar Ustadz yang Terpercaya. www.freelists.org/archives/Salafi/12-
2003/msg00017.html

3. Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi. Abu
Abdirrahman Al-Thalibi. Hujjah Press. Jakarta. Cetakan kedua. Maret 2006.

4. Gerakan Salafi Radikal di Indonesia. Penyunting: Jamhari dan Jajang Jahroni. PT.
RajaGrafindo Persada. Jakarta. Cetakan pertama. 2004.

5. Hajr al-Mubtadi’. Bakr ibn ‘Abdillah Abu Zaid. Dar Ibn al-Jauzi. Dammam. Cetakan
kedua. 1417H.

6. Indonesia Bacgrounder: Why Salafism and Terrorism Mostly Don’t Mix. International
Crisis Group. Asia Report no.83.13 September 2004.

7. Ja’far Umar Thalib: Sang Ustadz yang Penuh Warna. www.tempointeraktive.com.

8. Ja’far Umar Thalib Telah Meninggalkan Kita. Qomar ZA. Lc.
www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=664.

9. Al-Khithab al-Dzahaby. Bakr ibn ‘Abdillah Abu Zaid. Maktabah al-Sunnah. Kairo.
Cetakan pertama. 1418H.

10. Lisan al-‘Arab. Abu al-Fadhl Muhammad ibn Manzhur. Dar Shadir. Beirut. Cetakan
pertama. 1410H.

11. Madarik al-Nazhar fi al-Siyasah baina al-Tathbiqat al-Syar’iyyah wa al-Infi’alat al-
Hamasiyah. ‘Abd al-Malik ibn Ahmad Ramadhany al-Jaza’iry. Dar Sabil al-Mu’minin.
Dammam. Cetakan kedua. 1418H.

12. Membongkar Pikiran Hasan al-Banna-Ikhwanul Muslimin (II).
www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=336.

13. Membongkar Pikiran Hasan al-Banna-Sururiyah (III).
www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=338.

14. Mereka Adalah Teroris. Luqman bin Muhammad Ba’abduh.

15. Al-Musyarakah fi al-Intikhabat al-Barlamaniyah. DR. ‘Abdullah ibn Ibrahim al-
Thuraiqy. www.islamtoday.net/print.cfm?artid=2869 dan
www.islamtoday.net/print.cfm?artid=2896.

16. Pasang Surut Menegakkan Syariah Islamiyah. Ja’far Umar Thalib. Majalah SALAFY.
Edisi 40. Tahun 1422/2001.

17. Penjelasan Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah tentang Pemilihan Umum.
www.wahdah.or.id.

18. Persaksian Tentang Yayasan Al-Sofwa. Muhammad Umar As-Sewed.
www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=557.

19. Saya Merindukan Ukhuwah Imaniyah Islamiyah. Ja’far Umar Thalib. Majalah
SALAFY. Edisi 5. Tahun 1426/2005.

NOTA KAKI
[1] Lih. Majalah SALAFY, edisi 5 Tahun 2005, hal. 13.

[2] Lih. Lisan al-Arab, entri Sa-La-Fa.

[3] Lih. Madarik al-Nazhar, hal. 30, Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, hal. 8

[4] Ibid.

[5] Dari kata ini kita kemudian sering mendengarkan kata bentukan lainnya seperti
Salafiyah (yang berarti ajaran atau paham kesalafan) atau Salafiyun/Salafiyin yang
merupakan bentuk plural dari Salafi.

[6] Lih. Dakwah Salafiyah, hal. 10 dan hal.30-31.

[7] Pasang Surut Menegakkan Syari’ah Islamiyah, majalah SALAFY, hal. 2-12, edisi 40
tahun 1422/2001. Seputar masalah ini juga dapat dilihat dalam Laporan International
Crisis Group bertajuk “Indonesia Backgrounder: Why Salafism and Terrorism Mostly
Don’t Mix”, Asia Report no.83, 13 September 2004, hal. 5-6.

[8] Majalah SALAFY, hal. 3 (Edisi 5, Tahun 2005).

[9] Lih. Ja’far Umar Thalib: Sang Ustadz yang Penuh Warna,
http://www.tempointeraktive.com

[10] Lih. Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, hal.13

[11] Yang pro dalam hal ini misalnya adalah Hai’ah Kibar al-‘Ulama (Dewan Ulama
Besar) di sana yang saat itu diketuai oleh Syekh Abd al-Aziz ibn Baz.

[12] Yang kontra dalam hal ini misalnya adalah Syekh Hamud al-‘Uqla (seorang ulama
senior yang selevel dengan ‘Abd al-Aziz ibn Baz), Safar ibn ‘Abd al-Rahman al-Hawali,
Salman ibn Fahd al-‘Audah, dan ‘Aidh ibn ‘Abdillah al-Qarni. Tiga nama terakhir
kemudian sempat di penjara, namun setelah lepasnya dari penjara ketiganya kemudian
menjadi tokoh yang sering dijadikan rujukan pendapat oleh Pemerintah Saudi terutama
dalam upaya meredam radikalisme alumni jihad Afghan.

[13] Informasi ini penulis dengarkan dari beberapa dosen Islamic University of Madinah,
seperti DR. Shalih al-Fa’iz dan DR. Rusyud al-Rusyud.

[14] Lih. Dakwah Salafiyah, hal. 20

[15] Lih. Pembahasan lengkap tentang masalah ini dalam Hajr al-Mubtadi’, karya DR.
Bakr ibn Abdillah Abu Zaid.

[16] Lih. Daftar Ustadz yang Terpercaya.

[17] Lih. Hajr al-Mubtadi’, hal.19.

[18] Lih. Beberapa Kerusakan Pemilu,Muhammad Umar As-Sewed, Majalah SALAFY,
edisi XXX, hal. 8-15. Lihat juga wawancara dengan Eko Rahardjo, ketua divisi
penerangan FKAWJ tanggal 10 Agustus 2004 dalam Gerakan Salafi Radikal di
Indonesia, hal. 121.

[19] Lih. Al-Musyarakah fi al-Intikhabat al-Barlamaniyah, DR. ‘Abdullah ibn Ibrahim al-
Thuraiqy, www.islamtoday.net/print.cfm?artid=2869 dan
www.islamtoday.net/print.cfm?artid=2896 . Dalam tulisan yang sama, ia menawarkan
sebuah sistem pemilu Islam yang mengadopsi konsep Ahl al-Hill wa-‘Aqd yang hanya
melibatkan ‘orang-orang pilihan’ dan bukan seluruh rakyat di sebuah tempat.

[20] Lih. Penjelasan Dewan Syariah Wahdah Islamiyah tentang Pemilihan Umum,
www.wahdah.or.id.

[21] Lih. Kesaksian Tentang Yayasan Al-Sofwa, hal.2,
www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=557.

[22] Buku ini diterbitkan oleh Maktabah al-Ghuraba’ di Madinah.

[23] Lih. Al-Khithab al-Dzahaby, karya DR.Bakr ibn Abdillah Abu Zaid. Buku kecil ini
pada mulanya adalah surat balasan Syekh Bakr untuk DR.Rabi’ yang memintanya
memberi pengantar atas bukunya yang mengkritik Sayyid Quthb secara tidak
proporsional. Permintaan itu justru ditolak dan dijawab dengan surat ini. DR.Bakr Abu
Zaid adalah anggota Dewan Ulama Besar Saudi yang saat ini menjabat sebagai Ketua
Konfrensi Fikih Internasional Rabithah Alam Islami di Mekkah.

[24] Saya Merindukan Ukhuwwah Imaniyah Islamiyah, majalah SALAFY hal.6, edisi 5
tahun ke 5.

[25] Lih. Majalah SALAFY edisi 3 tahun 1416, juga Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak hal.
34.

[26] Lih. Membongkar Pikiran Hasan al-Banna-Ikhwanul Muslimin (II), hal.3

[27] Ibid., hal.6

[28] Ibid., hal.8

[29] Uniknya prinsip ini justru diucapkan oleh Syekh Nashiruddin al-Albani dengan
mengadopsi dan melakukan sedikit koreksi redaksional atas prinsip Ikhwanul Muslimin:
“Nata’wanu fima ittafaqna alaih wa na’dzuru ba’dhuna ba’dhan fima ikhtalafna fihi.”

[30] Lih. Persaksian tentang Yayasan Al Sofwa,
www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=557.

[31] Lih. www.freelists.or/archives/salafy/11-2003/msg00034.html.

[32] www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=338 .

[33] Ibid., hal. 2

[34] Lih. Mereka Adalah Teroris, hal.664-702. Buku setebal 720 halaman ini ditulis oleh
Luqman Ba’abduh –salah seorang murid Syekh Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i di Indonesia-
untuk membantah buku yang ditulis Imam Samudra, Aku Melawan Teroris.

[35] Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris (I),
www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=878.

[36] Mereka Adalah Teroris, hal.59

[37] Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, hal.69

[38] Lih. www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=664.

[39] Majalah SALAFY, edisi 5 tahun ke 5, hal. 9-10

Sumber: http://abulmiqdad.multiply.com/journal/item/12
Disusun oleh: ariff.arifin untuk al-ahkam.net

http://al-ahkam.net/home/upload/dl/Islam/E-book_-_Melayu/GERAKAN_SALAFI_MODERN_DI_INDONESIA.pdf

 

North London Central Mosque, Masjid Terbaik di Eropa November 19, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 2:28 am
Tags: ,

Hidayatullah.com—Hasill kompetisi bebrtajuk IslamOnline.net’s audience’s award menjadikan Masjid North London Centre sebagai pusat kegiatan Islam terbaik di Eropa.

“Sungguh baik saat mendengar kami telah mencapai prestasi, semua berkat Allah,” ujar Ahmed Saad, imam masjid North London Central Mosque.

Pada 15 September lalu, European Muslims Page dari IOL meminta para audiensi untuk mencalonkan pusat Islam favorit mereka untuk merebut penghargaan sebagai Pusat Islam Terbaik di Eropa.

Kriteria untuk nominasi termasuk layanan masyarakat, program pendidikan dan kebudayaan, proyek amal dan fasilitasnya, khususnya untuk wanita dan kaum muda. Selama 45 hari berikutnya, pihak panitia menerima komentar dan surat elektronik.

Hasilnya adalah North London Central Mosque sebagai pilihan utama dan meraih Best European Islamic Center Certificate. Posisi kedua dan ketiga ditempati London Central Mosque dan East London Mosque.

Tiga pemenang ini akan dimasukkan ke dalam IOL’s European Muslims sebagai model masjid.

Menurut Saad, kemenangan itu bisa memberi contoh tentang layanan berbasis masyarakat.

“Kami melayani setiap orang, wanita, anak muda dan orangtua. Orang-orang umumnya menyukai aktivitas sederhana dan murni dan kami sedang mencoba melakukannya,” ujar imam kelahiran Mesir.

Prioritas utama masjid North London Central Mosque adalah kaum muda karena masjid ini dilengkapi dengan sebuah pusat senam dan klub kaum muda.

“Kaum muda muslim menyelenggarakan berbagai program yang bisa memikat anak muda untuk datang ke masjid,” tambahnya.

Masjid ini dulunya dikenal sebagai masjid Finsbury Park Mosque. Pusat Islam ini juga menawarkan berbagai program pendidikan dan kebudayaan yang melayani berbagai lapisan masyarakat.

“Kami mencoba melayani lapisan masyarakat yang selama ini tidak dipedulikan dan membat masjid ini menjadi tempat menarik untuk mereka. Saat ini, kami menggelar aktivitas di masjid dimana bahasa Arab, Inggris, Somalia, Kurdi, Albania, Urdu dan Bengali sering dipakai,” ujarnya.

Selain itu masjid ini juga menggelar kursus, keterampian untuk proram kehidupan, pertemuan keluarga, perkumpulan dan kelas pendidikan, sekolah Al-Quran untuk pria, wanita dan anak-anak. Semuanya terjadi dalam berbagai bahasa. Imam muda ini masih memiliki rencana ke depan. Yaitu melibatkan anak-anak muda untuk berpatisipasi aktif di masyarakat. [iol/www.hidayatullah.com]

 

Perkiraan Tanggal Kegiatan Islam 2009 November 18, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 12:20 pm
Tags:


  • 1 Hijrah (Tahun Baru Islam) 29 Desember 2008
  • Israa’ Mi’raj  19 July 2009
  • 1 Ramadan  22 August 2009
  • Lailatul-Qadar 16 September 2009
  • Idul Fitri 20 September 2009
  • Idul Adha 27 November 200

http://www.holidays.net/ramadan/dates.htm

 

Mengapa Mereka Membenci PKS November 17, 2008

Filed under: Opini — ainspirasi @ 5:26 am
Tags: , ,

Kalau dilihat dari sejarahnya tidak dapat di sangkal metoda pembinaan PKS menyerupai gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang ada di Mesir. Konon kabarnya almarhum  Syaikh Tarbiyah (RA), Rahmat Abdullah, pernah bersentuhan secara langsung dengan IM. Ini pulalah memunculkan ungkapan bahwa PKS adalah produk Timur Tengah.

Terlepas dari keterlibatan RA dengan IM, faktanya pendiri IM dan seorang tokoh perintis IM yang merupakan ruh IM syahid di tangan penguasa Muslim. Adalah imam Syahid Hasan Albanna, begitulah sering disebut para pengikutnya, syahid akibat diberondong peluru oleh para agen Mesir.  Demikian juga dengan DR. Sayid Quthb, pengarang Tafsir FI Zilalil Quran syahid di tiang gantung atas tuduhan-tuduhan palsu penguasa.

Lalu mengapa mereka tega-teganya menghukum para pemimpin IM dengan cara demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini haruslah dilihat dari prinsip-prinsip gerakan IM. Kita tidak bisa akan menemukan jawabannya tanpa melihat lebih dalam prinsip-prinsip gerakan Ikhwan. Secara umum yang menjadikan dasar pergerakan IM adalah Quran dan Hadist, sama seperti pergerakan Islam lainnya, contoh di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah. Hanya saja metoda IM adalah lebih jauh dari apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan NU. IM menekankan para anggotanya memiliki berbagai kecakapan