Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Salahkah Metoda Tarbiyah December 1, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 7:06 am
Tags:

Sebagian orang berpendapat bahwa metoda tarbiyah adalah metoda dakwah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Mereka mengatakan metoda dakwah itu adalah bidah yang menyesatkan. Saya ingin menyampaikan sedikit pembahasan dan komentar tentang meotoda tarbiyah yang diulas oleh saudara kita di bawah judul

PENYIMPANGAN METODE


TARBIYAH BERMARHALAH &


BANTAHAN DALIL-DALIL TARBIYAH BERMARHALA


Oleh : Abu Muhammad Al-Atsari

Sebenarnya saya tidak tahu tulisan ustadz Abu Muhhamad Al-Atsari ditujukan kepada kelompok tarbiyah yang mana. Akan tetapi ada baiknya saya menjadikan tulisan beliau sebagai masukan bagi kita semua siapa saja yang beriman keapada Allah dan Muhammad utusan-Nya.

Maksud saya menulis ini adalah sebagai sarana untuk mencari kebenaran berdasarkan perspektif orang yang awam terhadap masalah-masalah agama. Meskipun saya sarjana tetapi saya hanya mendapat sedikit pengetahuan agama Islam ketika duduk di bangku kuliah.

Kereta tarbiyah sebenarnya telah berangkat dari stasiun awalnya dan hanya singgah sesaat untuk mengangkut siapa saja yang ingin pergi bersamanya. Saya tidak pungkiri saya adalah termasuk salah seorang yang bersimpati terhadap gerakan tarbiyah dan sangat minim pengetahuannya. Keberadaan saya di gerakan tarbiyah mungkin laksana seorang yang naik ke gerbong di saat-saat terakhir ketika kereta api mulai bergerak. Saya pun sedikit berlari untuk menggapai kereta agar dapat pergi bersamanya.  Saya hanyalah seorang penumpang terkahir yang turut menumpang di salah satu gerbong dan hanya mendapatkan tempat berdiri di dekat pintu,  I am the last passenger. Dengan demikian apa yang akan saya bahas tidaklah setajam mereka yang duduk di bagian depan apalagi yang duduk di kelas VIP.

Masalah pertama beliau menulis:

a) Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada satupun penyimpangan dalam Islam melainkan ada dalil umum yang melegitimasinya. Oleh karena itu, menggunakan dalil umum untuk membolehkan suatu perbuatan khusus termasuk salah satu ciri ahli bidah dan pengikut hawa nafsu.

Rasulullah bersabda

“barang siapa yang mengamalkan amalan tidak berdasarkan ajaran rasulullah maka tertolak”.

Jelaslah yang dimaksud oleh nabi adalah masalah ibadah-ibadah dalam Islam. Lebih jelas lagi secara umum adalah rukun Islam yang lima yaitu syahadatain, sholat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah-ibadah ini telah diajarkan rasulullah dan tidak ada inovasi di dalamnya.

Dilanjutkan kutipan pendapat Al-Bani

Apabila suatu amalan masuk cakupan umum suatu dalil namun tidak dipraktikkan para sahabat, maka ketahuilah amalan itu bukan termasuk bagian daripada dalil tersebut.

Ada baiknya contoh praktik sahabat Nabi bagaimana?

Mereka tidak membedakan materi untuk anak SMP dan SMA. Tidak juga memisahkan materi untuk pegawai dan petani, guru dan pedagang, buruh dan mahasiswa dan seterusnya. Materi yang diajarkan kepada siswa SMP maka itu pula yang diajarkan kepada mahasiswa. Perbedaan materi hanya ditinjau dari segi tingkatan semata atau senioritas dalam tarbiyah. Oleh karena itu, siswa SMP terkadang justru diberi materi yang lebih berat (jika tingkatannya lebih diatas) dibandingkan mahasiswa.

Kalau yang dikatakannya benar tentu membebankan kepada kepada umat. Seharusnya dibedakan materi-materi peserta didik. Apakah beliau bermaksud mengajarkan sholat harus beda atau bagaimana?

Setahu saya materi yang diberikan berbeda berdasarkan kadar pemahaman seseorang. Besarnya perbedaan itu hanyalah diukur dari beragam dan tingkat kedalaman materi. Misalnya bagi mereka yang baru mengenal Islam diberikanlah sedikit pendalaman dan keluasan wawasan beragama. Bagi mereka yang sedikit mulai paham Islam akan diberikanlah materi-materi yang lebih banyak. Begitu seterusnya. Di sini dianggap semua orang telah paham dasar-dasar Islam secara umum seperti syahadat, sholat, puasa dsb.

Bagaimana cara pengelempokkan peserta? Apakah semua dikelompokkan asal-asalan? Menurut yang saya ketahui pengelompokkan didasrkan pada kedekatan bidang pekerjaan atau umur atau tingkat pendidikan umum. Tidak mungkin para pemuda putus sekolah dikelompokkan dengan para dosen atau murid SMA dengan mahasiswa. Ini dimaksudkan agar penyampaian terbiyah bisa berjalan dengan baik. Kalau tingkat pendidikan  terlalu jauh iklim terbiayh menjadi tidak kondusif karena mungkin untuk memahamkan sebuah materi kepada satu orang peserta akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Di samping itu interaksi antara peserta tarbiyah menjadi kurang nyaman.

Buktinya Muadz tidak membuat marhala-marhala seperti Tarbiyah yang mereka lakukan, tapi Muadz justru berdakwah secara umum.

Betul, Nabi dan para sahabat tidak membuat tahapan-tahapan dalam berdakwah. Bahkan Nabi tidak membuat organisasi-oranisasi apakah salafi atau Ikhwanul Muslimin atau Hibuz Tahrir atau Jamah Tabligh atau Jamaah Islamiyah. Nabi dan para sahabat tidak membuat metoda fiqih atau mazhab-mazhab. Nabi tidak membuat sekolah-sekolah apalagi universitas. Orang-orang berilmu-Islam setelah jaman sahabatlah yang membuat-buat Mazhab. Itu tidak berarti para Imam yang empat menyalahi Nabi dan para sahabat. Padahal apa yang dilakukan oleh Imam-imam sungguh membawa manusia sesudahnya berkelompok-kelompok menurut mazhab. Saya dapat cerita  suatu ketika ada segolongan orang yang tidak mau sholat kecuali dipimpin oleh orang yang semazhab.

Mungkin apa yang dilakukan oleh para Imam dalam bermazhab bisa diterima  karena yang dilakukan hanyalah soal pengambilan kesimpulan berdasarkan pengetahuan mereka tentang hadist dan sunnah Nabi. Kalau hal itu kita bisa terima berarti tersirat pesan bahwa kita pun boleh melakukan hal yang sama karena toh fiqih dan sekolah-sekolah tidak dicontohkan wujudnya oleh nabi.

b) Sungguh sangat disayangkan jika masih ada sebagian Murabbi (pengajar tarbiyah) yang berdalil dengan dalil bahwa Tarbiyah ini merupakan Sunnah Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam, yaitu dimana Nabi masih melakukan Metode Makkah yang berdakwah dari Rumah ke Rumah.

Pendapat ini sangat lemah dari beberapa sisi;

Pertama, Rasulullah tidak pernah menyuruh untuk melakukan dakwah seperti yang Beliau Shallallaahu Alaihi Wasallam lakukan ketika Periode ini, atau dengan kata lain Tidak mempunyai landasan dalil dari As-Sunnah yang shahih.

Mudah-mudahan tidak dipami bahwa apa saja bentuk dakwah ketika nabi masih di mekah sudah tidak boleh digunakan. Masih ada di beberapa tempat dakwah secara terbuka belum memungkinkan.

Kenyataan lain sebagian besar dari kita berada di lingkungan yang telah beriman. Mereka semua sudah mengetahui mana yang Islam  dan mana yang bukan. Kebanyaakan sudah paham untuk beriman harus mengucapkan syahadat dan melakukan Rukun Islam dan Rukun Iman. Lalu bagaimana kita mengingatkan orang agar mau beriman dengan baik. Apakah setiap jam atau setiap setelah sholat atau  kapan? Adakah ada satu saja perkataan nabi yang sahih tentang kegarusan mengikuti metoda dakwah beliau tentang materi-materi dakwah, waktu, tempat atau apalah. Kalau ada tolong saya diberi tahu. Kalau tidak ada lalu bagaimana, tidak berdakwah? Apakah kita harus mendapatkan suasana yang sama pleg..dengan suasana dakwah 1400 tahun yang lalu baru berdakwah.

Kedua, metode ini sudah mansukh (dihapus) setelah turun ayat, fashda bimaa tumar (sampaikan apa yang diturunkan kepadamu terang-terangan). Buktinya, Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam tidak pernah lagi menggunakan metode ini setelah turun ayat tersebut.

Setahu saya ayat itu diturunkan ketika sebagian besar penduduk Mekah masih   dalam keadaan musyrik. Maka nabi tidak diam-diam lagi. Nabi kemudian mendatangi perkumpulan-perkumpulan kaum musyrikin untuk menyampaikan kalimat Allah.

Yang kita jumpai saat ini tetangga kiri-kanan kita kebanyakan Muslim. Apa yang perlu kita sampaikan kepada mereka? Mengajak percaya kepada Allah atau kita mengajak mereka ber-Islam yang benar? Tentu yang paling pas adalah mengajak ber-Islam dengan benar. Untuk itu diperlukan waktu yang agak lama. Artinya diperlukan tempat dan waktu yang kondusif  untuk mamapu mengajak umat Islam memahami dengan benar Islam ini. Bila kita asal-asalan menyampaikan tidak memperhatikan kondisi umat maka antipati yang akan didapat.

Ketiga, Sangat Rancu bagi Dien yang mulia ini, karena akan muncul bentuk-bentuk Ibadah yang disandarkan kepada Periode Makkah ini.

Saya takut dengan apa yang disampaikan di sini. Sebagian ayat Quran diturunkan di Mekah. Selama tidak ada ketentuan yang jelas melarang ibadah pada periode Mekah berarti ibadah itu boleh dilakukan.

Keempat, apa yang dilakukan Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam pada periode ini hanyalah merahasiakan tempat pembinaan dan bukan mengelompokkan orang. Alasannya pun cukup jelas yaitu factor keamanan. Adapun saat ini Alhamdulillah keamanan dakwah sangat terjamin dan tak ada lagi hukum Islam yang perlu dirahasiakan karena sudah tersebar dimana-mana.

Para pendukung Tarbiyah sangat paham tidak ada yang perlu disembunyikan tentang hukum-hukum Islam. Tak ada gunanya hukum-hukum Islam disembunyikan oleh Gerakan Tarbiyah. Tidak berarti kita boleh ngomong semaunya tentang hukum Islam kepada siapa saja tanpa mengenal waktu dan tempat.

Ketika nabi Muhammad SAW masih hidup umat Islam berada dalam satu kelompok karena Nabi sebagai satu-satunya sumber penjelasan setelah Quran. Kepercayaan umat digantungkan pada nabi. Nabi sosok yang maksum dan selalu dijamin kebenaran perkataan beliau tentang agama. Dewasa ini begitu banyak orang yang berilmu dan mengaku mengikuti ajaran rasulullah. Manakah mereka yang kita percayai? Keyakinan seseorang pada seorang ulama Islam tidak otomatis akan diikuti oleh orang lain. Perbedaan keyakinan inilah akhirnya menimbulkan munculnya berbagai kelompok dengan berbeda-beda pimpinan. Selanjutnya apakah keberadaan kelompok ini salah?  Padahal dalam satu hadist dikatakan umat Islam akan terpecah menjadi 73 kelompok tetapi hanya satu yang selamat yaitu yang berpegang pada sunnah Muhammad SAW. Di sini nabi mengakui adanya berbagai kelompok namun hanya mengakui satu yang selamat. 

Kelima, tak ada Ulama Ahlusunnah yang memahami metode pada periode ini dapat diterapkan lagi untuk kondisi masa sekarang ini.

Setelah periode Mekah nabi tetaplah menjadi satu-satunya pemimpin. Tidak perlu nabi mengumpulkan manusia menjadi berkelompok-kelompok. Saat ini siapakah ulama yang maksum dan menjadi memimpin Negara?  Tidak ada.! Yang dipercaya adalah masing-masing ulama yang menjadi pemimpin golongan masing-masing.

Keenam, jika dipaksakan menerapkan metode pada periode ini, konsekuensinya harus meninggalkan sejumlah syariat seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, dan haji. Sebab syariat-syariat ini belum turun pada periode dakwah sirriyah (rahasia) di Makkah.

Apabila dikatakan, Kami tetap melakukan syariat namun menerapkan metode dakwahnya, maka dijawab, Sungguh ini termasuk beriman kepada sebagian al kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain. Apa alasan kamu menggunakan metodenya namun tidak tunduk kepada konsekuensinya?

He..he… sorry setahu saya gerakan tarbiyah tidak membenarkan meninggalkan sholat lima waktu. Gerakan tarbiyah tidak menyalahi syariat sholat, puasa, zakat, haji. Gerakan tarbiyah hanya beda melakukan penyampaian bagaimana ber-Islam yang benar.

Ketujuh, lebih parah lagi, penerapan metode pada periode Makkah berkonsekuensi pengkafiran secara total terhadap golongan. Dan inilah diantara bukti bahwa mereka ini menafsirkan semua kaum muslimin, karena dianggap masih masa jahiliyah. Wal Iyadzu billah.

Lagi-lagi sorry… Gerakan Tarbiyah dilarang  saling mengkafirkan. Takfir hanya hak Allah dan Rasulnya.

c) Mereka mengatakan bahwa Sekolah ataupun Jamiah juga tidak ada dalilnya dan juga bermarhala. Sehingga mereka mencontohkan Jamiah/Sekolah sebagai Al Ashl (Pokok/dasar) dan Tarbiyah sebagai Cabang.

Hal ini sangat berbeda dengan Tarbiyah bermarhala ini, Tidak ada satupun Ulama yang ber-Ijitihad kepada Tarbiyah ini, bahkan sekarang ini, ada diantara Ulama yang mengkritiknya, seperti Syaikh Ali Hasan Al Halaby.

Lihatlah..hanya ucapan ulamanya yang dipercayainya. Gerakan Tarbiyah bisa pula menunjukan keterangan dari para ulamanya.

Jika dilihat dari sisi yang lain, maka akan tampak pula perbedaan yang sangat mencolok antara Jamiah dan Tarbiyah ini. Jamiah; tidak menjadikan orang taashub (fanatik) kepada Jamiah tersebut. Dan pelajarannya pun merupakan pelajaran-pelajaran yang harus diajarkan secara runut (harus bertahap) sehingga adanya tingkatan itu sangat penting. Adapun Tarbiyah model ini; maka telah tampak kefanatikan yang ditimbulkan oleh para pengikut metode ini kepada kelompoknya. Dan materi pelajarannya pun sangat jauh dengan Jamiah, yaitu materi-materi yang tidak perlu harus dibuat bertingkat.

Setahu saya dalam setiap tingkatan materi ada bab-bab tertentu yang perlu pengulangan. Sebagaimana dakwah secara umum materinya dibuat sedemikian rupa sehingga peserta merasa ringan. Namanya juga tarbiyah informal. Kalau mau lebih hebat silakan pergi ke pondok, madrasah, atau belajar lagi di IAIN. Bukankah sebuah kenyataan bahwa ada orang (Islam)  fanatik dengan keyakinannya.

d) Mereka katakan bahwa masalah ini masih merupakan masalah Ijitihadi, jadi tidak perlu dipermasalahkan.

Suatu statement/pernyataan yang sangat keliru. Karena jika kita bertanya balik kepada mereka Siapakah Ulama yang ber-Ijitihad dengan Metode Tarbiyah ini???, maka akan kita temukan jawaban kebenaran bahwa tidak satupun dari kalangan Ulama yang ber-Ijitihad kepada Metode ini. Kalau Metode ini bukan merupakan Ijtihad Ulama, lalu siapakah yang ber-Ijtihad? Ataukah Ustadz-ustadz mereka, sudah merasa mampu dan memenuhi syarat untuk ber-Ijtihad? Naudzubillah !

Saudaraku, semua ulama sepakat tentang beribadah sesuai tuntunan Rasulullah. Itulah yang utama dan pokok ajaran Islam. Untuk metoda menyampaikan nabi tidak menyebutnya secara spesifik. Ingatlah jangan sampai kita menyebut-nyebut sesuatu yang justru bertentangan risalah yang dibawa nabi. Nabi mengatakan kira-kira maknya “apa yang Allah perintahkan laksanakan, apa yang aku diamkan itu sebagai kemudahan untuk mu”. Itu artinya diluar yang jelaskan Nabi kita boleh melakukannya sepanjang tidak menyalahi ketentuan yang ada. Metoda Tarbiyah tidak disebut-sebut oleh nabi. Selain itu tidak ada suatu perintah pun atau larangan untuk melakukannya.

e) Mereka membagi bahwa Ibadah itu ada yang Ibadah Mahdhah dan ada yang Ghairu Mahdhah. Sehingga Tarbiyah model ini masuk ke dalam ibadah Ghairu Mahdhah.

Inilah pembagian yang tidak berdasar sama sekali, padahal Kaedah dalam Ibadah itu mengatakan : “Al Ashlu fiil Ibadah Haram…” (Hukum Asal suatu ibadah itu adalah Haram) dan kaedah ini mencakup semua Ibadah dalam agama ini, baik itu Mahdhah ataupun Ghairu Mahdhah.

Saya tidak paham ibadah itu asalnya haram?

Hanya saja ibadah mahdhah terikat tempat dan waktu. Berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah. Oleh karena itu, bila suatu amalan masuk kategori ibadah ghairu mahdhah, maka harus dilihat praktek Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam padanya dan harus diikuti.

Lalu selain kedua ibadah itu apa namanya dan bagaimana menyikapinya? Katakanlah ada ibadah bukan mahdoh, karena ibadah Islam yang Mahdoh sudah jelas, lalu bagaimana sikap kita? Ijtihad? Mengapa Muadz berani-beraninya mengatakan ijtihad? Pernahkah Muadz diberi predikat oleh Nabi untuk berijtihad?  Jelaslah tidak pernah. Saat itu Nabi diam artinya nabi  membernarkan metodanya berpikir, urut-urutan berpikir. Lalu mengapa seseorang menyalahkan ketika ada orang lain melakukan hal yang sama seperti Muadz.

f) ..Mengatakan metode ini hanya wasilah (sarana) dan bukan manhaj (tata cara berdakwah) adalah kesalahan fatal dan merupakan alasan yang sangat buruk. Kaidah ini sudah membuka peluang bagi semua penyimpangan dan kesesatan.

Jika wasilah itu bisa dilakukan Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam namun beliau Shallallaahu Alaihi Wasallam tinggalkan maka artinya ia tidak masuk bagian daripada wasilah yang diperbolehkan. Namun jika wasilah itu tidak bisa dilakukan beliau Shallallaahu Alaihi Wasallam maka butuh kepada ijtihad para ulama; apakah boleh dilakukan atau tidak.

g) Suatu dakwah dikatakan bermanfaat dan berhasil bila selaras dengan kitab Allah Taala dan Sunnah Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam. Dari sini kita bisa memahami mengapa dakwah para nabi dikatakan sukses padahal diantara mereka ada yang tidak mendapat pengikut meski satu orang pun. Ringkasnya, tujuan dakwah adalah menegakkan hukum Allah Taala dan Sunnah Nabi-Nya.

Sudah dijawab sendiri, itulah tujuan Gerakan Tarbiyah.

Artinya, dakwah dengan metode tarbiyah bermarhala ini sudah merusak sebelum memperbaiki. Lalu apa lagi yang kita harapkan dari sesuatu yang sudah rusak?

Rusak? Apanya yang rusak. Apakah orangnya menjadi sangar, menjadi pembenci, tukang terror, tidak sholat? Berhatilah-hatilah memfonis Sesuatu.

h) Begitu pula, mereka yang tidak mengikuti tarbiyah bermarhala dan hanya mengikuti kajian umum justru lebih paham tentang agama dibandingkan mereka yang ikut tarbiyah bermarhala. Buktinya, kita belum mendengar seorang pun yang kemudian menjadi ahli ilmu hanya karena ikut tarbiyah bermarhala.

Betul, Gerakan tarbiyah ditujukan untuk mengingatkan orang pada agamanya. Peserta dianjurkan untuk menuntut ilmu yang lebih jauh lagi.

i) Kedatangan para Masyayekh ke suatu tempat, belum bisa menjadikan hal itu sebagai Tazkiyah (rekomendasi) bahwa tempat itu bagus.

Setuju…

j) Tentang pernyataan Mana dalil yang melarang metode ini? adalah upaya pembelaan diri yang kelewat batas. Mereka yang mengemukakan argumentasi ini ibarat orang hendak tenggelam sehingga memegang apa saja yang mengapung disekitarnya meskipun hanyalah sepotong kotoran.

Saudaraku, polisi tidak mungkin menangkap orang tanpa alasan. Harus ada alasan mengapa seorang ditangkap. Kalau Anda menyatakan haram, padahal A-Quran dan hadist tidak mengharamkan maka Anda keliru. Kalau Anda hanya berdasarkan perkataan ulama maka ini pun tidak cukup dijadikan alasan menyalahkan.

Saya kira mengajak orang mendengarkan ayat-ayat Allah dengan berbagai variasi materi tidak salah. Sekali lagi, materi-materi disusun agar memudahkan penyampaian,  sebagaimana kitab-kitab hadist disusun agar mudah memahaminya. Sangat mungkin kurikulum tarbiyah memilki kelemahan di sana sini. Namun apa yang dilakukan pembuatnya harus diapresiasi sebagai amal kebaikan yang bersangkutan. Janganlah kita mudah sekali menyalahkan orang lain.

Setahu saya dalam tarbiyah ada juga dakwah umum. Tidak melulu dakwah berkelompok 2-6 orang. Sangat dianjurkan bagi para peserta menyampaikan dakwah di masyarakatnya selain khusus juga umum. Kenyataan di masyarakat ada pemuda, pemudi, ibu, bapak, mbah-mbah. Sangat sulit mengumpulkan semuanya menjadi satu dengan tema yang selalu umum. Di dunia ini banyak sekali ilmu-ilmu atau pengetahuan yang harus disampaikan. Dan di masyarakat ada beragam tingkat pengetahuan orang. Sangat tidak bijak bila kita menyampaikan dengan pola yang sama untuk semua kalangan. Jadi pengelompokan itu kadang perlu kadang tidak. Variasi materi pun demikian. wallahu a’lam

 

5 Responses to “Salahkah Metoda Tarbiyah”

  1. Ibn Abd Muis Says:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Subhanallah, hmmmm kalau ana baca-baca article-article orang-orang aneh ini, bener-bener bikin semangat untuk nulis hiks!👿

    Ada article yang berkaitan dengan article antum di blog ana akhi. Mungkin antum sudah pernah membaca yang ini http://ihwansalafy.wordpress.com/2008/01/13/metode-belajar-dan-mengajar-salafy-ternyata-tidak-sistematis/ di blog ana?🙄 Mudah-mudahan bisa sedikit bermanfaat. Barakallahu fiik.

  2. ainspirasi Says:

    ya jazakallah. sesama penumpang harus saling pengerten

  3. antipks Says:

    http://ihwansalafy.wordpress.com/ itu blog-nya orang bingung… hehehe

  4. Epizootics Says:

    Good Morning. Actually I’m not interested in the article. Because I don’t know your language. I just looking around some blogs, seems a pretty nice platform you are using. I’m currently using WordPress for a few of my sites but looking to change one of them over to a platform similar to yours as a trial run. Anything in particular you would recommend about it?

  5. maher Says:

    Sebaiknya kita berpikir saja bagaimana islam dengan kitab sucinya menjadi Rohmatallil’alamin. ikhlaskan dihati kita bahwa , apa yang dilakukan oleh para terdahulu dan hasilnya membawa kebaikan, seharusnya kita berterima kasih. Wassalam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s