Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

HNW 2009 GO January 14, 2008

Sudah cukup lelah kita menanti keadaan yang makmur, sejahtera, gemah ripah, atau apapun namanya. Dulu kita berharap dengan pemilihan presiden secara demokratis negara ini makin baik. Tapi lihatlah… perjalanan mengantar negara ini menuju keadaan sentausa seperti siput. Siapa yang salah? Rakyat Indonesia adalah termasuk yang rajin. Buktinya kita selalu bangun pagi lebih awal. Bapak-bapak kita di desa-desa bahkan selalu bangun lebih pagi dan langsung ke sawah atau pasar untuk mencari rejeki. Sebaliknya lihatlah para “pimpinan” negara ini. Mereka sibuk mencari posisi, tunjangan, jalan-jalan dengan uang negara. Hasilnya? Urusan rakyat ditelantarkan. Rakyat tidak dipikirkan. Meskipun dapat tunjangan atap rumah dinas bocorpun harus ditanggung negara.

Memang berat memperbaiki negara ini karena kerusakannya terlalu parah, dari Sabang sampai Merauke. Akan tetapi kita tetap harus memilih presiden. Tidak mungkin negara ini kosong tanpa pemimpin. Lebih celaka kalau kita memilih pemimpin yang ugal-ugalan, tidak cerdas, berwawasan sempit, suka menjual murah harta negara, dsb.

Oleh karena itu marilah kita semua memilih pemimpin yang lebih arif, lebih sederhana, yang cerdas, dan bisa memberi inspirasi bagi rakyatnya. Kehebatan seorang pemimpin adalah apabila dia mampu menggerakan semua warga negaranya dengan dia sendiri sebagai yang terdepan.

Siapakah dia pemimpin yang memenuhi banyak kriteria itu? Dari sekian banyak tokoh nasional tampaknya hanya sedikit yang bisa memenuhi semua kriteria. Salah seorang yang patut dipertimbangkan adalah Hidayat Nur Wahid. Kesederhaanaannya tidak diragukan lagi. Kecerdasannya tentu dia lulus strata-3. Dukunganya sangat luas karena dia mantan presiden partai. Kalau dia menjadi presiden ada banyak nama yang akan mendukungnya bahkan mungkin duduk sebagai menterinya. Mereka para pendukungnya adalah:

Dr. Zulkieflimansyah, pakar ekonomi : zulkieflimansyah.com

Rama Pratama:ramapratama.com

Dr. Anton Apriantono, pakar pertanian:antonapriyantono.com

Dr. Adhyaksa Dault, MSi, pakar hukum

Prof. Dr. Zaenal Bachrudin, MSc, pakar pertanian

Dr. Salim Asegaf, pakar hukum Islam

Dr. Ahzami Samiun Jazuli

Dr. Salim Segaf Aljufri, M.A.
Dr. Mulyanto, M.Eng.
Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Isma’il, M.Sc.
Drs. Abu Ridho, A.S.
Mutammimul Ula, S.H.
K.H. Abdul Hasib, Lc.
Fahri Hamzah, S.E.
Dr. Daud Rasyid Sitorus, M.A.
Dr. Agus Nurhadi
Igo Ilham, Ak.
Chin Kun Min (al-Hafizh)
Drs. Arifinto
Nursanita Nasution, S.E., M.E.
H. Rahmat Abdullah
Dr. Ahmad Satori Ismail
Ir. Untung Wahono
Ir. Suswono
Mashadi
Dra. Sri Utami
Nurmansyah Lubis, S.E., Ak., M.M.
dr. Naharus Surur
Drs. Muhroni
Drs. H. Suharna S., M.S.
H.M. Ihsan Arlansyah Tanjung

H. Aus Hidayat
Ir. H. Tifatul Sembiring
Drs. Al Muzammil Yusuf
Drs. Mukhlis Abdi
Maddu Mallu, S.E., M.B.A.
H.M. Nasir Zein, M.A.
K.H. Acep Abdus Syakur
Dr. Ahzami Samiun Jazuli, M.A.
K.H. Yusuf Supendi, Lc.
Hj. Yoyoh Yusroh
M. Anis Matta, Lc.
Ahmad Zainuddin, Lc.
Dra. Zirlirosa Jamil
Syamsul Balda, S.E., M.M.
Habib Aboe Bakar Al-Habsyi
Sunmanjaya Rukmandis, S.H.
Ahmad Heriawan, Lc.
Drs. Erlangga Masdiana, M.Si.
Didik Akhmadi, Ak. Mcom.
K.H. Abdur Roqib, Lc.
H. Abdullah Said Baharmus, Lc.
Ahmad Hatta, M.A., Ph.D.
Makmur Hasanuddin, M.A.
Dra. Siti Zainab

Eramuslim. Com – Yogyakarta. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah Ny. Kastian Indriawati, isteri dari Ketua MPR-RI, Dr. Hidayat Nurwahid, dini hari 22 Januari 2008 pada jam 00. 49 di Rumah Sakit Jogya International Hospital (RS JIH).

Sebelumnya beliau masih diberitakan mengalami stroke ringan dan dirawat di rumah sakit tersebut, namun tengah malam atau dini hari ini, Eramuslim menerima kabar duka dari Yogyakarta.

Sejak menerima kabar pertama tentang dirawatnya beliau, Eramuslim telah bergerak langsung ke Yogyakarta. Namun belum sampai ke kota tujuan, telah diterima kabar duka tersebut.

Insya Allah besok pagi kelengkapan berita ini akan kami terus laporkan sesampainya tema di rumah duka.

Rencananya, besok jam 14.00 jenazah akan dimakamkan di TPU Kebon Dalem Prambanan Klaten.

Keluarga besar Eramuslim mendoakan semoga arwah almarhumah diterima Allah SWT, diampuni dosa-dosanya dan dijadikan kuburnya menjadi taman di antara taman surga. Dan semoga keluarganya diberikan ketabahan dan keteguhan hati.

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha (PM)

Hasil Sementara Poling Tokoh Indonesia

Hidayat Nur Wahid Tokoh Indonesia Terbaik

Hasil sementara Poling Tokoh Indonesia 2003 menempatkan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid pada posisi Tokoh Indonesia Terbaik dengan meraih nilai akumulatif tertinggi dari enam kategori polling ini. Ia menempati posisi teratas dalam tiga kategori sebagai Tokoh Negarawan, Tokoh Bersih KKN dan Tokoh Idola.

Bahkan uztad ini juga menempati posisi kedua setelah Amien Rais untuk kategori Calon Presiden, peringkat ketiga setelah Amien Rais dan AA Gym untuk kategori Tokoh Terpopuler dan peringkat kelima setelah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Nurcholish Majid dan Amien Rais untuk kategori Calon Wakil Presiden.

Poling Tokoh Indonesia 2003 ini mengajukan enam kategori pertanyaan terbuka yakni siapa calon presiden, calon wapres, tokoh negarawan, tokoh terpopuler, tokoh bersih KKN dan tokoh idola dan dilengkapi provinsi asal responden (netters). Pertanyaan terbuka sengaja diajukan agar responden dapat menjawab sesuai dengan aspirasinya dan tidak merasa dibatasi oleh pilihan-pilihan yang sering kali belum tentu merupakan pilihan responden.

Polling yang digelar dan dicatat sejak 8 Oktober 2002 hingga 31 Agustus 2003 ini diikuti (diisi secara online) 5.882 responden (netters) dari berbagai provinsi dan luar negeri. Polling ini masih terus dilanjutkan dengan sistem dan kategori yang sama sampai Desember 2003. Kemudian hasil polling tahun ini akan diumumkan pada Januari 2004.

Selanjutnya pada Polling Tokoh Indonesia 2004, kategori Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden akan dipisahkan tersendiri dari kategori polling ini dengan memunculkan 10 peringkat tertinggi sebagai pilihan polling berikutnya. Sementara polling kategori Tokoh Negarawan, Tokoh Bersih KKN, Tokoh Terpopuler dan Tokoh Idola akan dilanjutkan sepanjang tahun 2004 dan seterusnya.

Berikut rincian hasil sementara Polling Tokoh Indonesia 2003 untuk setiap kategori (Calon Presiden, Calon Wakil Presiden, Tokoh Negarawan, Tokoh Bersih KKN, Tokoh Terpopuler dan Tokoh Idola).

Calon Presiden
Hasil sementara dari 51 nama yang disebutkan responden paling layak jadi calon presiden, posisi teratas diraih oleh Amien Rais (27,8%), disusul Hidayat Nur Wahid (23,6%), Nurcholish Majid (10,1%), Susilo Bambang Yudhoyono (9,8%), Sri Sultan Hamengkubuwono X (4,1%), Gus Dur (3,9%) dan Megawati Sukarnoputri (3,1%).
Selebihnya, 17.6% pengunjung (responden) menyebut nama-nama tokoh lainnya seperti Yusril Ihza Mahendra (1,27%), Surya Paloh (0,7%), Jusuf Kalla (0,54%), Akbar Tanjung (0,54%), Wiranto (0,36%), Siswono Yudohusodo (0,18%) dan sisanya menyebut nama-nama lain seperti Kwik Kian Gie, Alwi Shihab, Tri Sutrisno dan sebagainya.

Calon Wapres
Dari 83 nama yang disebutkan paling layak jadi calon wakil presiden, nama Susilo Bambang Yudhoyono berada pada peringkat teratas 15,6%, diikuti oleh Jusuf Kalla (8,3%), Nurcholish Majid (7,7%), Amien Rais (7,2%), Hidayat Nur Wahid (6,2%), Sri Sultan Hamengkubuwono X (5,7%), Yusril Ihza Mahendra (5%), Wiranto (1,7%), Megawati (1,5%). Sedangkan tokoh lainnya seperti Akbar Tanjung, Gus Dur, Matori Abdul Djalil, Siswono Yudohusodo, dan Surya Paloh memperoleh suara di bawah 1 % termasuk nama-nama lain yang terlalu panjang bila disebutkan.

Tokoh Negarawan
Untuk kategori Tokoh Negarawan, dari 54 nama yang disebutkan, posisi teratas diambil oleh Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid (19,5%), diikuti Amien Rais (18,4%), Nurcholish Majid (15,6%), Gus Dur (9,4%), Susilo Bambang Yudhoyono (8,4%), AA Gym (4,7%), Sri Sultan Hamengkubuwono X (2,6%), Megawati SoekarnoPutri (2,2%), Yuzril Ihza Mahendra (1,6%), Jusuf Kalla (1,4%), Akbar Tanjung (1,2%), Kwik Kian Gie (1,2%). Selain itu disebutkan juga nama Ali Alatas, Marwah Daud Ibrahim, Wiranto, Matori Abdul Djalil, Syahrir, dan sebagainya.

Tokoh bersih KKN
Kategori Tokoh bersih KKN, dari 57 nama yang disebutkan, posisi teratas tempati Hidayat Nur Wahid (26,78%), diikuti Amien Rais (22,65%), Nurcholish Majid (7,8%), Susilo Bambang Yudhoyono (5,4%), AA Gym (5%), Kwik Kian Gie (4,5%), Gus Dur (4,3%), Ma’rie Muhammad (3%), Sri Sultan Hamengkubuwono X (2,3%), Jusuf Kalla (1,7%), Yuzril Ihza Mahendra (1,5%), dan Megawati SoekarnoPutri (1,3%).

Tokoh Terpopuler
Untuk kategori Tokoh Terpopuler, dari 59 nama yang disebutkan, untuk sementara posisi teratas diraih Amien Rais (19,1%), diikuti AA Gym (15,4%), Hidayat Nur Wahid (13,9%), Inul Daratista (7,6%), Nurcholish Majid (7,4%), Gus Dur (6%), Megawati Soekarnoputri (5,2%), Susilo Bambang Yudhoyono (4,8%), Akbar Tanjung (4,6%). Nama-nama lain yang disebutkan di antaranya adalah Kwik Kian Gie, Zainuddin MZ, Jusuf Kalla, Hasyim Muzadi, BJ Habibie dan Matori Abdul Djalil

Tokoh Idola
Kategori Tokoh Idola, dari 76 nama yang disebutkan, sementara posisi teratas diraih oleh Hidayat Nur Wahid (19,87%), disusul Amien Rais (15,39%), Gus Dur (7,6%), AA Gym (6,6%), Susilo Bambang Yudhoyono (6,6%), Nurcholish Majid (5,9%), Yuzril Ihza Mahendra (3,6%), BJ Habibie (2,9%), Bung Hatta (2,3%), Bung Karno (2,3%), Kwik Kian Gie (1,27%, Megawati SoekarnoPutri (1,27%) dan Soeharto (1,27%). Selebihnya disebutkan nama Buya Hamka, Zainuddin MZ, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Ryamizard Ryacudu, Jusuf Kalla, Marwah Daud dan sebagainya.

Asal Responden
Responden berasal dari 28 provinsi dan luar negeri. Mayoritas responden berasal dari propinsi DKI Jakarta (43,2%), diikuti Jawa Barat (12,4%), Luar Negeri (7,48%), Jawa Timur (7,48%), Jawa Tengah (6,1%), Sulawesi Selatan (3,4%), Yogyakarta (3,2%), Sumatera Utara (2,3%), Banten (2,3%), Riau (2,2%) dan Kalimantan Timur (2%). Disusul Sumatera Barat dan provinsi lainnya di bawah 2%.

www.korantempo.com

*Sehari** Bersama Ketua MPR Hidayat Nur Wahid Memimpin Minus Pengawal*

Sehari Bersama Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Memimpin Minus Pengawal

*Ia** menyemir sepatu sendiri.*

*Koran Tempo* Ia memulai hari dengan bersujud. Bersarung cokelat
kotak-kotak, baju koko putih, dan peci hitam, Hidayat Nur Wahid, 48
tahun, ditemani putra bungsunya, Hubaib Shidiq, 9 tahun, keluar dari
kamar tidur menuju musala di samping kanan rumah dinasnya. Di musala
berukuran 3 x 6 meter itu telah menunggu dua staf pribadi Hidayat yang
juga akan salat subuh bersama, pukul 04.45 WIB Rabu lalu.

Pukul 05.10, seusai salat subuh, Hidayat dan Hubaib beranjak ke lantai 2
rumahnya. Di bangunan utama rumah dinas Ketua Majelis Permusyawaratan
Rakyat itu terdapat satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak. Di
depan ketiga kamar itu ada ruang berukuran 3 x 4 meter untuk ruang
keluarga. Selama 15 menit Hidayat dan Hubaib melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran di situ.

Sejak Kastian Indriawati, 45 tahun, istrinya, meninggal pada 22 Januari
lalu, Hidayat menjadi orang tua tunggal bagi Inayah Dzil Izzati (kelas V
Pesantren Gontor), Ruzaina (kelas III SMP Pesantren Anyer, Banten),
Alla� ‘Khoiri (kelas I Pesantren Gontor), dan Hubaib Shidiq (kelas IV
sekolah dasar di Pondok Gede, Bekasi). Di tengah kesibukannya sebagai
Ketua MPR, guru, dan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera,
Hidayat berusaha menyempatkan diri menyiapkan keperluan sekolah Hubaib,
satu-satunya anak yang tinggal bersamanya.

Pukul 05.55, Hidayat melepas Hubaib ke sekolah, diantar sopir keluarga
mengendarai mobil pribadi Innova warna hitam. Sejak istrinya tiada,
Hidayat ingin selalu melepas, “nguntapke”, Hubaib berangkat sekolah.

Pukul 06.00, berkaus putih, celana olahraga panjang hitam, dan sepatu
putih, Hidayat menuju lapangan bulu tangkis yang jaraknya sekitar 200
meter dari rumah dinasnya menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX
warna biru. Bersama staf pribadinya dan beberapa staf pribadi menteri di
kompleks Widya Candra, pagi itu Hidayat main empat set langsung dengan
dua kali istirahat masing-masing lima menit.

Hidayat selalu bermain cantik di tiap set. Smash dan permainan net
menunjukkan kepiawaiannya bermain tepok bulu. Walhasil, pria kelahiran
Klaten ini selalu memenangi pertandingan.

Bulu tangkis adalah hobinya selain sepak bola. Minimal tiap Selasa dan
Rabu dia selalu menyempatkan diri memukul shuttle *****. Dia suka
badminton sejak remaja. Di samping rumah orang tuanya di Kadipaten Lor
RT 03 RW 08, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, ada lapangan badminton
yang biasa dipakai keluarga dan warga sekitarnya.

Kebiasaan itu diteruskan Hidayat saat 13 tahun belajar di Madinah, Arab
Saudi. Bersama teman-teman pelajar dari Indonesia dia membuat lapangan
bulu tangkis di samping kontrakan.

Pukul 07.50, Hidayat menyudahi badminton. Menenteng tas raket, ia
berjalan kaki menuju rumah dinasnya. Sesampai di rumah, Hidayat meminta
izin kepada Tempo membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat ke kantor
Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera di Mampang Prapatan,
Jakarta Selatan.

Dua puluh lima menit kemudian Hidayat ke lantai 2 menuju meja makan yang
letaknya di bawah kamar tidur utama. Ruang makan menyatu dengan ruang
keluarga, bersebelahan dengan ruang tamu dan ruang rapat.

Seperti di ruangan lainnya, di ruangan seukuran lapangan bulu tangkis
ini tidak ada aksesori yang tergolong mewah. Hanya ada televisi 21 inci
dan akuarium berukuran 1 x 0,5 meter yang dihuni seekor ikan arwana. Di
dinding tergantung satu lukisan bunga, foto Hidayat bersama para
pemimpin MPR, serta foto-foto mendiang istrinya.

Menu sarapan kali itu nasi uduk, kering tempe, ayam dan telur goreng,
sambal, dan kerupuk. Buahnya jeruk dan lengkeng, minumannya jus jambu
dan air mineral. Tapi Hidayat hanya mengambil kering tempe, ayam goreng,
sambal, dan kerupuk sebagai teman nasi uduk.

Hidayat agaknya penggemar kerupuk. Sekali makan, lebih dari tiga kali ia
merogoh kaleng krupuk dari plastik itu. Ia mengaku tidak punya pantangan
jenis makanan tertentu. Tapi masakan tradisional Jawa, seperti pecel,
botok, sambal goreng, sayur lodeh, dan tentu saja kerupuk, paling ia
gemari.

Untuk bekerja hari itu Hidayat memilih kemeja batik lengan panjang biru
dengan motif kawung putih dan celana hitam. Hidayat jarang mengenakan
jas. Dia lebih sering mengenakan batik, kecuali untuk acara kenegaraan
yang mewajibkan jas.

Hidayat mengaku tak punya merek pakaian favorit. Istrinyalah yang
biasanya menyediakan pakaiannya. Batik yang ia kenakan hari itu,
misalnya, bahannya dibelikan Kastian dan dijahit di Pondok Gede, dekat
rumah pribadinya.

Mendiang Kastian pula yang membelikan jam tangan Tissot yang dikenakan
Hidayat, juga telepon seluler Nokia–bukan Communicator. Kastian
membelikannya saat berhaji, beberapa hari sebelum meninggal. “Ini
kenang-kenangan terakhir almarhumah (istri saya).”

Pukul 09.10, Hidayat bersiap ke kantor PKS.

Tanpa istrinya, kini Hidayat menyiapkan sendiri semua keperluannya.
Memilih baju dan celana sampai menyemir sepatu. Sepatu yang dikenakannya
hari itu sepatu Bata hitam yang terletak di samping tangga menuju lantai
2. Sepatu itu sudah tak mengkilap sehingga Hidayat perlu menyemirnya
dulu. Ia tidak banyak memiliki koleksi sepatu atau sandal.

Setelah bersepatu, Hidayat memeriksa semua lampu ruangan. Lampu yang
tidak dipakai dimatikannya.

Pukul 09.25, Hidayat masuk ke mobil Toyota Kijang LGX warna biru menuju
kantor DPP PKS. Rencananya, pukul 10.00 akan ada deklarasi pencalonan
Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Karena untuk kepentingan partai,
Hidayat tak menggunakan Camry, mobil dinas Ketua MPR. Hidayat duduk di
kursi belakang. Di depan ada sopir dan ajudannya.

Meski pejabat negara, Hidayat jarang dikawal dan kerap bepergian tanpa
voorrijder. Ia merasa aman dan nyaman tanpa mereka karena merasa tak
punya musuh, sehingga tidak khawatir keamanannya terancam.

Tapi, tanpa voorrijder, ditambah lalu lintas yang kerap macet,
perjalanannya jadi lebih lama. Dari Widya Candra menuju Mampang Prapatan
pagi itu perlu 30 menit. Di perjalanan, Hidayat sempat menunjukkan
tukang potong rambut langganannya. Letaknya di deretan warung Padang dan
warung Tegal di pinggir Jalan Mampang Prapatan Raya. Sebulan sekali dia
potong rambut di situ. “Ongkosnya Rp 9.000 sekali cukur.”

Pukul 10.00, Hidayat tiba di kantor PKS. Deklarasi ditunda karena
Presiden PKS Tifatul Sembiring dipastikan datang pukul 10.30. Di situ
Hidayat bertemu dengan Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin, Ketua Dewan
Syariah Surahman, serta pengurus PKS Jawa Barat.

Hidayat belum pernah belajar politik secara formal. Tapi ia lahir dari
keluarga aktivis. Kakeknya tokoh Muhammadiyah dan Masyumi di Prambanan,
Jawa Tengah. Ibunya aktivis Aisyiyah–organisasi perempuan Muhammadiyah.
Dan ayahnya, meski berlatar belakang Nahdlatul Ulama, menjadi pengurus
Muhammadiyah. Kastian juga penggiat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Hidayat menimba ilmu berorganisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia
(PPI) cabang Madinah. PPI Madinah adalah salah satu organisasi yang
menolak penerapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi di
masa Orde Baru. Beberapa kali petugas kedutaan dan menteri kabinet
Soeharto membujuk agar PPI Madinah mengakui Pancasila sebagai
satu-satunya asas organisasi, tapi tak mempan.

Hidayat kembali ke Indonesia pada 1993 dan mengajar di Institut Agama
Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang. Ketika reformasi
bergulir, bersama-sama aktivis muslim ia mendirikan Partai Keadilan.
Kini, setelah berganti menjadi Partai Keadilan Sejahtera, partai yang
semula hanya menerima anggota dari kalangan Islam itu mulai membuka diri
untuk nonmuslim.

Tapi rekrutmen partainya, kata Hidayat, tetap taat pada jenjang
pengkaderan. Untuk menentukan calon di parlemen, PKS akan melihat siapa
yang akan diwakili calon itu. Jika penduduk yang akan diwakili mayoritas
selain Islam, wakilnya bisa saja dari nonmuslim juga. Hidayat hanya 20
menit berada di kantor PKS. Ia buru-buru menuju gedung MPR/DPR untuk
menerima delegasi dari PPI.

Pukul 11.00, Hidayat tiba di gedung MPR/DPR. Tapi tamu yang ditunggunya
dari PPI batal datang. Hidayat meneruskan pekerjaan dengan memeriksa
beberapa dokumen dan menekennya.

Pukul 13.00, Hidayat menerima delegasi dari Pacific Countries Social and
Economic Solidarity Association Turki. Mereka mencari cara mempererat
hubungan Indonesia dengan Turki.

Pukul 14.00, Hidayat menerima kunjungan rombongan Presiden National
Endowment for Democracy Carl Gersham. Carl meminta Indonesia sebagai
salah satu negara demokrasi menularkan pengalamannya ke negara-negara di
Timur Tengah. Hidayat menolak. Alasannya, “Rusaknya demokrasi di Timur
Tengah karena sikap politik Amerika Serikat yang berstandar ganda.”

Ia mencontohkan pemilu di Palestina. Khalayak, kata Hidayat, tahu pemilu
Palestina sangat demokratis. Tapi karena rayuan Israel, negara-negara
Barat termasuk Amerika tidak mengakui hasil pemilu itu. Menurut dia,
Timur Tengah akan demokratis jika Amerika demokratis. “Jadi jangan
Indonesia diminta mengajarkan demokrasi ke Timur Tengah. Mereka (Timur
Tengah) melihat perilaku Amerika sendiri.”

Meski banyak menerima tamu, Hidayat selalu tepat waktu untuk salat.
Begitu azan berkumandang, dia bergegas berwudu. Pukul 15.25, Hidayat
salat asar. Di ruangannya tersedia perlengkapan salat, termasuk peci
yang bagian atasnya sedikit robek.

Pukul 15.40, Hidayat bersiap-siap kembali ke rumah dinasnya karena pukul
16.30 ia akan menerima Hanung Bramantyo, sutradara film Ayat-ayat Cinta
yang lagi populer.

Pukul 15.45, Hidayat memasuki Camry, mobil dinasnya. Kali ini memang
untuk kepentingan tugasnya sebagai Ketua MPR. Tapi tetap tanpa
voorrijder. Hidayat jarang dikawal voorrijder kecuali kalau ada acara
yang mendesak segera didatangi, tak boleh telat, dan lalu lintas macet.

Untuk acara yang bisa diatur jadwalnya dan tidak mendadak, dia pergi
tanpa voorrijder. “Semua tergantung bagaimana kita mengatur waktu saja.”
Mobil Camry dengan pelat bernomor RI-5 itu pun mengarungi samudra
kemacetan bersama mobil-mobil lainnya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta
Selatan.

Pukul 16.25, Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sepuluh menit berselang,
tamu yang ditunggu, Hanung, datang. Hidayat menyambut Hanung di ruang
tamu, mengenakan baju putih bermotif kotak-kotak pendek dan celana
hitam. Hanung meminta pendapat Hidayat tentang film Ayat-ayat Cinta
sekaligus saran untuk film Ahmad Dahlan–pendiri Muhammadiyah–yang akan
dibikinnya.

Meski hanya tiga kali menonton film seumur hidupnya, Hidayat mengkritik
beberapa lafal bahasa Arab dalam adegan Ayat-ayat Cinta yang grammar-nya
tidak benar. Lokasi shooting yang tidak sesuai dengan kondisi Mesir
dikritik. Hidayat juga mempertanyakan mengapa Hanung menonjolkan sisi
poligami dalam film itu, padahal dalam novelnya tidak.

Soal rencana membuat film Ahmad Dahlan, Hidayat menyarankan agar dalam
film itu juga disinggung soal K.H. Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul
Ulama. Menurut Hidayat, keduanya teman yang akrab dan satu guru saat
menempuh pendidikan di Madinah.

Kiai Hasyim dan Ahmad Dahlan, kata Hidayat, satu kapal dalam perjalanan
dari Pulau Jawa ke Arab Saudi. Meski berbeda pandangan tentang beberapa
hal soal khilafiah, mereka berdua saling menghargai. Hidayat menerima
Hanung selama dua jam, hingga pukul 18.35.

Pukul 18.45, Hidayat berangkat ke Warung Buncit untuk memenuhi undangan
peringatan Maulid Nabi di Pesantren Assalafi Daarul Islah, Jalan Buncit
Raya. Kali ini dia mengenakan baju koko putih dan celana hitam. Untuk
keperluan ini dia menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX biru,
tanpa pengawal dan voorrijder.

Akibatnya, dia terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Mampang, dan
Buncit Raya. Sejam lebih bertarung dengan kemacetan, Hidayat tiba di
lokasi pukul 20.05. Di acara itu Hidayat sempat berceramah selama 30 menit.

Pukul 21.35, Hidayat kembali ke rumah dinasnya. Perjalanan lancar karena
sudah malam. Dua puluh menit kemudian Hidayat sampai di rumah dinasnya.
Sebelum tidur pada 23.00, Hidayat membaca semua surat yang masuk dan
menutup hari dengan membaca Al-Quran. (Koran Tempo)

Calon Istri Hidayat Nurwahid Aktivis Sosial

Ketua MPR RI, Hidayat Nurwahid tak akan sendiri lagi. Mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu akan menikah dengan seorang dokter yang juga aktivis sosial

ImageHidayatullah.com—Dalam waktu tidak lama lagi, Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nurwahid akan segera menikah lagi. Calon istrinya adalah dr. Diana Abbas Thalib, seorang janda keturunan Arab berusia 42 tahun yang berprofesi sebagai dokter.

Senin (14/4) kemarin, Ketua MPR Hidayat Nurwahid telah melakukan khitbah (lamaran) secara sederhana. Acara lamaran berlangsung lancar dihadiri sekitar 50 orang. Termasuk diantaranya, Wakil Ketua MPR AM. Fatwa. “Termasuk saya, keluarga dan kerabat dari PKS,” jelas Fatwa kepada wartawan.

Selain AM. Fatwa, turut hadir pula dalam acara tersebut paman Hidayat Brigjen Purn Sapto Hudoyo, Ketua Dewan Syuro PKS Ustad Hilmi Aminuddin, Wakil Ketua DPR Aksa Mahmud, dan Mooryati Soedibyo.

Saat dilamar oleh Hidayat semalam, Diana mengenakan pakaian muslimah warna kuning terang.

Aktivis Sosial

Tak banyak orang tahu siapa dr. Diana. Wanita dengan nama lengkap Diana Abbas Thalib adalah putri pasangan Abbas Thalib dan Fauziah. Keluarga ini menetap di kawasan elit Kemang, Jakarta Selatan.

Kabarnya, kini, Diana aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Tepatnya, aktif di Yayasan Rahmatan Lil’ Alamin (YRA). YRA bergerak di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. Lembaga sosial kemasyarakatan ini beralamat di Jl. Batu Merah No. 71 RT 02/02 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di lembaga itu, dr Diana menjabat sebagai Ketua Bidang IV.

Selain itu, ia juga Direktur RSIA Bunda Aliyah Pondok Bambu, Jakarta Timur. Rumah Sakit yang beralamat di Jalan pahlawan Revolusi No 100 ini khusus dalam bidang pelayanan spesialistik kebidanan, penyakit kandungan dan kesehatan anak.

Dr. Diana adalah salah satu murid binaan Yoyoh Yusroh, seorang kader PKS. “Karena itu saya percaya dengan Ibu Yoyoh Yusroh,” jelas Hidayat kepada wartawan.

Hidayat telah menduda sejak 22 Januari 2008, terhitung sejak istrinya, Kastian Indriawati (46) meninggal dalam usia muda akibat penyakit tyroid yang diderita, di Jogja International Hospital.

Kepada wartawan, AM Fatwa mengaku bahagia dengan rencana pernikahan sahabatnya, Hidayat Nurwahid (48). Menurutnya, Hidayat telah mendapatkan pendamping hidup baru yang tepat.

“Sebagai sahabat dan rekan sejawat saya turut mengantarkan beliau saat melamar,” ujar Fatwa.

Sebelumnya, kepada para wartawan, Hidayat sempat mengatakan, dirinya menikah lagi karena butuh profil seorang ibu dan pengelola keluarga.

“Saya punya empat anak. Mereka butuh ibu dan pengelola keluarga,” kata Hidayat di Gedung MPR, Kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (15/4).

Menurut Hidayat, dirinya juga melakukan secara sadar keputusan untuk menikahi dr Diana Abbas Thalib. “Saya menikah bukan karena dipaksa orang. Tapi saya melakukannya secara sadar,” jelas Hidayat.

Rencananya, ijab kabul Hidayat Nurwahid dan dr Diana akan diselenggarakan di Masjid Baiturrahman Kompleks DPR/MPR Senayan, Jakarta Selatan, 10 Mei 2008 mendatang.

“Makanya ini saya sarankan para wartawan yang muda-muda ini untuk segera menikah lah. Tapi kalau sudah punya jangan nambah lagi,” canda Hidayat yang disambut tawa para wartawan yang ada di ruangannya, Gedung MPR, Kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (15/4) siang.

“Hidup akan lengkap jika kita berkeluarga,” tuturnya kepada para wartawan. “Datang semua ya, tidak usah pakai undangan,” tambahnya. [cha, dtc,okz, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Warga Tambora Histeris Cium Tangan Ketua MPR

Mantan Presiden PKS itu mengunjungi warga Tambora Jakarta Barat dalam rangka mengisi masa reses anggota DPR. Lokasi yang dikunjungi Hidayat merupakan lokasi kebakaran yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

PK-Sejahtera Online: Kunjungan Ketua MPR RI DR Hidayat Nurwahid, MA di di Rt 15 Rw 02 Kelurahan Duri Utara, Tambora Jakarta Barat diwarnai kericuhan. Kericuhan bukan karena warga yang tidak kebagian sembako dan semen. Tapi ada salah seorang ibu histeris ingin mencium dan memeluk mantan Presiden PKS itu.

Usai memberikan sambutan di hadapan warga yang menjadi kebakaran dan menjawab beberapa pertanyaan wartawan, Hidayat pamit karena akan mengikuti kegiatan selanjutnya. Tak diduga seorang ibu yang belakangan diketahui kehilangan akal sehatnya itu, langsung menyelinap barisan wartawan dan merebut tangan Hidayat. Kontan saja warga sebagian warga langsung menarik tangan ibu tersebut.

Ketua MPR RI yang kaget lantas melerai kericuhan dengan menenangan ibu tersebut. “Coba dibantu…dibantu ini,” katanya sambil mengangkat tangan sang ibu yang hampir pingsan.

Tak hanya ibu-ibu yang mau mencium tangan Ketua MPR RI, sejumlah pemuda yang menghantarnya ke mobilnya saat akan pulang juga sempat memeluk dan meminta rekannya mengambil foto. Dengan senyum khasnya, Hidayat berpose dengan pemuda tanggung itu. Sambil pamit dengan warga, Hidayat memasuki mobil dan lansung pergi.

Mantan Presiden PKS itu mengunjungi warga Tambora Jakarta Barat dalam rangka mengisi masa reses anggota DPR. Hidayat merupakan anggota DPR RI asal fraksi PKS Dapil II yang meliputi Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Pada acara tersebut, Hidayat berbincang dan memberikan bantuan kepada 200 kepala keluarga yang rumahnya hangus terbakar. Bantuan tersebut berupa paket sembako dan 270 sak semen.

Selain oleh warga Tambora, acara tersebut dihadiri oleh anggota DPRD DKI Jakarta asal PKS Ir Arkeno, Ketua RW 02, Lurah Duri Utara dan wakil Camat serta ratusan warga Tambora.

Kepada warga Kecamatan Tambora yang menjadi korban kebakaran, Hidayat meminta agar mengambil hikmah atas apa yang terjadi. Selain itu Hidayat juga meminta agar warga memperhatikan keselamatan lingkungannya.

Pengirim: Mohammad Yusuf Update: 04/08/2008 Oleh: Mohammad Yusuf

 

3 Responses to “HNW 2009 GO”

  1. ahmad Says:

    mudah2an terus amanah…
    met ramadhan

  2. ainspirasi Says:

    Insya Allah

  3. fatihah Says:

    semoga terus berbakti pada agama dan bangsa.jalankan tanggungjawab dengan amanah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s