Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

CIRI UMAT ISLAM July 9, 2008

Filed under: Khutbah,Opini — ainspirasi @ 7:38 am
Tags: , ,

Sebagai umat terbaik, umat Islam memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan umat-umat lain. Ciri-ciri itu adalah

 

1. Bersih akidahnya

 

Umat Islam diperintahkan untuk meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan. Tuhan tidak memiliki wakil, tidak beristri, tidak beranak.

 

Katakanlah “Sesungguhnya Aku Hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya Aku seru (manusia) dan Hanya kepada-Nya Aku kembali”. Ar Raad, 13: 36

 

 

2. Komprehensif

 

Sebagai Din yang berasal dari Allah, ajaran Islam berada di semua sendi-sendi kehidupan. Umat Islam  tidak hanya sibuk dengan amal akhirat tapi juga amal duniawi.

 

Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Al Anam, 6: 162

 

 

3. Manhaj yang orisinil

 

Pedoman umat Islam yang tertinggi adalah Quran. Kitab suci ini sampai sekarang tetap terjaga kemurniannya, tidak seperti kitab-kitab lain yang telah banyak dimanipulasi oleh tangan-tangan jahil.

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya [793]. Al-Hijr: 9

 

 

4. Kesempurnaan manhaj

 

Semua ajaran Islam bukanlah mengada-ada atau berasal dari hawa nafsu Rasulullah Muhammad SAW melainkan benar-benar berasal dari perintah Allah

 

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). An Najm, 53:3-4

 

5. Pertengahan dan keadilan

 

Ajaran-ajaran Islam berada di tengah-tengah antara dua titik ekstrim. Satu titik ekstrim yaitu umat yang mengurangi ajaran-ajaran Allah sedang titik lainnya umat yang menambah-nambah ajaran yang bukan berasal dari Allah. Umat Islam berada di antar dua titik itu yaitu tidak mengurangi dan tidak menambah ajaran yang dituntunkan Allah. Inilah yang disebut dengan umat pertengahan.  

 

Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Al-Baqarah, 2: 143

 

 

 

Hidup Bertetangga April 22, 2008

Filed under: Khutbah,Wawasan — ainspirasi @ 11:03 am

Hidup Bertetangga


Oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz
Senin, 19 Juni 2007 – 14:24:52

1. Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, “….Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan, “Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya”. (Muttafaq’alaih).


2. Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

3. Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil, dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatannya”. (Muttafaq’alaih).

5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr, “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim).

7. Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

9. Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah…. –Disebutkan di antaranya- :Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad)

Tetangga Non Muslim

Tetanggamu adalah orang yang paling dekat dengan rumahmu. Hak-hak tetangga dapat diklasifikasikan menjadi tiga katagori: Bila tetanggamu Muslim dan memiliki hubungan kekeluargaan, maka dia punya tiga hak: hak bertetangga, hak kekeluargaan, dan hak sesama penganut agama yang sama yaitu Islam; bila dia tetangga non Muslim dan memiliki hubungan keluarga, maka dia punya dua hak: hak bertetangga dan kekeluargaan; bila dia non-Muslim dan tak memiliki hubungan keluarga maka haknya hanya menjadi tentangga.

Dalam hal ini Allah berfirman:

36.  Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (4:36)
 

Rasulullah berkata: Malaikat jibril selalu menyuruhku selalu mendekati tetangga sehingga aku mengira yang dimaksudnya semua tetangga.

Tetangga harus melakukan hal terbaik kepada tetangganya dan menjaga hartanya, hak-haknya, sesuai dengan sabda nabi:

Tetangga yang baik adalah yang berguna bagi tetangganya. (HRTirmidzi)

Juga sabdanya “Siapapun yang percaya pada Allah dan hari akhir harus memperlakukan tetangganya dengan baik.” (Muslim)

Kepada abu dzar Rasulullah berpesan “Hai abu Zaar kalau Anda memasak sop perbanyaklah kuahnya agar dapat dibagikan degan tetanggamu.”

Tukar menukar hadiah merupakan sangat baik dilakukan untuk mengakrabkan pergaulan dan mengikis kebencian.

Rasulullah bersabda:

Demi Allah tidak sempurna imannya; demi Allah tidak sempurna Islamnya; demi Allah dia tidak beriman. Kemudian ada yang Tanya siapakah yang Anda maksud?” beliau berkata yaitu orang yang tetangganya merasa tidak aman dari perbuatannya. (Bukhari)

Ulama fiqih mengatakan tetangga yang baik itu tandanya ada empat:

  • Membantunya bila diperlukan
  • Tidak iri dengan yang dimiliki tetangga
  • Tidak menyakitinya
  • Bersabar terahdap perbuatannya

Seorang laki-laki dating kepada nabi sambil mengeluhkan tetangganya. Nabi menjawabnya “pulanglah dan sabarlah”. Orang itupun pergi dan datang lagi sampai tiga kali dengan mendapat jawaban yang sama. Selanjutnya nabi berkata letakkan saja barang-barangmu di jalan. Maka mulailah orang-orang bertanya ada apakah gerangan. Dia menjawab penyebabnya adalah tetangganya, lalu mereka bekata semoga Allah bertindak terhadap tetangganya itu. Selanjutnya tetanganya keluar dan berkata kembalilah ke rumahmu, engkau tidak akan menjumpai lagi perbuatan yang tidak menyenagkan dariku.

Dikisahkan abu hanifah memiliki seorang tetangga yang memiliki kebiasaan minum minuman keras. Pada malam harinya tetangganya itu mulai bernyanyi-nyanyi dengan suara keras dan berteriak. Abu hanifah diam saja dan tidak mengeluh karenanya. Suatu malam Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi. Abu Hanifah heran kemudian menyelidikinya, ternyata tetangganya telah berada di penjara. Selanjutnya Abu Hanifah membebaskannya. Akhirnya tetangganya itu menghentikan kebiasaan minumnya dan mulai beribadah kepada Allah.

Dari berbagai sumber

 

Percaya yang Ghaib June 8, 2007

Filed under: Khutbah — ainspirasi @ 8:32 am

Salah satu doktrin yang ada dalam Islam adalah kita diwajibkan mempercayai adanya hal-hal yang ghaib. Dalam surat Al Baqarah hal ini pertama kali diungkapkan Allah. Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib [14], ( Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghaib yaitu, meng-i’tikadkan adanya sesuatu “yang maujud” yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, Malaikat-Malaikat, Hari akhirat dan sebagainya).

Sebagai sebuah dinamika kehidupan Allah telah memberikan dunia ini berbagai kejadian, berbagai hal, sunatullah baik yang telah kita ketahui saat ini maupun yang tidak atau belum kita mengetahuinya. Di luar sepengetahuan kita sunatullah-sunatullah itu terus berlangsung. Misalnya saat ini pastilah ada di luar masjid ini ada orang yang sedang makan-makan. Ada yang mendapat kesembuhan dari penyakitnya, ada yang senang atau pun ada yang susah, dan sebagainya. Meskipun kita tidak melihatnya berbagai peristiwa itu sangat mungkin terjadi entah di mana. Ini membuktikan bahwa tidak selamanya apa yang kita yakini kebenarannya berasal dari yang kita lihat. Saat ini pun apa yang terjadi dengan tubuh kita kita pun tidak mengetahuinya dengan pasti. Sekarang kita merasa aman-aman saja. Tetapi bagaimana dengan satu jam, satu hari, satu bulan berikutnya apa yang terjadi? Tidak ada yang bisa memastikannya. Dalam hal ini Allah berfirman dalam QS. 6:59.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”