Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Curhat December 2, 2008

Ikhwah wa akhwati fillah, just sharing saja, semalam istri ana menangis cukup lama…dalam sedih ana ajak utk diskusi…ternyata siang hari nya dia dapat kabar dari teman satu tim pengajar pos WK, bhw dia dan tim pengajar eksisting tidak boleh ngajar pos WK lagi, akan diganti dan di drop pengajar baru dari DPC. Kewanitaan DPC selama ini menganggap bhw istri ana dan tim pengajar eksisting kurang becus memobilisasi ibu-ibu anggota pos WK utk giat dan aktif di acara-acara kewanitaan DPR dan DPC. Padahal istri ana sdh menyampaikan masukan dari ibu-ibu pos WK bhw mereka malas ikut acara-acara DPR dan DPC yang berbau politik, lomba juga hny lomba-lomba qosidahan dan yel-yel. Ibu-ibu pos WK ingin acara yang kreatif dan mencerdaskan/menambah wawasan. Apalagi mengingat anggota pos WK istri ana sebagian besar ibu-ibu tukang sayur, tukang nasi uduk. Nggak mungkin memaksa mereka utk selalui ikut acara-acara DPC/DPR setiap sabtu-ahad. Mereka protes..tapi begitulah akhirnya istri ana dan tim eksisting dipecat. Mau tahu alasan pemecatan? kata ketua kewanitaan DPC (yang kebetulan caleg utk DPRD setempat), “Kalau sudah nggak sepaham ya sudah, ganti saja..!”
Dalam hati ana berpikir, sempit sekali cara berpikir ikhwah dan akhwat seperti ini. Memang selama ini paham kita bergabung ke jama’ahini apa? Dakwah kan? Kenapa gampang sekali menyakiti hati saudara-nya dan menyebut sudah tidak sepaham? Kemudian saya hanya bisa sabar dan membisikkan ke hati istri ana, “Umi, sabar ya mi, kita rajin-rajin instropeksi diri, nggak usah dilawan yang namanya struktur DPC/DPR , sdh didiamkan aja. Kita ngadu aja yuk Mi sama Allah SWT, semoga Allah SWT tetap mengukuhkan langkah kita di jalan dakwah yang manhaji yang sesuai dengan tuntunan Rosul SAW”

Bung, gimana mensikapi hal ini? Ana berpikir, bhw dgn menuduh sesama ikhwah sdh tidak sepaham, berarti mereka sdh menarik garis pembatas yang jelas…ya sudah makin mantap ana dan istri utk golput di 2009.

Sedih lagi kalau mengingat iklan tentang soeharto, ana terasa teriris-iris. RosululLah SAW saja tidak bisa melupakan rasa sakit sati kepada para pembunuh Hamzah RA paman beliau, walaupun para pembunuh Hamzah RA akhirnya masuk Islam saat futuh Makkah. Tapi RosululLah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Nah, qiyadah kan bkn Rosul yang maksum dari dosa dan kesalahan, kenpa bgt mudah memuliakan soeharto? Sdhkah mereka berkaca kepada tauladan agung Rosulullah SAW??

———————————————-

assalamu’alaikum wr wb
berpolitik memang merupakan bagian dari cara2 Islam memenangkan pertarungan ideologi agama Allah swt,seperti yg telah dicontohkan Raulullah saw.
Sejarah tegaknya Islam dimasa kenabian diwarnai oleh dinamika yang patut dicermati manakala pada suatu saat qiyadah membuat kebijakan yg harus diikuti oleh para jundi akan tetapi adakalanya qiyadah juga harus mendengarkan pendapat para jundinya,shg terjadi hubungan yg harmonis diantara keduanya.Hal tsb dikarenakan antara qiyadah dan jundi punya tujuan dan cita-cita besar dan mulia menegakan agama rahmatan lil ‘alamin shg mampu menepiskan egoisme yg ada.
Yang juga penting diperhatikan adl ternyata para jundi yg menyanggah pendapat nabi dan qiyadah dan kemudian dilaksanakan adl orang-orang yg menguasai bidangnya masing-masing,orang-orang yg expert.
Sudah seharusnya para qiyadah mengevaluasi kepemimpinan dan kebijakannya jika para jundi yg faqih memberikan pendapatnya, sementara bagi para jundi mudah2an usulan2nya didasarkan pd asholah dakwah bukan atas dasar tidak kebagian “sejahtera”
Semoga apa yg dilakukan antum, KIK AlHikmah, Bung  dkk merupakan bagian dari tujuan asholah dakwah. InsyaAllah.
Ana selalu dukung usaha-usaha ke asholah dakwah.
Wassalam

————————————————-

Suara Hati Seorang Kader

10 tahun lebih sudah saya berada di putaran tarbiyah ini. Sudah tak terkatakan betapa besar jasa jamaah ini dalam mengembalikan saya dari kebutaan thdp Islam menuju pengenalan sejati kepada Allah dan rasul-Nya. Sungguh, saya sangat mencintai mereka, orang-orang beriman yang telah berusaha sekuat tenaga mengajak manusia kepada Allah. Bila kondisi keimanan ini sedang turun, kadang hanya dengan bertemu dan memandang sahabat-sahabat saja, keimanan ini langsung meningkat. Ya, karena mereka punya wajah yg begitu bercahaya oleh Nuur Allah. Subhanallah..

Tapi itu dulu. Waktu saya masih kuliah, dan tarbiyah masih baru saja masuk ke mihwar siyasi. Waktu itu identitas partai sebagai ‘partai dakwah’ betul-betul nyata terlihat. Dengan pembinaan keimanan kader yang mantap, diimbangi dengan moralitas para aleg DPR/DPRD yang memegang teguh Quran&sunnah, tak ada keraguan setitik pun di dada kami untuk memperjuangkan wadah partai ini. Karena kami yakin, wadah ini ada semata-mata karena Allah. Demi mengajak manusia kepada Allah. Lihatlah para kadernya yang begitu sholih. Lihatlah pemimpinnya yang begitu wara'(menjaga diri dari fitnah dunia/harta). Kader mana yang tak kenal Ust. Mashadi? Sosok yang seolah-olah jelmaan Umar bin Abdul Aziz, Sang pemimpin legendaris yang terkenal karena kesederhanaannya. Ust. Mashadi yang anggota DPR dengan segala kemewahan fasilitasnya, hanya punya sebuah motor (motor, bukan mobil!) di garasi rumahnya. Pergi ngantor naik motor atau biskota, empet-empetan bareng rakyat jelata. Padahal, rekannya sesama dewan memakai mobil mewah yg super nyaman. Subhanallah,Inilah contoh pemimpin harapan umat. Siapa pula yang tidak jatuh hati pada karakter pemimpin seperti ini? Orang awam saja jatuh hati, apatah kami, para kader. Kami berjanji dalam hati, berjuang sekuat tenaga memenangkan partai ini pada 2004, agar lebih banyak lagi orang-orang sholih yang mengisi pemerintahan. Agar lebih baik negeri ini.

Tapi apa lacur? Setelah kami berdarah-darah memperjuangkan ‘partai dakwah’ ini hingga mencapai kemajuan yang luar biasa (peningkatan suara 4x lipat lebih), harapan kami mulai pupus sedikit demi sedikit. Harapan kami sederhana saja: ingin melihat lebih banyak lagi sosok-sosok ‘jelmaan’ Umar bin Abdul Azis di negeri tercinta ini. Sosok pemimpin yang tawadhu, hidup sederhana, dan mampu merubah masyarakat dengan kekuatan iman dan akalnya. Harapan kami berikutnya adalah : dakwah (baca: pesona) Islam makin menebar ke lebih banyak lagi rakyat Indonesia. Lebih banyak lagi rakyat yang mengenal Allah, mengenal rasulullah, dan menemukan nikmatnya hidup di bawah naungan Al Quran.

Tapi sayang, itu semua hanya mimpi. Sejak kemenangan 2004, pelahan tapi pasti kebijakan partai ini mulai berubah. Gaya hidup para aleg partai pun berubah. Tujuan dakwah yang kami cita-citakan pun makin nisbi, hablur, semu…benarkah ini semua demi tegaknya Kalimatullah di muka bumi? ataukah semata-mata hanya demi ‘Pemenangan ini itu’? (Pilkada,Pemilu 2009,dll)

Saya masihlah kader yang setia. Masih aktif dalam kegiatan sosial. Sama seperti dulu. Namun saya juga punya akal dan nurani, yang kerap kali tidak bisa kompromi dengan sebegitu banyaknya keanehan yang terjadi dalam wadah dakwah ini. Ya, satu-dua kali saya bisa kompromi dengan keanehan2 itu. Tapi kalau sudah puluhan kali??

Pukulan pertama adalah ketika partai sempat mempertimbangkan Wiranto. MasyaAllah…saya kaget sekali. Tapi saya masih bisa menerima. “Oh mungkin begini-begitu..” begitu pikir saya berhusnudzon. tapi pukulan berikutnya pun datang. Saya masih bisa berhusnuzon, walaupun..yah..walaupun secara akal sehat gak bisa diterima sih. namun ketika ‘pukulan’ itu datang makin bertubi-tubi, terutama dalam setahun terakhir, saya tidak tahan juga, dan mulai bertanya-tanya:

AADP?? Ada Apa Dengan Partai???

Move-move politik Partai makin tak terkendali. Makin sulit dipahami ibrohnya. Dulu saja saya setengah mati mencerna mengapa harus mempertimbangkan Wiranto, atau mengapa harus mendukung Adang Daradjatun. Eh,sekarang..lebih ‘dahsyat’ lagi..mengapa harus menempatkan Suharto sebagai pahlawan? Inalillahi!!

Tapi itu bukan satu-satunya keanehan. Banyak hal lain yang meresahkan saya. di antaranya:

– Mengapa harus Mukernas di hotel di Bali? Bukankah biayanya amat sangat mahal? Mengapa harus mengundang seorang nonmuslim (yg anti islam pula) menjadi caleg? mengapa oh mengapa?

– Acara-acara Partai kini makin mewah. Begitu pula gaya hidup petingginya. Pertemuan di hotel bukan lagi hal yg aneh. Padahal dulu, partai ini sangat bersahaja. Mengapa tidak mencontoh Umar bin Abdul Azis, yang pernah hidup bergelimang harta, namun sejak ditunjuk jadi pemimpin malah menanggalkan seluruh kekayaannya? Ke mana budaya ‘hidup sederhana’ ala Rasulullah yg dulu begitu melekat pada karakter Partai?

– Mengapa Partai lebih mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas?
Deklarasi jadi partai terbuka, iklan soeharto, kemungkinan koalisi dengan PDIP/Golkar…semua itu demi menarik suara (baca: kuantitas) yg lebih banyak. Tapi..sadarkah Partai, bhw kemenangan dakwah ini no.1 disebabkan karena kualitas? bukan kuantitas? Bila menang pada 1999 dan 2004, itu semata-mata hadiah Allah atas perjuangan para kadernya yg luarbiasa. 1 kader bisa jadi menarik 20-100, bahkan 1000 orang awam. Kini,dengan kualitas partai yg merosot, masih maukah kadernya melakukan seperti tahun 1999 atau 2004 lalu? Saya tidak yakin..

– Budaya ‘proyek’ di Partai. Ah, sudahlah. Hal ini terlalu sensitif untuk dibicarakan. Yang jelas saya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa ‘proyek-proyek’ itu betul-betul ada. Sesuatu yg dulu saya pikir tidak mungkin dilakukan Partai, ternyata…

– dan, banyak lagi..

Entahlah. Saya hanya berharap Allah masih menjaga wadah partai ini dari penyimpangan2. Bagaimanapun, masih banyak orang sholih di kalangan pemimpin Partai. Semoga Allah menggerakkan hati mereka untuk sebuah perubahan ishlah..

Di luar itu…
kita sebagai kader, janganlah berkecil hati dan menjauh dari jamaah ini. Walau bagaimanapun, tetaplah terlibat di dalamnya. Tetaplah terlibat dalam aktivitas dakwah dan sosial. aktivitas-aktivitas seperti baksos, pelayanan umum, dsb. Sambil luruskan hati, bhw ini demi mengajak manusia kepada Allah (bukan semata kepada partai). Bagaimanapun, kita tetap punya kewajiban dakwah dan melayani. Janganlah berhenti dari kegiatan menyeru dan melayani hanya semata keraguan kita pada qiyadah. Berdoalah agar Allah meluruskan mereka. Selebihnya, tetaplah bekerja, wahai saudaraku. Bekerja mengajak manusia pada Allah. Melayani kebutuhan mereka.

“Karena kita adalah Da’i sebelum yg lain” (Hasan Al Banna)

—————————-

Assalaamu ‘alaikum wr wb.

Jazakumullahu khairan atas dimuatnya tulisan al akh Syamsul Balda. Saya sudah lama tak mendengar taujih2 beliau dan tulisan2 beliau yang bernash dan kritis. Saya sejak dulu senang menyimak ide2 dan pemikiran2 beliau yang “kerap mendahului jamannya”, sehingga sering kurang difahami oleh para ikhwah.

Saya bersahabat dekat dan bersama2 berkiprah dg beliau sejak awal2 pendirian jamaah ini sekitar dekade’80 an, hingga jama’ah ini mendirikan Partai Keadilan. Saya bersama dg beliau sebagai anggota MS generasi awal. Dahulu, di majelis tsb, beliaulah yg paling gigih memperjuangkan terbentuknya partai tsb, dg argumentasi2nya yg kuat, hasil riset lapangan. Walaupun banyak dr anggota MS pd waktu itu yg menolak. Termasuk mereka semua yg sekarang ini menjadi pimpinan partai (DPP, MPP, DS). Sangat disayangkan, beliau skrg tdk lagi aktif membantu partai yg dibidani kelahirannya ini. Padahal beliau dikenal sebagai kader yg tegar menghadapi gempuran-gempuran moralitas politik.

Dlm kesempatan ini, saya mencoba urun rembug berkenaan dg tulisan al akh Syamsul Balda dan komentar2 yg berkaitan dg tulisan tsb.

Ada beberapa prinsip yg perlu kita sepakati bersama:

1. Syuro yang dihukumi wajib oleh para ulama, hanya menyangkut hal yg tdk termaktub scr langsung didlm Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi masuk dlm katagori ijtihad. Ijtihad tsb dlm proses maupun produknya, harus bersandar dan tdk boleh bertentangan dg prinsip2 umum Al-Quran dan As-Sunnah. Produk ijtihad bisa benar, bisa salah. Apabila benar wajib diikuti, apabila salah harus ditinggalkan.

2. Syuro bukan hak eksklusif para qiyadah. Dari pendapat jumhur ulama, juga yg tertuang dlm tulisan al akh Syamsul, syuro harus melibatkan seluruh umat Islam; terutama jika menyangkut hal2 strategis yg menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketika pendapat qiyadah bertentangan dengan pendapat mayoritas umat, maka qiyadah harus mengikuti pendapat mayoritas umat.

3. Apabila keputusan syuro bertentangan dg prinsip2 Al-Quran, walaupun itu kptsn para qiyadah jama’ah, maka bukan saja tidak wajib; bahkan tidak boleh, kita mengikutinya.

4. Tidak ada seorang manusia pun, baik ustadz, kiyai, ulama, professor, imam, atau qiyadah, bahkan shahabat yang ma’shum. Hanya Rasulullah SAW yang diberi anugerah kema’shuman. Sehingga tidak mutlak ditaati.

5. Jama’ah2 yang ada sekarang ini, baik Ikhwanul Muslimin, PKS, Hizbut Tahrir, Salafi, Jama’ah Tabligh, Jami’at Islami, Milighorous (Turki), Ansharus Sunnah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dll adalah BUKAN JAMA’AH MUSLIMIN, melainkan JAMA’AH MINAL MUSLIMIN. Mereka semua berlomba2 (istibaq fil khairat) menjadi Jama’ah Muslimin. Sehingga seluruh hadits-hadits yg berkaitan dg Jama’ah Muslimin belum bisa diterapkan dalam konteks Jama’ah minal Muslimin. (Termasuk keluar dari salah satu jama’ah tsb di atas tdk bisa dikategorikan murtad dari agama, sebagaimana jika keluar dr Jama’ah Muslimin).
Sehingga dalil2 yang digunakan jama’ah tsb utk memperkuat ketaatan dan loyalitas anggotanya dlm rangka membangun soliditas tanzhim/organisasi, harus dinilai sebagai proses dan produk ijtihad. Dengan demikian belum mempunyai kekuatan yang mengikat secara syar’i kepada seluruh kadernya (apalagi yg bukan kader). Sebab hal ini tidak terkait langsung dengan ketaatan kepada “nash” Ayat ataupun Hadits; melainkan ketaatan kepada “penempatan ayat atau hadits” pada tema tertentu.

6. Jama’ah2 yg ada sekarang ini, tidak/belum memiliki otoritas syar’i, sehingga belum boleh memberlakukan hukum-hukum syari’ah kepada para kader/pengikutnya, apabila mereka tidak menaati/menentang aturan jama’ah; karena persyaratan utk memberlakukan hukuman, saat ini belum terpenuhi.
Ketaatan pada aturan jama’ah juga belum bisa dikategorikan syara’ yang berkonsekwensi hukum syar’i. Dia masih dalam taraf “Mashalih mursalah”. Hal ini sederajat dengan memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk). Tidak berdosa orang yg tdk memiliki KTP, tetapi dia bersalah secara administrasi organisasi pemerintah.
Oleh karenanya, seseorang yang mati karena membela habis-habisan jama’ah ini, termasuk PKS, tidak termasuk syahid. Kecuali mereka yang mati karena membela Islam (Allah dan RasulNya). PKS tidak boleh direpresentasikan sebagai ISLAM.

7. Ketaatan kepada jama’ah minal muslimin bagi para kadernya adalah bernilai “wajib kauni”, belum “wajib syar’i”. Berbeda dg ketaatan kepada Jama’atul Muslimin yang “wajib syar’i” bagi kader dan seluruh kaum muslimin, berkonsekwensi “DOSA” bagi yang tidak menaatinya.
Ketaatan yang mutlak dan tidak bersyarat, saat ini, hanya kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih.
Apabila keputusan jama’ah tidak sesuai dengan spirit Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka setiap kader (tingkatan apapun) tidak boleh menaatinya. Apabila menaatinya, maka mungkin dia memperoleh pujian dari qiyadah, tetapi dia berdosa kepada Allah dan RasulNya.
Apabila ketaatan mutlak diberlakukan jama’ah kepada para kadernya, apakah ijtihad qiyadahnya benar atau salah, maka jama’ah tsb telah melakukan “reinkarnasi” menjadi agama baru. Contoh: Ahmadiyah, Syi’ah, Islam Jama’ah, dan yang sejenisnya.

Ketujuh prinsip dasar itulah yang harus kita sepakati bersama lebih dahulu.

1. Ikhwanul Muslimin (IM) adalah organisasi pergerakan da’wah Islam besar, yang menjadi inspirator bagi gerakan2 Islam lainnya di seluruh dunia. Jama’ah ini memiliki metode pembinaan kader dan organisasi yang cukup konprehensif. Dia memiliki tanzhim di sekitar 70 negara di dunia. Kehebatan jama’ah ini tidak menyeragamkan bentuk organisasi dan pola pembinaannya. Tetapi menyerahkan setiap tanzhim utk berijtihad sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupi negara tsb. Termasuk ijtihad dalam menentukan tahapan2 da’wah yang harus dilalui. Sehingga kita melihat jama’ah ini begitu dinamis dan kreatif tanpa kehilangan pijakan kaidah2 syar’i.

2. Hasan Al-Banna adalah seorang ulama pergerakan jenius yg mampu berijtihad merumuskan prinsip2 umum gerakan da’wah Islam. Dari produk pemikiran dan pergerakannya ini, IM berkembang hingga ke seluruh penjuru dunia. Ijtihadnya menjadi rujukan para pengikutnya.
Tetapi harus diingat bahwa, beliau bukanlah seorang Nabi yang ma’shum. Ijtihadnya sangat tepat untuk di masa beliau. Tetapi utk masa kini, dg problematika umat yg semakin kompleks, tidak semuanya tepat. Oleh karenanya perlu pembaruan pemikiran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi kekinian.

3. Secara normatif, tahapan2 da’wah hasil ijtihad beliau sudah tepat, namun dalam implementasi di lapangan tidak bisa diterjemahkan dengan kaku dan jumud.
Sebagai contoh: Tahapan ta’rif, takwin dan tanfidz itu sangat relative penerapannya, baik dalam proses maupun content nya. Tidak bisa kaku dlm pensejajaran status keanggotaan, program dan materi tarbiyah serta kadar ketaatannya. Seorang kader pemula bisa saja master atau doktor syariah, da’i senior, atau bahkan veteran mujahidin Afghan, yang telah kenyang makan asam garam da’wah dan jihad. Lalu bagaimana kita mentarbiyah dia dan memberi kadar ketaatan dalam bay’ahnya? Sementara yang mentarbiyah atau membay’ahnya, belum berpengalaman da’wah, belum pernah berjihad di medan qital; bahkan membaca Al-Qur’an pun belum lancar, tetapi sudah kader dewasa/ahli?

Bay’ah sendiri (beserta lafadz nya) adalah sebuah ijtihad dalam proses membangun konsolidasi jama’ah, yang memang diperlukan, sebagaimana sumpah pegawai ketika diangkat menjadi PNS. Dia baru bernilai syar’i ketika jama’ah ini telah (disepakati umat sedunia) menjadi jama’ah muslimin.
Lafadz bay’ah bisa menjadi batal demi syari’ah, apabila isinya bertentangan dengan nilai2 syari’ah dan kelaziman yang berlaku di masyarakat muslim.
Lembaga bay’ah tidak bisa mengotorisasi kadar ketaatan, apalagi ketaqwaan, seseorang. Bagaimanapun juga kemuliaan seseorang tidak dinilai dari status keanggotaan dalam jama’ah melalui lembaga bay’ahnya, tetapi berdasar ketaqwaannya kepada Allah. Jadi jangan sampai ada anggapan bahwa jama’ah ini adalah agen tiket menuju surga. Sehingga yang tidak bergabung di dalamnya tidak akan masuk surga. Kasihan kan saudara2 kita yang shalih di HT, Salafi, JT, NU, Muhammadiyah, atau yang tidak ikut ke mana2.

4. AD/ART jama’ah atau organisasi itu perlu, tetapi sebatas SOP utk kerapihan penataan organisasi. dia TIDAK BOLEH DIJADIKAN KITAB SUCI. Demikian pula dengan AD/ART PKS.
Dia wajib diikuti bagi yang menyadari perlunya membangun organisasi da’wah yang solid. Tetapi nilainya bukan “wajib syar’i” tetapi “wajib kauni”.
Jadi janganlah menilai keislaman seseorang dari ketaatannya kepada AD/ART Partai, tetapi nilailah dari ketaatannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Realitas dalam jama’ah ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa tidak ada jaminan sama sekali para qiyadah itu lebih taat kepada Allah dan RasulNya ketimbang kader-kader di bawah.

5. Sebagai jama’ah yang telah bermetamorfosis menjadi partai, maka Partai harus transparan dan akuntabel. Dia harus siap dikritik oleh eksternal maupun internal. Siap disorot kebaikan dan keburukannya oleh publik internal ataupun eksternal, karena dia sudah berada di atas panggung. Bukan lagi di bawah tanah sebagai OTB. Mindset ini harus sudah tertanam di kepala seluruh elemen Partai. Partai harus siap mempertanggung jawabkan seluruh keputusan politiknya di muka publik. Tidak boleh ada yang disembunyikan. Jangan terus menyimpan sampah di bawah tikar. Karena pada saatnya sampah yang di bawah tikar itu akan menggunung. Meskipun permukaan tikar mulus, tetapi anak bawangpun akan tahu bahwa ada sesuatu yang aneh di bawah tikar mulus tsb.

6. Berkaitan dengan ketaatan, tentu ada iqab (sangsi/hukuman) bagi mereka yang tidak mematuhi aturan atau keputusan jama’ah.
Lembaga iqab ini telah dijalankan di dlm Partai. Tetapi sayangnya masih hanya berlaku untuk para kader-kader dibawah. Para qiyadah yang melanggar aturan/keputusan jama’ah, bahkan melanggar syari’ah, sama sekali tidak tersentuh lembaga iqab ini.
Sebagai contoh:

a. Pada pemilu th 2004, Majelis syura Partai memutuskan untuk mendukung Amin Rais sebagai calon Presiden RI, tetapi justru Muraqib ‘Am sebagai pimpinan majelis syura menentang dan menantang keputusan syura jama’ah tsb, dg nekat mendukung Wiranto.

b. Dalam hal koalisi. MS memutuskan untuk berkoalisi dengan partai yang memiliki kesamaan ideologis, visi,dan misi, tetapi MA beseerta pendukungnya menentangnya, dan berkoaslisi dengan partai-partai yang tidak jelas ideologi dan misinya.

c. Merekayasa perubahan Nizham asasi jama’ah, dlm periode kepemimpinan Muraqib ‘Am, dari 2 (dua) periode, menjadi seumur hidup. (sekarang sudah periode ke enam). Sementara, Mursyid ‘Am utk Tanzhim ‘Alami saja hanya 2 periode. Ini bahkan melanggar Nizham ‘Am Ikhwanul Muslimin.

d. Membentuk struktur baru (MRA) yang mereduksi (menggembosi) otoritas/ kewenangan DPP. Status DPP diubah dari Dewan “Pimpinan” Pusat menjadi Dewan “Pengurus” Pusat (Lihat papan nama di DPP). Presiden Partai tidak lagi berhak memimpin dan membuat keputusan2 strategis. Dia hanya mengurus hal2 teknis yang berkaitan dg keputusan strategis yg diambil MRA. Dan jadi bemper yg babak belur,mencari dalih pembenaran apabila keputusan MRA yang aneh dipertanyakan masyarakat luas. Dalam kasus ini Sekjen Partai yg merangkap Aminul ‘Am MRA jadi jauh lebih berkuasa dari Presiden Partai.

e. Muraqib ‘Am Memberlakukan istilah “mahar” yang suci dalam syari’ah nikah, untuk Jual beli suara dalam Pilkada. Secara kasat mata bahkan jual beli jama’ah untuk mendapatkan uang. Dengan alasan apapun ini tidak bisa dibenarkan, karena telah melanggar syari’ah dan kaidah utama jama’ah.

f.Mendukung calon-calon Gubernur, Bupati, Walikota yang bermasalah dan sama sekali tidak memiliki kejelasan ideologi maupun misi. Padahal mereka adalah calon2 Imam bagi kader IM dan umat Islam di wilayahnya. Dan keputusan pemilihan tsb sama sekali tidak melalui mekanisme syura. Tetapi keputusan segelintir orang di atas, yang seringkali bertentangan dg yang diusulkan kader2 di daerah. Ini semua kerap membingungkan para kader. Tetapi mereka di doktrin: “Antum harus taat! Ini hasil syura Qiyadah! Yang tidak taat akan diiqab! dan dikeluarkan dari jama’ah!..”
Akibatnya banyak kader yg sangat potensial terpental dari jama’ah ini, hanya karena kader2 tsb menolak keputusan qiyadah yang mengharap uang dari calon Imam yang tidak jelas agamanya.

g. Banyaknya pejabat2 struktur Partai yang terlibat korupsi dan money politik, baik di Kabinet, DPR, DPRD (sudah menjadi rahasia umum); tetapi tidak ada satu pun yang dikenai iqab. Bahkan mereka sekarang dianggap pahlawan2 partai karena sumbangsihnya berupa harta dan tahta.

h. Mukernas di Bali yang ingin merubah ideologi Partai menjadi Nasionalis Pluralis, hanya diputuskan oleh segelintir qiyadah,. yang ditolak oleh mayoritas anggota MS. Alhamdulillah keputusan itu dibatalkan, setelah terjadi “keributan” internal yang mengarah pada “za’za’atuts-tsiqah” (krisis/goyah kepercayaan) kepada qiyadah tertinggi.

i. Dan masih banyak kasus lagi yang saya ketahui, yang tak mungkin diungkap di sini. Itu tadi hanya secuil contoh.

7. Akibat dari inkonsistensi qiyadah terhadap syari’ah. Partai terbelah menjadi 2 (dua) kubu. Kubu “Keadilan” (yang konsisten dengan nilai2 syari’ah dan Akhlaq), dan Kubu “Kesejahteraan” (yang konsisten mensejahterakan diri mumpung menjadi pejabat). Perpecahan ini sudah diketahui khalayak ramai di luar, baik di kalangan DPR, Kabinet, BUMN, maupun para pengusaha2 nasional.
Sungguh sangat disayangkan.

8. Adalah menjadi kewajiban, bukan sekedar hak, bagi kita semua untuk menasihati saudara-saudara kita di Partai. Dari mulai qiyadahnya (yg sulit mendengar dan selalu instruktif) hingga kader2nya (yang sulit bicara dan taqlid buta).
Nasihat itu bisa halus (kalau didengar), bisa teriak-teriak (kalau tak didengar).
Setiap muslim, sebagai konstituen, sah-sah saja berbicara dan mengingatkan para pimpinan PKS, yang nota bene para da’I kondang..
Apalagi kader, terutama kader dewasa dan ahli; wajib berbicara sekeras mungkin apabila melihat para qiyadah telah melakukan penyimpangan, dan tak mau mendengar nasihat dari ustadz lainnya..
“Undzur maa qaala walaa tandzur man qaala”.

9. Kepada para kader Partai lainnya, afwan apabila saya bicara apa adanya. Saya sudah berbicara di berbagai forum internal, ada yang mendengar ada yang tidak mau mendengar.  Dan Ini semua saya lakukan karena saya mencoba taat pada Allah dan Raulullah yang telah berpesan:
“Man ro’a minkum munkaran fal yughayyirhu biyadih, fa-illam yastati’ fabilisaanih, fa-illam yastati’ fabiqalbih, fahuwa adh’aaful iimaan.”

Wallahu a’lam bish-shawwab.
Jazakumullahu khairan katsira.
wassalamu ‘alaikum wr wb.

—————————-

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ikhwah Fillah,

Ana adalah salah seorang kader inti yang pernah menjadi salah satu staf di DPP yang akhirnya memutuskan mundur dan konsentrasi kepada dakhwah fardiyah saja.

Alasan ana mundur disamping sebab2 yang telah disampaikan yang ana yakini kebenarannya karena memang mengetahui langsung atau mendengar dari ustad yang berada di dalam MS, ana juga miris mengenai kondisi kantor DPP sekarang yang dipenuhi oleh ikhwah dari faksi Kesejahteraan (hanya sedikit yang berasal faksi keadilan).

Salah satu yang membuat miris hati ana adalah ketika ana mengetahui dengan pasti pembangunan gedung DPP yang baru yang terletak di jalan TB SImatupang. Gedung itu merupakan tanah wakaf dari seseoarang namun dibiayai oleh pengusaha CT (pemilik salah satu bank besar). Hal apa yang membuat ana sedih adalah ketika ana mengetahui bahwa CT ternyata salah satu obligor BLBI yang bermasalah.

Transaksi itu dilakukan langsung oleh Murroqib Amm dan dibantu. Itulah sebabnya PKS tidak bersikap menentang untuk masalah BLBI (yang terjadi hanya gerakan individu seperti Suripto, Marwan, namun secara kepartaian  tidak mendukung kasus BLBI di usut tuntas). Bahkan beberapa hari yang lalu Partai menyatakan puas atas penjelasan Presiden atas BLBI. Nauduzubillah min Dzalik …..

Wahai ustad, bukankah BLBI itu adalah kasus yang telah menyengsarakan rakyat?

Ketika gedung tersebut sudah bediri, ternyata masih menyisakan masalah, yaitu bagaimana mengisi gedung dengan furniture dll. Kemudian para penganut anismisme mendekati kembali CT dan meminta kesediaan dana untuk membiayai pembelian furnityre dll. Hingga sekarang belum ada jawaban dari CT, dan itulah sebabnya hingga sekarang gedung itu belum terisi.

Jika kita tanyakan kepada para qiyadah mengenai gedung itu, maka jawabannya selalu “INSYA ALLAH GEDUNG ITU DIBIAYAI OLEH PENGUSAHA YANG SHOLEH ???

Wahai Ikhwah qiyadah, stop untuk membodohi para kader! Wahai pemimpin, jangan engkau khianati rakyat yang sudah sengsara ini !! AZAB ALLAH KEPADA PARA PEMBOHONG!!

Pada kesempatan ini ana menyatakan dan menyerukan kepada diri yang telah mengharamkan berkunjung ke gedung baru PKS. “GEDUNG ITU HARAM UNTUK DIJADIKAN MARKADZ DAKWAH. UNTUK ITU JANGANLAH KALIAN DEKATI GEDUNG ITU. RUMAH GUBUG KALIAN LEBIH MULIA DARI GEDUNG YANG MEWAH ITU. TAKUTLAH KALIAN AKAN AZAB ALLAH YANG PASTI MENYIKSA PARA KAUM MUNAFIQ”

Robbana dzolamna anfusana ……

Ampunilah hamba mu Ya Rob …

Wassalamu’alaikum Wrwb

————————–

 

7 Responses to “Curhat”

  1. ainspirasi Says:

    Afwan kita harus tetap berada dalam shaf. Sebelum menjadi pemimpin yang baik awali menjadi jundi yang baik.

  2. adi Says:

    Sama Mas… keluhan-ku sama dengan yg mas sebutin tentang PKS… sedih aku…
    Sepertinya mereka lupa dengan perjuangan tulus kader-kadernya…
    Yang dah jadi malah jumawa…

  3. dir88gun2 Says:

    assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Gak Jelas?😐

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

  4. ichsan Says:

    waduuuh…ane jadi sedddihhh…hiks..hiks..hiks..besok udeh lebaran, ko harga minyak masih tinggi, harga cabe naik terus, apalagi harga daging…mane nihh janji petinggi-petinggi PKS, katenye mo bawe suare rakyat, eh ga taunye dah pade bosen jadi rakyat mendingan jadi pejabat biar sedikit bau penjahat.

  5. Tetaplah menaruh harapan kepada Alloh, jangan kepada manusia.

    Karena bila itu terjadi muncullah kekecewaan-kekecewaan yang pada akhirnya menyalahkan pihak lain.

    Siapapun yang menyatakan dirinya kader dakwah, tidak patut dan etis bila mengumbar sebuah analisa liar tanpa dasar diranah publik.

    Semoga semua pihak lebih bisa arief dalam melangkah dan bersikap, karena segala yang kita tuliskan akan dimintai pertanggungjawabanya kelak.

    nb. Bila bukan kader PKS, jangan mengaku-ngaku.

    • ainspirasi Says:

      eh afwan ya. Ente bacanya yang bener dong. Masak tidak bisa bedakan nangka dan duren. Antum lebih percaya analisa ini atau lebih percaya halaqoh pecanan? Sejujurnya saja dalam teori ilmiyah sesuatu hanya bisa jadi acuan kalau jelas analisanya. Ingat gak analisis ustadz Gus Pur yang berkata “….” maka engkau akan terkenal. Udah dech antum baca terus saja…^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s