Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Jadilah Manusia Dakwah December 16, 2008

Filed under: Selingan,Wawasan — ainspirasi @ 7:59 am
Tags:

Semenjak etika Muhammad bin Abdullah dilantik Allah menjadi Rasul, semangat dalam jiwanya membara-bara. Di dalam jiwanya ada sesuatu yang ingin segera dikumandangkan. Ada hal penting yang ingin segera disuarakan ke tengah khalayak. Kepada Khadijah istrinya, Muhammad berkata, “Wahai istriku, aku telah diangkat oleh Allah menjadi seorang Rasul, sejak hari ini tidak ada lagi waktuku untuk tidur!”

Sungguh sangat menakjubkan. Ucapan itu keluar dari manusia pilihan; pemimpin yang agung; guru yang bijaksana; dai yang luhur; insan pekerja keras dan berbagai gelar yang menunjukkan kemuliaannya.

Itulah sifat-sifat yang menonjol dalam diri Rasulullah saw., sifat-sifat seorang muslim yang sejati. Mereka yang telah mengaku mengikuti jejak-jejak kehidupan Rasululullah dan para pembela agama Allah perlu memetik langkah taluladan, yang di antaranya bisa diuraikan berikut:

Pertama, beriman dan beramal shalih. Dua kata yang sulit untuk dipisahkan. Orang beriman cerminan hidupnya bisa dilihat dari amal shalihnya, dan orang bisa beramal yang baik karena ada benih iman di dadanya. Amal shalih merupakan buah dari iman.

Tidak ada dalam kamus hidup orang beriman keinginan untuk bersantai ria. Dia selalu sibuk dan mencari kesibukan. Ada perasan rugi bila waktu berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang dihasilkan. Selesai suatu urusan ia akan bergegas mengejar urusan lain yang sudah menantinya. Ia benar-benar dikejar firman Allah, “Faidzaa faraghta fanshob.

Beramal shalih itulah pekerjaannya. Hidupnya dihiasi dengan pengabdian yang didasari oleh keimanan. Iman dalam dadanya mengarahkan dirinya mengenal hakikat hidup ini. Bahwa dunia, baginya hanyalah tempat pemberhentian sementara. Sebagai terminal persinggahan yang hanya sebentar, untuk terus dilanjutkan perjalanan yang panjang di akhirat sana. Sehingga orang beriman mempersiapkan diri dengan memperbanyak beramal. Agar perjalanan panjang itu bisa dilaluinya dengan mulus.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Kedua, berdakwah. Perasaan senang, bahagia, damai dan sejuk yang dirasakannya berkat keimanan, ingin selalu dikabarkan kepada orang lain. Apa yang dirasakannya, ingin selalu disampaikan, agar orang lainpun merasakannya. Dorongan untuk mengajak sesamanya agar melangkan di jalan yang lurus yang diridhai Allah menjadi motivasi hidupnya.

Berdakwah sudah menjadai bagian dari kehidupannya. Setiap saat dalam ungkapan yang keluar dari lisannya terselip seruan untuk beribadah dan beramal, berakhlak mulia dan menguatkan aqidah. Senantiasa terbawa di sana ajakan untuk berbuat dan melangkah yang baik dan menghindari dari kemungkaran.

Tiada kesempatan tanpa menyeru agar menuju jalan Tuhan. Semuanya digunakan untuk mengajak mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Menginformasikan akan adanya perkabaran penuh bahagia dan sengsara di hari kemudian. Memberitahu akan adanya neraka dan syurga, adanya siksaan dan kesenangan.

Resah-gelisah muncul dalam hatinya bila melihat kemungkaran ada disekelilingnya. Jiwanya menjadi tidak tenang sebelum berhasil mengusir kebathilan itu dengan menegakkan al-haq.

Ketiga, bersabar. Konsekuensi seorang juru dakwah harus siap menerima tentangan dan rintangan, juga berbagai bentuk gangguan, cobaan dan siksaan. Hal-hal semacam itu sudah menjadi aksioma bagi para juru dakwah, bagi para pengemban risalah Tuhan. Untuk itulah diperlukan kesabaran dalam menghadapinya.

Para penegak kebenaran sejak zaman Nabi hingga hari ini, pastilah akan menjadi ajang bidikan permusuhan bagi pasukan-pasukan pembela syetan. Kisah-kisah yang termaktub dalam al-Qur’an memberi banyak pelajaran tentang berbagai tindak intimidasi, teror dan tekanan-tekanan mental yang melelahkan.

Nabiyullah Ibrahim mendapat rintangan bukan saja dari presidennya, tapi juga dari orang yang sangat dikasihinya, orang tuanya sendiri. Beliau ditangkap hidup-hidup oleh sang penguasa Namruj dan dipanggang hidup-hidup. Namun Allah dengan kalimat-Nya yang mulia memberinya pertolongan, sehingga api yang menjilat kulitnya tidak terasa panas. Tidak sampai membakar.

Apa yang dialami olah Nabiyullah Musa as tidak kalah beratnya. Beliau menghadapi sang penguasa zalim Fir’aun, yang memburunya sampai diperbatasan pantai Laut Merah. Namun akhirnya Allah menyelamatkan Musa as dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya.

Begitu pula yang dialami oleh Muhammad bin Abdullah penutup para nabi dan rasul, tiada hari tanpa cacian dan makian. Akan tetapi Rasulullah menerimanya dengan sabar. Bahkan kepada orang yang menentannya sekalipun didoakan agar mereka mendapatkan petunjuk.

Sikap sabar yang dijalani Rasulullah saw membuahkan hasil yang spektakuler. Para penentangnya sedikit demi sedikit berkurang, bahkan berbalik haluan menjadi pendukung-pendukungnya yang setia. Mereka yang telah menemukan jalan Islam itu muncul menjadi pembela-pembela yang siap berkorban segala-galanya.

Dengan kesabaran, kemenangan akan datang. Orang yang memiliki kesabaran ibarat menyimpan kekuatan. Energinya tidak habis untuk mengumpat dan memeras isi pikirannya karena dilanda putus asa.

Ketiga sifat ini dimiliki oleh Rasulullah saw yang merupakan penjabaran dari surat al-‘Ashr yang menyuruh manusia untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)

Jika ketiga sifat ini didimiliki oleh segenap mujahid dakwah, insya Allah dakwahnya akan membuahkan hasil yang memuaskan. Usaha mulianya akan mendapatkan keberuntungan dan kemuliaan.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, bahwa cukuplah Allah turunkan surah al-‘Ashr, maka banyak persoalan dunia ini selesai. Dengan memahami surah ini secara baik, manusia akan menjalani roda kehidupan ini dalam jalur yang mengantarkannya menjadi orang yang beruntung. Baik di dinia maupun di akhirat.

Untuk itu selaku muslimin, terlebih yang tealh sadar bahwa berdakwah merupakan pekerjaan melekat yang tidak akan bisa dilepaskan, selayaknya memiliki sifat mulia ini sebagai sifat agung yang diwariskan oleh Rasulullah saw.

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

Tidak usah latah

Sebagai penyampai kebenaran, kita sebaiknya bisa membaca perkembangan dengan penuh arif dan bijaksana. Di tengah situasi kritis, bisalah kita mengendalikan diri. Keadaan sering membuat kita terpancing untuk ‘urun tembung‘ dari mimbar, dengan alasan yang cukup bagus, mumpung aktual. Tapi bila ulasan-ulasan itu tidak menambah ilmu, sebaliknya menambah kelelahan pikiran para jamaah, maka apalah artinya.

Keterpancingan kepada kondisi yang ‘temporal‘ seperti itu sering malah menambah jenuh. Terlebih lagi bila data-data yang dikemukakan tidak valid, kurang tepat, dan terkesan asal-asalan, maka akan membuat nilai taushiyah manjadi hambar. Para jamaah sekeluar dari masjid tidak mendapatkan kesegaran ruhani, akan tetapi justru terbebani dengan bentuk dakwah yang seperti itu.

Alangkah baik bila kita sebagai manusia dakwah tetap berpegang pada khittah dakwah, yakni mengembalikan para jamaah kepada keimanan dan ketaqwaan. Kuatkan benteng pertahanan aqidahnya, berikan motivasi yang kuat agar ibadah dapat ditingkatkan terus-menerus. Tanpa mengesampingkan kepentingan unsur-unsur yang lain, dekat kepada Allah merupakan kunci setiap permasalahan. Jangan buang kunci itu hanya karena pertimbangan-pertimbangan perasaan dan semacamnya. Allah SWT berfirman:

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Fath: 26)

Juga dalam firmanNya yang lain: “Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharataan kepadamu.” (QS. Ali Imran:120)

Menjadi manusia dakwah berarti memberikan lampu penerang di tengah kegelapan, bukan justru menambah keruwetan.

http://alqalam.8m.com/viii/qal07.htm