Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Jadilah Manusia Dakwah December 16, 2008

Filed under: Selingan,Wawasan — ainspirasi @ 7:59 am
Tags:

Semenjak etika Muhammad bin Abdullah dilantik Allah menjadi Rasul, semangat dalam jiwanya membara-bara. Di dalam jiwanya ada sesuatu yang ingin segera dikumandangkan. Ada hal penting yang ingin segera disuarakan ke tengah khalayak. Kepada Khadijah istrinya, Muhammad berkata, “Wahai istriku, aku telah diangkat oleh Allah menjadi seorang Rasul, sejak hari ini tidak ada lagi waktuku untuk tidur!”

Sungguh sangat menakjubkan. Ucapan itu keluar dari manusia pilihan; pemimpin yang agung; guru yang bijaksana; dai yang luhur; insan pekerja keras dan berbagai gelar yang menunjukkan kemuliaannya.

Itulah sifat-sifat yang menonjol dalam diri Rasulullah saw., sifat-sifat seorang muslim yang sejati. Mereka yang telah mengaku mengikuti jejak-jejak kehidupan Rasululullah dan para pembela agama Allah perlu memetik langkah taluladan, yang di antaranya bisa diuraikan berikut:

Pertama, beriman dan beramal shalih. Dua kata yang sulit untuk dipisahkan. Orang beriman cerminan hidupnya bisa dilihat dari amal shalihnya, dan orang bisa beramal yang baik karena ada benih iman di dadanya. Amal shalih merupakan buah dari iman.

Tidak ada dalam kamus hidup orang beriman keinginan untuk bersantai ria. Dia selalu sibuk dan mencari kesibukan. Ada perasan rugi bila waktu berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang dihasilkan. Selesai suatu urusan ia akan bergegas mengejar urusan lain yang sudah menantinya. Ia benar-benar dikejar firman Allah, “Faidzaa faraghta fanshob.

Beramal shalih itulah pekerjaannya. Hidupnya dihiasi dengan pengabdian yang didasari oleh keimanan. Iman dalam dadanya mengarahkan dirinya mengenal hakikat hidup ini. Bahwa dunia, baginya hanyalah tempat pemberhentian sementara. Sebagai terminal persinggahan yang hanya sebentar, untuk terus dilanjutkan perjalanan yang panjang di akhirat sana. Sehingga orang beriman mempersiapkan diri dengan memperbanyak beramal. Agar perjalanan panjang itu bisa dilaluinya dengan mulus.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Kedua, berdakwah. Perasaan senang, bahagia, damai dan sejuk yang dirasakannya berkat keimanan, ingin selalu dikabarkan kepada orang lain. Apa yang dirasakannya, ingin selalu disampaikan, agar orang lainpun merasakannya. Dorongan untuk mengajak sesamanya agar melangkan di jalan yang lurus yang diridhai Allah menjadi motivasi hidupnya.

Berdakwah sudah menjadai bagian dari kehidupannya. Setiap saat dalam ungkapan yang keluar dari lisannya terselip seruan untuk beribadah dan beramal, berakhlak mulia dan menguatkan aqidah. Senantiasa terbawa di sana ajakan untuk berbuat dan melangkah yang baik dan menghindari dari kemungkaran.

Tiada kesempatan tanpa menyeru agar menuju jalan Tuhan. Semuanya digunakan untuk mengajak mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Menginformasikan akan adanya perkabaran penuh bahagia dan sengsara di hari kemudian. Memberitahu akan adanya neraka dan syurga, adanya siksaan dan kesenangan.

Resah-gelisah muncul dalam hatinya bila melihat kemungkaran ada disekelilingnya. Jiwanya menjadi tidak tenang sebelum berhasil mengusir kebathilan itu dengan menegakkan al-haq.

Ketiga, bersabar. Konsekuensi seorang juru dakwah harus siap menerima tentangan dan rintangan, juga berbagai bentuk gangguan, cobaan dan siksaan. Hal-hal semacam itu sudah menjadi aksioma bagi para juru dakwah, bagi para pengemban risalah Tuhan. Untuk itulah diperlukan kesabaran dalam menghadapinya.

Para penegak kebenaran sejak zaman Nabi hingga hari ini, pastilah akan menjadi ajang bidikan permusuhan bagi pasukan-pasukan pembela syetan. Kisah-kisah yang termaktub dalam al-Qur’an memberi banyak pelajaran tentang berbagai tindak intimidasi, teror dan tekanan-tekanan mental yang melelahkan.

Nabiyullah Ibrahim mendapat rintangan bukan saja dari presidennya, tapi juga dari orang yang sangat dikasihinya, orang tuanya sendiri. Beliau ditangkap hidup-hidup oleh sang penguasa Namruj dan dipanggang hidup-hidup. Namun Allah dengan kalimat-Nya yang mulia memberinya pertolongan, sehingga api yang menjilat kulitnya tidak terasa panas. Tidak sampai membakar.

Apa yang dialami olah Nabiyullah Musa as tidak kalah beratnya. Beliau menghadapi sang penguasa zalim Fir’aun, yang memburunya sampai diperbatasan pantai Laut Merah. Namun akhirnya Allah menyelamatkan Musa as dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya.

Begitu pula yang dialami oleh Muhammad bin Abdullah penutup para nabi dan rasul, tiada hari tanpa cacian dan makian. Akan tetapi Rasulullah menerimanya dengan sabar. Bahkan kepada orang yang menentannya sekalipun didoakan agar mereka mendapatkan petunjuk.

Sikap sabar yang dijalani Rasulullah saw membuahkan hasil yang spektakuler. Para penentangnya sedikit demi sedikit berkurang, bahkan berbalik haluan menjadi pendukung-pendukungnya yang setia. Mereka yang telah menemukan jalan Islam itu muncul menjadi pembela-pembela yang siap berkorban segala-galanya.

Dengan kesabaran, kemenangan akan datang. Orang yang memiliki kesabaran ibarat menyimpan kekuatan. Energinya tidak habis untuk mengumpat dan memeras isi pikirannya karena dilanda putus asa.

Ketiga sifat ini dimiliki oleh Rasulullah saw yang merupakan penjabaran dari surat al-‘Ashr yang menyuruh manusia untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)

Jika ketiga sifat ini didimiliki oleh segenap mujahid dakwah, insya Allah dakwahnya akan membuahkan hasil yang memuaskan. Usaha mulianya akan mendapatkan keberuntungan dan kemuliaan.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, bahwa cukuplah Allah turunkan surah al-‘Ashr, maka banyak persoalan dunia ini selesai. Dengan memahami surah ini secara baik, manusia akan menjalani roda kehidupan ini dalam jalur yang mengantarkannya menjadi orang yang beruntung. Baik di dinia maupun di akhirat.

Untuk itu selaku muslimin, terlebih yang tealh sadar bahwa berdakwah merupakan pekerjaan melekat yang tidak akan bisa dilepaskan, selayaknya memiliki sifat mulia ini sebagai sifat agung yang diwariskan oleh Rasulullah saw.

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)

Tidak usah latah

Sebagai penyampai kebenaran, kita sebaiknya bisa membaca perkembangan dengan penuh arif dan bijaksana. Di tengah situasi kritis, bisalah kita mengendalikan diri. Keadaan sering membuat kita terpancing untuk ‘urun tembung‘ dari mimbar, dengan alasan yang cukup bagus, mumpung aktual. Tapi bila ulasan-ulasan itu tidak menambah ilmu, sebaliknya menambah kelelahan pikiran para jamaah, maka apalah artinya.

Keterpancingan kepada kondisi yang ‘temporal‘ seperti itu sering malah menambah jenuh. Terlebih lagi bila data-data yang dikemukakan tidak valid, kurang tepat, dan terkesan asal-asalan, maka akan membuat nilai taushiyah manjadi hambar. Para jamaah sekeluar dari masjid tidak mendapatkan kesegaran ruhani, akan tetapi justru terbebani dengan bentuk dakwah yang seperti itu.

Alangkah baik bila kita sebagai manusia dakwah tetap berpegang pada khittah dakwah, yakni mengembalikan para jamaah kepada keimanan dan ketaqwaan. Kuatkan benteng pertahanan aqidahnya, berikan motivasi yang kuat agar ibadah dapat ditingkatkan terus-menerus. Tanpa mengesampingkan kepentingan unsur-unsur yang lain, dekat kepada Allah merupakan kunci setiap permasalahan. Jangan buang kunci itu hanya karena pertimbangan-pertimbangan perasaan dan semacamnya. Allah SWT berfirman:

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Fath: 26)

Juga dalam firmanNya yang lain: “Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharataan kepadamu.” (QS. Ali Imran:120)

Menjadi manusia dakwah berarti memberikan lampu penerang di tengah kegelapan, bukan justru menambah keruwetan.

http://alqalam.8m.com/viii/qal07.htm

 

Penyimpangan-Penyimpangan Dalam Gerakan Da’wah Islam December 9, 2008

Filed under: Visi — ainspirasi @ 4:49 am
Tags: , ,

dakwah.info
Oleh: Abu Ridho

Alhamdulillah gerakan da’wah ini di Indonesia ini telah mencapai usia seperempat abad. Suatu usia yang tidak bisa lagi
dipandang kanak-kanak. Ia telah dewasa dan melebihi usia baligh. Oleh karenanya, setiap muncul permasalahan yang
menyangkut kehidupan gerakan ini mestilah diselesaikan secara mandiri dengan pendekatan yang bijak dan arif.
Berbagai peristiwa yang menghiasi perjalanan pergerakan ini, dari yang menyenangkan hingga yang menegangkan, dari masalah da’wah hingga daulah, tentu akan menjadi modal bagi proses pendewasaan gerakan da’wah ini. Beragam
problema yang menggeluti pergerakan ini, niscaya akan menjadi suplemen yang akan mempercepat proses pembesaran tubuh gerakan ini, apabila disikapi secara positif.
Apabila gerakan ini istiqamah memegang prinsip-prinsip Islam dan setia mengikuti manhaj da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, saya yakin, gerakan ini akan selamat mencapai tujuannya, walaupun dalam perjalanannya kerap ditimpa badai yang dahsyat. Tetapi sebaliknya, apabila gerakan ini menyimpang dari prinsip dan manhaj yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka yakinlah bahwa gerakan ini tidak akan berumur panjang. Dia akan mudah jatuh terjerembab, walaupun hanya terantuk kerikil kecil.
Dalam kesempatan ini saya akan mengungkapkan beberapa bentuk penyimpangan-penyimpangan dalam gerakan
Islam yang dapat menjadi batu sandungan bagi keberlangsungan gerakan da’wah Islam. Pembahasan ini sengaja saya
sampaikan agar para aktifis da’wah dapat terhindar dari sandungan-sandungan yang membahayakan ini.

Jalan Da’wah adalah Jalan Satu-satunya

Tujuan da’wah Islam adalah li i’laa-i kalimatillah, untuk menegakkan syari’at Allah di muka bumi ini. Yaitu tegaknya
suatu system kehidupan yang mengarahkan manusia pada suatu prosesi penghambaan hanya kepada Allah saja.
Apabila syari’at Allah belum tegak, maka beragam prosesi penghambaan kepada selain Allah akan marak dan terus
tumbuh subur.
Untuk mencapai tujuan tersebut, hanya ada satu jalan, yaitu: jalan da’wah. Inilah jalan yang telah ditempuh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul-Rasul sebelumnya, juga para shiddiqin, syuhada dan shalihin, sebagaimana
wasiat Allah swt kepada Rasul-Nya:
“Dan inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah engkau ikuti jalan-jalan lain, karena itu semua akan
menyesatkanmu dari jalan-Nya. Itulah yang telah diwasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am:153)
Di atas jalan inilah Rasulullah beserta pengikut-pengikutnya melangkah, walaupun jalan tersebut berliku, terjal, penuh
onak duri bahkan binatang-binatang buas yang siap menerkam. Beliau dan pengikutnya tidak akan berhenti hingga tidak ada lagi fitnah dan sistem Allah (Dienullah) tegak di muka bumi ini secara total.
“…hingga tidak ada lagi fitnah, dan Dien seluruhnya adalah milik Allah.” (QS. Al-Anfal:39).
Sehubungan dengan ini Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menyatakan, “Jalan da’wah adalah jalan satu-satunya.
Jalan yang dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.Jalan yang juga dilalui para da’i yang
mendapat taufiq Allah. Bagi kita, jalan ini adalah jalan iman dan amal, cinta dan persaudaraan. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam mengajak para sahabat kepada iman dan amal. Menyatukan hati mereka dengan jalinan cinta dan
persaudaraan. Maka, terhimpunlah kekuatan aqidah yang menjadi kekuatan wahdah (persatuan). Jadilah mereka
jama’ah yang ideal. Kalimatnya pasti tegak dan da’wahnya pasti menang, walaupun seluruh penduduk bumi

memusuhinya.” Beliau memilih jalan yang telah dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini dengan berlandaskan pada tiga kekuatan: kekuatan aqidah dan iman, kekuatan wahdah dan irtibath (jalinan yang kohesif), serta kekuatan senjata dan militer. Beliau juga menentukan tahapan-tahapan perjuangan da’wah dan aktivitas gerakan, yaitu marhalah ta’rif (tahap pengenalan), marhalah takwin (tahap pengkaderan) dan marhalah tanfidz (tahap operasional). Disamping juga menetapkan target dan sasaran yang berjenjang melalui proses tarbiyah, yaitu:
* Terbentuknya pribadi muslim yang ideal
* Terwujudnya keluarga muslim yang bertaqwa
* Terbinanya masyarakat muslim yang responsif terhadap seruan Allah
* Tegaknya pemerintahan Islam yang berlandaskan syari’at Allah.
* Tegaknya Daulah Islamiyah di bawah koordinasi Khilafah Islamiyah, hingga menjadi tauladan dunia, dengan idzin
Allah.
Demikianlah beliau dengan para ikhwan lainnya memahami dan mengamalkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Dan dalam mengorganisir gerakan da’wahnya, beliau tentukan rukun bai’at yang sepuluh (arkaul bai’at al-
&lsquo;asyarah), dan menjadikan faham (pemahaman) sebagai rukun bai’at yang pertama dan utama. Kemudian
meletakkan prinsip-prinsip yang dua puluh, sebagai kerangka yang menjelaskan pemahaman ini.
Gerakan Ikhwanul Muslimin yang beliau dirikan inilah yang menginspirasi munculnya gerakan-gerakan Islam lain di
seluruh penjuru dunia. Termasuk gerakan-gerakan Islam di Indonesia sebagian besar merujuk pada manhaj da’wah
yang dirumuskan oleh para ulama Ikhwan.

Penyimpangan Dalam Gerakan Da’wah
Setelah mengalami berbagai kendala, ujian dan cobaan, alhamdulillah gerakan da’wah kita semakin diperhitungkan oleh banyak kalangan, terutama setelah gerakan ini memasuki mihwar siyasi (orbit politik) dengan memunculkan sebuah partai da’wah. Tentu banyak nilai positif yang dapat kita petik dari kehadiran partai da’wah ini, disamping ada pula eksesekses negatifnya, bagi da’wah itu sendiri.
Semakin besar dukungan masyarakat terhadap partai ini, tentu semakin besar pula beban tanggung jawab yang harus
dipikul. Adalah manusiawi apabila dalam proses perjalanan gerakan da’wah di ranah politik ini ada oknum-oknum aktifis da’wah (da’i) yang tergelincir dari jalan da’wah ini. Apalagi apabila partai ini semakin besar, maka kans terjadinya penyimpangan di kalangan pengurus partai pun akan semakin besar. Oleh karenanya mengetahui bentuk-bentuk penyimpangan da’wah menjadi keharusan, agar kita semua terhindar darinya.
Diantara bentuk-bentuk penyimpangan dalam gerakan da’wah ini adalah:
1. Penyimpangan dalam Ghayah (Tujuan)
Penyimpangan ini termasuk penyelewengan yang paling berbahaya. Tujuan da’wah secara moral adalah semata-mata
karena Allah Ta’ala. Apabila ada motif selain itu, seperti motif-motif duniawi atau kepentingan pribadi yang tersembunyi, adalah penyimpangan.
Setiap penyimpangan tujuan, meskipun ringan atau kecil, tetap akan menyebabkan amal tersebut tertolak.
Penyimpangan ini tidak harus berarti mengarahkan motif secara total ke tujuan duniawi. Tetapi sedikit saja niat yang ada di dalam hati bergeser dari Allah, maka sudah termasuk penyimpangan. Allah tidak akan pernah menerima amal
seseorang kecuali yang ikhlas karena-Nya. (QS. Az-Zumar:3, 11-14, Al-Bayyinah:5)
Riya’, ghurur (lupa diri), sombong, egois, gila popularitas, merasa lebih cerdas, lebih pengalaman, lebih luas
wawasannya, lebih mengerti syari’ah dan da’wah, terobsesi asesoris duniawi, seperti: jabatan, kehormatan, kekuasaan,
kekayaan; adalah penyakit-penyakit hati yang menyimpangkan para da’i dari tujuan da’wah yang sebenarnya.
Berda’wah itu harus bebas dari kebusukan. Barangsiapa yang berniat baik dan ikhlas, Allah akan menjadikannya
sebagai pengemban da’wah. Barangsiapa menyimpan kebusukan di dalam hatinya, Allah sekali-kali tidak akan
menyerahkan da’wah ini kepadanya.

Demikian pentingnya ikhlas ini hingga Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjadikannya salah satu dari rukun bai’at. Seluruh kader wajib berkomitmen dengannya. Menepati dan menjaganya dari segala noda, agar gerakan da’wah ini tetap bersih dan suci.

Menurut Imam Hasan Al-Banna rahimahullah, pengertian ikhlas adalah menujukan semua ucapan, perbuatan, perilaku dan jihadnya hanya kepada Allah semata; demi mencari ridha dan pahala-Nya, tanpa mengharapkan keuntungan, popularitas, reputasi, kehormatan, atau karir. Dengan keikhlasan ini seorang kader da’wah akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah; bukan pengawal kepentingan dan keuntungan.
2. Penyimpangan dalam Ahdaf (Sasaran Utama)
Imam Hasan Al-Banna rahimahullah menjelaskan sasaran yang hendak dituju, yakni menegakkan syari’at Allah di muka bumi dengan mendirikan Daulah Islamiyah, dan mengembalikan kejayaan Khilafah Islamiyah, sembari menyerukan Islam kepada seluruh manusia.
Dalam risalahnya yang berjudul “Bayna al-Ams wa al-Yaum” (“Antara Kemarin dan Hari ini”), Imam Al-Banna
rahimahullah mengatakan: “Ingatlah! Kalian mempunyai dua sasaran utama yang harus diraih: Pertama, membebaskan bumi Islam dari semua bentuk penjajahan asing. Kemerdekaan, adalah hak asasi manusia. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang zhalim, durhaka dan tiran.

Kedua, menegakkan di Negara yang dimerdekakan itu, berupa Negara Islam Merdeka, yang bebas melaksanakan
hukum-hukum Islam, menerapkan sistem sosial, politik, ekonominya, memproklamirkan Undang-Undang Dasarnya yang
lurus, dan menyampaikan da’wah dengan hikmah. Selama Negara Islam belum tegak, maka selama itu pula seluruh
umat Islam berdosa, dan akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.
Disebabkan keengganan mereka menegakkan syari’at dan Negara Islam, serta ketidakseriusan mereka dalam upaya
mewujudkannya.”
Dalam risalah Al-Ikhwan Al-Muslimun “Di bawah bendera Al-Qur’an”, beliau menjelaskan tugas dan target gerakan
da’wah ini: “Tugas besar kita adalah membendung arus materialisme, menghancurkan budaya konsumerisme dan budaya-budaya negatif yang merusak umat Islam. Materialisme dan konsumerisme menjauhkan kita dari kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan petunjuk Al-Qur’an, menghalangi dunia dari pancaran hidayah-Nya, dan menunda kemajuan Islam ratusan tahun. Seluruh faham dan budaya tersebut harus dienyahkan dari bumi kita, sehingga umat Islam selamat dari fitnahnya.

Kita tidak berhenti sampai di sini. Kita akan terus mengejarnya sampai tempat asalnya, dan menyerbu ke markasnya,
hingga seluruh dunia menyambut seruan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dunia ini terselimuti ajaran-ajaran Al-Qur’an, dan nilai-nilai Islam yang teduh menaungi seisi bumi. Pada saat itulah sasaran dan target kaum Muslimin tercapai.”
Dalam menyoroti keadaan negeri-negeri Muslim sekarang ini beliau menyatakan dengan gamblang:
“Sungguh ini merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan. Idealitas Undang-Undang Dasar Islam berada di satu sisi,
sedangkan realitas objektifnya berada di sisi lain. Karena itu ketidakseriusan para aktifis da’wah untuk memperjuangkan diberlakukannya hukum Islam adalah suatu tindakan kriminal; yang menurut Islam tidak dapat diampuni dosanya kecuali dengan upaya membebaskan sistem pemerintahan dari tangan pemerintah yang tidak memberlakukan hukum-hukum Islam secara murni dan konsekuen.”
Demikianlah ahdaf (sasaran utama) dari gerakan da’wah ini dirumuskan oleh tokoh utama dan pemimpin gerakan
da’wah kotemporer, Imam Hasan Al-Banna rahimahullah. Jadi, apabila ada aktifis da’wah (da’i) yang menyatakan bahwa partai da’wah ini tidak akan memperjuangkan syari’at Islam, dengan alasan apapun (politis maupun diplomatis), jelas telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah yang utama. Mestinya mereka justru menyebarkan opini tentang kewajiban menegakkan syari’ah bagi setiap muslim, secara massif, bukan malah menyembunyikanya. Apalagi di era reformasi yang setiap orang bebas bicara apa saja karena dilindungi Undang-Undang.

Kemudian, apabila partai da’wah berkoalisi dengan partai, organisasi, atau komunitas lain yang berbasis ideologi asing, juga telah menyimpang. Karena tugas gerakan da’wah Islam adalah membebaskan umat dari penjajahan atau dominasi asing, baik itu ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial. Bukan malah bekerjasama dalam ketidakjelasan maksud dan tujuan.
Para kader da’wah atau da’i yang terpengaruh kemudian menganut paham materialisme dan gaya hidup konsumerisme

juga telah menyimpang dan menyeleweng dari sasaran gerakan da’wah ini. Mereka seharusnya memberi contoh berupa keteladanan hidup yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sederhana dan santun dalam keinginan dan kebutuhan. Kesalahan dan dosa mereka hanya bisa ditebus dengan menyosialisasi kewajiban menegakkan syari’at kepada seluruh elemen umat, dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh; serta menghindari diri dari sikap dan perilaku materialistis dan konsumtif.
3. Penyimpangan dalam Pemahaman
Salah satu persoalan mendasar dalam gerakan da’wah adalah: Pemahaman. Pemahaman yang benar dan utuh tentang
Islam dan manhaj da’wah Islam menjadi krusial, sebab kekeliruan pemahaman akan Islam dan manhaj da’wahnya
menjadikan gerakan ini berbelok arah, sehingga tidak akan pernah sampai ke tujuan.
Imam Al-Banna rahimahullah memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan pemahaman ini. Ia curahkan
segenap kemampuannya untuk menyuguhkan Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
dalam wujudnya yang bersih dari segala bentuk penyimpangan, baik dalam hal aqidah, ibadah dan syari’ah. Terhindar
dari pertentangan yang dapat memecah belah umat, dan distorsi hakikat Islam yang dilakukan para musuh Islam di
masa lalu maupun kini. Dan beliau menjadikan pemahaman ini rukun bai’at yang pertama dan utama.
Bentuk-bentuk penyimpangan dalam pemahaman ini, antara lain:
1. Mengadopsi pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan pemahaman yang benar tentang Islam, Al-Qur’an dan
Sunnah shahih, melontarkan dan menyosialisasikan pemikiran aneh tersebut sehingga membuat bingung umat.
2. Menolak hadits-hadits shahih dan hanya menerima Al-Qur’an saja. Mengutamakan rasionalitas ketimbang haditshadits shahih, dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara tendensius tanpa kaidah-kaidah yang benar.
3. Memaksakan semua kader da’wah untuk mengikuti satu pendapat ijtihadiyah dalam masalah furu’ yang memiliki
beberapa penafsiran pendapat. Pemaksaan seperti ini akan mengubah gerakan/jama’ah da’wah menjadi firqah, atau
madzhab tertentu; yang bukannya tidak mungkin akan dengan mudahnya mengeluarkan statement: “Siapa yang
sependapat dengan kami maka dia adalah golongan kami. Yang tidak sependapat, dia bukan golongan kami, maka
pergilah menjauh dari kami.”

Perlu diingat bahwa gerakan da’wah ini didirikan bukan atas dasar madzhab tertentu dalam masalah furu’. Gerakan ini
harus dapat merekut semua umat Islam untuk mempersatukan mereka dalam bingkai aqidah.
Dalam menghadapi masalah-masalah furu’ ini, hendaknya diambil yang lebih kuat dalil dan argumentasinya, dan tidak
mengecilkan atau menyepelekan pendapat orang lain, meskipun ia berada di luar orbit gerakan da’wah ini. Islam
mengajarkan kita melihat content (esensi) pendapatnya, bukan siapa yang berpendapat.

4. Memperbesar masalah-masalah juz’iyah dan far’iyah, dengan mengenyampingkan masalah kulliyat (prinsip).
Imam Hasan Al-Banna rahimahullah telah menghimbau kita agar kembali kepada kaidah bijaksana: “Hendaknya kita
bekerjasama dalam hal yang disepakati, dan saling tenggang rasa dalam masalah yang masih diperselisihkan.”

5. Membatasi gerakan da’wah ini membicarakan Islam dalam hal-hal tertentu yang tidak menyinggung para penguasa
pemerintahan maupun para pemimpin gerakan da’wah Islam. Padahal kita diwajibkan menyuguhkan Islam secara utuh, mengajak dan mengamalkannya secara utuh pula.
4. Penyimpangan dalam Khiththah (Langkah-Langkah Strategis)
1. Mengikuti Pola Partai Politik Sekuler.
Dalam hal ini menjadikan politik sebagai panglima, bukan lagi da’wah. Menitik beratkan pada faktor kuantitas
pendukung (bukan kualitas), dengan tujuan mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya dalam pemilu.
Ini merupakan penyimpangan yang membahayakan bangunan da’wah. Sasaran kita bukan sekedar mencari orang
yang mau memberkan suaranya di pemilu, tetapi kita membutuhkan orang yang siap mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah.
Kita membutuhkan orang yang sabar, mau berkorban, tabah, bersedia menanggung beban-beban da’wah, memahami
kepentingannya dan bertanggung jawab terhadap amanah yang dibebankan kepadanya.
Kita menginginkan orang-orang yang mencari akhirat, bukan mereka yang memburu pangkat. Kita mencari orang-orang yang rindu kampung surgawi, bukan orang-orang yang memburu kekuasaan duniawi. Kita menginginkan orang-orang yang kommit dengan nilai-nilai syar’i, bukan orang-orang yang terobsesi kursi. Kita menginginkan orang-orang yang selalu ingat akan janji Allah, bukan orang yang cepat lupa dengan janji-janji yang dia lontarkan pada waktu kampanye.
Kita tidak menginginkan gerakan da’wah ini dikuasai oleh orang-orang yang berambisi kekuasaan dan harta semata,
dengan segala kewenangan dan fasilitasnya. Kita juga tidak butuh orang-orang yang gemar melakukan lompatanlompatan
yang tidak syar’i untuk meraih ambisi-ambisi pribadinya. Tetapi kita butuh orang-orang yang akan bekerja
menegakkan Dienullah, dan beriltizam pada syari’at serta menjauhi cara-cara pencapaian tujuan yang tidak syar’i.

2. Mengabaikan Faktor Tarbiyah
Tiadanya perhatian yang layak terhadap tarbiyah akan menyebabkan rendahnya tingkat pemahaman setiap individu,
yang pada gilirannya tidak akan melahirkan kader yang mampu membantu meringankan beban jama’ah. Tarbiyah
berpengaruh terhadap ketahanan kader dalam menghadapi tantangan dan tuntutan amal di jalan da’wah, baik pada saatsaat kritis yang membutuhkan pengorbanan, maupun ketika panggilan jihad telah dikumandangkan.
Penyebab terabaikannya faktor tarbiyah:
1. Aktifitas politik mendominasi seluruh amal da’wah, sehingga waktu, tenaga, fikiran dan dana tersedot ke aktifitas
tersebut.
2. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan murabbi, dan naqib, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas pembinaan
kader yang berujung pada stagnasi pertumbuhan kader.
3. Usrah atau halaqah berubah menjadi forum sosialisasi qadhaya, bukan solusi qadhaya. Usrah hanya menjadi forum
mencari info dan pengumuman, padahal semestinya sebagai wadah pembinaan, pembentukan serta perbaikan akhlak,
ruhani dan intelektualitas.
4. Usrah atau halaqah hanya menjadi wadah untuk membentuk kader-kader da’wah yang tak siap berdialog secara
kritis dan analistis, karena lebih ditekankan metode indoktrinasi, ketimbang diskusi.

1. Mengabaikan Prinsip “The Right Man on The Right Place” dalam penyusunan struktur jama’ah da’wah.

Penyimpangan lain yang berbahaya adalah menempatkan kader pada struktur jama’ah yang tidak sesuai potensi dan
kemampuannya, tetapi berdasarkan “like and dislike”. Juga memberi amanah atau tugas kepada kader yang tidak sesuai
dengan kompetensinya. Hal ini dapat merusak efektifitas gerakan serta menyeret pada ekses-ekses yang dapat
melemahkan eksistensi jama’ah dan mempermudah timbulnya berbagai penyakit lain.
2. Menerima Prinsip dan Ideologi Sekuler
Rabbaniyah adalah prinsip dasar da’wah setiap gerakan Islam. Da’wah pada hakikatnya memperjuangkan nilai-nilai
Rubbubiyah, Uluhiyah, Mulkiyah dengan cara-cara yang diizinkan Rabb dan dicontohkan oleh Rasul-Nya, oleh kaderkader
Rabbani (para Murabbi dan mutarabbi), demi mencari ridha Allah. Dengan demikian kita tidak boleh menerima
prinsip dan ideologi Sekularisme, Nasionalisme, Pluralisme, Liberalisme, Komunisme, Kapitalisme juga Sosialisme,
walaupun diberi embel-embel Islam di belakangnya.
3. Membiarkan Jama’ah Dipimpin dan Dikuasai Orang yang Tidak Jelas
Gerakan Islam harus memiliki kepribadian Islam yang jelas, dalam pemahaman, tujuan, langkah dan keputusankeputusannya.
Ia tidak boleh tunduk kepada penguasa. Tidak boleh tergiur oleh harta dan tahta. Musuh-musuh gerakan
Islam memiliki cara tertentu untuk menghancurkan gerakan da’wah. Apabila cara-cara fisik dianggap tidak efektif
meredam laju gerakan da’wah, maka adakalanya mereka menggunakan cara yang lebih halus tetapi daya rusaknya
hebat. Seperti misal, menyusupkan agen intelijen ke dalam saf gerakan Islam. Agen ini berusaha untuk diterima seluruh
elemen jama’ah, menempel pada qiyadah jama’ah, mempengaruhinya dalam setiap pengambilan keputusan, dan secara
licin dan lihai membelokkan arah gerakan ini menuju lembah kebinasaan. Sejarah keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah
di Turki, karena disusupi intelijen Yahudi, mestinya menjadi pelajaran berharga bagi setiap gerakan Islam.
4. Berpartisipasi dalam Pemerintahan yang Tidak Menjalankan hukum Allah
Pada dasarnya kita tengah berupaya menjalankan hukum Allah dan tidak akan menyetujui hukum atau aturan apapun
yang bertentangan dengan syari’at Allah.
Tidak dapat dibenarkan kader gerakan Islam ikut masuk dan berpartisipasi dalam pemerintahan yang tidak
menjalankan syari’at Islam, apalagi apabila dia tidak mampu mempengaruhi pemerintahan tersebut, dan bahkan menjadi terpengaruh oleh sistem yang tidak islami. Sikap ini termasuk penyimpangan dari tujuan gerakan Islam ini.
Mungkin dalam situasi kondisi tertentu, atas izin jama’ah, setelah melalui pertimbangan syari’ah dan politik yang
matang, diperlukan ikut serta dalam pertimbangan. Dengan pengertian pemerintahan tersebut dalam transisi menuju
terbentuknya sistem pemerintahan Islam yang sempurna. Hal ini dapat dibenarkan dengan syarat ada kontrak politik
tertulis berupa jaminan bahwa pemerintah setuju untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini tidak boleh diserahkan kepada ijtihad pribadi. Apabila kesepakatan itu dilanggar, maka kita harus segera melepaskan diri dari partisipasi tersebut, agar tidak tertipu dan tergelincir dari tujuan gerakan da’wah yang mulia ini.
5. Berkoalisi dengan Pihak Lain dengan Mengorbankan Prinsip dan Tujuan Da’wah
Dengan sebab dan alasan apapun, tidak dibenarkan mengadakan koalisi dengan pihak-pihak yang tidak memiliki
kesamaan ideologi, visi dan misi dalam memperjuangkan tegaknya syari’at Allah. Apalagi jika koalisi tersebut harus
mengorbankan prinsip-prinsip Islam yang akan diwujudkan melalui perjuangan kita selama ini.
“Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, maka mereka pun bersikap lunak pula kepadamu.” (QS. Al-
Qalam:9)
Begitu pula, tidak dibenarkan melakukan koalisi sdengan mengorbankan sasaran dan target yang selama ini kita
berusaha mencapainya. Kalau hal ini dilakukan, berarti kita telah menjurus kepada penyimpangan dan pergeseran dari prinsip, serta menyeret semua amal dan pengorbanan ke arah yang tidak benar. Bahkan meratakan jalan bagi musuh untuk menguasai dan menentukan arah dan langkah pergerakan kita.
Karena itu, menjadi kewajiban kita semua untuk mengingatkan agar jangan mengangkat orang-orang yang tidak jelas
ideologi perjuangannya menjadi pemimpin. Jangan memberi dukungan kepada orang-orang yang zhalim dan korup.
Jangan tunduk kepada mereka karena iming-iming harta dan posisi. Jangan mengadakan perjanjian yang akan
membahayakan eksistensi gerakan Islam. Mari kita berhati-hati, dan tidak memberikan kepercayaan, dukungan dan
loyalitas kepada musuh-musuh Allah. Allah telah mengingatkan:
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, walaupun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan ke dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pu ridha
terhadap Allah. Mereka itulah Hizbullah (Partainya Allah). Ketahuilah bahwa sesungguhnya Partai Allah itulah yang akan memperoleh kemenangan.” (QS. Al-Mujadalah:22)
1. Mengabaikan Prinsip dan Keputusan Syura
Allah mewajibkan syura kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun beliau telah mendapat wahyu. Beliau selalu melaksanakan syura bersama para sahabatnya karena perintah Allah dan sebagai tasyri’ bagi umat Islam. Untuk itulah, beliau mengikuti pendapat Habbab dalam perang Badar, dan mengikuti usulan Salman dalam perang Khandaq.

Syura penting kedudukannya dalam gerakan Islam dan “amal jama’i”. Dengan syura akan diperoleh pendapat yang
lebih matang dan benar. Ia memberi kesadaran akan dasar-dasar keikutsertaan dalam tanggung jawab. Syura juga
menumbuhkan suasana saling percaya dan kerjasama antara semua anggota jama’ah.
Setiap individu dalam gerakan Islam dituntut agar bersifat positif dan aktif dalam da’wah. Ia harus ikut memikirkan,
memberikan pandangan-pandangan dalam mewujudkan kemanfaatan, menghindari kemuidharatan, serta membantu
qiyadahnya dengan pemikiran, ide, gagasan, serta nasihat, sesuai dengan adab da’wah.
Kepada para qiyadah, apapun jabatannya, harus bermusyawarah dengan para kadernya. Memanfaatkan pandangan
dan pemikiran mereka dalam menghadapi persoalan dan kemelut. Berlapang dada dalam menerima nasihat yang
diberikan kader, walaupun dirasa pahit dan caranya kurang berkenan, agar da’wah tidak kehilangan kebaikan yang
terkandung di dalam nasihat tersebut.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kedua amirul mukminin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar
radhiyallahu ‘anhu yang ketika memberi sambutan di hari pelantikannya sebagai Khalifah, keduanya meminta teguran
rakyat atas segala bentuk penyelewengan.

Amirul mukminin Umar radhiyallahu ‘anhu bersikap lapang dada terhadap seorang rakyat yang berkata lantang
kepadanya di hadapan masyarakat banyak: “Kalau kami melihat Anda melakukan penyimpangan, maka kami akan
meluruskannya dengan pedang kami!”

Pelanggaran terhadap prinsip dan keputusan syura yang dilakukan qiyadah, apapun jabatannya, ilmu dan keahliannya, disamping menyimpang dari khiththah perjuangan, juga berarti pengkhianatan terhadap misi da’wah.
Begitu pula bagi para kader yang bersikap pasif, tidak memberikan pendapat, masukan dan nasihat kepada qiyadah,
serta merasa tidak bertanggung jawab atas masalah tertentu yang strategis, adalah bentuk penyimpangan dan
pelanggaran atas prinsip syura dalam da’wah.
Di antara bentuk penyimpangan lain dari prinsip syura yang berbahaya adalah menjadikan syura sebagai formalitas
belaka yang kering dari esensi. Ada Majelis Syura, namun pembentukannya diintervensi dan keputusannya direkayasa
oleh pihak-pihak tertentu. Islam menolak segala bentuk manipulasi dan penipuan. Sangat ketat dalam proses pemilihan anggota Majelis Syura, karena mereka bukan saja bertanggung jawab kepada jama’ah; tetapi juga kepada rakyat dan yang paling penting kepada Allah Yang Maha Tahu. Pemilihan anggota majelis syura harus melibatkan semua kader dan elemen jama’ah, dengan mempertimbangkan kebenaran, keadilan dan keridhaan Allah, bukan keridhaan qiyadah. Barangsiapa melanggar hal ini, berarti telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Demikianlah sebagian dari bentuk-bentuk penyimpangan dalam gerakan Islam yang dapat menggelincirkan kita dari tujuan da’wah yang mulia dan suci. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari hal-hal tersebut di atas.
Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal mawla wa ni’man-nashir.
Wallahu a’lam bish-shawwab.

http://kamalzharif.kamaludin.net Powered by Joomla!

 

Klarifikasi Presiden PKS July 8, 2008

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 8:56 am
Tags: , ,

Belum berakhirnya Pilkada yang digelar di beberapa daerah dan memasuki arena Pemilu 2009, PKS kembali dihantam gelombang fitnah. Berikut Kami tampilkan kembali sebuah Risalah Partai Keadilan Sejahtera yang membantah semua tudingan terhadap partai ini. Risalah ini sudah diterbitkan di sebuah media massa Ibukota.

Assalamua’laikum wa rahmatullahi wabarakatuh

DPP PKS bersyukur kepada Allah SWT dan menyampaikan penghargaan yang tulus kepada pimpinan PB NU dan PP Muhammadiyah, yang telah bersepakat untuk menghadirkan kondisi yang kondusif bagi ummat baik dengan digelarnya sepak bola ukhuwah antara NU dan Muhammadiyah, maupun dengan disepakatinya agar perbedaan keduanya dalam penentuan 1 Syawal 1428 H/ hari raya Iedul Fitri tidak disikapi dengan cara yang bisa menimbulkan perpecahan di kalangan ummat, tetapi disikapi dengan semangat saling menghormati agar ukhuwah Islamiyah tetap terjaga.

Di tengah menguatnya semangat berukhuwah dan bertoleransi terhadap perbedaan furuiyah, DPP PKS prihatin dengan masih terus disebarkannya beragam informasi yang tidak bertanggung jawab seperti pengedaran selebaran / foto kopian yang mengatas namakan DPD / DPP PKS, juga melalui ceramah / pengajian yang bisa menjadi fitnah terhadap PKS, dan dapat mengganggu iklim ukhuwah yang sedang dijalin serta dikhawatirkan dapat mengurangi kekhusuan beribadah puasa. Untuk itulah PKS perlu menyampaikan klarifikasi dan keterangan sebagai berikut :

1. Tidak seperti kelompok yang disebut sebagai Wahabi, PKS adalah Partai politik yang beraktifitas di NKRI, yang menjadikan partai sebagai sarana/wasilah untuk berdakwah dan menyebarkan yang ma’ruf dengan tetap menghormati perbedaan furuiyah, mengedepankan ukhuwwah dan memahami bahwa ikhtilaf ijtihad bisa menjadi rahmat. Karenanya melakukan tabdi’ dan takfir (mengkafirkan) para ulama apalagi para Wali songo yang sangat berjasa itu bukanlah manhaj PKS. Karenanya PKS tidak pernah mengeluarkan surat edaran yang berisi hujatan maupun pengharaman terhadap peringatan Maulid, Tahlilan, Barzanji yang dilakukan oleh ummat Islam di Indonesia penganut Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Jadi foto kopi surat edaran yang mengatas namakan DPP tanpa ada yang menanda tanganinya itu adalah palsu karena PKS memang tidak pernah mengeluarkan edaran seperti itu. Maka tidak aneh bila kader PKS seperti DR Nur Mahmudi Ismail yang juga adalah Walikota Depok, menyelenggarakan peringatan Maulid dengan penceramah K.H Zainuddin MZ dan Habieb Rizieq Shihab.

2. PKS dalam melakukan aktivitasnya selalu mementingkan pengamalan prinsip tasamuh dan ta’awun dan beroreintasi kepada khidmatul ummah dengan tetap menghormati kekhasan dari masing-masing organisasi maupun pilihan hasil ijtihadnya, selama ia memang mempunyai rujukan di dalam Al-Quran, Assunnah, maupun mazhab ahli sunnah wal jamaah, apalagi banyak kader dan simpatisan PKS berasal dari berbagai macam latar belakang ormas keagamaan, seperti dari NU, Muhammadiyah, DDII, Persis, PUI, Hidayatullah, dan lain-lain. Karenanya PKS tidak pernah mengeluarkan doktrin untuk mengambil alih apalagi menguasai Masjid, Jadwal Khotib, Rumah Sakit, Sekolah atau amal usaha milik organisasi lain. PKS bahkan menginstruksikan kepada seluruh kadernya untuk membantu ummat yang menjadi korban gempa di Yogyakarta dan lain-lain dengan berkomunikasi dengan para donatur untuk membangunkan/membangun kembali Masjid-masjid yang diwakafkan misalnya kepada Muhammadiyah di Prambanan.

3. PKS sebagai organisasi politik tidak memiliki sekolah maupun Radio partai, memang kader-kader PKS banyak yang bergerak dalam bidang pendidikan maupun media, tetapi tidaklah seluruh sekolah yang berlabel ISLAM TERPADU dikelola oleh kader PKS, tetapi kalau ada Radio yang selalu menyiarkan ajaran tentang pengkafiran/pembid’ahan Wali songo apalagi Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani, sebagai mana isu yang beredar, pasti bukan dari kader/simpatisan PKS.

4. PKS menyadari sepenuhnya bahwa dirinya, seperti juga organisasi yang lain, bukanlah kelompok yang ma’shum (terhindar dari kesalahan), ia hanyalah sekumpulan manusia yang bisa melakukan kesalahan, maka untuk hal-hal yang tidak menjadi kebijakan partai tetapi di lapangan dinilai telah menimbulkan masalah di tengah sebagian ummat, kami mohon maaf lahir dan bathin. Dan kalau terbukti bahwa perilaku itu dilakukan oleh kader PKS tentu kami akan melakukan penegakan disiplin organisasi dan perbaikan ke dalam. PKS tetap berkomitmen untuk mendengar nasihat, agar terjadi ishlah, agar ukhuwwah Islamiyah dapat terjaga untuk menguatkan ukhuwwah wathoniyah dan ukhuwwah basyariyah. PKS menyadari bahwa ada pihak-pihak tertentu yang suka mengadu domba di antar ummat, yang tidak senang bila ummat Islam berukhuwwah, sehingga dapat berperan lebih produktif untuk menwujudkan NKRI yang berdaulat jaya dan raya di tengah persaingan global itulah NKRI yang baldatun thoyyibatun warobbun ghafur. Untuk itu PKS, juga berharap pihak lain, selalu siap untuk berta’awun, saling tabayyun, mengokohkan silaturahim, untuk menghentikan penyebaran fitnah dan menggantinya dengan ukhuwwah, untuk menghentikan pecah belah di antara ummat agar berbagai komponen ummat lebih dapat berta’awun untuk merealisasikan kemaslahatan yang lebih besar bagi ummat di Negara tercinta Republik Indonesia. Dan ini semuanya juga dalam rangka mengamalkan ayat Al-Quran yang sangat populer di kalangan Muhammadiyah yaitu Ayat fastabiqul khoirot, juga mengamalkan ayat Al-Quran yang sangat populer di kalangan NU yaitu wa’tasimu bi hablillahi jamian wala tafa rroqu.

Demikianlah klarifikasi ini disampaikan, in uridu illa al ishlahi ma ishtatho’tu wa ma taufiqi illa billah alaihi tawakkaltu wa ilaihi unibu.

Ir. H. Tifatul SembiringPresiden PKS