Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Apa Salahnya MUI tentang Aliran Sesat November 23, 2007

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 11:46 pm

Kalangan liberal mengatakan bahwa fatwa sesat terhadap aliran-aliran agama bertentangan dengan HAM. Mereka juga mengatakan bahwa tidak seharusnya MUI mengeluarkan fatwa yang menyerang aqidah orang lain karena itu urusan pribadi masing-masing.

Melanggar HAM? Apanya yang dilanggar? MUI tidak melarang orang lain untuk memiliki keyakinan berbeda. Tetapi kalau sudah membawa kata-kata Islam namun tindak-tanduknya bertentangan dengan ajaran Islam, Quran,Sunah maka pasti akan menimbulkan reaksi umat Islam yang diwakili oleh MUI. Makanya jelas dulu aliran agama mana? Kalau tak ingin fatwa MUI nyatakan saja aliran agama mana, Islam, Kristen, Hindu, atau Buddha.

Urusan Pribadi? Itulah pendapat Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Rektor UIN Jakarta (sumber: Hidayatullah.com). Kalau memang aqidah “sesat”urusan pribadi lalu mengapa ngajak-ngajak orang lain dan membuat pengurus? Namanya urusan pribadi masuk kamar dan silakan buat apa saja di dalamnya asal jangan bikin ribut tetangga.

Mestinya mereka menyatakan mereka berada di bawah agama mana? Kalau tidak ingin berhadapan dengan umat Islam jangan ganggu umat Islam. Saya setuju sekali dengan fatwa MUI pelarangan aliran sesat agar umat Islam tidak resah dan bingung tentang keyakinannya.

 

Teladan Anak Bangsa

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 4:25 am

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.era

 

Cara Berziarah Kubur

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 1:48 am
  1. Masuk lokasi kuburan mengucapkan salam

“Assalamu álaikum ya ahladiyar minal mu’minina wal muslimiina wa inna insya Allah bikum la hiquuna asalullah lanaa walakumul ‘afiyah”

  1. Tidak duduk di (batu nisan) kuburan dan menginjaknya.
  2. Tidak thawaf dengan niat mendekatkan diri kepada Allah
  3. Tidak membaca Quran di kuburan. Hadis tentang baca Quran di kuburan lemah.
  4. Tidak meletakan karangan bunga karena mubazir dan menyerupai kaum Nasrani
  5. Tidak membuat bangunan di atas kuburan dan menghiasinya.

Syaikh Muhammad bin Jibrin Zainu, Al-Firqotun Najiyah, Jalan Hidup Golongan yang Selamat

 

Manhaj Golongan Selamat

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 1:45 am
  1. Golongan yang setia mengikuti jalan hidup Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
  2. Menggunakan firman Allah dan hadist Rasulullah SAW bila ada perselisihan.
  3. Tidak mendahulukan perkataan manusia atas firman Allah
  4. Menjaga Kemurnian tauhid.
  5. Menghidupkan sunah-sunah Rasulullah SAW.
  6. Golongan ahli hadist.
  7. Menghoramati imam mujtahid.
  8. Mengajak kepada kebaikan dan melarang perbuatan mungkar.
  9. Menolak peraturan-peraturan yang manusia yang bertentangan dengan hokum Islam.
  10. Melakukan Jihad semampunya

Syaikh  Muhammad bin Jibrin Zainu, Al-Firqotun Najiyah, Jalan  Hidup Golongan yang Selamat

 

Ketangguhan Pribadi Da’i

Filed under: Wawasan — ainspirasi @ 1:37 am

1. Thabrani meriwayatkan dari Harist bin Harist, ia menuturkan “Aku pernah bertanya kepada ayahku, mengapa orang-orang itu berkerumun?” Ia menjawab mereka itu mengerumuni seseorang yang telah murtad dari nenek moyangnya”. Lalu kami turun dari kendaraan ternyata dia adalah Rasulullaah SAW yang sedang menyeru kepada pengesaan dan keimanan kepada Allah Azza wa Jalla. Namun mereka menolak seruannya dan melakukan penyiksaan terhadapnya hingga tengah hari, setelah itu mereka membubarkan diri. Lalu ada seorang wanita datang menemuinya, sedang bagian atas dadanya kelihatan. Wanita itu membawa bejana berisi air dan sebuah sapu tangan. Beliau menerima bejana dari wanita itu, meminumnya, dan berwudhu, lalu mengangkat kepalanya dan bersabda, “Wahai putriku, tutuplah bagian atas dadamu dan jangan mengkhawatirkan ayahmu.” Kami bertanya, “siapa wanita itu?”Mereka menjawab Zainab putrinya.”

Tabrani juga meriwayatkan dari Manba Al-Azdi, ia menuturkan,”Pada masa jahiliyah aku pernah melihat Rasulullah SAW berseru “Wahai sekalian manusia ucapkanlah, la ilaha illallah niscaya kalian akan beruntung.” Maka sebagian ada yang meludahi wajah beliau, ada yang menaburkan debu, dan ada yang mengolok-ngolok beliau hingga tengah hari. Lalu datanglah seorang wanita muda dengan membawa bejana air, lalu beliau mengambil air itu darinya dan membasuh wajah serta kedua tangannya seraya bersabda, “Wahai putriku janganlah engakau menghawatirkan penghinaan dan pembunuhan terhadap ayahmu.” Aku bertanya, siapakah wanita muda itu?”mereka menjawab, “Ia adalah Zainab putrid Rasulullah SAW.

2. Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Abdullah bin Ja’far RA, ia menuturkan “Setelah abu Thalib meninggal dunia, Rasulullah didatangi oleh seorang Quraisy yang sangat jahat dan buruk perangainya. Orang itu menghamburkan debu kepada Rasulullah, sehingga terpaksa beliau kembali ke rumahnya. Lalu datanglah salah seorang putrinya yang membasuh debu dari wajah beliau sambil menangis. Beliau bersabda Wahai putriku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah akan selalu melindungi ayahmu.”

3. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Amr bin Ash RA ia menuturkan “Aku belum pernah melihat orang-orang Quraisy benar-benar berencana membunuh Rasulullah SAW kecuali pada suatu hari dimana mereka telah merencanakan persekongkolan untuk membunuh beliau. Pada saat itu mereka sedang duduk-duduk di ka’bah sementara beliau sedang mengerjakan sholat di dekat makam Ibrahim. Uqbah bin Abi Mi’yath bangkit menghampiri beliau lalu mengalungkan selendang ke leher beliau dan menariknya keras-keras hingga beliau terjerambab ke tanah. Mereka pun bersorak-sorai dan mengira beliau dudah mati. Maka datanglah Abu Bakar yang dengan erat memegang lengan beliau dari arah belakang sambil membaca ayat Quran “Apakah kalian hendak membunuh seseorang yang mengatakan Tuhanku adalah Allah.” (Ghafir:28) Setelah mereka menyingkir, Rasulullah SAW langsung berdiri dan mengerjakan sholat.

4. Al-Bazzar dan Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia menuturkan “Kami dan Rasulullah SAW sedang berada di masjid, bersama kami ada Abu Jahal bin Hisyam, Syaibah dan Utbah putra Rabi’ah, Uqbah bin Abi Mi’yath, Umayah bin Khalaf dan dua orang lain. Jumlah mereka tujuh orang. Mereka berkumpul di Hijir Ismail dan Rasulullah SAW sedang melakukan sholat. Ketika beliau memanjangkan sujud Abu Jahal berkata “Siapakah diantara kalian yang mau pergi ke tempat pengembalaan domba-domba bani fulan dan membawa kotorannya ke sini untuk kita timpukkan kepada Muhammad. Maka berangkatlah seorang yang paling celaka di antara mereka Uqbah bin Abi Mi’yath kemudian membawa kotoran itu ke masjid dan melemparkan ke pundak Rasulullah SAW yang sedang bersujud. Ibnu Masud berkata “saat itu aku hanya berdiri dan tidak mampu berbuat apa-apa aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka sehingga akupun pergi tapi tiba-tiba aku mendengar suara Fatimah putri Rasulullah SAW yang datang menghampiri beliau dan membersihkan kotoran dari pundak beliau kemudian menemui orang-orang Quraisy seraya mencaci maki mereka namun mereka tidak berani membalas sedikitpun lalu Rasulullah SAW mengangkat kepala sebagaimana lazimnya orang yang bangun dari sujud seusai sholat beliau berdoa “ya Allah kepada-Mu ku serahkan orang-orang Quraisy (tiga kali) Kepada-Mu ku serahkan Utbah, Uqbah, Abu Jahal dan Syaibah”

5. Dalam kitab Dalailun Nubuwah halaman 103, Abu Nuáim meriwayatkan dari Urwah bin Zubair RA, ia menuturkan “Setelah Abu Thalib meninggal musibah atas diri Rasulullah semakin menjadi-jadi. Maka beliau bermaksud pergi ke Tsaqif mengharapkan perlindungan dan pertolongan kepada mereka. Beliau menemui tiga orang pemimpin Bani Tsaqif yang masih bersaudara, yaitu Abdul Yalail bin Amr, Khubaib bin Amr, dan Mas’ud bin Amr. Beliau menawarkan diri dan mengeluhkan musibah yang dialaminya serta kejahatan kaum Quraisy terhadapnya.

Salah seorang diantara mereka berkata “Aku akan mencuri kain ka’bah jikalau Allah benar-benar mengutusmu dengan membawa sesuatu.” Yang lain berkata “Demi Allah sekali-kali aku tidak akan berbicara denganmu sepatah kata pun setelah pertemuan ini. Kalau kamu benar-benar seorang Rasul maka kamu terlalu agung dan mulia untuk aku ajak bicara.” Yang lainnya berkata “Apakah Allah benar-benar tidak mampu untuk mengutus orang lain selain dirimu?” Lalu mereka menyebarkan ucapan-ucapan Rasulullah SAW ke seluruh penduduk Tsaqif. Kemudian mereka semua berkerumun untuk mencaci Rasulullah SAW. Di sepanjang jalan mereka membentuk dua barisan. Tangan mereka telah menggenggam batu. Belum sempat beliau mengangkat kaki dan menapakkannya, mereka telah melemparinya dengan batu-batu tersebut. Mereka terus melempari beliau sembari melontarkan ejekan dan olok-olok kepada beliau. Setelah berhasil melewati kedua barisan mereka, kedua kaki beliau mengeluarkan darah, dan beliau pun menuju ke pagar anggur milik mereka. Beliau berlindung di bawah pohon anggur dengan perasaan sedih dan sakit sementara kedua kakinya masih mengeluarkan darah.

Ternyata di dalam kebun itu ada Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabi’ah. Ketika melihat kedua orang itu, beliau tidak ingin menemui mereka, karena beliau tahu permusuhan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Lalu kedua orang itu mengutus budaknya yang bernama Adas untuk membawa anggur kepada beliau. Budak ini adalah seorang Nasrani dari negeri Nainawa. Setelah sampai di hadapan Rasulullah SAW Adas meletakkan buah anggur yang dibawanya di atas tangan beliau. Setelah itu beliau mengucapkan Bismillah sebelum menyantapnya. Ucapan ini membuat Adas keheranan. Lalu Rasulullah SAW bertanya

“Dari manakah kau hai Adas?” Ia menjawab

“Dari negeri Nainawa” Nabi bersabda “dari negeri seorang Shalih Yunus bin Mata”

Adas bertanya “Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Mata?”

“Ceritakanlah kepadaku perihal Yunus bin Mata”

Lalu Rasulullah SAW menceritakan kepadanya apa yang diketahuinya tentang Yunus bin Mata. Tentu saja Rasulullah SAW tidak pernah merendahkan seorang rasulpun yang telah menyampaikan risalah Allah.

Setelah beliau menceritakan perihal Yunus bin Mata sebagaimana yang telah diwahyukan kepadanya Adas langsung sujud kepada Rasulullah SAW lalu menciumi kedua kaki beliau yang sedang mengucurkan darah. Utbah dan saudaranya diam saja ketika melihat apa yang dilakukan budaknya. Dan setelah datang mereka bertanya kepadanya “Apa yang telah terjadi padamu? Kamu telah bersujud kepada Muhammad dan menciumi kedua kakinya, padahal kami belum pernah melihatmu melakukan seperti ini kepada salah seorang diantara kami.

Ia menjawab “Ia adalah seorang shalih. Dia juga telah menceritakan segala sesuatu yang kuketahui tentang seorang rasul yang diutus oleh Allah kepada kaum kami, yaitu Yunus bin Mata. Dia memberiathukan kepadaku bahwa dia adalah Rasul Allah.”

Keduanya tertawa seraya berkata “Jangan sampai kamu tertipu untuk meninggalkan agama Nasranimu. Sungguh Ia adalah seorang penipu.” Kemudian Rasulullah kembali ke Mekah.