Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Perbedaan dan Toleransi September 16, 2007

Filed under: Fatwa — ainspirasi @ 10:01 pm

Setelah meneliti teks keputusan pemerintah Arab Saudi nomor 14/1/2005 dan pendapat cendikiawan-cendikiawan di Amerika, saya berkesimpulan sebagai berikut:

  1. Shaum Arafah seharusnya dilakukan pada hari Rabu 1/19/2005.
  2. Dibolehkan melakukan sholat Id pada hari kamis 1/20/2005 atau pada hari Jumat 1/21/2005.

Kesimpulan itu didasarkan pada keterangan sebagai berikut:

1. meskipun saya telah berbicara panjang lebar dengan para kolega dan saudara saya di Arab Saudi tentang melihat Hilal, terlebih mereka tidak memperhatikan keterangan dari pakar astronomi, saya berpendirian kita harus mengikuti ketentuan Arab Saudi menetapkan awal Julhijah. Hal ini dikarenakan mereka menentukan kapan jamaah haji berkumpul di padang Arafah, padahal Haji adalah berdiri di Padang Arafah (sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah)

2. Kita harus berpuasa pada hari Rabu sebagai hari Arafah disebabkan alasan berikut:

a. Haram berpuasa pada hari sholat Id. Ada pertentangan apakah Hari raya Id jatuh pada hari Kamis atau Jumat. Berdasarkan prinsip Islam “kepastian tidak mungkin bersamaan dengan keraguan” maka kita harus berpuasa pada hari Rabu sehingga bila kita salah maka kita tidak akan jatuh pada kesalahan berpuasa pada hari sholat Id.

b. Karena kita percaya bahwa jutaan kaum Muslimin yang ada di padang Arafah akan diterima hajinya, kita harus mempertimbangkan bahwa berpuasa pada hari Rabu adalah benar. Ingatlah berada di padang Arafah adalah rukun Haji sedangkan berpuasa pada hari itu sangat dianjurkan. Ingat jugalah bahwa awal dan akhir ; diterimanya amal seseorang hanya hak Allah.

Untuk sholat Id, prinsipnya adalah setiap komunitas seyogyanya mengikuti satu dari dua pendapat Kamis atau Jumat dengan pertimbangan berikut:

1. Hadis sahih dari Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW, berkata “Berbukalah ketika orang-orang berbuka dan Idul Adha adalah ketika orang-orang berkurban”

2. Dibolehkan untuk sholat Id pada hari kedua. Ini berdasarkan riwayat sebagai berikut. Beberapa orang datang kepada Rasulullah SAW dan mereka memberikan kesaksian bahwa mereka melihat Hilal (untuk mengakhiri bulan Ramadhan pada malam sebelumnya). Selanjutnya Rasulullah memerintahkan untuk berbuka dan sholat Id pada hari berikutnya. (diriwayatkan oleh Nasai, Abu Dawud, dan Darqutni dengan sanad yang baik). Dengan alasan ini mayoritas pendapat kecuali mazhab imam Malik, membolehkan melaksanakan sholat Id pada hari kedua bila ada halangan. Mazhab lain seperti mazhab imam Hanafi bahkan berpendapat boleh sholat Id pada hari Tasyriq (dua atau tiga hari setelah 10 Julhijah) karena masih dibolehkan untuk melempar jumrah dan menyembelih hewan qurban pada hari-hari itu.

3. Ada kesepakatan diantara kaum cendikiawan Muslim yaitu terkait dengan persatuan. Dalam hal ini adanya perbedaan tentang waktu sholat Id. Pendapat Hanafi adalah dua waktu Sholat Id diperlukan bagi mereka yang biasa sholat pada hari Jumat. Mazhab Hambali berpendapat itu (dua waktu) merupakan kewajiban di tengah komunitas Muslim sehingga bila telah dilaksanakan oleh beberapa orang maka telah menghilangkan kewajiban bagi sebagian orang. Mazhab imam Malik dan Safei berpendapat dua waktu hanya sunah. Ibnu Rushd Al-Andalusi berkata bahwa siapa yang memandang dua waktu itu merupakan kewajiaban, maka itu merupakan kewajiaban sunah dan bukan merupakan kewajiaban.

4. Sebagian Muslim telah menyewa tempat dan menjadwalkan cuti pada hari sholat Id, hari Jumat dan mereka tak mungkin menggeser waktunya. Sehingga tidak salah bila mereka melaksanakan sholat Id pada hari Jumat.

Berdasarkan keterangan di atas saya berpendirian berpuasa hari Arafah sebaiknya dilaksanakan pada hari Rabu. Saya juga berkeyakinan bahwa sholat Id syah jika dilakukan pada hari Kamis atau Jumat, tetapi itu harus dilakukan tanpa mengakibatkan kerenggangan diantara kaum Muslimin. Ingatlah bahwa Allah tidak akan menerima perbuatan baik (sholat Id) hingga perbuatan baik itu dilakukan dengan benar (menjaga persatuan umat). Allah Maha Tahu.

Dr. Salah Al-deen Sultan

Presiden pada Pusat Riset Islam Amerika di Columbus

Manager di Pusat Fatwa dan Pendidikan Islam Columbus, Ohio, Amerika.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s