Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Bingung Menjadi Imam Sholat June 25, 2007

Filed under: Humor — ainspirasi @ 4:24 am

Pada kejadian yang lain, beliau dikunjungi tiga orang yang kesemuanya menuduh Syaikh Al-Albany kafir. Ketika waktu sholat tiba, mereka menolak untuk bermakmum kepada Syaikh, karena tidak mungkin bagi seorang kafir menjadi imam sholat. Syaikh menerima hal ini, dan mengatakan bahwa menurut pandangannya, ketiga orang ini adalah Muslim, sehingga salah satu dari mereka berhak menjadi imam sholat. Tak lama kemudian, mereka bertiga berdebat lama sekali mengenai perbedaan di antara mereka sendiri, dan ketika waktu sholat berikutnya telah tiba, ketiga laki-laki ini mendesak untuk ikut sholat di belakang Syaikh Al-Albany ! dikutip dari http://jilbab.or.id/

 

Beberapa Kitab Tafsir Quran

Filed under: Uncategorized — ainspirasi @ 2:41 am

Tak terhitung banyaknya penjelasan Quran yang telah dibuat sejak masa kenabian. Tidak ada buku lain di dunia ini yang begitu banyak diperhatikan orang selain Quran. Menggambarkan secara singkat semua kitab-kitab tafsir sangat tidak mungkin, meskipun dalam sebuah buku, apalagi dalam tulisan ringkas berikut ini. Akan tetapi apa yang akan kami tulis di sini hanyalah sebuah perkenalan  dari beberapa kitab tafsir terkenal yang merupakan acuan Ma’rifatul Quran. Meskipun sampai saat ini sudah banyak kitab tafsir yang ditulis, banyak tafsir dan ribuan buku tetap menggunakan rujukannya. Tujuannya di sini adalah sekedar memberikan gambaran umum acuan-acuan yang sering digunakan itu. 

Tafsir Ibnu Jarir: Nama tafsirnya adalah Jami’ al-Bayan disusun oleh Allamah Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir al-Tabari (wafat 310 H). Alamah Tabari adalah seorang mufasir yang menguasai bidangnya, muhadist, dan beliau adalah ahli sejarah. Diberitakan bahwa beliau menulis terus menerus selama empat puluh tahun dan menulis empat puluh halaman setiap harinya (al-Bidayah wa al-Nihayah, volume. 11, hal.145).  Banyak orang menuduhnya syiah, tetapi para ahli sejarah menolak tuduhan itu, yang benar adalah beliau merupakan pengikut Sunnah.

Sebanyak tigapuluh jilid tafsirnya menjadi acuan dasar para mufsir berikutnya. Dalam menjelaskan ayat-ayat, ia mengutip pandangan berbagai cendikiawan, kemudian mencari posisi pandangan yang tepat berdaskan argumen dan bukti-bukti yang ada. Seharusnya, setiap periwayatan dipilah dan dipilih, akan tetapi dia telah memasukkan penuturan yang kuat dan lemah dalam penjelasannya. Oleh karena itu tidak setiap penuturan dalam kitab tafsirnya bisa dijadikan pijakan.

Tafsir Qurtubi: Judul tafsirnya Al-Jami li-Ahkam al-Quran. Ditulis oleh cendikiawan Andalusia (Spanyol), namanya Abu ‘Abdullah Muhammad ibnu Ahmad Abi Bakar ibnu Farah al-Qurtubi (wafat 671 H). Dia merupakan pengikut mazhab imam Malik dan terkenal sebagai ahli ibadah dan zuhud. Hal-hal mendasar dari kitabnya adalah membuat kesimpulan-kesimpulan berdasarkan apa yang tertera dalam Quran, pada saat bersamaan dia juga menjelaskan kata-kata sulit, membahas keindahan gaya dan bahasa Quran, dan mengaitkannya dengan tradisi dan berbagai riwayat sehingga sangat menarik. Tafsirnya berjumlah duabelas jilid.       

Tafsir Ibnu Katsir: Ditulis oleh al-Hafiz ‘Imam al-din Abu al-Fida’ Ismail ibnu Katsir al-Damashqi (wafat 774 H), seorang cendekiawan abad ke 8. Tafsirnya telah diterbitkan dalam empad jilid. Dia menekankan penjelasannya berdasarkan penuturan. Ciri utama tafsirnya adalah penggunaan telaah hadist (karena dia adalah muhadist), oleh karena itu tafsirnya menempati posisi istimewa di kalangan mufasir.

Tafsir Al-Kabir: merupakan karya besar Imam Fakhr al-Din l-Razi (wafat 606 H). Judul aslinya adalah Mafatih al-Ghayb, tetapi dikenal dengan Tafsir Al-Kabir. Imam Razi merupakan ahli filsafat Islam, sehingga tidak heran dalam tafsirnya banyak hal-hal rasional dan kontroversial secara ilmiah dan banyak  keterangan ingkar dari sekte-sekte sesat. Namun demikian tafsirnya merupakan, dengan caranya sendiri, sesuatu yang unik untuk memahami Quran.  Selanjutnya, jalan lapang memahami Quran yang ditegaskan oleh keterpaduan ayat-ayat Quran, merupakan keterangan sangat berharga. Namun Imam Razi menulis sendiri kitab tafsirnya hanya sampai surat Al-Fath.  Selebihnya diselesaikan oleh orang lain. Bagian lain yaitu dari surat Al-Fath sampai akhir ditulis oleh Qadi Shihab al-Din ibnu Khalil al-Khawali al-Dimashqi (wafat 639 H) atau oleh Shaykh Najm al-Din Ahmad ibnu Muhammad al-Qamuli (wafat 777 H). (Kashaf al-Zunun jilid 2, hal. 4)

Tafsir al-Bahr al-Muhit: Tafsir ini ditulis oleh Allamah Abu Hayyan al-Gharnati al-Andalusi (w. 754H) yang ahli di bidang sintaksis dan retorika di samping ilmu-ilmu ke-Islaman lainnya. Hasilnya tafsirnya berisi hal-hal berkaitan sintaksis kalimat dan retorika. Dia menekankan pada telaah kata di setiap ayat, perbedaan struktur dan hal-hal khusus lainnya.  

Ahkam al-Quran oleh al-Jassas: Ditulis oleh Imam Abu Bakar al-Jassas al-Razi (w. 370 H) salah seorang pengikut mazhab Hanafi. Hal-hal terkait dengan hukum-hukum dan aturan dalam Quran merupakan obyek penafsirannya. Ia menjelaskan ayat-ayat dalam sebuah rangkaian, dan dia menjelaskan rincian hukum dari ayat yang mengandung perintah-perintah. Dalam hal ini banyak tafsir serupa yang telah ditulis tetapi tafsir ini lebih mengesankan dibanding yang lain. 

Tafsir al-Durr al-Manthur: Tafsir ini ditulis oleh Allamah Jalal al-Din al-Suyuti (w. 910H). Judul lengkapnya adalah al-Durr al-Manthur fi al-Tafseer bi I’Ma’thur. Di sini Allamah Suyuti mencoba mengumpulkan semua periwayatan tafsir Quran. Senarnya banyak ahli hadist seperti Hafiz ibn Jarir, Imam Baghawi, Ibn Marduwayh, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah dan lain-lainnya telah malkukannya sendiri-sendiri. Allamah al-Suyuti merangkum semuanya dalam kitab tafsirnya. Namum demikian dia telah menyingkat  nama-nama penafsir sehingga bila dibutuhkan bisa merujuk langsung pada kitab aslinya.  Oleh karena itu di dalam buku tafsirnya selalu  dijumpai riwayat yang kuat maupun lemah.  Sehingga setiap riwayat yang ada tidak begitu saja dapat dipercaya sebelum melihat kembali ke kitab aslinya. Ada kalanya juga al-Suyuti menegaskan bahwa sebuah riwayat sangat kuat. Tetapi karena beliau kurang memahami kritik hadist, masih tetap sulit untuk menjadikan hal itu sebagai pijakan.   

Tafsir al-Mazhari: Tafsir ini ditulis oleh Qadi Thanaullah Panipati (w 1225 H). Dia menamakan tafsirnya Al-Tafseer al-Mazhari, yaitu nama guru spritualnya, Mirza Mazhar Jani-Janan Dehlavi. Tafsirnya sangat sederhana dan sangat bermanfaat untuk melacak ayat-ayat. Bersama penjelasan ayat-ayat Quran ia menyertakan berbagai riwayat dengan agak rinci, sehingga dia telah berusaha memasukkan riwayat-riwayat setelah membandingkan dengan penafsir lainnya.

Ruh al-Maani: Judul lengkapnya adalah Ruh al-Ma’ani fi Tafseer al-Quran al-’Azim wa al-Sabal-Mathani dan ditulis oleh Allamah Mahmud al-Alusi (w. 1270 H) cendekiawan terkenal pada periode Baghdad, dan berjumlah 30 jilid. Dia telah berusaha membuat tafsirnya komprehensif. Ada pembahasan panjang lebar pada segi bahasa, penulisan, huruf, gaya bahasa, dan pada segi hukum, pasal-pasal keimanan, kemurnian, filsafat, astronomi, mistis dan soal-soal tradisi. Tampaknya dia tidak meninggalkan sisi-sisi logika dari penjelasannya. Dalam hal riwayat hadist penulisnya sangat berhati-hati dan membandingkannya dengan penafsir lainnya. Dari sudut ini tafsirnya sangat komprehensif, dan andilnya dalam menafsirkan Quran sangat bermanfaat.

(bersambung)

 

Menghentikan Pengetahuan Nuklir

Filed under: Visi — ainspirasi @ 2:30 am

Dr. ElBaradei to New York Times: “We believe they pretty much have the knowledge about how to enrich… From now, it’s simply a question of perfecting that knowledge. People will not like to hear it, but that’s a fact.”
“The fact of the matter is that one of the purposes of suspension, keeping them from getting the knowledge, has been overtaken by events,” he added.


Comment: Can we stop other people to find knowledge?

 

Ayo Lestarikan Bahasa Daerah

Filed under: Visi — ainspirasi @ 1:48 am

Menurut Prof. Arief Rachman:

Di Sumatra dari 13 bahasa daerah (BD) 2 terancam punah 1 sudah punah
Di Kalimantan dari 50 BD 1 terancam punah
Di Sulawesi dari 110 bahasa 36 terancam punah 1 sudah punah
Di Maluku dari 80 BD 22 terancam punah 11 sudah punah
Di Timor, Flores, Bima, Sumba, dari 50 BD 8 terancam punah
Di Papua dan Halmahera dari 271 BD 56 terancam punah
Di Papua, sumber lain, 9 telah punah, 32 segera punah, 208 terancam punah.
Sumber: Republika 24 Mei 2007

Komentar: Apa salahnya kita lestarikan Bahasa Daerah (BD)? Saya, mungkin kita tidak menyadari BD merupakan kekayaan yang turun dari langit tanpa kita memintanya. Sekarang orang sibuk menciptakan berbagai bahasa. Ada bahasa komputer, bahasa gaul, bahasa bisnis, bahasa sandi militer, bahasa sandi polisi, bahasa preman dan sebagainya. Ini menandakan bahasa memang penting. Marilah mulai sekarang kita peduli dengan Bahasa Daerah kita. Mungkin kita mulai harus mewacanakan orang yang tidak berbahasa daerah di lingkungan daerah (tidak resmi) hukumnya “dosa besar”. Dengan pandai BD tidak berarti kita menjadi tidak nasional kareana BD diakui oleh negara…ai