Agung Inspirasi

Visi-Visi Pencerahan

Akhirnya Muhammadiyah Haramkan Rokok March 10, 2010

Filed under: Fatwa — ainspirasi @ 9:41 am
Tags: , ,

Hidayatullah.com—Para pecandu rokok mulai terjepit. Setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pengharaman rokok, kini giliran Majelis Tarjih dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram merokok.

Bagi Muhammadiyah, keputusan yang disampaikan di Jakarta, Selasa siang (9/3), bukan tanpa pertimbangan matang. Setidaknya, menurut Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas, ada sejumlah hujjah kuat yang melandasinya. “Perubahan hukum tersebut berdasarkan alasan yang syar’i,” ujarnya ketika dihubungi hidayatullah.com siang tadi (9/3). Dia menjelaskan, merokok dari segi kesehatan, menurut dokter, mengandung mudhorot dan merusak kesehatan, bahkan bisa mematikan.

Keluarnya fatwa didasarkan pada Surat dalam Al-Quran Surat Al Baqarah yang berbunyi, وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Baqarah: 195] Lebih jelas dia mengatakan, merokok merupakan perbuatan tabzir (pemborosan) dan habaits (buruk). Karena itu, menurut Yun, demikian ia biasa disapa, status haram merokok merupakan tujuan dari syari’ah (maqosidussar’iyyah). Karena, tujuan dari maqosidussar’iyyah di antaranya adalah hifdzunnas (menjaga manusia).

Diakui, perubahan status tersebut tidak mustahil mengundang kritik dari banyak pihak, terutama petani tembakau. Karena itu, dia mengatakan, para petani tembakau tidak perlu risau dengan fatwa haram tersebut. Sebab, selama ini yang diuntungkan dari bisnis rokok adalah perusahaan asing. “Petani tembakau dari dulu miskin, yang kaya orang asing,” jelasnya.

Karena itu, dia mengatakan, yang dirugikan dari fatwa haram rokok hanya perusahaan rokok. Untuk itu dia mengimbau agar para petani tembakau beralih ke pertanian lainnya. “Di bumi ini kan tidak hanya ada tembakau. Masih banyak jenis tanaman yang lain,” tegasnya.

Selama ini, Indonesia hanya dapat penyakit, sedang duit rokok dibawa ke luar negeri. Apalagi, yang paling banyak merokok adalah orang miskin. Guna mengantisipasi pengobatan bagi perokok, Muhammadiyah akan membuat klinik rehabilitasi perokok.

Sebagaimana diketahui, tahun 2005 Majelis Tarjih telah mengeluarkan fatwa yang berbunyi, merokok hukumnya mubah (yang berarti boleh dikerjakan, tapi kalau ditinggalkan lebih baik). Namun, fatwa itu kemudian direvisi karena dampak negatif merokok mulai dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya oleh perokok. “Muhammadiyah merasa perlu mengingatkan kepada masyarakat akan bahaya tersebut,” ujar Yunahar Ilyas. [ans/www.hidayatullah.com]

 

Haram Nikah Beda Agama January 8, 2009

Filed under: Fatwa — ainspirasi @ 6:49 am
Tags: , , ,

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor : 4/MUNAS VII/MUI/8/2005
Tentang

PERKAWINAN BEDA AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional VII MUI, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426H. / 26-29 Juli 2005M., setelah
MENIMBANG :

  1. Bahwa belakangan ini disinyalir banyak terjadi perkawinan beda agama;
  2. Bahwa perkawinan beda agama ini bukan saja mengundang perdebatan di antara sesama umat Islam, akan tetapi juga sering mengundang keresahan di tengah-tengah masyarakat;
  3. Bahwa di tengah-tengah masyarakat telah muncul pemikiran yang membenarkan perkawinan beda agama dengan dalih hak asasi manusia dan kemaslahatan;
  4. Bahwa untuk mewujudkan dan memelihara ketentraman kehidupan berumah tangga, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang perkawinan beda agama untuk dijadikan pedoman.

MENGINGAT :

  1. Firman Allah SWT :
    Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawini-nya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. al-Nisa [4] : 3);
    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. al-Rum [3] : 21);
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperlihatkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. al-Tahrim [66]:6 );
    Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (QS. al-Maidah [5] : 5);
    Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita yang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya . Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. al-Baqarah [2] : 221)
    Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Alllah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka jangalah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana (QS. al-Mumtahianah [60] : 10).
    Dan barang siapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, Ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah mas kawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri bukan pezina dan bukan (pula) wanita-wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut pada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) diantaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengamun dan Maha Penyayang (QS. al-Nisa [4] : 25).
  2. Hadis-hadis Rasulullah s.a.w :
    Wanita itu (boleh) dinikahi karena empat hal : (i) karena hartanya; (ii) karena (asal-usul) keturunannya; (iii) karena kecantikannya; (iv) karena agama. Maka hendaklah kamu berpegang teguh (dengan perempuan) yang menurut agama Islam; (jika tidak) akan binasalah kedua tangan-mu (Hadis riwayat muttafaq alaih dari Abi Hurairah r.a);
  3. Qa’idah Fiqh :
    Mencegah kemafsadatan lebih didahulukan (diutamakan) dari pada menarik kemaslahatan.

MEMPERHATIKAN :

  1. Keputusan Fatwa MUI dalam Munas II tahun 1400/1980 tentang Perkawinan Campuran.
  2. Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005 :

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :

FATWA TENTANG PERKAWINAN BEDA AGAMA

  1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah.
  2. Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab, menurut qaul mu’tamad, adalah haram dan tidak sah.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 22 Jumadil Akhir 1426 H.
29 Juli 2005 M.

MUSYAWARAH NASIOANAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA,

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

Ketua,                                        Sekretaris,

K. H. MA’RUF AMIN                    HASANUDIN

 

Hukum Pakaian dari Kulit Binatang May 28, 2008

Filed under: Fatwa,Wawasan — ainspirasi @ 8:01 am

Pertanyaan: Saya memiliki jaket dan dompet terbuat dari kulit. Keduanya berasal dari kulit sapi yang mungkin saja tidak disembelih sesuai syariat. Apakah sholat saya syah ketika membawa keduanya?

Jawaban: Pada prinsipnya kulit binatang, selain babi, yang disamak suci. Dibolehkan membawa jaket dan dompet kulit ketika sholat.

http://www.imamusa.org/fatwa/fatwa.php?askid=d9ee4885dc7513be9ee2e1593fd3fcac

Pertanyaan: saya bekerja di perusahaan kulit dan beberapa hari lalu saya mendapat hadiah jaket kulit. Ternyata jaket itu terbuat dari kulit babi. Apakah kita dibolehkan untuk mengenakannya? Seseorang berkata kita hanya dilarang memakannya tapi boleh memakainya. Bila kulit babi dilarang mengenakannya bagaimana dengan bola sepak yang terbuat dari kulit babi?

Jawaban: Kulit binatang menjadi halal ketika disembelih sesuai syariah seperti kulit unta, sapi, rusa dan sebagainya, apakah kulit itu disamak atau tidak. Untuk kulit binatang yang diharamkan memakannya seperti anjing, srigala, singa, babi, diharamkan mengenaka kulitnya meskipun disembelih susuai syariat atau mati atau dibunuh, mereka tidak menjadi halal lantaran disembelih sesuai yariat, mereka najis. Ini merupakan pendapat yang paling benar, dengan pertimbangan kulit dari binatang yang diharamkan memakannya tidak bisa menjadi halal dengan proses penyamakan.

Untuk bola sepak, tentu kita tidak mengenakannya, tapi menendangnya.

http://www.askriad.com/Q&A/fiqh.htm#

Untuk kulit binatang yang mati sebelum disembelih sesuai syariah, bila disamak maka menjadi halal, sebelum disamak tetap najis. Kulit binatang dapat dibagi menjadi tiga:

Pertama: kulit yang suci ketika disamak atau tidak disamak, yaitu kulit binatang yang halal dimakan kalau disembelih sesuai syariat

Kedua: kulit yang tidak bisa menjadi suci sebelum atau setelah disamak, karena binatangnya memang najis. Ini merupakan kulit binatang yang haram dimakan seperti babi.

Ketiga: Kulit yang menjadi suci setelah disamak, sebelum disamak sifatnya najis. Ini merupakan kulit binatang-binatang yang dagingnya boleh dimakan bila disembelih sesuai syariat dan haram kalau binatang itu mati dengan cara lain.

http://www.islamqa.com/en/ref/1695

Para imam berbeda dalam memandang sholat mengenakan kulit ( meskipun telah disamak) berasal dari binatang yang dilarang memakannya, termasuk di dalamnya keberadaan rambut atau bulu. Hal yang sama berlaku juga untuk pakaian yang terkena bagian-bagian binatang seperti air liur dan keringat. Jadi kalau ada satu helai saja bulu binatang kucing atau lainnya menempel di pakaian maka sholatnya tidak syah. Lain halnya dengan lilin, madu, darah kutu, atau insekta yang tidak memiliki air liur atau bulu.

 
 

http://www.al-islam.org/encyclopedia/chapter7/6.html

 

Etika Membawa Anak-anak ke Masjid May 2, 2008

Filed under: Fatwa,Hadist,Wawasan — ainspirasi @ 9:58 am

1. Masjid adalah tempat beribadah. Segala aktivitas dalam masjid harus dijaga agar orang yang beribadah di dalamnya merasa tenang, nyaman, sejuk dan sebagainya.

2. Sangat penting memperhatikan anak-anak agar mencintai agamanya, komunitasnya, dan penting juga agar anak-anak terbiasa dengan masjid sejak dini terutama di lingkungan non-Muslim.

3. Akan tetapi ada hal-hal yang harus diperhatikan agar tidak menimbulkan keresahan dalam masjid. Sangat tidak dianjurkan membawa anak-anak ke masjid bila anak-anak dapat menimbulkan kegaduhan. Bahkan haram membawa anak-anak bila di sekitar masjid tidak terdapat toilet atau ruang untuk membersihkan kotoran.

4. Sebaiknya anak-anak (balita) sholat dekat orang tuangnya.

5. Bila banyak anak-anak maka sebaiknya anak-anak berdiri di antara orang dewasa (tidak membuat shaf sendiri).

Ada hadis shahih yang menjelaskan bahwa Nabi SAW biasa sholat sambil menggendong anak-anak, seperti menggendong Umama saudaranya Zainab [Bukhari and Muslim], Hasan and Hussain, dan lain-lainnya.

Ada juga hadis: Jauhkan anak-anak dari masjid [Ibnu Majah]. Ini kalau anak-anak dapat mengotori masjid.

http://qa.sunnipath.com/issue_view.asp?HD=1&ID=2143&CATE=30

 

Hukum Membuat Gambar

Filed under: Fatwa — ainspirasi @ 9:24 am

Membuat gambar-gambar yang memilki jiwa ada dua jenis:

Pertama

Gambar yang lengkap atau gambar tanpa anggota badan yang dengannya manusia atau hewan masih bisa hidup seperti tangan atau kaki, mayoritas ulama berpendapat terlarang dibuat. (Artinya dilarang membuat gambar manusia atau hewan yang tidak memiliki kaki atau tangan, manusia tanpa tangan atau kaki masih bisa hidup.)

Kedua

Bila gambar tidak memiliki anggota badan yang tanpa-nya manusia atau hewan tidak dapat hidup seperti kepala, maka tidak apa-apa untuk dibuat. Artinya boleh membuat gambar manusia atau hewan asal gambar itu tidak punya kepala.

http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=e&Id=89104&Option=FatwaId

 

Hati-Hati NII KW-9 dan Ma’had Al-Zaytun February 27, 2008

Filed under: Fatwa,Wawasan — ainspirasi @ 4:09 am

Mengenai Ma’had Az Zaytun dalam kaitannya dengan NII KW-9, sudah banyak ditulis di internet. Silakan lacak informasi yang lebih luas. Adapun yang menjadi pertanyaan Mas Majo, dalam kaitan ini MUI sudah melakukan penelitian mendalam. Akan tetapi, tujuan penelitian itu baru pada tahap “bahan pertimbangan” untuk kajian lebih lanjut apabila mau dibikin fatwanya. Jadi, belum merupakan fatwa !!

Meski begitu, melihat dari nama2 ulama dan tokoh yang menelitinya, sangatlah layak untuk kita jadikan pedoman atau rujukan bersikap.

Monggo disimak beberapa nukilan berikut :

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
TEAM PENELITI MUI TENTANG MA’HAD AL-ZAYTUN

Bismillahirrahmanirrahim.
Dengan senantiasa memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT, Team Peneliti Majelis Ulama Indonesia tentang Ma’had Al-Zaytun, setelah:

1. Mendengar kesaksian dan menelusuri informasi dari para mantan anggota dan aparat/petinggi NII KW IX, orang tua/wali/keluarga korban NII KW IX dan mantan mudarris (guru) Ma’had Al-Zaytun.
2. Mendengar dan mengkaji informasi dari santri, mudarris (guru) dan muwazzof (pegawai), orang tua/wali santri, mahasiswa dan dosen Program Pelatihan Pertanian Terpadu (P3T), dosen kulliyah al-lughah Ma’had Al Zaytun dan sejumlah tokoh agama dan masyarakat yang memiliki informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
3. Menelusuri dan mempelajari berbagai dokumentasi dan informasi yang berkaitan dengan objek permasalahan yang berasal dari berbagai sumber pustaka dan media seperti buku-buku, kitab-kitab teks, surat kabar, majalah, hasil-hasil penelitian, televisi, radio dan VCD.
4. Mendengar, mengkaji dan mempelajari Hasil Lengkap Penelitian Team Peneliti Litbang Departemen Agama RI.
5. Mendengar, mengkaji dan mempelajari informasi dari Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) dan Team Investigasi Aliran Sesat (TAIS), Forum Masyarakat Korban NII KW IX (FKM NII KW IX) dan Solidaritas Umat Islam untuk Korban NII Al Zaytun Abu Toto (SIKAT).
6. Mendengar dan mengkaji informasi dari Mantan Kepala BAKIN: Bapak Z.A. Maulani dan Badan Intelegen Keamanan Mabes POLRI.
7. Mendengar keterangan/informasi dari Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Abdul Hamid Zaenal Abidin.
8. Melakukan penelitian lapangan, observasi, pengamatan terlibat dan wawancara mendalam (indepth interviewing) dengan berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
9. Menghimpun, melakukan kroscek informasi, memverifikasi data dan informasi serta menganalisa dan mendiskusikan secara mendalam.

Team Peneliti MUI menyimpulkan hasil penelitian mengenai Ma’had Al-Zaytun sebagai berikut:

1. Ditemukan indikasi kuat adanya hubungan (relasi) antara Ma’had Al Zaytun dengan organisasi NII KW IX. Hubungan tersebut bersifat histories, financial dan kepemimpinan
a. Hubungan Histories: Bahwa kelahiran Ma’had Al Zaytun memiliki hubungan histories dengan organisasi NII KW IX.
b. Hubungan Financial: Bahwa ada ubungan financial dalam arti adanya aliran dana dari anggota dan aparat territorial NII KW IX yang menjadi sumber dana yang signifikan bagi kelahiran dan perkembangan Ma’had Al Zaytun.
c. Hubungan Kepemimpinan: Bahwa kepemimpinan di lembaga pendidikan Al Zaytun terkait dengan kepemimpinan di organisasi NII KW IX, terutama pada figure AS Panji Gumilang dan sebagian eksponen (pengurus yayasan).

2. Terdapat Penyimpangan faham dan ajaran Islam yang dipraktekkan organisasi NII KW IX. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi antara lain dalam hal mobilisasi dana yang mengatas-namakan ajaran Islam yang diselewengkan, Penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang menyimpang dan mengkafirkan kelompok di luar organisasi mereka.

3. Ditemukan adanya indikasi penyimpangan faham keagamaan dalam masalah zakat fitrah dan qurban yang diterapkan oleh pimpinan Ma’had Al-Zaytun, sebagaimana dimuat dalam Majalah Al-Zaytun.

4. Persoalan Al-Zaytun terletak pada aspek kepemimpinan yang kontroversial (AS Panji Gumilang dan sejumlah eksponen/pengurus yayasan) yang terkait dengan organisasi NII KW IX.

5. Adanya indikasi keterkaitan dengan koordinator-koordinator wilayah yang bertugas sebagai tempat rekrutmen santri Ma’had Al-Zaytun dengan organisasi NII KW IX.

Dan berdasarkan kesimpulan-kesimpulan tersebut Team MUI merekomendasikan beberapa hal berikut kepada Pimpinan Harian Majelis Ulama Indonesia (MUI):

1. Memanggil Pimpinan Pesantren Al-Zaytun untuk dimintai klarifikasi atas temuan-temuan yang didapat dari investigasi Team Peneliti Ma’had Az-Zaytun MUI.
2. Dikarenakan persoalan mendasar Ma’had Al Zayun terletak pada kepemimpinannya, diharapkan Pimpinan Harian MUI dapat mengambil inisiatif dan langkah-langkah konkrit untuk membenahi kepemimpinan di Ma’had Al-Zaytun.
3. Pimpinan Harian MUI agar mengambil keputusan yang sangat bijak dan arif menyelamatkan lembaga Al-Zaytun dengan berdasarkan pada prinsip kemashlahatan umat.

Demikianlah kesimpulan dan rekomendasi ini dibuat untuk dapat ditindaklanjuti dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT. Senantiasa menganugrahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Amiin.

Jakarta, 28 Rajab 1423 H.
5 Oktober 2002 M.

Ketua : K H Ma’ruf Amin
Sekretaris : Drs. Aminudin Yakub, MA
Wakil Sekretaris : Drs. H Ahmad Baidun, M.Si
Anggota :
01. K H Irfan Zidni, MA
02. Prof. K H Ali Mustofa YA’qub, MA
03. Drs. A. Fattah Wibisono, MA
04. Drs. H Hasanuddin, M.Ag
05. DR H A Mubarok, MA
06. Drs. Amirsyah Tambunan, M.Ag
07. DR Utang Ranuwijaya, MA
08. Ir M Zein Nasution
09. Drs. H Anwar Abbas
10. H. Zafrullah, SH

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_joomlaboard&func=view&id=45658&catid=19#45658

 

Puasa untuk Wanita Hamil dan Menyusui January 4, 2008

Filed under: Fatwa,Wawasan — ainspirasi @ 12:59 am

Pertanyaan:

Assalaamu‘alaikum
Saya ingin bertanya, dalam keadaan apakah seseorang tersebut boleh mengganti puasa dengan fidyah? Mohon tanggapan Ustadz, karena saya bingung antara Fidyah dan Qodo. Terima kasih atas jawabannya. Wassalam

Jawaban:

Fidyah adalah denda yang harus dibayarkan kepada orang faqir/miskin yang disebabkan meninggalkan puasa wajib bulan Ramadhan. Sedangkan yang menyebabkan seseorang harus membayar fidyah adalah karena beberapa hal, antara lain:

1 Tidak mampu
Orang yang kondisinya tidak mampu untuk berpuasa seperti orang yang sudah tua maka boleh meninggalkan kewajiban puasa Ramadhan. Dan sebagai gantinya, tidak perlu mengqadha‘/mengganti puasa di hari lain, tetapi dengan membayar 1 mud makanan kepada fakir miskin satu hari untuk satu orang.

Alah berfirman:

وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين.
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (QS. Al-Baqarah: 184).

2 Sakit
Sakit yang diperkirakan sulit untuk bisa disembuhkan lagi, sehingga tidak mungkin baginya untuk mengqadha‘ puasa di hari lain. Karena itu bagi mereka yang menderita sakit seperti ini, siahkan mengganti puasa dengan membayar fidyah.

3 Hamil/Menyusui
Wanita yang hamil atau menyusui bila boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Menurut sebagian ulama, untuk menggantinya adalah dengan mengqadha‘ dan juga membayar fidyah.

Namun sebagian lain seperti Al-Hanafiyah mengatakan cukup mengqdha‘ saja tanpa membayar fidyah.

Hadits Nabi SAW
Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, ?Keringanan buat laki dan wanita usia lanjut yang tidak mampu puasa adalah boleh berbuka dengan membayar (fidyah), memberi makan 1 orang miskin untuk sehari. Dan keringanan buat wanita hamil dan menyuusi bila mengkhawatirkan anak mereka adalah membayar fidyah.(HR Abu Daud)

Sebab Perbedaan
Para ulama memang berbeda pendapat dalam mengkategorikan wanita hamil dan menyusui, apakah digolongkan sebagai orang sakit atau sebagai orang yang lemah/tidak mampu berpuasa (seperti orangtua dan lain-lain).
Yang mengkategorikan sebagai orang sakit, maka mewajibkan qadha‘/mengganti puasa, karena bagi orang sakit memang wajib qadha‘. Firman Allah:

Maka barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka waib mengganti sebanyak hari yang dia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain (QS Al-Baqarah: 184)

Sedangkan yang mengkategorikan orang lemah/tidak mampu puasa, mewajibkan bayar fidyah tanpa qadha‘.

Dalilnya adalah terusan ayat diatas yaitu:
Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) membayar fidyah)yaitu memberi makan seorang miskin (QS Al-Baqarah 184).

Dan Imam syafi‘i mewajibkan keduanya yaitu bayar fidyah dan juga qadha karena beliau memasukkan orang hamil sebagai orang sakit sekaligus pula orang lemah.

Wallahu a‘lam bis-shawab.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/15/cn/1007

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum. Wr. Wb

Ustad yang dirahmati Allah. pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah mengenai puasa. Wanita hamil atau menyusui termasuk dalam salah satu golongan yang mendapat keringanan untuk tidak puasa ramadhan.

Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai penggantiannya apakah dengan puasa di hari lain, atau membayar fidyah atau bahkan dua-duanya (membayar puasa dan fidyah)?

Jazakallah atas jawabannya.

Wassalamu ‘alaikumWr. Wb

Ahmed

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah wanita yang sedang hamil atau menyusui memang tidak ada nash yang sharih untuk menetapkan bagaimana mereka harus mengganti puasa wajib. Yang ada nashnya dengan tegas adalah orang sakit, musafir dan orang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa.

Orang sakit dan musafir dibolehkan untuk tidak puasa, lalu sebagai konsekuensinya harus mengganti (qadha’) dengan cara berpuasa juga, sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Sedangkan orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, boleh tidak berpuasa namun tidak mungkin baginya untuk mengqadha (menganti) dengan puasa di hari lain. Maka Allah SWT menetapkan bagi mereka untuk membayar fidyah, yaitu memberi makanan kepada fakir miskin sebagai satu mud.

Dalil atas kedua kasus di atas adalah firman Allah SWT:

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (dibolehkan berbuka dengan mengganti puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (QS. Al-Baqarah: 184)

Bagaimana dengan wanita hamil dan menyusui, apakah mereka mengganti dengan puasa atau dengan bayar fidyah? Atau malah kedua-duanya? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Jumhur Ulama

Di dalam kitab Kifayatul Akhyar, disebutkan bahwa masalah wanita hamil dan menyusui dikembalikan kepada motivasi atau niatnya. Kalau tidak puasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka dianggap dirinya seperti orang sakit. Maka menggantinya dengan cara seperti mengganti orang sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain.

Sebaliknya, kalau mengkhawatirkan bayinya, maka dianggap seperti orang tua yang tidak punya kemampuan, maka cara menggantinya selain dengan puasa, juga dengan cara seperti orang tua, yaitu dengan membayar fidyah. Sehingga membayarnya dua-duanya.

Pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas

Namun menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wanita yang hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit, melainkan karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya lebih dekat dengan orang tua yang tidak mampu puasa.

Dan pendapat kedua shahabat ini mungkin tepat bila untuk menjawab kasus para ibu yang setiap tahun hamil atau menyusui, di mana mereka nyaris tidak bisa berpuasa selama beberapa kali ramadhan, lantaran kalau bukan sedang hamil, maka sedang menyusui.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

http://www.eramuslim.com/ustadz/shm/7828115313-wanita-hamil-dan-menyusui-membayar-puasa-atau-fidyah.htm

Tambahan

Ke empat imam menyatakan bahwa jika wanita hamil atau menyusui kuatir akan kesehatannya atau anaknya, puasanya syah meskipun dia boleh meneruskan puasanya.

Bila dia memilih berbuka para imam berpendapat dia harus mengqoda(berpuasa di hari lain) puasanya. Para imam berbeda berpendapat tentang fidyah dan membayar denda.

Imam Hanafi berpendapat: bukanlah hal yang wajib.

Imam Malik berpendapat: wajib bagi yang menyusui tetapi tidak untuk yang hamil.

Imam Hambali dan Syafeí berpendapat fidyah wajib bagi yang hamil dan wanita mrnyusui hanya jika mereka mengkuatirkan anaknya; tetapi bila dia kuatir akan kesehatannya dan kesehatan anaknya, maka dia wajib mengkoda puasanya tanpa harus membayar fidyah. Fidyah setiap hari satu mud, cukup untuk makan seorang miskin.

Para imam menyatakan bila wanita hamil mendekati melahirkan atau anak yang sedang menyusui dapat mengganggu kesehatan ibu yang berpuasa, keduanya sebaiknya membatalkan puasanya dan tidak syah keduanya bila berpuasa. Mereka harus mengkoda puasanya dan juga membayar fidyah, satu mud, bila dikuatirkan kesehatan anaknya terganggu. Bila hanya dikuatirkan kesehatan si ibu, sebagian imam berpendapat si ibu harus mengqoda puasanya tetapi tidak perlu membayar fidyah, yang lain berpendapat dia harus mengkoda puasanya dan harus membayar fidyahnya.

http://www.al-islam.org/ENCYCLOPEDIA/chapter7/3.html

 

Fatwa Hari Raya Idul Adha December 16, 2007

Filed under: Fatwa — ainspirasi @ 4:03 am

oleh ISNA (Ormas Islam Amerika)

Umat Muslim Amerika seperti juga umat lain di dunia berbeda pandangan tentang Idul Adha. Sebagian berpendapat bahwa tanggal 10 Zulhijah harus didasarkan pada tanggalan masing-masing Negara dan sebagian lagi mengikuti Mekah dalam merayakan hari Arafah. Setelah mengkaji dan mempertimbangkan berbagai hal, Consil mengambil kesimpulan bahwa Idul Adha harus mengikuti ketentuan Hari Haji di Mekah. Kesimpulan ini sama dengan kesimpulan Fatwa Dewan Eropa (EFCR). Berikut ini adalah penjelasan singkat dari keseluruhan pembahasan masalah ini. Bagi yang ingin lebih detail silakan lihat di website EFCR.

Urusan Haji sudah sangat tua yaitu sejak nabi Ibrahim AS. Ibadah Haji sangat terkenal di dunia Arab jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Nabi sendiri pun melaksanakan ibadah Haji sebelum menerima Nubuwah kenabian. Nabi SAW juga bahkan melaksanakan puasa Ramadhan sebelum menerima wahyu Quran. Di bulan Ramadhan beliau menerima wahyu Quran pertama di Gua Hira. Beliau memulai melaksanakan dua Hari Raya Id setelah hijrah ke Madinah sebagai lambang permulaaan dan berakhirnya musim Haji.

Bulan Haji diawali pada hari pertama bulan Shawal dan berakhir dengan Wukuf di padang Arafah. Itulah mengapa Nabi SAW melakukan dua perayaan untuk memperingati awal dan akhir musim Haji, sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Ibnu Taimiyah. Bahkan bulan Zulhijah dikenal dengan nama bulan Haji. Quran dan sunah sangat mengagungkan 10 hari pertama bulan Zulhijah. Sepuluh hari di awal bulan Zulhijah sangat mulia karena erat kaitannya dengan ibadah Haji. Oleh karena itu kedua Hari Id tidaklah berdiri sendiri, mereka memiliki kaitan dengan beberapa kewajiaban dalam Islam seperti puasa dan ibadah ke Mekah. Nabi SAW telah dibimbing oleh Allah untuk memilih dua hari raya ini sebagai hari Id dikarenakan ia memilki kaitan yang erat dengan peribadahan lainnya dalam Islam yaitu puasa dan Ibadah Haji.

Ayat-ayat berutan dalam surat Al-Baqarah (2:183-203) dapat dianggap sebagai penjelasan dalam hal Ibadah Haji. Pertama, Quran menjelaskan kewajiban puasa kemudian menjelaskan tata caranya. Perintah berkurban pada intinya ditujukan untuk jamaan Haji dan umat Muslim keseluruhan. (Surat Haji 22:28,36) Bahkan Takbir di hari Tasrik pada awalnya ditujukan pada jamaah Haji. Umumnya umat Muslim mengikuti perintah ini. Banyak ulama-ulama jaman dulu mengkaitkan ritual Idul Adha dengan perayaan Haji. Ibnu Taimiyah misalnya memiliki pandangan tersendiri. Beliau mengatakan bahwa menyembelih binatang awalnya dilakukan di Mina dan semua tempat lainnya harus mengikuti Mekah. Itulah mengapa Idul Adha lebih mulia pada kedua hari Raya Id. Disebut hari Nahr dan Haji Akbar karena Hari Id terkait dengan waktu dan tempat berkurban. Ulama beraliran Hambali Hafiz Ibnu Rajab menerangkan bahwa sholat Idul Adha harus dilaksanakan dalam kaitannya dengan berpindahnya Jamah Haji dari Muzdalifah ke Mina. Imam Ahmad bin Hambal menganjurkan pelaksanaan sholat Idul adha disesuaikan dengan bergeraknya Jamaah Haji dari muzdalifah ke Mina dan melempar kerikil. Imam Ahmad dengan jelas menyatakan kaum Muslim umumnya harus mengikuti bergeraknya jamaah Haji.

Imam al-Baghawi menyatakan bahwa Ibnu Abbas, Imam Malik, dan Imam Shafeí berpendapat umat Muslim di seluruh dunia sebaiknya mengikuti waktu Haji di mekah beserta Tasriknya. Imam al-Khazin memegang pendapat ini demikian juga dengan Ibnu Umar. Imam al-Zarkhazi meriwayatkan bahwa Imam Shafeí dan Abu Yusuf memiliki pandangan yang sama. Ini menunjukan ahli-ahli fiqih terkemuka sependapat agar umat Muslim di seluruh dunia harus mengikuti waktu jamaah Haji di Mekah beserta hari-hari Tasrikya.

Meskipun ada pendapat lain tentang waktu yang tepat untuk Takbir pada hari Tasrik, sumber-sumber yang telah disebutkan di atas menjadi petunjuk bahwa banyak ulama mengaitkan sholat Id, Qurban, dan Takbir di hari Tasrik berada satu rangkaian dengan apa yang dilakukan oleh Jamaah Haji. Sehingga tidak ada alasan mengatakan Hari Raya Idul Adha berdiri sendiri, terlepas dari Ibadah Haji dan boleh ditetapkan secara lokal. Dari keterangan para ulama dan dari keterangan sejarah diketahui sebaliknya bahwa Idul Adha adalah merupakan satu rangkaian dengan Ibadah Haji. Idul adha sangat terkait dengan tempat dan waktu berqurban.

Selama 10 hari bulan Zulhijah, pelakasanaan Ibadah Haji dan kegiatan jamaah Haji di sekitar Mekah menjadi puncak kegiatan umat Islam di seluruh dunia. Banyak ulama telah mengatakan Hari Arafah dan Hari Raya Idul Adha ditentukan oleh keberadaan Jamaah Haji di Arafah dan disembelihnya binatang Qurban. Beberapa ulama memandang ibadah Haji adalah sesuatu yang khusus; tetapi sebagian lagi berpendapat ketentuan ini berlaku umum untuk semua umat Muslim. Beberapa ulama bahkan berpendapat ketentuan ini tetap berlaku meskipun pada saat itu Jamaah Haji melakukan kesalahan yaitu berkumpul pada hari yang salah, misalnya telat sehari atau cepat sehari dari 9 Zulhijah yang sebenarnya. Ini merupakan pandangan mayoritas ulama. Imam Ibnu Taimiyah meriwayatkan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kesatuan Idul Adha. Tidak ada seorang ulamapun membolehkan seseoang yang melihat bulan boleh pergi wukuf ke Arafah atau menyembelih binatang qurban sendirian berdasarkan penglihatannya itu. Seseorang harus pergi bersama imam dan umat Muslim lainnya. Ibnu Rajab al-Hanbali bahkan lebih dari itu. Dia seperti juga yang lain, ulama Maliki dan Shafe’i menyimpulkan bahwa hari Arafah tidak mesti tepat 9 Zulhijah tetapi berdasarkan berkumpulnya kaum Muslim di Arafah. Seperti juga di Hari Raya Idul Adha tidak mesti tepat 10 Zulhijah tetapi boleh setelah itu bila ternyata harinya salah. Ini berdasarkan hadist Nabi SAW “Idul Fitri yaitu ketika kamu membatalkan puasa dan Idul Adha ketika kamu menyembelih binatang”

Oleh karena itu Idul Adha bukannya tidak berhubungan dengan wukuf di Arafah dan Ibadah Haji seperti yang saat ini diyakini oleh para cendekiawan. Ibadah Haji dan Idul Adha sangat erat kaitannya. Kedua Hari Raya itu tidak dijelaskan oleh Rasulullah melainkan dijelaskan dengan konteksnya. Keduanya berhubungan yaitu mengakhiri Ramadahan dan mengakhiri Ibadah Haji. Nabi SAW memulai bulan baru dengan melihat bulan karena pada saat itu itulah cara yang tersedia sebagai alat konfirmasi. Selama delapan tahun pertama tahun Hijrah beliau tidak melaksanakannya berdasarkan pada hasil penglihatan bulan di Mekah yaitu ketika Ka’bah dikuasai oleh kaum musyrikin yang tidak peduli dengan Ibadah Haji. Pada saat itu syariah tidak meminta kaum Muslimin mengetahui dengan tepat tanggal ibadah Haji dan Arafah untuk menghindari ancaman pada Umat. Namun demikian jelaslah ketika umat Muslim mampu mengetahui dengan tepat hari Wukuf Arafah, mereka dianjurkan untuk berpuasa dan merayakan Hari Raya Id dan menyembelih binatang pada hari berikutnya. Alasannya adalah adanya pahala yang besar disebabkan pelaksanaannya dilakukan bersama dengan umat muslim yang sedang berkumpul dan melaksanakan Ibadah Haji melebihi pahala perayaan Id atau sholat Id itu sendiri.

Perlu juga diketahui bahwa tidak ada teks-teks yang jelas menganjurkan semua kaum Muslimin merayakan Hari Raya Idul Adha setelah pelaksanaan Ibadah Haji. Banyak sekali sumber-sumber tak langsung dalam Quran dan Sunah yang mengaitkan perayaan Hari Raya dengan Ibadah Haji dan Wukuf. Lebih lanjut, tidak terdapat di Quran atau Sunah atau dalam kitab-kitab fiqih bahwa Nabi SAW dan para sahabat atau ulama telah melakukan hal yang bertentangan pengumuman Wukuf Arafah oleh pihak berwenang. Untuk diingat, Ibadah Haji adalah pernyataan kesatuan umat Islam. Ia memiliki sisi politis disamping sisi sosial. Aspek ini hanya dapat dipenuhi bila Umat Muslim dipersatukan dengan pandangan yang sama yaitu pemahaman tentang Ibadah Haji yang sedang dilakukan. Oleh karena itu, dalam penjelasan ini tidak dibenarkan, dengan pertimbangan fiqih, untuk melaksanakan yang berbeda dengan Hari Haji. Menjadi jelas bahwa merayakan hari Raya bersama dengan Hari Haji (di Mekah) lebih bermanfaat ketimbang merayakan Hari Raya Idul Adha yang berbeda dengannya.

dikutip dari: http://www.isna.com/events/Special-Announcement/Fiqh-Council-of-North-America-Statement.aspx

 

Perbedaan dan Toleransi September 16, 2007

Filed under: Fatwa — ainspirasi @ 10:01 pm

Setelah meneliti teks keputusan pemerintah Arab Saudi nomor 14/1/2005 dan pendapat cendikiawan-cendikiawan di Amerika, saya berkesimpulan sebagai berikut:

  1. Shaum Arafah seharusnya dilakukan pada hari Rabu 1/19/2005.
  2. Dibolehkan melakukan sholat Id pada hari kamis 1/20/2005 atau pada hari Jumat 1/21/2005.

Kesimpulan itu didasarkan pada keterangan sebagai berikut:

1. meskipun saya telah berbicara panjang lebar dengan para kolega dan saudara saya di Arab Saudi tentang melihat Hilal, terlebih mereka tidak memperhatikan keterangan dari pakar astronomi, saya berpendirian kita harus mengikuti ketentuan Arab Saudi menetapkan awal Julhijah. Hal ini dikarenakan mereka menentukan kapan jamaah haji berkumpul di padang Arafah, padahal Haji adalah berdiri di Padang Arafah (sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah)

2. Kita harus berpuasa pada hari Rabu sebagai hari Arafah disebabkan alasan berikut:

a. Haram berpuasa pada hari sholat Id. Ada pertentangan apakah Hari raya Id jatuh pada hari Kamis atau Jumat. Berdasarkan prinsip Islam “kepastian tidak mungkin bersamaan dengan keraguan” maka kita harus berpuasa pada hari Rabu sehingga bila kita salah maka kita tidak akan jatuh pada kesalahan berpuasa pada hari sholat Id.

b. Karena kita percaya bahwa jutaan kaum Muslimin yang ada di padang Arafah akan diterima hajinya, kita harus mempertimbangkan bahwa berpuasa pada hari Rabu adalah benar. Ingatlah berada di padang Arafah adalah rukun Haji sedangkan berpuasa pada hari itu sangat dianjurkan. Ingat jugalah bahwa awal dan akhir ; diterimanya amal seseorang hanya hak Allah.

Untuk sholat Id, prinsipnya adalah setiap komunitas seyogyanya mengikuti satu dari dua pendapat Kamis atau Jumat dengan pertimbangan berikut:

1. Hadis sahih dari Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW, berkata “Berbukalah ketika orang-orang berbuka dan Idul Adha adalah ketika orang-orang berkurban”

2. Dibolehkan untuk sholat Id pada hari kedua. Ini berdasarkan riwayat sebagai berikut. Beberapa orang datang kepada Rasulullah SAW dan mereka memberikan kesaksian bahwa mereka melihat Hilal (untuk mengakhiri bulan Ramadhan pada malam sebelumnya). Selanjutnya Rasulullah memerintahkan untuk berbuka dan sholat Id pada hari berikutnya. (diriwayatkan oleh Nasai, Abu Dawud, dan Darqutni dengan sanad yang baik). Dengan alasan ini mayoritas pendapat kecuali mazhab imam Malik, membolehkan melaksanakan sholat Id pada hari kedua bila ada halangan. Mazhab lain seperti mazhab imam Hanafi bahkan berpendapat boleh sholat Id pada hari Tasyriq (dua atau tiga hari setelah 10 Julhijah) karena masih dibolehkan untuk melempar jumrah dan menyembelih hewan qurban pada hari-hari itu.

3. Ada kesepakatan diantara kaum cendikiawan Muslim yaitu terkait dengan persatuan. Dalam hal ini adanya perbedaan tentang waktu sholat Id. Pendapat Hanafi adalah dua waktu Sholat Id diperlukan bagi mereka yang biasa sholat pada hari Jumat. Mazhab Hambali berpendapat itu (dua waktu) merupakan kewajiban di tengah komunitas Muslim sehingga bila telah dilaksanakan oleh beberapa orang maka telah menghilangkan kewajiban bagi sebagian orang. Mazhab imam Malik dan Safei berpendapat dua waktu hanya sunah. Ibnu Rushd Al-Andalusi berkata bahwa siapa yang memandang dua waktu itu merupakan kewajiaban, maka itu merupakan kewajiaban sunah dan bukan merupakan kewajiaban.

4. Sebagian Muslim telah menyewa tempat dan menjadwalkan cuti pada hari sholat Id, hari Jumat dan mereka tak mungkin menggeser waktunya. Sehingga tidak salah bila mereka melaksanakan sholat Id pada hari Jumat.

Berdasarkan keterangan di atas saya berpendirian berpuasa hari Arafah sebaiknya dilaksanakan pada hari Rabu. Saya juga berkeyakinan bahwa sholat Id syah jika dilakukan pada hari Kamis atau Jumat, tetapi itu harus dilakukan tanpa mengakibatkan kerenggangan diantara kaum Muslimin. Ingatlah bahwa Allah tidak akan menerima perbuatan baik (sholat Id) hingga perbuatan baik itu dilakukan dengan benar (menjaga persatuan umat). Allah Maha Tahu.

Dr. Salah Al-deen Sultan

Presiden pada Pusat Riset Islam Amerika di Columbus

Manager di Pusat Fatwa dan Pendidikan Islam Columbus, Ohio, Amerika.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.